Mikail Kaysan,Sang Child Prodigy di Dunia Pengamat burung Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, Indonesia sempat digemparkan dengan kehadiran Joey Alexander—sang “child prodigy” di dunia Jazz yang mendapat 2 nominasi di Grammy Award. Di dunia pengamat burung, kita memiliki “child prodigy” sendiri yang bernama Mikail Kaysan, sang birder cilik.

“Ayo nji, nonton Kaysan di TV!” ujar mas Imam tepat di depan gang menuju Bionic Basecamp, kontrakan baru kami yang berada di kawasan Kronggahan.

Saya tersontak kaget, karena jarang sekali mas Imam pulang sesore ini. Biasanya, sang sesepuh Bionic ini sering pulang larut malam—sampai-sampai sering terkunci di luar kontrakan karena para penghuninya sudah pada tepar duluan. Kali ini, beliau terlihat bersemangat untuk segera sampai di kontrakan, duduk di depan tv, lalu menikmati beberapa acara ndak penting dengan wajah penun penantian. Wuah, kejadian super langka nih!

Beberapa waktu kemudian acara yang kami tunggu-tunggu pun dimulai: sebuah talkshow khusus untuk menyambut hari pendidikan nasional. Kami pun sangat antusias menanti kedatangan Kaysan, si birdwatcher cilik yang belakangan ini menggemparkan jagad pengamatan burung. Setelah setengah acara berjalan, barulah si Kaysan kecil muncul ke panggung, berhadapan langsung dengan Menteri Pendidikan Anies Baswedan yang menjadi pemandu acara. Saat itu, kami girang bukan main menyaksikan wakil termuda generasi birdwatcher muncul di acara tv bergengsi, disaksikan oleh jutaan pasang manusia di Indonesia.

13133217_10207820862377659_3020434640795989266_n

Mikail Kaysan sang Child Prodigy

“Mantap kay, makin nge-fans!” ujar mas Imam malam itu, sebuah kalimat khas yang selalu beliau ucapkan untuk menyanjung sang child prodigy di dunia pengamatan burung.

***

Kaysan memang layak disebut “Child Prodigy” alias anak ajaib karena aksinya yang tergolong luar biasa untuk anak seumurannya. Di dunia pengamatan burung, ada beberapa birdwatcher cilik di dunia yang layak mendapatkan gelar ini, seperti William Brewster,Mya-Rose Craig, atau John Kinghorn. Di Indonesia sendiri kita pernah dihibur dengan kehadiran Bintang, si birder imut-imut yang agak salah didikan sehingga jadi amit-amit. Sekarang, seluruh mata tertuju pada Kaysan, si pemegang tongkat “Child Prodigy” terbaru di generasi birdwatcher di tahun 2010-an.

Jujur saja, siapapun sebenarnya bisa membawa anak yang masih kecil ke acara pengamat burung lalu langsung meng-klaim title pengamat burung termuda di Indonesia. Namun, apa yang dilakukan Kaysan lebih dari sekedar seorang anak yang dipaksa mengamati burung karena diajak orangtua atau saudara. Meskipun umurnya baru di awal belasan tahun, ia sudah masuk dalam lingkaran utama komunitas birdwatcher di Indonesia. Ia tidak hanya menjadi pengamat burung termuda di Indonesia, tapi juga seorang author buku pengamatan burung di umurnya yang baru 12 tahun!

Saya pertama kali mengenal Kaysan ketika mbak Shanty—ibunda Kaysan—menghubungi saya via FB untuk mengetahui spot-spot pengamatan burung di Jogja. Saat itu, saya sedang sibuk-sibuknya ujian sehingga tidak bisa bertemu Kaysan secara langsung. Saya hanya mengenal namanya saja, khususnya ketika disebut di beberapa status Facebook milik teman-teman Jakarta. Rupanya, muka Kaysan yang imut-imut menjadi magnet bagi para mbak-mbak birdwatcher di sana! (Duh Kay, aku jadi iri :p).

Sekitar setahun yang lalu, barulah saya bertemu Kaysan secara langsung. Saat itu saya didaulat menjadi pemateri di Festival Burung Pantai yang diadakan oleh KPB Bionic UNY. Di situlah saya berkenalan secara formal dengan bocah bergigi kelinci ini, lalu bertukar cerita tentang pengalaman birdwatching­-nya yang mumpuni. Dengan semangat, ia pun bercerita tentang berbagai jenis burung di Pantai Trisik pagi hari itu, khususnya tentang Terik Australia (Stiltia isabella) yang tergolong langka di Pulau Jawa. Kami pun terlibat perbincangan seru hingga malam hari, dilanjut dengan pengamatan burung air keesokan harinya—dengan bonus seekor Trinil Rumbai (Philomacuhus phugax) di pematang sawah yang baru dipanen. Wow!

Dari pertemuan awal ini, saya pun semakin sering bertemu dan mengobrol dengan Kaysan—baik secara langsung maupun melalui media sosial milik orangtuanya (maaf, belum punya fanpage :p). Dari sini, saya pun semakin percaya kalau Kaysan bukan anak biasa—he’s a natural born birdwatcher! Kemampuan identifikasi, fotografi, serta tulisan-tulisannya di http://catatankaysan.weebly.com semakin menunjukan kebolehannya di dunia perburungan; bukan hanya sebagai birdwatcher, tapi sebagai ornitholog di masa depan.

12278796_10206657957985776_7535559165210605394_n

Mikail Kaysan sang Child Prodigy

Buku pertamanya, Buku Panduan dan Aktivitas: Pengamatan Burung Liar di Banjarharjo 1 menjadi bukti yang nyata tentang keseriusan Kaysan di bidang ini. Hal ini pun disusul dengan debut perdananya memperesentasikan makalah di Konferensi Pengamat, Pemerhati dan Peneliti Burung di Universitas Atmajaya. Meskipun tingkahnya polos dan lugu (nggak kayak Bintang, pemegang rekor birdwatcher termuda sebelumnya yang agak mesum), Kaysan tetap dapat menyajikan presentasi nan berbobot, layaknya seorang peneliti sungguhan. Tidak ayal kalau Pak Pram selaku ketua Indonesian Ornithologist Union (IdOU) menganugrahkan gelar “Promising Young Ornithologist” pada Kaysan di akhir acara tersebut. Keren!

Seperti mas Imam, saya pun semakin ngefans dengan Kaysan. Saya berharap anak ini mampu mewakili dunia pengamatan burung di Indonesia kepada dunia, serta mengembangkannya ke tingkat yang belum kita bayangkan saat ini. Oh ya, semoga saja ia tidak terlalu cepat “dewasa” seperti si Bintang! Hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s