Menapaki Jejak Junghuhn, Menikmati Gelora Samudra

Ngongap, 5 Mei 2016

Franz Wilhelm Junghuhn menarik nafas panjang begitu mendengar gemuruh ombak lautan. Selama berminggu-minggu, ia sudah menjelajahi berbagai wilayah terpencil di tengah Pulau Jawa, berusaha menyebranginya secara vertikal dari Pantai Utara hingga ke Pantai Selatan. Setelah beberapa kali singgah di berbagai desa dan melukis beberapa pemandangan indah di kawasan tersebut, akhirnya ia pun sampai di Desa Rongkop nan terpencil. Tepat di sisi selatan desa ini, terbentang sebuah pantai karang tersembunyi tempat sang naturalis menemukan tujuan utamanya: Samudra Hindia.

800px-S-Kueste

Sudkuste Bei Rongkop, lukisan hasil karya Franz W. Junghuhn yang mengabadikan pemandangan Pantai Ngongap satu setengah abad yang lalu. Saat ini, beberapa fitur bentuk karang di lukisan masih bisa kita kenali di Pantai Ngongap.

Junghuhn memang berhasil sampai di Pantai Ngongap, sebuah pantai karang di selatan Desa Rongkop, Gunungkidul. Pantai ini memang tidak begitu tenar dibandingkan dengan pantai-pantai lain, namun namanya sudah tidak asing di kalangan pengamat burung Jogja—meskipun jarang dikunjungi karena lokasinya nan jauh. Di pantai inilah kita bisa melihat puluhan ekor burung Buntut-sate putih (Phaeton lepturus), sejenis burung laut (seabird) yang jarang terlihat di pesisir pantai. Bahkan menurut mas Kukuh, mungkin pantai Ngongap adalah satu-satunya tempat daratan Indonesia di mana kita bisa melihat Buntut-sate Putih secara dekat, tanpa harus berlayar di perahu.

Pertama kali saya mendengar tentang pantai ini dari cerita Bintang saat dia mengikuti JBW belasan tahun yang lalu, saat dia masih SD. Saya pun baru bisa mengunjungi pantai ini sekitar 2 tahun yang lalu, bersama kawan saya Khaleb Yordan yang ngebet ingin memotret si Buntut-sate Putih (lagi). Di kunjungan ini, saya pun mendengar kisah dari mas Kukuh tentang sang naturalis Franz Wilhelm Junghuhn yang pernah singgah di pantai ini di tahun 1856. Di sini, ia pun mengabadikan pemandangan sang pantai karang dalam sebuah lukisan–sama seperti beberapa destinasi lain yang sempat ia kunjungi, seperti Merapi, Dieng, serta Candi Sewu.

Ketika saya menyambangi Pantai Ngongap untuk yang kesekian kalinya, saya masih bisa membayangkan perasaan Junghuhn sekitar satu setengah abad yang lalu. Hamparan bukit karang yang seakan tidak berujung menjadi pemandangan yang biasa, diselingi beberapa ladang kecil di lembahnya. Deretan formasi tanaman pandan, semak dan pohon kelapa terlihat di kejauhan, memberi kesan hijau di antara landscape yang serba kering ini. Bukit tinggi dan jalanan yang rusak seakan menyembunyikan Samudra Hindia di belakangnya—membuat Pantai Ngongap tetap terjaga dari infeksi turis, tidak seperti pantai-pantai lain yang mulai rusak. Hanya bagi mereka yang mau tetap berjalan hingga titik tikungan terakhir, sebuah pemandangan indah akan langsung menyapa mata.

IMG_20160505_095958_HDR[1]

Samudra Hindia!

“Wuah, lauuuut!!!”

“Akhirnya sampai juga..”

“Bokongku keram lek!

Berbagai kalimat lain pun terlontar dari mulut para Bionicers di hari Isra Miraj itu, ketika kami melihat pemandangan mengejutkan di hadapan kami. Bentangan biru samudra—ribuan kilometer jauhnya—menghampar luas menuju horizon lengkung bumi. Daratan yang serta-merta berujung samudra ini memberikan efek kejut bagi siapapun yang sampai di ujung jalan berbatu, tepat di halaman parkir gazebo rapuh yang menjadi ikon utama pantai ini. Mungkin, rasa terkejut ini juga dirasakan oleh Junghuhn ketika menemukan pantai ini, apalagi setelah berjalan berminggu-minggu melewati pelosok tanah Jawa yang belum dijinakan.

IMG_20160505_121338

Rugged?

IMG_20160505_113747

Untamed Java

Ngongap ternyata masih sama dengan yang dulu. Dentuman ombak terdengar bertalu-talu, menghantam gua-gua bawah air yang ada di bawah tebing. Ratusan ekor Walet sarang-hitam (Aerodramus maximus) terlihat terbang santai di pinggir karang, ditemani Dara-laut Tengkuk Hitam (Sterna sumatrana) yang sesekali menukik ke lautan. Terkadang, beberapa ekor Dederuk Jawa (Streptopelia bitorquarta) terbang dari satu sisi ke sisi lain, lalu bernyanyi di bawah naungan bersama para Pelanduk Semak (Malacocincla sepiaria) yang tak pernah diam. Mungkin satu-satunya yang berubah hanyalah gazebo yang semakin kotor—tanpa kakek-kakek tua yang dulu sempat tinggal di sini, namun sekarang menghilang entah ke mana.

“Itu, buntut sate!” ujar Mas Kir sambil menunjuk ke langit, memecah kesibukan selfie-selfie kami yang seakan tidak ada habisnya.

Bagai dikomando, kami semua pun langsung menengok ke langit. Seekor burung putih cemerlang, terbang melayang di atas Samudra dengan anggun seakan tanpa beban. Bak layangan ringan yang tertiup angin kencang, ekor panjang sang Buntut-sate Putih pun berkibar lurus di belakangnya tubuhnya. Ia pun berputar di antara ombak, melewati kami yang melongo terpana, lalu kembali menghilang di balik barisan karang di ujung sana. Luar biasa!

DSCF3253

Sudkuste Bei Rongkop, lukisan hasil karya Franz W. Junghuhn yang mengabadikan pemandangan Pantai Ngongap satu setengah abad yang lalu. Saat ini, beberapa fitur bentuk karang di lukisan masih bisa kita kenali di Pantai Ngongap.

Entah apakah Junghuhn juga melihat burung ini di kunjungannya dulu—lagipula, dia memang bukan orang yang terobsesi pada burung. Namun, gemulai kepakan sayap sang Buntut-sate nan legendaris tetap menjadi tambahan yang istimewa bagi landscape Pantai Ngongap. Kami pun terpana dengan kehadiran burung-burung ini yang seakan tiada habisnya, terus menerus datang dengan gaya terbangnya nan halus. Saya yakin, jika Junghuhn juga melihat burung ini dulu , beliau akan semakin terpana dengan keindahan pesisir selatan Jawa yang selalu penuh dengan kejutan.

Hari itu kami hanya melihat sedikit burung di Pantai Ngongap, namun rasa puas pun tetap terasa di hati. Meskipun dataran Jawa sudah tidak seliar di tahun 1856, kami masih bisa merasakan aroma petualangan di kawasan pantai Ngongap yang seakan tidak tersentuh peradaban. Di sinilah kami menapak tilas jejak sang naturalis, merasakan kekaguman akan bentang alam Pulau Jawa yang sempat ia rasakan dulu. Semoga tempat ini tetap tersembunyi selamanya, jauh dari tangan liar manusia yang berusaha menaklukan segalanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s