Tetap Sehat saat Bersepeda di Musim Hujan

Herbadrink Blog Compeition: Life Style Story with Sari Temulawak

Selain keadaan part-part sepeda, kesehatan tubuh juga harus diperhatikan saat bersepeda di musim hujan.

Sejak 2 tahun yang lalu saya resmi menjadi “goweser” alias orang yang gila dengan dunia bersepeda. Awalnya sih saya  menggunakan sepeda sebagai moda transportasi alternatif untuk commuting, namun akhirnya saya justru jadi ketagihan! Sekarang hampir setiap hari saya menggunakan sepeda untuk pergi kemana-mana; mulai dari sekedar pergi ke kampus atau kantor, menaklukan tanjakan di lereng gunung Merapi, hingga touring jarak jauh ke berbagai kota di Pulau Jawa. Lanjutkan membaca Tetap Sehat saat Bersepeda di Musim Hujan

Nyadran: Piknik Samping Kuburan

Nyadran merupakan tradisi masyarakat Yogyakarta yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Secara gampang, tradisi Nyadran bisa dibilang sebagai “piknik ramai-ramai di pinggir kuburan”, meskipun makna sebenarnya lebih dari itu. Di tradisi ini, kita diajak untuk mengingat kematian, sekaligus berkumpul bersama sanak keluarga dan para tetangga untuk mempererat tali silaturahmi.

Sejak beberapa tahun yang lalu tradisi Nyadran di padukuhan sini mulai dihiasi dengan gunungan dan tumpengan yang diarak keliling desa. Entah siapa yang memulai, tapi yang jelas hal ini membuat suasana Nyadran jadi semakin meriah. Dan tentunya…. banyak makanan…

 

The Law of Nature’s Uncertainity

It is not easy to work with nature, as one’s expectation rarely happens in real life. There are just too many mistery with it that our primitive brain cant predict up until now. We still cant find away to predict when an earthquake will gonna happen, where the next aurora will show up, or where does that f**** birds go when we brought an important client to see them.

I was scanning the paddyfield from the car when we spotted a bare, conspicious tree in the middle of it. It is the favorite perching spot of a Javan Kingfisher that I have been watching since the first time I came to Yogyakarta. Usually he (as i assumed it as male) will just stay there for the whole morning, sitting quietly with beak pointed down, ready to dive and catch every unfortunate small invertebrates below. However, today it wasnt there–and so does 2 other kingfishers in the area that we tried to find before. It wouldnt be a problem only if I didnt brought an important client with me, a birder and tourism scholar from Malaysia who promised to bring more friend if I managed to show him some good bird today.

With a very carefull word selection, I said to him that maybe we have a better chance to find the kingfisher in the next stop. I also explained that this is the best place to find the kingfisher and I know it very well since I live here. I know it is not a good way to say “this bird used to be here, i saw it last week” to a client, but after 30 minutes of wandering aimlessly in the paddyfield, at least I need to say something.

Luckily, he understand the problem. “I know, just like people said. Its always there, but when you brought me along it suddenly disappear!” he said with a huge smile, a very important OK sign for me to continue the trip. Lanjutkan membaca The Law of Nature’s Uncertainity

Dari Kereta yang Mengantarkanku ke Paris, ke Montmantre

Ada yang tidak bisa kuceritakan padamu; sebuah pagi
jatuh di atas sulir rambutku, serupa
terjalan bukit salju.
Kuberitahukan padamu, aku telah bangun dengan sebuah keriangan yang jarang
yang pernah kulakukan sekali ketika aku harus berhenti
mencintai ilalang, semak berudu, atau pun punggungnya, ah,
punggungnya yang memanjang martir — tak semartir milikmu.

Lalu jendela plastik itu
penuh oleh tetes embun yang tak pernah kuundang, dan aku
mencari namamu di antara cercah-cercah rel
bungkusan makanan di bawah kursi penumpan,
pun roda-roda yang menggigis di telingaku.
Tetapi rupa-rupanya kau begitu mirip dongeng-dongeng hantu
Mitos masa kecil yang acapkali membuatku meregang nyawa
menghitung biri-biri melompati pagar sampai hitungan lusin
Ironisme yang bau ikan asin, sebab pada akhirnya
aku tidak pernah tertidur. Tidak, sampai
namamu kutemukan di atas kepala masinis yang mendengkur.

****

Kereta ini akan membawaku ke Paris,
ke Montmantre
ke tempat-tempat bergang kecil dan lembab
: gedung opera, resital piano — aku duduk dengan gaun putih,
berlagak menjadi Rachmaninoff, dan kau
yah, kau seolah-olah Humbert yang jatuh cinta secara tak waras pada Lolita
ketawarasan sempurna yang entah kenapa membuatku
tak dapat membedakan manakah partitur bernot balok itu
dan yang manakah oasis suaramu—
kemudian malam akan larut; kau boleh
membawaku berjalan mengelilingi gedung-gedung tua
jembatan batu-bata, jalan-jalan santa
: tujuh putaran penuh sambil meracaukan cinta dalam bahasa asing
dalam harmoni yang mirip putaran gasing.

****

Ada yang masih tak bisa kuceritakan padamu dalam surat
yang kutuliskan di atas lembar maple ini (aku sendiri memungutnya di
perempatan jalan, sembari menyanyikan semacam doa)
kereta terus melaju, dan begitu banyak yang ingin kukabarkan padamu.
Barangkali sebaiknya aku berkisah tentang ibu-ibu yang memakai topi pantai,
kakek bajak laut, gadis pemintal benang, adik
pengunyah permen karet. Ataukah
lebih baik aku bercerita tentang liuk-liuk rel yang melengkung
pegunungan mengombak dan aku tak tahu namanya; apakah Alpen, tanyaku ragu.
Bunyi mesin itu kian bersahutan dan aku membayangkan
kau menantiku di bangku-bisu stasiun
jaket hangat di tangan kirimu dan kenari bakar di tangan kananmu.
Lantas aku akan bertanya,
“Kemanakah kawanan bersayap itu bermigrasi?”
dan sahutanmu tentu serupa macaron warna-warni

atau gulali? Entahlah, segala kemanisan yang tak melekangi imaji;
Aku akan terdiam, mungkin memejamkan mata,
mendengarkan lantunan kata-katamu itu.
Jeda, yang kubayangkan seperti bagian-bagian seru dalam simfoni
patah-patah stakato-stakastik
sengau yang desah lebah madu.
Kereta-kereta berdatangan, berpergian — kita melambaikan tangan pada mereka
juga pada gedung-gedung Paris yang agak menangis,
dan aku akan kembali mendapati goresan namamu
pada kepala masinis yang kini terjaga, meniupkan peluitnya pada kita: Ah,
ada yang begitu indah di sana— bawa aku ke padang sabana matamu yang cokelat tua.

Yogyakarta, 2011

NN

 

**)Nggak tahu kenapa belakangan ini jadi suka lihat timeline bertahun-tahun yang lalu, sampai akhirnya ketemu puisi ini. Gimana kabar penulisnya ya.. ah, bukan waktu yang tepat unuk baper. But seriously, how is she?

***) I miss you anyway

Mbah Maridjan vs Anggota DPR

 

Almarhum Mbah Maridjan

 

Mbah Maridjan telah tiada, tewas dalam terjangan awan panas gunung Merapi Selasa 26 Oktober yang lalu. Kakek anggota abdi dalem kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat yang diutus Sri Sultan Hamengku Bhuwana IX ini meninggal dalam keadaan sujud ke selatan, kepadaNya.

Oke, kita tahu bahwa itu sudah menjadi berita umum. Yang membuat saya merasa sedih adalah tanggapan kawan-kawan di luar kota tentang Mbah Maridjan. Dengan gegabah beberapa dari mereka berkata bahwa Mbah Maridjan dukun atau paranormal yang sok tahu, terlalu percaya hal gaib, atau Sok Berani. Saya merasa maklum karena mereka belum tentu mengerti siapa itu mbah Maridjan, latar belakangnya dan tanggung jawabnya. Ini yang membuat saya sedih: banyak orang sok tahu yang asal berbicara tanpa mengetahui latar belakangnya, tentu saja terkadang saya termasuk dalam kategori ini.

Sebenarnya kejadian ini bisa dijadikan suatu pelajaran bagi kita, bagaimana caranya menjalankan tanggung jawab yang kita emban. Namun sebelum membahasnya, ada baiknya saya jelaskan sistem pemerintahan Negri Yogyakarta sebagai Daerah istimewa di Indonesia agar anda mengerti betapa penting tugas dari keraton yang diberikan kepada Almarhum Mbah Maridjan.

Daerah Istimewa Yogyakarta bukanlah provinsi pada umumnya, melainkan suatu kerajaan dan semua rakyat tunduk kepada kerajaan tersebut, sementara rajanya yakni Sri Sultan Hamengku Bhuwana merupakan orang yang bertanggung jawab atas pemerintahan di daerah ini langsung kepada Presiden.

Mbah Maridjan sebagai Abdi Dalem alias staff keraton memiliki tanggung jawab langsung untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh Sri Sultan, dan tugasnya adalah sebagai Juru Kunci Merapi. Perintah ini diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Bhuwana IX (satu generasi yang lalu), yakni orang yang memprakarsai terbentuknya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Juru Kunci bukan berarti menjaga Merapi agar tidak meletus, melainkan penghubung antara “Ngarso Dalem” alias kesultanan dengan Gunung itu sendiri dengan menjalankan tradisi lama seperti labuhan dan tradisi lainnya. Itulah tugas dari Mbah Mardijan yang sesungguhnya, jadi dia Bukan Dukun ataupun Paranormal.

Nah, Mbah Maridjan yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi Juru Kunci Merapi ini ternyata sudah mengalami transformasi cinta secara alami, dari cinta kepada manusia menjadi cinta pada alam, dalam hal ini Gunung Merapi. Mengapa ia tidak mau turun dan menyelamatkan diri? Tak lain dan tidak bukan adalah karena dua alasan tadi: Tanggung Jawab dan Cinta.

Mbah Maridjan vs DPR

Mbah Maridjan memiliki tanggung jawab sebagai media perantara, bukan penanda apakah gunung Merapi akan meletus atau tidak. Jadi dia bukan menantang alam dan bisa mencegah meletusnya gunung Merapi. Tugasnya adalah menetap disana dan menjalankan tradisi lama di gunung itu, dan dia melakukannya sampai akhir hayatnya. Inilah yang saya maksud sebagai Tanggung Jawab kepada tugas, beliau tidak lari meskipun dirinya terancam karena beliau sudah diperintah untuk tetap tinggal disana.

Sekarang, kita bandingkan dengan Anggota DPR. Tanggung jawab mereka lebih besar, memerintah negara Indonesia dan memikirkan nasib rakyatnya. Dengan segala kecukupan yang ada, fasilitas lengkap bahkan minta tambah. Tapi begitu dihadapkan masalah, mereka kabur kemana-mana. Katanya kunjungan kerjalah, studi bandinglah dan segala kemunafikan terhadap bangsa yang bisa mereka lakukan.

Lalu kita beralih pada gaji mereka. Mbah Maridjan mungkin mendapat penghasilan yang besar dari iklan, ditambah penghasiland ari usaha lokal. Di luar itu gajinya sebagai Juru Kunci hanya beberapa ribu rupiah, yang habis bila dipakai naik angkot pulang pergi ke keraton. Tapi lihat, dia tetap sederhana dan melakukan apa yang menjadi tugasnya. Menjalankan tradisi Labuhan—dimana beliau harus berjalan kaki di ajlan menanjak tanpa sepatu dan peralatan lain untuk menaruh sesajen dan membaca doa  setiap tahunnya. Asal tahu saja, saya yang  muda dan alhamdulillah suka berpetualang  ini masih menggap-menggap bila harus menempuh trail yang dilalui Mbah Maridjan ketika Labuhan, dan itupun baru 1/4 jalan.  Roso!

Beralih ke anggota DPR, sudah gaji berlebih masih mau nambah, baik yang halal maupun yang tidak halal. Saat rapat meninggalkan tanggung jawab, tidur! Ngobrol sendiri, atau bahkan berkelahi! Padahal cukup duduk di tempat ber-AC, lalu berpikir jernih dan sedikit bicara. Tapi mereka tetap tidak bisa melakukannya!

Terakhir: Cinta. Ya, mbah Maridjan mengalami transformasi cinta bukan kepada sesama manusia, melainkan pada alam. Hal inilah yang juga membuatnya tidak mau pergi ketika Merapi “batuk-batuk”.  Analogi, saat seseorang yang dicintai sedang sakit, kita tentu tidak akan meninggalkannya meskipun kita beresiko tertular. Begitu juga Almarhum Mbah Maridjan, saat Merapi batuk-batuk, tentu dia tidak akan meninggalkan gunung yang dicintainya tersebut.

Lanjut ke para “pemimpin bangsa”. Dalam kampanyenya mereka mengumbar-umbar rasa cinta kepada rakyat secara audio, tapi hasilnya nihil kan? Saya tak perlu membahas hal yang satu ini karena kalian tentu tahu sendiri, cukup menyisihkan waktu untuk merenungkan hal ini.

Jogja Berduka

Birdwatching di Kinahrejo

 

Dan ketika berita itu menyebar, seluruh rakyat Jogjakarta yang asli hanya bisa berduka cita sambil terus memuji keberaniannya, sementara orang-orang sok tahu yang “jogja-jogjaan” hanya mengomentari hal-hal negatif.

Masalah beberapa orang yang ikut meninggal jangan diumbar-umbar, mereka hanya salah berkeyakinan tentang Mbah Maridjan, padahal almarhum telah memerintahkan mereka tturun (dalam sebuah koran, beliau berkata seluruh warga untuk mematuhi anjuran pemerintah). Hanya saja kebanyakan orang menganggap Merapi akan aman selama ada mbah Maridjan, padahal mbah Maridjan sama-sekali tidak pernah berkata akan hal tersebut.

Jadi, kami semua di Jogjakarta hanya bisa menunduk tajam. Pria yang sederhana ini telah tiada, begitu juga dusun indah penuh kenangan Kinahrejo. Masih saya ingat masa-masa awal birdwatching saya disana, melihat keindahan alam yang diciptakanNya, bersama guru dan orang yang saya cintai. Saya masih ingat ketika orang yang saya cintai itu, menggandeng tangan saya menuruni bukit curam di tengah hujan, romantis 🙂 (hehehe, curhat sedikit) :-).

Yang pasti saat itu kami semua berduka, kami semua tertegun, lalu merenungi semua yang kami dapat hari ini. Cerita guru saya di SMAN 1 Pakem semakin membuat kami terisak, dan satu hal yang saya ingat saat mereka berkata:

“Belajarlah darinya, dari alam, dan juga  kesetiannya akan tugas”

Selamat Jalan Mbah Maridjan, Semoga diterima disisi-Nya