Resolusi Hijau: Menanam Pohon Berkicau di Sekitar Rumah

Banyak orang memiliki resolusi tahun baru yang begitu besar di tahun 2015 ini. Kami sekeluarga pun tidak ketinggalan, menyusun sebuah resolusi bertema konservasi untuk menjaga lingkungan di sekitar rumah. Inilah resolusi hijau ala keluarga kami: menanam pohon-pohon berkicau di sekita rumah.

Salah satu hal yang paling saya senang dari waktu pagi adalah suara ciutan nyaring dari pohon-pohon di halaman depan rumah. Siulan merdu berganti cicitan cepat yang unik, itulah konser harian dari si Burung-madu Sriganti (Nectarinia jugularis), penghuni tetap pohon manggis di perkarangan kami yang selalu mencerahkan suasana di pagi hari. Terkadang konser itu dihadiri oleh satu sampai dua ekor burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang berduet sampai waktu siang, atau seekor Cabai Jawa (Diaceum trochilleum) dengan suara melengking bak penyanyi rock. Benar-benar menakjubkan!

Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), si cantik bersuara merdu, tapi suaranya bukan trilililili lho!

Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), si cantik bersuara merdu, tapi suaranya bukan trilililili lho!

Cabai Jawa (Diaceum trochilleum), si kecil bersuara nyaring seperti penyanyi rock!

Cabai Jawa (Diaceum trochilleum), si kecil bersuara nyaring seperti penyanyi rock!

Ya, sejak zaman purbakala manusia selalu kagum dengan keindahan musik alam yang disajikan oleh makhluk-makhluk yang menghuninya; mulai dari kokokan ayam di pagi hari sampai nyanyian katak di tengah malam. Burung-burung pengicau sudah pasti menjadi diva yang menonjol di antara penyanyi-penyanyi alam tersebut, menjadi primadona bagi setiap manusia yang mendengarnya. Sayang, keserakahan manusia membuat burung-burung ini terancam akibat suaranya sendiri—manusia memburu burung-burung ini dan mengurungnya dalam kandang, hanya untuk mendengar suara merdunya setiap hari.

Nah, keluarga kami juga terpikat dengan suara-suara cantik dari para burung berkicau, tapi kami memutuskan untuk tidak memakai cara ‘klasik’ nan kejam itu untuk dapat menikmatinya setiap hari. Ketimbang menangkap dan mengurungnya dalam kandang, kami berusaha memancing para bidadari bersayap tersebut dengan menanam beberapa ‘pohon berkicau’ di perkarangan kami, yakni pohon-pohon yang dapat mengundang burung agar bisa bernyanyi di halaman rumah. Logikanya sederhana: pohon menyediakan makanan bagi para burung, sehingga mereka akan datang dan bernyanyi di perkarangan rumah kami sehingga bisa kami nikmati suaranya setiap hari. Cara ini jauh lebih menyenangkan ketimbang membeli dan memelihara burung—kami tidak perlu memberi makan atau membersihkan kotoran burung setiap hari, perkarangan kami jadi lebih hijau, dan para burung pun tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai bagian dari ekosistem. Wow!

Meskipun terdengar mudah, hal ini ternyata sedikit lebih sulit dari yang kami bayangkan. Tidak semua pohon dapat dijadikan ‘pohon berkicau’ yang dapat memancing burung untuk berdatangan. Beberapa pohon kayu yang kami tanam tidak didatangi burung-burung berkicau sama sekali, hanya beberapa ekor burung Bondol (Lonchura spp) yang mampir hinggap beberapa menit. Pohon manggis yang kami tanam pun hanya mengundang seekor burung-madu dan terkadang beberapa kutilang, masih belum memenuhi kriteria ‘paduan suara alam’ yang kami idam-idamkan.

Tidak hilang akal, kami pun mencoba mencari tahu beberapa kriteria pohon yang disenangi burung berkicau. Berbekal beberapa buku panduan tentang jenis-jenis burung serta informasi yang kami dapatkan di internet, kami pun memutuskan untuk menanam pohon-pohon berbuah kecil yang disenangi oleh burung pemakan buah, seperti Talok (Muntingia calabura) dan beringin (Ficus benjamina). Dengan beberapa pertimbangan, kami pun memutuskan untuk menanam pohon Talok saja, karena pohon beringin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berbuah.

Setelah menunggu 2 tahun, pohon talok kami pun berbuah. Seperti yang kami bayangkan, puluhan ekor burung dari berbagai jenis pun berdatangan ke perkarangan rumah kami, menikmati buah talok yang manis sambil bernyanyi merdu di atas ranting-ranting pohon yang teduh. Beberapa burung pemakan serangga pun ikut datang dan memangsa lalat buah yang ikut terpancing ranumnya buah talok tersebut, seperti Cinenen Jawa (Orthotomus sepium) dan Kipasan Belang (Rhipidura javanica). Paduan suara ini bahkan tidak berhenti di malam hari, ketika sepasang Celepuk Reban (Otus lempiji) ikut meramaikan suasana malam dengan siualannya yang lembut. Akhirnya, simfoni alam yang kami idam-idamkan pun terdengar setiap hari di halaman rumah kami, tanpa harus mengurung burung-burung tersebut di dalam sangkar sempit sepanjang waktu.

Simfoni Burung untuk Hijaunya Bumi

Selain keindahan suara burung yang terdengar setiap saat, kegiatan penanaman pohon berkicau ini juga membawa sejuta manfaat lain bagi bumi tempat kita berpijak. Pohon-pohon rindang yang memancing para burung ini merupakan penyuplai oksigen paling efisien di alam, memberikan rasa segar dan sejuk yang bisa kita rasakan di perkarangan rumah. Proses pelepasan oksigen ini juga membantu mengurangi kadar karbondioksida (CO2) di udara, salah satu gas yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca, Tanaman-tanaman ini menyerap gas CO2 di udara untuk mendapatkan energi dengan bantuan sinar matahari, dan melepaskan oksigen sebagai bagian dari proses fotosintesis tersebut.

Bagi para burung, kehadiran pohon-pohon ini dapat membantu tugas mereka sebagai salah satu penyeimbang komponen-komponen ekosistem di alam. Burung-burung frugivora (pemakan buah) dikenal sebagai penyebar biji yang efektif—biji di dalam buah yang mereka makan akan ikut terbawa ketika mereka terbang ke lokasi lain. Biji ini keluar dari tubuh burung tersebut bersama kotoran dan jatuh di suatu tempat yang jauh dari pohon induknya, kemudian tumbuh menjadi pohon yang baru.

Secara singkat, dapat disimpulkan bahwa para burung yang kita undang secara tidak lansung membantu menghijaukan lingkungan di sekitar rumah kita. Hal ini membantu bumi dalam mengurangi karbon di udara, meminimalisir efek rumah kaca, mengurangi efek pemanasan global, serta membuat bumi ini menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali. Luar biasa, bukan?

Seperti salah satu motto LSM konservasi di Indonesia, The Nature Conservancy Program Indonesia,  kami sekeluarga berusaha untuk melindungi alam dan melestarikan kehidupan dengan sahabat berbulu ini. Dengan berbagai manfaat yang dapat kita rasakan dari keberadaan pohon-pohon berkicau, tidak ada salahnya kita mulai menanam mereka di perkarangan rumah mulai saat ini juga! Yah, inilah #ResolusiHijau kami di tahun ini, menanam lebih banyak pohon berkicau bagi para bidadari bersayap dari negeri angkasa!

6 thoughts on “Resolusi Hijau: Menanam Pohon Berkicau di Sekitar Rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s