Kencan Pelu Bersama Yu Sritanjung

Hari ini saya kembali berkencan bersamanya, namun tanpa obrolan. Kami hanya melihat ke luar jendela, mendengar hentakan rel yang bersahut-sahutan, lalu tenggelam dalam memori masing-masing.

Sritanjung kini berwarna kelabu, memendam sejarah yang lalu menuju cerita nan baru

Sritanjung kini berwarna kelabu, memendam sejarah yang lalu menuju cerita nan baru

Beberapa minggu nan lalu, saya mengikuti Bali Bird Race (BBR) 2016 yang diselenggarakan oleh Himabio Universitas Udayana. Alasan saya mengikuti birdrace ini cuman satu: ingin berlibur sejenak dari hiruk-pikuk dunia orang dewasa nan rumit, sekaligus menikmati suasana Bali yang sudah lama tidak saya kunjungi. Bersama Abid dan Hasbi yang saya culik dari kewajiban skripsi mereka (huahahaha *tawa jahat*), saya pun berangkat menggunakan Sritanjung—kereta api ekonomi legendaris yang selalu sukses membuat baper setiap kali saya menumpang di gerbongnya.

Bagi pengamat burung Jogja yang sering mengikuti birdrace di Baluran tahun 2010-2014 lalu, nama Sritanjung ini akan selalu tersimpan di hati. Kereta ekonomi jurusan Lempuyangan-Banyuwangi Baru ini menjadi satu-satunya moda transportasi murah dan cepat yang bisa mengantarkan kita ke ujung timur Pulau Jawa. Di sini, kita pun akan terjebak dalam love-hate relationship nan rumit dengan besi-besinya yang berkarat—karena mau tidak mau, kita harus duduk terdiam di dalam gerbongnya selama belasan jam ke depan; menyebrangi setengah panjang Pulau Jawa dengan berbagai bentang alamnya yang serba ajaib.

Sritanjung dengan warna oranye saat dini hari di Stasiun Banyuwangi Baru Memori from 2010

Sritanjung dengan warna oranye saat dini hari di Stasiun Banyuwangi Baru
Memori tahun 2010

Bordress yang terbuka, menjadi tempat favorit kaum perokok sebelum dilarang PT KAI. Juga tempat favorit saya menyepi di tengah perjalanan. Memori tahun 2010.

Bordress yang terbuka, menjadi tempat favorit kaum perokok sebelum dilarang PT KAI. Juga tempat favorit saya menyepi di tengah perjalanan.
Memori tahun 2010.

Sejak tahun 2010, sudah sekitar 11 kali saya berkencan dengan mbak Sri—seluruhnya untuk tujuan yang sama: birdrace! Hampir setahun sekali, saya selalu menyempatkan diri berkencan dengan deritan baja tua yang membuat hati ngilu—seakan menusuk langsung ke gendang telinga. Di setiap perjalanan, saya selalu berusaha duduk di pinggir jendela, mengamati pak masinis yang meniup peluit keras. Di sinilah saya melihat suasna Kota Jogja di pagi hari berganti menjadi gundukan Karst Sewu yang naik turun, lalu berganti sawah-sawah kering di Madiun, kepadatan Kota Surabaya, tanggul Lapindo, senja di Probolinggo, hingga akhirnya seluruh pemandangan larut dalam kegelapan malam nan serba pekat.

Biasanya begitu kereta sudah sampai di kawasan Solo, keributan kecil pun mulai terdengar dari deretan kursi yang penuh oleh para birdwatcher. Umpatan ringan, sumpah serapah, hingga tawa terbahak-bahak pun terdengar dari tangan-tangan jahil yang sibuk memegang kartu poker. Inilah saat-saat ketika kami masih punya tenaga untuk mengusir kebosanan hingga beberapa jam ke depan, diselingi dengan makan siang berupa pecel pincuk atau nasi ayam yang rasanya super pedas!

Mas Tom dan Bintang, serta tiket lama Sritanjung yang masih bertuliskan "tanpa tempat duduk". Memori tahun 2011

Mas Tom dan Bintang, serta tiket lama Sritanjung yang masih bertuliskan “tanpa tempat duduk”.
Memori tahun 2011

Kontingen Jogja yang selalu ramai setiap ada birdrace di Baluran. Memori tahun 2011.

Kontingen Jogja yang selalu ramai setiap ada birdrace di Baluran.
Memori tahun 2011.

Teriakan PKL pun sontak terdengar dari gerbong ke gerbong, menawarkan berbagai dagangan yang entah apa namanya. Ada yang berteriak “rakarakaraka” seperti bergumam sambil membawa beberapa beberapa bungkus rokok. Ada juga yang bergumam “Sateee kraaang..” dengan logat yang aneh, namun rasa satenya memang enak. Yang paling legendaris? Tentu saja, teriakan “seteroooberyyy…” dari pedagang strawberry yang  sering muncul selepas kawasan Pasuruan, dengan penekanan huruf R yang sangat kuat. Ketika bapak yang satu ini datang, mata semua orang pun langsung tertuju ke saya.

“Bapaknya aja ngomong R-nya semangat, masak kamu nggak bisa!”

Asem.

Berbagai PKL sering muncul di kereta ini, termasuk pedagang burung. Si pedagang ini mungkin tidak tahu kalau dia baru saja masuk ke gerbong yang dipenuhi oleh masyarakat anti perdagangan burung, hahaha Memori tahun 2010

Berbagai PKL sering muncul di kereta ini, termasuk pedagang burung. Si pedagang ini mungkin tidak tahu kalau dia baru saja masuk ke gerbong yang dipenuhi oleh masyarakat anti perdagangan burung, hahaha
Memori tahun 2010

Nasi pecel ayam, favorit di jam makan siang. Memori tahun 2010.

Nasi pecel ayam, favorit di jam makan siang.
Memori tahun 2010.

Kursi super tegak membuat kita harus pintar mencari tempat bersandar. Memori tahun 2011.

Kursi super tegak membuat kita harus pintar mencari tempat bersandar.
Memori tahun 2011.

Sungguh, kenangan itu masih tercetak jelas di otak saya—yang sayangnya hanya akan menjadi sejarah. Ya, 3 tahun sudah berlalu sejak saya terakhir kali naik Sritanjung, dan berbagi hal pun terjadi dalam masa itu. Perombakan besar-besaran dari PT KAI secara sukses mengubah berbagai hal di dunia perkereta-apian di tanah Jawa. Bagi sebagian besar orang hal ini berarti peningkatan—mutu, pelayanan, kenyamanan, ketepatan waktu, semuanya. Tapi bagi memori saya, mungkin ini bencana besar.

Nyatanya, di kali ke 12 saya menunggang Mbak Sri (jangan ngerees…), semuanya terasa beda. Entah kenapa, kali ini saya merasa asing! Saya duduk diam di pinggir tempat duduk yang masih tegak, namun jauh lebih empuk. Charger Smartphone saya menancap di colokan yang ada di bawah jendela, sebuah kemewahan yang tidak pernah kita temukan sebelumnya. Tak ada keramaian pedagang lima. Tidak keramaian. Tidak ada kursi kayu super keras seperti yang sering kami nikmati dulu.. Lalu yang paling mengejutkan: tidak ada cat oranye di tubuhnya. Sritanjung berganti rupa: dari kereta ekonomi oranye yang panas dan sering telat, menjadi kereta abu-abu yang sepi, dingin, dan tepat waktu.

Sritanjung memang berubah, seperti semua hal yang terjadi di dunia ini. Dengan berat hati sekali lagi saya harus mengakui betapa dinamisnya dunia, selalu bergeser dari detik ke detik, membentuk sejarah baru yang akan ditinggalkan—serta tidak pernah terulang lagi. Dengan sedikit getir saya berpindah ke bodres—ruang kecil antar gerbong yang dulu sering menjadi tempat merokok favorit setiap penumpang, namun sekarang hanya menjadi tempat transit atau sekedar menunggu giliran buang air kecil. Di sini, 6 tahun yang lalu, saya berdiri mengagumi landscape Jawa Timur yang serba kering untuk pertama kalinya. Landscape itu masih terlihat sama, namun di sisi lain terasa berbeda.

Pada akhirnya Sritanjung selalu menjadi simbol absurditas perjalanan saya di dunia. Di sinilah terucap kata “goodbye” dari satu hape ke hape lain, diiringi lagu “1,2,3,4” dari Plain White’S yang mengingatkan saya pada bulan sabit di selatan sana. Di kursi tuanya, kami bermain poker dengan riang gembira sebelum tenggelam dalam rasa bosan berjam-jam. Di depan peronnya saya mengucap selamat tinggal pada orang lain begitu ia pulang ke Probolinggo. Semua bercampur aduk dalam rangkaian besi tua dan aroma AC lembab yang ada di kereta ini, menjadikan setiap kencan bersama Sritanjung terasa begitu syahdu meskipun ia telat melulu.

Pada akhirnya, Sritanjung bukan lagi kereta yang mengantarkan saya ke Stasiun Banyuwangi Baru, namun sebuah transportasi ekspres ke berbagai kenangan yang sudah lama saya pendam dari waktu ke waktu. Siapa tahu, kali ini Sritanjung akan membawa saya ke cerita baru, ke sebuah babak kehidupan yang jauh lebih unik nan menanti di seberang sana. Mungkin juga, kisah cinta yang baru.

Aihhhh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s