Denmark Trip 2013 part 6: Birds of Ribe

Di hari ke-8 saya di Denmark, Jens membawa saya ke sebuah lokasi yang sangat istimewa: Ribe, kota tertua di seluruh dataran Denmark. Ribe merupakan sebuah kawasan kota bersejarah yang dilestarikan oleh pemerintah Denmark, dan merupakan salah satu ikon wisata yang cukup menarik khususnya bagi penggemar Viking. Karena ada dua kegiatan yang sangat berbeda di perjalanan kali ini, saya membagi cerita ini menjadi dua bagian: setengah perjalanan pertama yang difokuskan pada kegiatan birding di sekitar kota, dan setengah perjalanan selanjutnya ketika kami menikmati uniknya kota tua Ribe yang penuh sejarah. Enjoy!

***

Pagi hari di hari ke-8 ini dihabiskan dengan cara yang sama: sarapan sederhan, namun kali ini dengan pancake yang jauh lebih mengenyangkan ketimbang roti gandum yang biasanya kami makan. Jens memberikan hidangan penutup yang cukup mengasyikan: beberapa buah peach segar, anggur hijau tanpa biji, dan sisa-sisa buah plum yang kami petik kemarin. Di akhir sarapan, saya pun merelakan sebungkus kopi terakhir yang saya bawa dari Indonesia untuk menyegarkan otak saya yang mengantuk akibat jet lag. Hmm, cukup mengenyangkan.

Roti, daging ayam, kalkun, sapi, dan selai strawberry. Yuk sarapan!
Roti, daging ayam, kalkun, sapi, dan selai strawberry. Yuk sarapan!

Setelah bersiap-siap, kami pun segera turun ke jalanan—kali ini tanpa membawa sepeda yang menemani saya beberapa hari terakhir. Kami lansung menunggu bus di depan tempat pemberhentian yang ada tepat di seberang apartemen Jens. Ya, bis di sini hanya berhenti di tempat-tempat tertentu, dengan jadwal yang telah ditentukan dan dipasang di setiap tanda pemberhentian bus yang ada di kota. Jauh lebih tertib daripada di Indonesia, kan?

Satu pemberhentian bisa digunakan untuk lebih dari satu trayek bis, sehingga kami harus memperhatikan bacaan yang tertera di depan kaca bus, menunjukan ke tujuan bus tersebut. Jika yang datang duluan adalah bus yang tidak mengarah ke tujuan kita, kita harus memberikan tanda ke pengemudi bus agar tidak berhenti karena mengira kita akan menumpang (seluruh bis hanya berhenti di pemberhentian yang ada orangnya), dengan mundur sedikit ke belakang atau menyilangkan tangan di depan dada. Unik ya?

Setelah 2 bus pertama, akhirnya bus dengan bacaan “Ribe” yang akan kami gunakan pun muncul. Supir pun memberhentikan bus dengan sangat halus, dan pintu bus pun terbuka tanpa suara decitan. Begitu masuk, saya baru sadar kalau lantai bis sangat sejajar dengan trotoar, memudahkan penumpang difabel untuk masuk ke bus dengan menggunakan kursi roda. Bus-nya tidak terlalu penuh, malah sangat sepi, dengan banyak kursi kosong di hampir semua tempat. Di depan setiap kursi ada sebuah tiang dengan tombol untuk membunyikan bel jika kita ingin turun, lalu pak supir akan menurunkan kita di pemberhentian selanjutnya.

Bis Esbjerg-Ribe, posisi pintunya benar-benar dekat dengan tanah ya?
Bis Esbjerg-Ribe, posisi pintunya benar-benar dekat dengan tanah ya?

Lanjutkan membaca Denmark Trip 2013 part 6: Birds of Ribe