Jeram-jeram Waktu

Saya  baru saja kehilangan sabuk lama saya, dan saya sedih dengan hal itu.

Mungkin, akan ada banyak orang yang menganggap saya lebay. Jujur saja, apalah artinya sebuah sabuk yang selalu bisa kita beli di luar sana, dari harga yang murah hingga yang paling mahal. Namun, sabuk yang baru saja saya hilangkan ini bukanlah sabuk biasa. Bukan, bukan harganya yang mahal atau merknya yang terkenal—namun memori yang terkandung di dalamnya, beserta sejuta koneksi cerita yang bisa saya dapat setiap kali menggunakannya.

Jpeg

“si Jambret”

Sabuk ini merupakan sabuk Eiger biasa yang saya dapat sebagai doorprize di lomba pengamatan burung Taman Nasional Baluran tahun 2010 silam. Saat itu, saya masih menggunakan sabuk karatan dari sekolah yang sudah hampir tidak bisa berfungsi lagi. Karena kebanyakan celana saya sedikit kebesaran di daerah pinggang, sabuk pun menjadi alat yang vital di kehidupan saya waktu itu. Hal inilah yang membuat saya sedikit berharap bisa mendapatkan sabuk di acara pembagian dooprize—dan entah bagaimana caranya, doa saya terkabul! Itulah yang menjadi awal pertemuan saya dengan si sabuk ini.

Selama 6 tahun (3 kali masa pacaran dan 5 kali masa gebetan), sabuk ini resmi menjadi barang terawet yang pernah saya miliki. Jujur saya, saya bukanlah orang yang awet dalam menggunakan barang-barang. Hampir semua barang yang saya miliki sulit bertahan selama lebih dari 1 atau 2 tahun, entah itu hilang, rusak, atau tergantikan oleh barang lain. Makanya, ketika sabuk ini hilang saya jadi agak sedikit.. depresi. Hiks.

Santai saja, ini bukan inti dari cerita saya di postingan kali ini.

Momen-momen kehilangan sabuk ini kembali mengingatkan saya akan kekuatan waktu yang ada di hidup manusia. Bisa dikatakan bahwa waktu bagaikan sungai yang terus mengalir, menghanyutkan kita—manusia—di jeram-jeram takdir yang entah di mana ujungnya. Suatu saat kita akan bertemu daun-daun lain yang ikut hanyut di jeram yang sama—sabuk, jabatan, pekerjaan, sahabat, keluarga, dan lain-lain. Di jeram berikutnya, daun-daun ini bisa saja tetap menempel bersama kita, atau hanyut ke cabang sungai yang lain—dan berpisah selamanya.

Waktu mempertemukan kita dengan seseorang, terkadang dengan cara yang tidak wajar—seperti komentar di facebook atau sebuah gubuk di pinggir jalan. Kemungkinan besar orang-orang yang kita temui akan kita lupakan begitu saja, namun ada sedikit kemungkinan kita akan mengenal orang itu semakin dekat akibat aliran waktu. Kemudian kita menjadi sepasang sahabat, lalu sepasang kekasih. Tanpa diduga, waktu pula yang akan membawa  kita berpisah sedikit demi sedikit, lalu akhirnya kembali menjadi orang asing. Seperti kata Makoto Shinkai di film super-galaunya 5 Centimeters Per Second: waktu membawa kita mendekat dengan seseorang, lalu memisahkan kita perlahan-lahan.

Tentu saja, deskripsi ini sedikit membuat waktu terlihat seperti seorang bajingan yang membuat berbagai masalah di kehidupan kita. Tapi, saya yakin bahwa waktu hanyalah makhluk Tuhan yang menjalankan tugasnya. Di aliran hidup, ia hanya mengalir mengikuti perintah dari Yang Maha Kuasa, menghanyutkan kita hingga akhir yang hanya diketahui oleh-Nya. Waktu bukanlah musuh, namun guru yang mengajarkan kita tentang kehidupan di jeram-jeramnya—dari yang tenang hingga yang rusuh, dari air yang manis hingga yang paling tercemar.

Sabuk yang hilang ini mungkin menjadi salah satu jangkar terkuat saya terhadap memori di masa lampau. Dialah yang menjaga celana kedodoran saya tetap berada di atas pinggang di waktu-waktu akhir saya sekolah, ketika menghadapi UAN, atau menghadapi dua OSPEK terkutuk di dua universitas yang berbeda. Sabuk ini pun ikut menemani saya ke India, mengarungi cerita-cerita Hans Christian Andersen, atau ikut membeku kedinginan saat musim dingin ke Amsterdam. Dia menyaksikan saat-saat saya mencari kata yang tepat untuk menjawab sms berbagai gebetan, menemani saya di kencan di Nikkou Ramen, atau merasakan himpitan batin disaat hubungan harus berakhir. Pada akhirnya, hubungan saya dengan si sabuk sakti ini pun berakhir—6 bulan setelah kami bertemu, ketika jeram waktu membawa kita ke dua anak sungai yang berbeda.

Ya, suatu saat waktu akan menghapus semua memori saya, meskipun saya tidak mau. Namun selagi saya masih mengingatnya, saya akan selalu menikmatinya lagi dan lagi. Itulah yang bisa kita lakukan di jeram waktu, yang senantiasa selalu berubah dari satu anak sungai ke anak sungai lainnya.

****

NB: Setelah seminggu berlalu, saya kembali menemukan sabuk kupret ini yang ternyata nyempil di tas. Serius, saya sudah memeriksa tas satu demi satu, tapi mungkin memang tas saya begitu ribet dan terlalu banyak kantong sehingga ia pun lolos dari pemeriksaan. Sialnya, saya sudah membeli sabuk baru seharga Rp.80.000… Jambret.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s