I Amsterdam Trip 2015: Immigration Rush

Setiap kali ke luar negeri, masalah imigrasi selalu bikin pusing. Ya, setelah banyaknya kasus terorisme, penyelundupan dan pemalsuan paspor yang semakin terekspos dari hari ke hari, kebanyakan negara mulai menaruh curiga yang berlebihan kepada WNA yang datang. Negara adidaya seperti Amerika menjadi salah satu yang paling paranoid tentang hal ini, dengan berbagai sistem keamanan yang secara latah juga diterapkan di negara-negara sahabatnya. Tidak jarang kita mendengar cerita-cerita seram dari orang Indonesia (kebanyakan dengan penekanan ‘muslim’) yang sering diperlakukan tidak adil di imigrasi, seperti diletakan di antrian khusus, diinterogasi berjam-jam, sampai bahkan ditahan atau dideportasi. Hmm.. nggak tahu deh kenapa harus ditekankan kata muslim, padahal di paspor juga nggak ada keterangan agama yang dianut.

Sebenarnya sih saya gak tahu cerita ini benar, atau hanya ulah segelintir orang sial yang selalu berpandangan muslim itu umat yang ‘teraniaya’. Alhamdulillah sih sampai saat ini saya nggak pernah dapat kesialan macam itu, jadi saya nggak merasa ‘terdzolimi oleh bangsa barat’ seperti yang sering diceritakan itu. Memang muka saya nggak arab-arab banget plus nggak punya jenggot gondrong, tapi kan nama saya tetap ada unsur islaminya (nama belakang saya Akbar). Prinsip saya, selama kita jujur, santai dan memenuhi persyaratan legal, kita nggak bakal diapa-apain kok! Just relax, karena kalau kelihatan tegang justru kita bisa dicurigain macem-macem—lagipula, apa yang harus ditakuti?

Nah, waktu ke Belanda kemarin, baru kali itu saya dapat sedikit masalah di imigrasi. Di bandara Schipol, saya baru saja pulih dari penerbangan 18 jam dari KL-Amsterdam yang super membosankan. Kebosanan saya langsung pulih ketika merasakan udara musim dingin pertama saya di Eropa, langsung menusuk tubuh begitu berdiri di depan pintu pesawat. Seperti penumpang lain, saya langsung bergegas menuju konter imigrasi di terminal kedatangan, tempat di mana Jan mungkin sudah menunggu. Tentu saja, saya masih sempat memotret beberapa bagian bandara yang lumayan bagus ini.

IMG_20150129_073912

Bandara Schipol yang penuh orang-orang ngantuk

Di konter imigrasi, rupanya sudah ada beberapa antrian yang cukup panjang. Saya langsung memposisikan diri di konter yang penunggunya bermuka lebih ‘ramah’, buat jaga-jaga saja, hehehe. Nah di sinilah mulai ada perasaan nervous yang tiba-tiba datang, padahal tidak ada hal yang terjadi. Saya langsung menutup rasa gugup ini dengan pikiran-pikiran baik. Toh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena saya membawa seluruh persyaratan dengan lengkap, mulai dari return ticket, alamat rumah Jan, dan visa schengen multiple entry yang tertempel di brand new paspor yang baru dibuat (nah, justru ini yang jadi masalah nanti!).

Desain paspor baru yang penuh ciri khas Indonesia.  Kece, tapi..

Desain paspor baru yang penuh ciri khas Indonesia. Kece, tapi..

Pas giliran saya maju, saya langsung pasang muka super innocent dan menyerahkan paspor dengan getsur sehalus mungkin, meskipun masih gemetar gara-gara kedinginan (atau nervous ya?). Dengan sedikit bekal bahasa Belanda yang saya pelajari dari Jan, saya sapa petugas imigrasi itu dengan nada semanis mungkin: “Goeie morge! (selamat pagi!)”

“Hey Goie morge,” jawab petugas dengan nada ramah. “Bisa bahasa Belanda?” tanyanya balik dalam bahasa Inggris.

“Nggak, cuman belajar sedikit, hehehe..” jawab saya sambil nyengir kesetanan.

Percakapan pun dilanjutkan soal hal-hal biasa, seperti pulang kapan, sama siapa, semalam berbuat apa (eh?). Saya jelaskan dengan teliti kalau saya tinggal selama 5 hari sambil nunjukin return ticket, terus saya datang karena diundang sama teman dan tinggal di Overtoom, Amsterdam selama di Belanda (agak susah juga karena nggak tahu pengucapan overtoom yang benar). Pas ditanya invitation letter, saya bilang nggak ada (karena emang cuman dikasih 1 copy sama Jan dan langsung dikasih ke kedutaan). Petugasnya sih manggut-manggut aja, tapi mukanya agak cemberut ketika men-scan paspor baru saya yang kece dan penuh gambar khas Indonesia itu. Tiba-tiba si petugas ini memanggil temannya dan langsung membisikan beberapa kata yang tidak saya pahami.

“Is this a new pasport?” tanyanya dengan muka selidik.

“Uh.. yes..” jawab saya mulai panik. “A little bit odd, but this is the new pasport of Indonesia” kata saya mengacu pada desain paspor baru yang kece. “I bring the old one if you want to see.”

Kedua petugas itu berbicara lagi dalam bahasa Belanda. Saya semakin dibuat gugup sama situasi ini.

“Come with me,” kata petugas imigrasi yang baru dateng ini. Duh gawat, ada apa ya?

Saya dibawa balik ke belakang dan disuruh duduk di tempat duduk panjang di depan kantor petugas imigrasi tersebut. Di sisi lain, saya melihat beberapa orang yang sepertinya sama-sama kena masalah sama imigrasi, dengan muka yang agak lelah, panik dan bahkan berlinang air mata (karena ngantuk, bukan nangis!). Ingatan saya terbawa ke adegan-adegan “Catching Smuggler” dan “Ultimate Airport Dubai” yang sering saya tonton sebelum berangkat, bercerita tentang pekerjaan petugas imigrasi yang sering menangkap para penyelundup dan pemalsu paspor di bandara. Waduh, tambah grogi nih!

“Santai saja,” kata petugas imigrasi tadi dengan nada yang benar-benar ramah. “Duduk dulu di sini,  ada masalah kecil sama paspor Anda, jadi kami harus cek ke kantor lain dulu.”

“Lha kenapa nggak dicek sendiri aja?” tanya saya heran.

“Mereka lebih tahu soal paspor.. eh, kami juga tahu, cuman mereka lebih ahli, jadi lebih bisa memverifikasi ini palsu atau bukan.”

Wah, nggak mau dibilang kurang ahli nih ye!

“Pokoknya santai saja, nggak lebih dari 15 menit kok! Selama menunggu kamu mau kopi atau teh?”

“Eh, nggak usah..” jawab saya bingung. Padahal saya sebenarnya pengen kopi gratis, tapi saking gugupnya malah bilang nggak!

Petugas itu pun berlalu dan saya cuman bisa duduk kedinginan di bangku panjang itu. Orang disamping saya ternyata kena pemalsuan paspor, jadi dia langsung diinterogasi di bagian dalam kantor. Saya semakin deg-degan kalau-kalau saya bakal diinterogasi karena paspor kece itu dianggap palsu, terus ceritanya bakal sama dengan cerita-cerita ‘terdzolimi’ yang sering dishare di Facebook itu. Saya juga takut ditolak masuk karena kasus hukuman mati terpidana narkoba yang sempet bikin panas hubungan kedua negara ini beberapa hari yang lalu, sampai-sampai duta besar Belanda dipanggil pulang ke kampung halamannya (saya deg-degan kalau ini mempengaruhi visa yang lagi saya buat di kedutaan Belanda, untungnya sih visa tetap keluar!).

Setelah sekitar 2 jam bertanya-tanya(rupanya juga ada budaya ngaret di sini!), akhirnya paspor kembali ke tangan. Petugas yang membawa paspor saya bilang kalau ini cuman masalah kecil yang sering dialami paspor baru, cuman masalah sistem yang nggak ada hubungannya sama saya sama sekali. Dengan muka ramah, mereka mengantarkan saya langsung ke pintu keluar, terus meminta maaf atas ketidaknyamanan yang saya rasakan. Hmm.. bener-bener tanpa bentak-bentak, pelecehan agama atau penggeledahan paksa seperti yang sering saya dengar di Facebook!

Saya pun langsung mengambil tas yang sudah sendirian di bagage claim karena yang lain sudah diambil sama yang punya. Setelah beberapa menit ditanya-tanya lagi di gerbang bea cukai (kali ini saya yang ngajakin ngobrol karena bawa obat-obatan pribadi di dalam tas), saya akhirnya sampai juga di terminal kedatangan. Jan yang sudah bosan menunggu langsung sumringah begitu melihat saya di depan pintu keluar.

“Hello little fella, kenapa lama sekali?” tanyanya penasaran. Begitu saya jelaskan masalahnya, dia langsung tertawa geli. “Tentu bukan gara-gara kamu seorang islam dari negara teroris yang baru saja menghukum mati warga kami, ya kan?” jawab Jan dengan nada bercanda pus meledek, salah satu ciri khas-nya yang unik. Akhirnya, saya sampai di Amsterdam, dan merasakan musim dingin pertama seumur hidup!

I Amsterdam!

I Amsterdam!

dua muka ngantuk..

dua muka ngantuk..

Kesimpulan dari cerita ini, mitos bahwa imigrasi barat suka ‘mendzalimi umat’ sebenarnya hanya hasil dari paranoia kita saja. Yah, sudah cukup sering lah kita dipengaruhi doktrin bahwa “orang barat itu buruk, orang timur itu ramah” yang sering diucapkan guru-guru baik di sekolah maupun tempat ngaji. Selama persyaratan lengkap, PeDe, dan tetap respect sama mereka, kita bakal baik-baik aja kok! So, jangan asal bilang ‘saya umat yang didzalimi’ kalau emang persyaratan kamu nggak lengkap/bawa barang yang dilarang, itu mah kesalahan sendiri.

Well, tunggu cerita selanjutnya tentang acara jalan-jalan di Amsterdam ya!

2 thoughts on “I Amsterdam Trip 2015: Immigration Rush

  1. Ping-balik: I Amsterdam Trip 2015: My First (Fake) Winter Experience | The Chronicles of Saxony

  2. Hahahaaa lucu cerita nya
    Tapi emang menyeramkan sih kalau udah berhadapan dengan ke imigrasian.
    Oh iya kalau tidak bisa berhasa Inggris gimna tu apa bisa nanti lolos dari imigrasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s