Dari Kereta yang Mengantarkanku ke Paris, ke Montmantre

Ada yang tidak bisa kuceritakan padamu; sebuah pagi
jatuh di atas sulir rambutku, serupa
terjalan bukit salju.
Kuberitahukan padamu, aku telah bangun dengan sebuah keriangan yang jarang
yang pernah kulakukan sekali ketika aku harus berhenti
mencintai ilalang, semak berudu, atau pun punggungnya, ah,
punggungnya yang memanjang martir — tak semartir milikmu.

Lalu jendela plastik itu
penuh oleh tetes embun yang tak pernah kuundang, dan aku
mencari namamu di antara cercah-cercah rel
bungkusan makanan di bawah kursi penumpan,
pun roda-roda yang menggigis di telingaku.
Tetapi rupa-rupanya kau begitu mirip dongeng-dongeng hantu
Mitos masa kecil yang acapkali membuatku meregang nyawa
menghitung biri-biri melompati pagar sampai hitungan lusin
Ironisme yang bau ikan asin, sebab pada akhirnya
aku tidak pernah tertidur. Tidak, sampai
namamu kutemukan di atas kepala masinis yang mendengkur.

****

Kereta ini akan membawaku ke Paris,
ke Montmantre
ke tempat-tempat bergang kecil dan lembab
: gedung opera, resital piano — aku duduk dengan gaun putih,
berlagak menjadi Rachmaninoff, dan kau
yah, kau seolah-olah Humbert yang jatuh cinta secara tak waras pada Lolita
ketawarasan sempurna yang entah kenapa membuatku
tak dapat membedakan manakah partitur bernot balok itu
dan yang manakah oasis suaramu—
kemudian malam akan larut; kau boleh
membawaku berjalan mengelilingi gedung-gedung tua
jembatan batu-bata, jalan-jalan santa
: tujuh putaran penuh sambil meracaukan cinta dalam bahasa asing
dalam harmoni yang mirip putaran gasing.

****

Ada yang masih tak bisa kuceritakan padamu dalam surat
yang kutuliskan di atas lembar maple ini (aku sendiri memungutnya di
perempatan jalan, sembari menyanyikan semacam doa)
kereta terus melaju, dan begitu banyak yang ingin kukabarkan padamu.
Barangkali sebaiknya aku berkisah tentang ibu-ibu yang memakai topi pantai,
kakek bajak laut, gadis pemintal benang, adik
pengunyah permen karet. Ataukah
lebih baik aku bercerita tentang liuk-liuk rel yang melengkung
pegunungan mengombak dan aku tak tahu namanya; apakah Alpen, tanyaku ragu.
Bunyi mesin itu kian bersahutan dan aku membayangkan
kau menantiku di bangku-bisu stasiun
jaket hangat di tangan kirimu dan kenari bakar di tangan kananmu.
Lantas aku akan bertanya,
“Kemanakah kawanan bersayap itu bermigrasi?”
dan sahutanmu tentu serupa macaron warna-warni

atau gulali? Entahlah, segala kemanisan yang tak melekangi imaji;
Aku akan terdiam, mungkin memejamkan mata,
mendengarkan lantunan kata-katamu itu.
Jeda, yang kubayangkan seperti bagian-bagian seru dalam simfoni
patah-patah stakato-stakastik
sengau yang desah lebah madu.
Kereta-kereta berdatangan, berpergian — kita melambaikan tangan pada mereka
juga pada gedung-gedung Paris yang agak menangis,
dan aku akan kembali mendapati goresan namamu
pada kepala masinis yang kini terjaga, meniupkan peluitnya pada kita: Ah,
ada yang begitu indah di sana— bawa aku ke padang sabana matamu yang cokelat tua.

Yogyakarta, 2011

NN

 

**)Nggak tahu kenapa belakangan ini jadi suka lihat timeline bertahun-tahun yang lalu, sampai akhirnya ketemu puisi ini. Gimana kabar penulisnya ya.. ah, bukan waktu yang tepat unuk baper. But seriously, how is she?

***) I miss you anyway

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s