Denmark Trip 2013 part 7: Ribe, Kota Para Viking

Mohon maaf lama tidak update, untuk selanjutnya timeline di blog ini akan sedikit kacau! mohon maklum ya :p

Di hari ke-8 saya di Denmark, Jens membawa saya ke sebuah lokasi yang sangat istimewa: Ribe, kota tertua di seluruh dataran Denmark. Ribe merupakan sebuah kawasan kota bersejarah yang dilestarikan oleh pemerintah Denmark, dan merupakan salah satu ikon wisata yang cukup menarik khususnya bagi penggemar Viking. Karena ada dua kegiatan yang sangat berbeda di perjalanan kali ini, saya membagi cerita ini menjadi dua bagian: setengah perjalanan pertama yang difokuskan pada kegiatan birding di sekitar kota, dan setengah perjalanan selanjutnya ketika kami menikmati uniknya kota tua Ribe yang penuh sejarah. Enjoy!

******

Sebenarnya, dari stasiun Ribe kita sudah bisa melihat kompleks kota tua dengan jelas. Menara-menara merah terlihat menjulang, begitu mencolok di antara ratusan rumah tua ala negeri Skandinavia tempo dulu. Dari stasiun, kita hanya perlu berjalan beberapa ratus meter untuk mencapai kompleks bersejarah ini, ditandai dengan berakhirnya jalanan aspal yang halus dan berganti menjadi jalanan batu bata, yang berakhir di sebuah lapangan luas dikelilingi oleh rumah-rumah yang cantik. Tepat di tengahnya, terdapat sebuah gerbang besar yang menandai awal perjalanan kita di kota tua Ribe, perumahan para Viking di masa lampau.

Museum Viking Ribe

Museum Viking Ribe

Pintu masuk museum viking Ribe

Pintu masuk museum viking Ribe

Nah, karena saya dan Jens lebih mementingkan birding di taman kota, kami tidak masuk melalui gerbang itu. Kami menyusuri beberapa jalanan kecil di taman hingga sampai di sebuah lorong kota yang sibuk; sebuah outdoor bazaar yang cukup ramai oleh berbagai macam orang. Ada banyak hal yang dijual di sini, mulai dari pakaian, makanan kecil, dan lain-lain. Sayang sekali, souvenir murah meriah yang saya cari ternyata tidak dijual di sini. Hmm..

Oh iya, bazaar itu sendiri sudah masuk dalam kompleks kota tua Ribe, ditandai oleh bangunannya yang berwarna-warni, berdinding tebal dan kasar seperti terbuat dari lumpur. Tidak seperti di kota tua Jakarta yang bangunannya sudah berganti fungsi, rumah-rumah di sini masih digunakan sebagai tempat tinggal oleh pemiliknya. Ada peraturan lokal yang membatasi penggunaan rumah tersebut: setiap pemilik diperbolehkan tinggal dan merubah sisi dalam (interior) bangunan yang dimilikinya, namun dilarang mengubah sisi luar (eksterior) agar suasana tempo dulu tidak hilang dari kawasan ini.

Beberapa rumah terlihat memiliki struktur unik di atapnya: sebuah keranjang kayu memutar yang berukuran cukup besar. Menurut Jens, struktur ini aslinya merupakan sarang buatan bagi para Bangau Putih (White Stork, Ciconia ciconia) yang merupakan burung penanda keberuntungan bagi masyarakat jaman dulu. Sayangnya, sudah tidak ada lagi populasi White Stork yang tersisa di Denmark sejak 5 tahun terakhir. Hal ini diakibatkan oleh perubahan habitat yang digunakan menjadi lahan pertanian. Duh, sayang sekali ya!

Sarang bangau diatas rumah, sekarang sudah tidak dipakai lagi (karena White Stork punah di daerah ini)

Sarang bangau diatas rumah, sekarang sudah tidak dipakai lagi (karena White Stork punah di daerah ini)

Dari Bazaar, kami menyusuri beberapa alley di kota yang unik ini. Hampir di setiap jalan, terdapat parit kecil di bagian tengah, bukan di pinggir seperti biasanya. Kota ini pun sangat bersih, tidak ada satupun sampah yang terlihat di setiap sudutnya. Pada akhirnya, semua alley di kota mengarah ke pusat yaitu alun-alun kota Ribe, dengan sebuah katedral besar berbahan batu bata di tengahnya. Ya, inilah tujuan utama kami: Our Lady Maria’s Cathedral atau biasa disebut sebagai Ribe Cathedral, salah satu tujuan wisata paling ramai di kota tua Ribe.

1175200_10200940134483762_739539907_n

Ribe's Cathedral

Ribe’s Cathedral

Cathedral ini dibangun pada abad pertengahan dan merupakan salah satu gereja tertua di negara ini, menandai peralihan kepercayaan para bangsa Viking dari dewa-dewa Asgard ke Kristen Katolik (sebelum beralih ke protestan di masa modern). Untuk masuk ke dalam selain di waktu misa, kita diperlukan membeli tiket masuk yang harganya cukup murah jika dibandingkan dengan museum Viking di luar sana. Di dalamnya selain terdapat ruang utama dan beberapa altar untuk beribadah, ada juga berbagai macam ornamen-ornamen unik yang menandakan sejarah gereja dan kota ini secara keseluruhan. Ada beberapa makam orang-orang penting di gereja ini, lalu di sisi belakang terdapat sebuah altar kontemporer yang merupakan bagian paling baru di gereja ini, dihiasi oleh beberapa lukisan berwarna-warni yang unik (sedikit kontroversial karnea merusak kesan tua gereja itu sendiri).

Sisa-sisa relief katolik di Ribe's Chatedral

Sisa-sisa relief katolik di Ribe’s Chatedral

1185502_10200940135643791_1437589300_n

Pojok kontroversial di Ribe's Chatedral

Pojok kontroversial di Ribe’s Chatedral

Di lantai dua, terdapat sebuah museum mini yang menjelaskan sejarah gereja ini pada abad pertengahan dulu. Tidak banyak yang bisa saya baca karena kebanyakan penjelasan hanya tersedia dalam bahasa Denmark. Jens pun lansung menarik saya ke sebuah pintu di belakang museum, yang mengarah ke sebuah tangga memutar. Hmm, saya diajak kemana lagi ya?

1005664_10200940135923798_764287508_n

Tangga ini ternyata mengarah ke menara gereja, bangunan paling tinggi di kota. Pemandangan kota ini pun terlihat dengan sangat jelas, dengan berbagai macam bangunan tua maupun modern yang berdiri di atasnya. Tidak sampai di situ saja, kami juga bisa melihat ratusan hektar ladang gandum yang ada di sekitar kota, menunjukan betapa datarnya tanah di negara ini (tidak ada satupun bukit ataupun gundukan yang terlihat!). Bahkan Esbjerg yang letaknya beberapa puluh kilometer pun bisa terlihat dari tempat ini!

Kota Ribe dari ketinggian

Kota Ribe dari ketinggian

1235077_10200940136723818_617891138_n

Denmark is so flat!

Denmark is so flat!

“Kamu lihat tempat itu?” kata Jens sambil menunjuk sebuah lokasi  di sudut kota. Lokasi itu cukup unik, berupa gundukan tanah yang cukup luas dengan sedikit reruntuhan di atasnya, di kelilingi oleh parit yang memutar gundukan tersebut. “Kamu tahu itu apa?”

Any kind of castle, i guess,” jawab saya, yang dibalas dengan anggukan ringan dari Jens.

“Kita akan menuju ke sana.”

11181_10200940138483862_449876279_n 1003382_10200940138883872_398942641_n

Kami pun turun dari menara dan segera menuju tempat yang dituju. Belum jauh kami melangkah, Jens berhenti di depan sebuah toko roti. Akhirnya dia pun mengajak saya untuk duduk sejenak dan menikmati roti khas Denmark di toko tersebut. Jens memilih dua macam roti yang tidak mengandung daging babi untuk kami nikmati, tapi saya sama sekali tidak tahu nama roti tersebut. Roti pertama diisi oleh lapisan coklat yang manis, sementara roti kedua harum dengan aroma kayumanis yang sangat kuat di tepiannya. Enak!

Yummy!

Yummy!

599276_10200940137803845_1139039142_n 1236950_10200940137963849_1440559498_n

Kami melanjutkan perjalanan ke arah lokasi tadi, keluar dari kawasan kota tua, sedikit tersasar di kawasan perumahan, dan akhirnya sampai di sebuah reruntuhan kastil tua yang unik: Ribehus Castle. Daratan bekas kastil itu berdiri dipisahkan dengan kanal selebar 5-10 meter, dan dihubungkan oleh sebuah jembatan tanah di salah satu sisinya. Tidak banyak reruntuhan yang tersisa, hanya sudut-sudut tembok yang masih berdiri tegak. Di salah satu sudut tersebut, terdapat sebuah patung wanita yang menarik perhatian saya. Tidak ada keterangan apapun mengenai patung tersebut, hanya semburat wajahnya yang ramah yang menjadi petunjuk bahwa orang ini cukup dihormati oleh rakyat pada masa itu.

Queen Dagmar come from the sea...

Queen Dagmar come from the sea…

1175636_10200940139723893_760052524_n

“Dia adalah ratu dari negeri seberang dan menikah dengan raja di sini. Rakyat pada saat itu sangat menyukainya,” jelas Jens singkat tanpa memberi tahu siapa nama ratu tersebut.

Setelah saya googling-googling di rumah, barulah saya tahu nama sang lady itu: Queen Dagmar of Bohemia, istri dari King Valdemar Sejr. Ratu ini merupakan salah satu ratu yang paling populer di Denmark, dan beberapa lagu rakyat tentang dirinya masih dinyanyikan oleh masyarakat Denmark. Sayangnya sang ratu jatuh sakit dan meninggal dalam usia muda di Ribe, dan masyarakat pun membuat patung untuk menghormati dirinya.

Puas berkeliling, kami kembali ke kegiatan rutin kami: birdwatching! Sebenarnya kami sudah melihat cukup banyak burung ketika berkeliling kota tua, mulai dari burung dara yang umum sampai ratusan Common Starling yang berterbangan menangkap serangga terbang di udara, hal yang hanya bisa dilihat di hari yang sangat cerah. Ratusan gull dan starling terlihat memenuhi angkasa tepat saat kami turun dari Riberhus Castle, ditemani oleh beberapa ekor Barn Swallow, House Swallow, dan Sand Martin dengan warna coklatnya yang khas.

Kami menyusuri sungai Ribe yang dulunya digunakan oleh perahu para pedagang yang ingin berdagang di kota ini, pada masa jayanya dulu. Ada banyak burung yang terlihat di tempat ini, seperti European Reed Warbler yang narsis, beberapa ekor House Sparrow, serta ratusan starling yang masih narsis di atas rumah-rumah penduduk. Akhirnya kami pun kembali ke stasiun Ribe, menunggu bus yang akan mengantarkan kami pulang ke Esbjerg. Wuah, hari yang menyenangkan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s