Amsterdam, 2 Dunia di Satu Kota

eSudah lumayan lama nih nggak posting di blog ini, saking sibuknya sama pekerjaan yang menumpuk. Yah, beginilah nasib ketika kita mengambil hobi menulis sebagai profesi, jatah menulis kata-per-hari yang biasanya bisa dimanfatkan untuk nulis blog harus dialihkan ke pekerjaan demi mendapatkan sesuap nasi untuk dimakan (terlalu berlebihan ya? hahaha). Intinya, memang sulit membagi waktu untuk menulis “hobi” ketika kita sudah bekerja sebagai “penulis”.

Kali ini saya nggak mau cerita panjang lebar, cuman mau nge-share beberapa coret-coretan yang sempat saya buat beberapa bulan yang lalu. Tulisan ini aslinya saya kirim ke lomba menulis “Travelmates Western Australia” dari National Geographic Indonesia, sebuah kompetisi prestisius dengan hadiah jalan-jalan gratis ke Australia Barat. Alhamdulillah, tulisan ini lolos hingga tahap seleksi 20 besar–satu langkah terakhir sebelum masuk 10 besar yang bakal dikirim ke Australia Barat, ditentukan dengan proses interview dengan dewan juri. Sayangnya, ternyata saya nggak berhasil melewati proses seleksi terakhir ini, sehingga kesempatan bertemu dengan quokkas pun pupus di tengah ujung jalan… hiks..hiks *nangis darah*.

Setelah dipikir-pikir, daripada tulisannya kebuang sia-sia mending saya masukan saja ke blog ini. Lumayan lah, bisa update cepat supaya blog semata wayang ini nggak sepi-sepi amat (mungkin ini juga yang jadi penilaian dewan juri, karena waktu interview ditanya soal blog dan keaktifan menulis :p). Well enough to said, just enjoy!


Amsterdam, 2 Dunia di Satu Kota

Belasan perempuan muda berpakaian “hemat” bersolek dari balik etalase kaca, sedikit cuek dengan udara musim dingin nan beku. Sebuah dipan empuk terlihat di belakang mereka, bersebelahan dengan sebuah pintu mungil yang mengarah entah ke mana. Di luar bangunan, beberapa pasang mata sibuk berjalan sambil menengok ke setiap jendela yang terbuka, seakan menimbang-nimbang “orang” yang ingin mereka beli. Etalase “manusia” ini berbaris di sepanjang gang sempit di tengah kota, berhias lampu-lampu neon merah yang tetap menyala di siang bolong.

Lanjutkan membaca Amsterdam, 2 Dunia di Satu Kota

Iklan

I Amsterdam Trip 2015: My First (Fake) Winter Experience

Bagi orang-orang tropis seperti di Indonesia, musim dingin adalah hal yang asing. Di negara tropis, jarang sekali kita bisa merasakan suhu di bawah 20 derajat celcius, itupun masih jauh dari suhu musim dingin di negara temperate yang mencapai minus beberpa derajat celcius. Hal inilah yang membuat saya sangat penasaran dengan suasana musim dingin yang sebenarnya, sehingga ketika ditanya “kapan mau main kesini?”, saya langsung menjawab dengan semangat “IN WINTER TIME!”.

Ketika saya diundang oleh Jan untuk berkunjung ke rumahnya di Amsterdam, saya langsung memilih musim dingin di bulan Februari 2015 sebagai waktu kunjungan saya yang utama. Saya memberikan alasan kalau harga tiket pesawat dan fasilitas wisata di musim dingin sangat murah, sehingga tidak terlalu membebani kantong teman saya yang eksentrik ini—padahal, alasan aslinya ya karena saya ingin melihat salju di musim dingin untuk pertama kali seumur hidup. Awalnya Jan ragu dengan waktu yang saya pilih ini, tapi setelah saya jelaskan kalau saya ingin melihat salju untuk yang pertama kali, dia langsung setuju.

“But i need to warn you, the winter can be so cold (you don’t say?! :p), and maybe there will be no snow at all”.

Wah, saya baru tahu kalau salju tidak selalu muncul di musim dinginnya Belanda. Tidak semua negara 4 musim memiliki salju setiap tahun, apalagi yang altitude-nya masih rendah seperti negara Belanda ini. Menurut penuturan Jan, salju hanya turun sekitar 4 tahun sekali di Amsterdam, ketika kondisi atmosfer benar-benar memungkinkan. Sisanya? Ya hanya hawa dingin saja, tanpa salju sama sekali. Yah, percuma dong saya datang kalau nggak bisa lihat saju?

Lanjutkan membaca I Amsterdam Trip 2015: My First (Fake) Winter Experience

I Amsterdam Trip 2015: Immigration Rush

Setiap kali ke luar negeri, masalah imigrasi selalu bikin pusing. Ya, setelah banyaknya kasus terorisme, penyelundupan dan pemalsuan paspor yang semakin terekspos dari hari ke hari, kebanyakan negara mulai menaruh curiga yang berlebihan kepada WNA yang datang. Negara adidaya seperti Amerika menjadi salah satu yang paling paranoid tentang hal ini, dengan berbagai sistem keamanan yang secara latah juga diterapkan di negara-negara sahabatnya. Tidak jarang kita mendengar cerita-cerita seram dari orang Indonesia (kebanyakan dengan penekanan ‘muslim’) yang sering diperlakukan tidak adil di imigrasi, seperti diletakan di antrian khusus, diinterogasi berjam-jam, sampai bahkan ditahan atau dideportasi. Hmm.. nggak tahu deh kenapa harus ditekankan kata muslim, padahal di paspor juga nggak ada keterangan agama yang dianut.

Sebenarnya sih saya gak tahu cerita ini benar, atau hanya ulah segelintir orang sial yang selalu berpandangan muslim itu umat yang ‘teraniaya’. Alhamdulillah sih sampai saat ini saya nggak pernah dapat kesialan macam itu, jadi saya nggak merasa ‘terdzolimi oleh bangsa barat’ seperti yang sering diceritakan itu. Memang muka saya nggak arab-arab banget plus nggak punya jenggot gondrong, tapi kan nama saya tetap ada unsur islaminya (nama belakang saya Akbar). Prinsip saya, selama kita jujur, santai dan memenuhi persyaratan legal, kita nggak bakal diapa-apain kok! Just relax, karena kalau kelihatan tegang justru kita bisa dicurigain macem-macem—lagipula, apa yang harus ditakuti?

Nah, waktu ke Belanda kemarin, baru kali itu saya dapat sedikit masalah di imigrasi. Di bandara Schipol, saya baru saja pulih dari penerbangan 18 jam dari KL-Amsterdam yang super membosankan. Kebosanan saya langsung pulih ketika merasakan udara musim dingin pertama saya di Eropa, langsung menusuk tubuh begitu berdiri di depan pintu pesawat. Seperti penumpang lain, saya langsung bergegas menuju konter imigrasi di terminal kedatangan, tempat di mana Jan mungkin sudah menunggu. Tentu saja, saya masih sempat memotret beberapa bagian bandara yang lumayan bagus ini.

IMG_20150129_073912
Bandara Schipol yang penuh orang-orang ngantuk

Lanjutkan membaca I Amsterdam Trip 2015: Immigration Rush