Visa Schengen, Lagi..

Di suatu siang yang agak sejuk di Kaliurang, suatu cerita unik terjadi. Saat itu saya sedang berjalan bersama Jan, seorang birder dan pensiunan pegacara dari Belanda saya yang sedang berkunjung ke Jogja selama  2 minggu. Kami baru saja selesai mengamati burung di kawasan Goa Jepang, ketika orang tua eksentrik ini mengatakan sesuatu yang sedikit membuat saya kaget saat itu.

“Kamu tahu, beberapa hari ini saya sangat senang bisa mengamati burung di Jogja,” kata Jan. “Bagaimana kalau kamu saya undang ke Belanda?”

GLEER! Bagai petir di siang bolong, saya langsung mengkonfirmasi kata-katanya barusan.

“Ya, kamu saya undang dan saya akan bayar seluruh biayanya, sama seperti teman Denmark kamu dulu. Kamu mau?”

Saat itu saya cuman bisa berdiri mematung, bukan karena kaget, tapi karena bingung! Bingung dnegan betapa uniknya jalan cerita hidup saya belakangan ini. Belum genap 2 tahun saya mendapatkan undangan yang sama dari Jens, my best birding friend ever dari Denmark, sekarang saya terjebak dalam situasi yang sama dengan destinasi yang tak kalah keren! Masih dalam mode trance, saya langsung mengiyakan tawaran langka itu. Ya, saya akan kembali ke Eropa—dan kali ini, di musim dingin!

Beberapa bulan setelah itu, munculah masa-masa sulit ketika saya harus kembali berurusan dengan visa dan paspor. Ternyata, paspor lama saya akan habis masa berlakunya di akhir tahun 2014, sehingga saya harus kembali berurusan dengan kantor imigrasi Yogya yang sempat membuat saya jengkel 4 tahun yang lalu. Untungnya rasa jengkel ini tidak muncul lagi, berkat sistem pembuatan paspor baru secara online yang sangat cepat, mudah dan efisien. Pelayanannya pun sangat ramah dan tidak bertele-tele. Hanya dalam waktu 1 minggu, paspor baru saya sudah jadi, kali ini dengan desain baru yang benar-benar kece!

Desain paspor baru yang penuh ciri khas Indonesia. Kece kan?

Desain paspor baru yang penuh ciri khas Indonesia. Kece kan?

Setelah paspor, saya harus berurusan dengan pihak kedutaan Belanda untuk membuat Visa Schengen lagi. Nah, berbeda dengan negara Schengen lain yang melimpahkan proses pembuatan visa ke pihak ketiga (VFS), Visa Schengen dari Belanda tetap harus dibuat di kedutaan. Persyaratannya sebagian besar sama, mulai dari foto dengan ukuran yang ‘abnormal’, fotokopi paspor, asuransi perjalanan, booking return ticket, booking hotel/invitiation letter dari pengundang di negara tujuan, bukti keuangan serta biaya administrasi yang lumayan mencekik dompet. Untungnya, saya sudah sedikit paham cara mendapatkan syarat-syarat tersebut, plus trik-trik khusus untuk memperbesar peluang  visa diterima, jadi rasanya nggak begitu gugup seperti dulu.

Pada kesempatan ini saya menggunakan asuransi travel  S******s yang harganya lebih murah dari asuransi A** yang saya gunakan waktu ke Denmark tahun 2013 yang lalu. Tapi ternyata, harga miring ini ternyata sesuai dengan pelayanannya yang payah. Sistem pembayaran polis sangat tidak jelas dan harus menggunakan dollar di kasir bank yang menyediakan asuransi tersebut (waktu di A** juga pakai dollar, tapi bisa bayar pakai rupiah dengan currency yang berlaku). Selesai bayar, saya tidak dikasih tahu apa-apa soal konfirmasi polis yang saya beli, jadi saya langsung kembali ke kantor asuransi di lantai 3 gedung yang sama. Anehnya, staff yang saya temui terlihat bingung dan langsung meminta struk pembayaran tadi. Beberapa minggu kemudian, saya malah ditelpon pihak asuransi yang meminta saya melunaskan pembayaran polis! Yah begitu deh, ada harga, ada kualitas.

Untuk tiket pesawat, saya mengandalkan situs Nusatrip.com, yang saya pilih setelah beberapa kali survei via internet. Rupanya ada tiket super murah dari Malaysia Air, dengan harga sekitar Rp.9.500.000,- untuk rute Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam PP! Tentu saja, harga murah ini diakibatkan oleh kondisi musim dingin yang minim traveler, plus dua kejadian buruk yang menimpa nasib maskapai ini tahun 2014 yang lalu—salah satu kejadian tersebut terjadi di rute yang sama yang akan saya tumpangi! Cukup bikin merinding, tapi nggak apa-apalah selama dapat harga tiket yang super murah ini.

Waktu pembuatan visa pun datang. Berbeda dengan waktu membuat Visa Schengen di VFS dulu, di kedutaan Belanda kita harus membuat appointment secara online untuk mendapat nomer antrian penyerahan berkas yang dibutuhkan, dengan beberapa pilihan waktu dari pukul 08.00-11.00. Setelah membuat appointment, kita diharuskan untuk datang ke kedutaan sesuai dengan waktu yang kita pilih, dan tidak boleh terlambat lebih dari 15 menit. Untungnya, rumah saudara tempat saya menginap cukup dekat dengan lokasi Kedutaan Belanda di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, sehingga saya tidak perlu khawatir soal kemacetan Jakarta yang super parah.

Untuk masuk ke kedutaan, kita harus menunjukan kertas bukti pembuatan appointment. Setelah melewati pemeriksaan keamanan, kita akan memasuki lobi terbuka yang penuh dengan kursi, meja dan loker untuk menitipkan tas dan menyiapkan berkas-berkas yang akan diserahkan. Di sudut ruangan ada studio photo kecil sekaligus tempat fotokopi dengan tarif yang lumayan mahal. Belajar dari pengalaman dulu, saya memilih untuk mengambil pas foto di tempat ini, karena seringkali pas foto yang sudah kita siapkan bakal ditolak dengan berbagai alasan. Sedikit curang, ya? Hehehe.

Selesai menyiapkan berkas, saya langsung menuju sebuah meja untuk diperiksa kelengkapan berkas dan diberikan map yang sesuai dengan tujuan visa kita (liburan, bisnis, mengunjungi teman, dll). Saya langsung diarahkan untuk masuk ke ruangan lain tempat kita menyerahkan berkas sekaligus diwawancarai soal hal-hal yang akan kita lakukan di Belanda. Wawancaranya sendiri sih standar aja, selama berkas kita lengkap Insya Allah bakal lancar. Setelah itu mereka akan meminta scan sidik jari dan kita diwajibkan membayar uang administrasi yang dibayarkan dalam rupiah sesuai dengan kurs yang berlaku. Selesai deh!

Nah, perbedaan antara membuat visa di kedutaan Belanda dengan di VFS ternyata cukup mencolok. Pertama, tentu saja harganya yang lebih murah, karena di kedutaan kita tidak perlu membayar biaya jasa untuk si pihak ketiga tersebut. Kedua, karena tidak ada biaya jasa, tidak ada layanan pemberitahuan via SMS dari VFS yang cukup membantu ketika saya membuat Visa Schengen untuk ke Denmark dulu. Ketiga, pelayanan di VFS sedikit lebih ramah dari di kedutaan yang staff-nya agak sedikit bermuka masam (waktu di VFS dulu petugasnya bahkan mau mengeprintkan file yang lupa saya cetak!). Terakhir, meskipun kita mengajukan visa single entry, di kedutaan Belanda kamu akan tetap mendapatkan visa multiple entry yang bisa dipakai berkali-kali sebelum masa berlakunya habis!

Setelah seminggu menunggu, saya pun mendapatkan lagi secarik label pink yang menemel di halaman pertama paspor baru saya. Dua hari kemudian, saya sudah siap menjajal musim dingin pertama saya di Amsterdam, dengan muka yang super sumringah karena nggak sabar melihat salju.Yup, saatnya berangkat!

Hello Europe, i’m back

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s