Amsterdam, 2 Dunia di Satu Kota

eSudah lumayan lama nih nggak posting di blog ini, saking sibuknya sama pekerjaan yang menumpuk. Yah, beginilah nasib ketika kita mengambil hobi menulis sebagai profesi, jatah menulis kata-per-hari yang biasanya bisa dimanfatkan untuk nulis blog harus dialihkan ke pekerjaan demi mendapatkan sesuap nasi untuk dimakan (terlalu berlebihan ya? hahaha). Intinya, memang sulit membagi waktu untuk menulis “hobi” ketika kita sudah bekerja sebagai “penulis”.

Kali ini saya nggak mau cerita panjang lebar, cuman mau nge-share beberapa coret-coretan yang sempat saya buat beberapa bulan yang lalu. Tulisan ini aslinya saya kirim ke lomba menulis “Travelmates Western Australia” dari National Geographic Indonesia, sebuah kompetisi prestisius dengan hadiah jalan-jalan gratis ke Australia Barat. Alhamdulillah, tulisan ini lolos hingga tahap seleksi 20 besar–satu langkah terakhir sebelum masuk 10 besar yang bakal dikirim ke Australia Barat, ditentukan dengan proses interview dengan dewan juri. Sayangnya, ternyata saya nggak berhasil melewati proses seleksi terakhir ini, sehingga kesempatan bertemu dengan quokkas pun pupus di tengah ujung jalan… hiks..hiks *nangis darah*.

Setelah dipikir-pikir, daripada tulisannya kebuang sia-sia mending saya masukan saja ke blog ini. Lumayan lah, bisa update cepat supaya blog semata wayang ini nggak sepi-sepi amat (mungkin ini juga yang jadi penilaian dewan juri, karena waktu interview ditanya soal blog dan keaktifan menulis :p). Well enough to said, just enjoy!


Amsterdam, 2 Dunia di Satu Kota

Belasan perempuan muda berpakaian “hemat” bersolek dari balik etalase kaca, sedikit cuek dengan udara musim dingin nan beku. Sebuah dipan empuk terlihat di belakang mereka, bersebelahan dengan sebuah pintu mungil yang mengarah entah ke mana. Di luar bangunan, beberapa pasang mata sibuk berjalan sambil menengok ke setiap jendela yang terbuka, seakan menimbang-nimbang “orang” yang ingin mereka beli. Etalase “manusia” ini berbaris di sepanjang gang sempit di tengah kota, berhias lampu-lampu neon merah yang tetap menyala di siang bolong.

“Jangan nyalakan kamera,” kata Jan sambil terus berjalan di depan saya. “Mereka kurang suka difoto. Salah-salah kamera kamu bisa diambil paksa.”

Saya mengangguk pelan. Red Light District memang bukan tempat yang cocok untuk membawa kamera, meskipun kita tidak mengambil gambar sekalipun. Ada banyak cerita tentang turis yang menghadapi kemalangan tersebut di kawasan ini, membuat saya berpikir Pekerja Seks Komersial di sini benar-benar paranoid dengan kamera. Saya pun memutuskan untuk memasukannya ke dalam tas hingga kami melewati lokasi “panas” tersebut.

Setelah melewati gang-gang sempit yang penuh etalase, kami pun sampai di sebuah lapangan luas di tengah kota. Sebuah katedral tua berdiri di tengahnya, terlihat megah dengan menaranya yang menjulang. Kami memasukinya melalui sebuah gerbang lengkung yang tertutup, mengarah langsung ke main hall. Tidak banyak perabot yang ada di dalamnya, hanya beberapa baris kursi kecil dan sebuah altar yang tidak terlalu besar—terlihat asing di tengah hall gereja yang sangat luas. Inilah Oude Kerk, salah satu gereja tertua di Amsterdam.

 

“Bagaimana bisa sebuah gereja berdiri di tengah-tengah kawasan.. uh, itu?” tanya saya sambil menunjuk ke gang-gang sempit yang baru saja kami lewati.

“Yah, mungkin untuk mengakomodasi kebutuhan laki-laki yang merasa bersalah setelah menggunakan jasa mereka,” jawab Jan dengan nada bercanda.

“Bukankah ini terlalu ekstrem?”

Jan tertawa kecil. “Tidak ada yang terlalu ekstrem di Amsterdam. Kota ini memang penuh dengan warna.”

***

Hingga hari ini saya belum bisa menemukan kata yang cocok untuk mendeskripsikan Amsterdam. Kota ini benar-benar penuh dengan warna, penuh dengan kejutan, membentuk potongan puzzle rumit yang harus disusun untuk mendapatkan keseluruhan gambaran tentang kota ini. Coba kita ambil kanal-kanal tua, bangunan merah bata, dan ribuan sepeda yang terparkir sembarangan menjadi pemandangan khas di kota ini—namun sekali lagi, belum cukup untuk menggambarkannya secara penuh. Dibutuhkan pemahaman yang lebih dalam ke berbagai sudut gelap kota ini untuk mengenali lebih jauh—tapi bagi saya, hal ini justru membuat Amsterdam terasa lebih sulit untuk dijelaskan.

Saya mengunjungi Amsterdam pada musim dingin di tahun 2015 yang lalu, ketika seorang sahabat bernama Jan mengundang saya untuk berkunjung ke negaranya. Selama 4 hari saya tinggal di rumah Jan, sebuah rumah tingkat 3 yang ada di kawasan centrum, jantung dari kota Amsterdam. Waktu yang terbatas ini saya manfaatkan untuk mengenal kota ini sebaik mungkin, memahami setiap unsur yang hidup di dalamnya dari berbagai sudut pandang berbeda.

Begitu sampai di Amsterdam, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menyesuaikan diri. Rasanya saya sudah tidak sabar ingin merasakan suasana kota yang terkenal dengan julukan “Venice of The North” ini. Setelah beristirahat beberapa jam, saya langsung mengajak Jan berkeliling kota Amsterdam secepatnya. Ketika Jan bertanya bagian kota mana saja yang ingin saya datangi, saya langsung menjawab “Semuanya, termasuk Red Light District.”

“Serius? Kamu tahu kan itu tempat apa?” kata Jan dengan ekspresi wajah yang agak pesimis. Tentu saja Jan paham kawasan tersebut bukanlah tempat yang cocok bagi saya—seseorang yang dibesarkan di budaya fundamentalis nan kental. Tapi saya tetap bersikeras ingin mengunjungi kawasan panas tersebut—bukan karena saya ingin menyewa PSK, tapi karena kawasan tersebut masuk dalam daftar “Top 10 Must Visit Place in Amsterdam” yang saya baca di internet. Lagipula, apa asyiknya traveling tanpa merasakan culture shock dari budaya yang berbeda?

“Baik. Memang Amsterdam nggak terlalu besar, jadi kita bisa mengitari semuanya dengan berjalan kaki,” Jawab Jan sambil mempersiapkan mantel tebalnya. “Kita berangkat.”

Kami menyusuri jalanan Overtoom yang ramai, penuh dengan bangunan tinggi yang didominasi warna merah bata. Trotoar yang ramai dibatasi oleh sebuah jalur aspal sempit, dilewati oleh ratusan sepeda yang terus melintas seakan tidak ada habisnya. Sebuah rel kecil terlihat di bagian tengah jalan aspal yang luas, sesekali dilewati oleh kereta trem berwarna putih kebiruan. Puluhan toko buku, supermarket, dan rumah makan dari seluruh dunia berbaris di sepanjang jalan. Sebuah coffeeshop—toko ganja—terlihat mengebul di ujung jalan, dipenuhi oleh para pemuda yang asyik menghisp hashis. Tidak ada salju yang terlihat, meskipun kami berada di puncak musim dingin di Eropa.

Kami menyebrang sebuah perempatan besar di ujung blok, menuju jalan kecil yang sepi. Jalan ini berbelok menuju Vondelpark, taman terbesar dan teramai di seluruh Amsterdam. Beberapa orang terlihat sibuk berlari-lari kecil di jalan setapak licin, seakan tidak peduli dengan musim dingin yang membuat saya menggigil. Di sisi lain, sekelompok rombongan anak muda—sepertinya turis dari negara lain—berkumpul mengelilingi seorang pedagang ganja ilegal . Tidak ada polisi yang melihat, tidak ada orang yang peduli, semua orang seperti sudah terbiasa dengan hal ini.

Perjalanan kami berlanjut ke Leidseplein, menyebrangi sebuah kanal besar yang ramai dengan perahu Canal Tour. Di musim dingin memang tidak banyak yang terjadi di kawasan ini, namun di musim panas kanal merupakan pusat perayaan Gay Pride Festival di Amsterdam. Dari sini, hanya perlu berjalan kaki beberapa menit ke Dam Square, pusat kota Amsterdam yang terkenal. 3 buah bangunan besar berdiri di sini: Royal Palace, Niuwe Kerk, dan Museum Madame Tussauds yang terkenal. Jan membawa saya ke Nieuwe Kerk, sebuah gereja tua dari abad ke-15 yang menjadi pusat keagamaan di masa lampau. Gereja ini terlihat megah dengan dinding batunya nan kokoh, berdiri menjulang hingga puluhan meter ke angkasa. Sebuah gerbang besar memandu kami ke bagian dalam gereja yang luas, namun apa yang saya temukan di dalamnya benar-benar di luar dugaan. Tidak ada kursi-kursi panjang, tidak ada altar dan lilin—hanya sebuah ruangan besar yang penuh dengan karya seni, patung-patung besar, dan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan keagamaan. Apakah ini benar-benar gereja?

“Dulunya iya, tapi sejak tahun 1980-an gedung ini sudah beralih fungsi” kata seorang petugas tiket yang menyambut kami di pintu masuk. Rupanya, Niuwe Kerk dan beberapa gereja tua lain di Amsterdam sudah tidak digunakan lagi sebagai tempat peribadatan. Alasannya cukup mudah ditebak: biaya perawatan dan pajak nan mahal, ditambah minimnya jumlah jamaah yang datang. Gedung-gedung ini pun beralih kepemilikan, beralih fungsi menjadi tempat eksebisi karya seni, resital organ, dan lain-lain.

Tidak jauh dari Niuewe Kerk, berdirilah salah satu kompleks wisata paling terkenal di Amsterdam: De Wallen, atau yang lebih dikenal dengan nama Red Light District. Tempat ini dipenuhi oleh gang-gang kecil yang penuh etalase kaca layaknya pusat perbelanjaan—namun bukan barang yang dipajang, melainkan ratusan gadis muda dari berbagai ras yang bekerja sebagai PSK. Tepat diantara jaringan gang ini berdirilah Oude Kerk, gereja tertua di Amsterdam yang masih berfungsi hingga saat ini, namun dalam skala yang jauh lebih kecil. Rasanya aneh membayangkan sebuah lokasi yang religius terjepit diantara jaringan prostitusi terbesar di Eropa.

Beberapa ratus meter di utara area ini kita akan menemui Damrak, sebuah jalan besar yang menghubungkan pusat kota dengan stasiun pusat Amsterdam. Lokasi ini menjadi tujuan utama para turis di Amsterdam, membuatnya penuh sesak dengan toko-toko suvenir yang berderet di pinggir jalan. Selain gantungan kunci, kaus, payung dan suvenir-suvenir lain yang biasa kita temui di toko oleh-oleh, etalase di jalanan ini juga dipenuhi dengan kondom, dildo, vibrator dan berbagai hal berbau seksual lain. Tidak ketinggalan beberapa produk-produk nyeleneh lain seperti cookies ganja, teh hashis, atau permen karet rasa marijuana. Sepertinya di mata para turis nama Amsterdam sudah terlalu melekat dengan hal-hal ini.

“Saya sudah terbiasa dengan pemandangan ini, tapi saya tetap tidak menyukainya,” kata Jan. “Seks dan narkotika, seluruh destinasi turis terlalu banyak dipenuhi oleh hal semacam ini.”

Jan bukan seorang yang religius, tapi bukan berarti dia atheis. Dia masih mengaku dirinya sebagai seorang Katolik, meskipun dia sudah jarang pergi ke gereja. Pensiunan pengacara ini selalu menekankan pentingnya arti ketuhanan setiap kali kami terlibat diskusi tentang agama. Memang aneh memikirkan bagaimana Jan bisa mempertahankan keyakinannya di tengah arus budaya yang sangat bebas di kota ini. Dia mengaku tidak pernah merokok ganja atau bermain ke Red Light District—baginya, kedua hal ini bukanlah Amsterdam yang sesungguhnya, hanya sebuah persepsi yang diciptakan untuk mendatangkan turis semata.

“Ini gambaran Amsterdam di mata para turis. Orang-orang di sini bergantung pada turis, mereka mengikuti pasar. Mereka mengikuti apa yang turis inginkan, dan sayangnya para turis hanya ingin seks dan ganja. Padahal, masih ada banyak hal lain yang bisa kita temukan di kota ini,” ujarnya panjang lebar.

Sepulang dari acara jalan-jalan di hari itu, kami mengunjungi sebuah toko buku kecil tepat di seberang rumah Jan. Seorang gadis berjilbab melayani kami dengan ramah, mencarikan setiap buku yang kami butuhkan. Tiba-tiba saya teringat satu judul buku yang ingin saya berikan pada seseorang di Indonesia, tapi saya sendiri tidak yakin buku tersebut ada di toko ini.

“Ada Lolita?” tanya saya ke wanita tersebut.

“Nobokov? Wow, selera kamu bagus juga. Saya suka buku itu!” jawabnya sambil mengetik sesuatu di komputernya. “Sepertinya stok di sini sudah habis, coba cari di toko buku lain.”

Saya tersenyum tipis. Siapa sangka, ternyata wanita berjilbab ini juga membaca Lolita—sebuah novel kontrovesial karangan Vladimir Nobokov, bercerita tentang kisah cinta seorang lelaki pedofil yang jatuh hati pada gadis bernama Lolita.

***

“Ayo pergi ke masjid. Kamu juga butuh beribadah kan?” tanya Jan di hari kedua saya di Amsterdam.

Saya mengangguk setuju. Jujur saja, pengalaman kemarin membuat saya bertanya-tanya tentang komunitas religius yang ada di Amsterdam. Bagaimana cara mereka hidup di antara lingkungan yang penuh kontras ini? Bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu pun terngiang di pikiran saya seharian.

Hari itu, kami berkendara ke El Tawheed, sebuah masjid kecil di pinggiran kota Amsterdam—didirikan oleh komunitas imigran yang tinggal di sekitarnya. Tidak seperti kawasan centrum yang serba ramai dan rustic, kawasan di luar Amsterdam terasa lebih sepi dan sederhana. Tidak ada bangunan tua dengan atap yang unik, hanya apartemen-apartemen berdinding kelabu yang tidak terlalu menarik untuk difoto.

Masjid El Tawheed pun sama sekali tidak terlihat sebagai sebuah masjid, kecuali jika kita memperhatikan papan nama kecil yang ada di pintunya. Dari luar, bangunan ini hanya terlihat sebagai sebuah ruangan di lantai basement apartemen biasa. Begitu masuk ke dalam, barulah saya bisa melihat satu sudut ruangan beralaskan karpet yang menjadi tempat salat para jamaah di masjid ini.

Kedatangan kami disambut oleh seorang penjaga masjid yang sangat ramah. Wajahnya yang tertutup janggut tersenyum ketika kami menyalaminya. Beliau mempersilahkan Jan untuk duduk dan membuatkan teh bagi kami berdua, sementara saya langsung menuju ruang ibadah untuk menunaikan salat zuhur sendirian. Begitu selesai, saya langsung bergabung dengan Jan dan sang penjaga masjid yang sedang asyik menyesap teh sambil bercakap-cakap bagaikan kawan lama.

Saya lupa menanyakan nama sang penjaga masjid, namun saya ingat dia berasal dari Pakistan. Beliau bercerita cukup banyak hal soal komunitas Islam yang cukup banyak di Amsterdam, bahkan lebih banyak dari komunitas religius lain yang masih tersisa. Beberapa kali kami membahas soal sisi lain Amsterdam yang sangat kontras dengan prinsip dan nilai komunitas muslim, juga tentang luasnya kebebasan dan keanekaragaman kultural yang saya saksikan kemarin. Beliau pun mengeluhkan betapa berbedanya kehidupan di Amsterdam dengan tanah kelahirannya dulu, namun ternyata hal ini tidak menjadi masalah besar bagi jamaah di masjid ini.

“Sekali lagi, ini kembali ke pribadi masing-masing. Perbedaan adalah hal yang biasa di dunia yang penuh cobaan. Apakah Anda mau terbawa arus dunia, atau tetap berpegang pada iman dan agama—itu semua hak Anda dalam menjalankan hidup,” jelasnya panjang lebar. “Di sini, saya merasa lebih mudah mendapatkan pahala, saking banyaknya cobaan yang saya terima!” ujarnya sambil tertawa.

“Ini pertama kalinya saya ke masjid di Amsterdam,” kata Jan sambil tersenyum. Selama ini ia hanya mendengar keberadaan komunitas muslim di Amsterdam melalui media massa—tentu saja, kebanyakan berhubungan dengan terorisme dan hal-hal radikal lain. Bahkan menurut Jan, Masjid El Tawheed ini sering dicap radikal dan setiap kegiatannya diawasi oleh pemerintah. Hal ini bermula dari peristiwa pembunuhan Theo Van Gogh di tahun 2004 yang diduga dilakukan oleh seorang jamaah masjid ini. Tentu saja, pandangan itu sedikit berubah ketika berbincang-bincang dengan penjaga masjid tadi.

“Dia sangat ramah, tapi dia tidak memperbolehkan saya masuk ke ruangan itu. Padahal saya juga ingin berdoa dengan cara sendiri. Atas alasan apa?” ujar Jan dengan nada datar setelah kami keluar dari masjid. Saya tidak bisa menjawab pernyataan tersebut, mengingat konsep wudhu dan batas suci sama sekali tidak mudah dijelaskan dalam bahasa Inggris.

Kami kembali berkendara ke luar kota, kali ini menuju Bloemendaal aan Zee yang terkenal sebagai wilayah pantai terbaik di sekitar Amsterdam. Dibutuhkan waktu setengah jam untuk mencapai pantai ini, melalai perbatasan Taman Nasional Zuid-Kennermelan dan tumpukan sand dunes-nya yang terkenal. Pantai berpasir putih ini menjadi salah satu tempat liburan yang paling diminati di musim panas, apalagi dengan kehadiran nudist area di salah satu sudut pantai tersebut. Namun hal ini berubah 180 derajat di musim dingin, ketika angin dingin dari laut bertiup kencang dan membuat suhu udara anjlok hingga 0 derajat celcius. Tidak ada satupun nudist yang berjemur, hanya beberapa orang berjaket tebal yang sibuk memandangi ombak lautan.

Di pantai ini, lagi-lagi saya menemukan contoh unik perbedaan budaya nan ekstrem ala Amsterdam. Tepat di bibir pantai, kami melihat puluhan potong buah-buahan segar—apel, jeruk dan pisang—yang tergeletak begitu saja di atas pasir. Begitu kami mendekat, barulah saya mengenali potongan bunga dan nampan segiempat yang ikut hanyut bersama buah-buahan tersebut, mengingatkan saya akan sesajen yang sering ditemukan di pantai-pantai Pulau Bali. Sepertinya kami baru saja melewatkan sebuah prosesi keagamaan yang baru saja dilakukan di pantai Bloemendaal aan Zee, sebuah pantai yang justru terkenal akan di nudist beach musim panas.

Acara jalan-jalan hari itu kami tutup dengan mengunjungi Westermoskee, sebuah masjid yang baru di bangun di perbatasan kota Amsterdam. Masjid ini disebut-sebut sebagai yang terbesar di kawasan Amsterdam dan digadang-gadang sebagai pusat komunitas Islam di kota ini. Berbeda dengan El Tawheed, kita bisa mengenali masjid ini dari jauh—dengan kubah yang terbentuk jelas dan menara tinggi dari batu bata merah yang mencolok, sebuah karya yang indah dari arsitek Prancis Marc dan Nada Breitman. Bangunan ini berdiri tepat di tepi Sungai Schinkel yang indah, dengan pemandangan kota pinggiran Amsterdam yang penuh bangunan bertingkat. Sayangnya masjid ini masih belum dibuka begitu saya mengunjunginya di musim dingin yang lalu, sehingga kami hanya bisa menikmati arsitekturnya dari luar. Lucunya, tidak jauh dari masjid ini berdirilah sebuah Coffeeshop dan kedai liquor yang cukup ramai, mengingatkan saya pada kasus Oude Kerk kemarin. Sungguh sebuah kondisi yang sesuai dengan tulisan di spanduk masjid tersebut, “Westermoskee – For a More Colorful Amsterdam”.

“Sepertinya Amsterdam tidak pernah jauh dari hal-hal kontras,” ujar Frank, seorang warga lokal yang mengajak kami mengobrol di depan Westermoskee. Menurutnya, pembangunan masjid ini pun tidak jauh dari berbagai kabar miring dan penolakan oleh warga setempat—namun ia menekankan hal ini terjadi karena keduanya belum mengerti satu sama lain. “Orang-orang cenderung takut pada hal yang mereka belum mengerti, termasuk saya. Tapi jika masjid ini sudah dibuka, saya ingin sekali berkunjung dan mengenal lebih dekat komunitas muslim di sini.”

Malam itu, saya dan Jan duduk di sebuah restoran Thailand tidak jauh dari rumahnya. Sambil menyesap sup panas pedas, kami berdiskusi tentang berbagai hal yang kami temui selama perjalanan 2 hari ini. Saya pun mengaku kalau Amsterdam terasa begitu asing—penuh dengan kontras antar budaya yang berbeda. Berbagai kultur dari sudut pandang yang sangat berbeda tumpah ruah di kota ini, mengalir berdampingan satu sama lain. Terkadang kita bisa melihat perbedaannya dengan sangat jelas, membentuk sebuah garis tebal yang sangat berbeda di antara keduanya. Namun, seringkali kedua kultur itu bercampur satu sama lain, membuatnya mustahil untuk dibedakan satu sama lain. Semua hal ini terasa ekstrem, tapi memang tidak ada yang “terlalu ekstrem” di Amsterdam.

“Amsterdam memang penuh warna berbeda,” ujar Jan sambil menyeruput wine merah yang ia pesan. “Tinggal bagaimana kita bisa memilih warna yang tepat untuk hidup di kota ini.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s