Denmark Trip 2013 Part 5: Sneum Engsø

Pagi ini, Jens kembali mengajak saya mengamati burung di salah satu lokasi terbaik yang ada di Esbjerg.  Menurut Jens, lokasi yang akan kami datangi bernama Sneum Engsø, sebuah kolam besar yang sangat sering dikunjungi berbagai spesies waterfowl dan burung-burung lain yang wajib dilihat. Tempatnya sendiri berada agak jauh di luar kota, sehingga saya harus mempersiapkan diri dengan memakan porsi ekstra roti yang disajikan sebagai sarapan di pagi ini. Yup, let’s rock!

Nah, rute bersepeda yang kami ambil hari ini cukup berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kami menyusuri pinggiran kota Esbjerg yang permai, dipenuhi dengan pemandangan lahan gandum yang luas dan disusupi pohon-pohon mungil, rumah pertanian, kolam kecil dan semak-semak di sekelilingnya. Beberapa lahan terlihat menguning dan siap dipanen, sementara beberapa lahan lain sudah benar-benar kosong karena habis dipanen. Sesekali terlihat beberapa ekor burung umum yang mudah terlihat di pinggir jalan, seperti Blackbird dan Willow Warbler; burung-burung pemangsa seperti Kestrel, Common Buzzard dan Marsh Harrier, sampai si ratusan ekor Nothern Lapwing dengan jambulnya yang unik.

Western Marsh Harrier

Western Marsh Harrier

Di sini saya menyadari betapa disiplinnya orang-orang Denmark dalam menjaga keindahan lingkungan di sekitarnya. Lahan pertanian, perumahan dan kebun buah ditata dengan sangat elok, seakan-akan memang dibuat sebagai hiasan, bukan hanya tempat produksi semata. Jalan tol cenderung sepi, dan terdapat sebuah jalan terpisah di pinggirnya khusus untuk pengendara sepeda. Tidak ada kesan sembarangan di setiap sudut pinggiran kota yang kami lalui, tidak ada sawah yang nyempil dan perumahan yang semrawut, semuanya sangat fotogenic dan bisa dinikmati keindahannya setiap waktu. Sayang sekali saya tidak bisa memotret sambil mengayuh sepeda, dan Jens pun kelihatannya tidak suka sering-sering berhenti di tengah jalan hanya untuk mengambil gambar.

Di sebuah jalan di pinggir jalan tol, Jens mengajak saya untuk berhenti sebentar dan melihat kolam bekas tambang yang ada di lahan kosong. Awalnya saya ragu akan ada burung di kolam buatan yang gersang dan keruh ini, namun ternyata ada cukup banyak burung yang terlihat—termasuk beberapa lifer baru di perjalanan ini. Ada 2 ekor angsa putih di ujung kolam yang lansung saya kenali sebagai Mute Swan (Cygnus olor), burung cantik yang menjadi satwa nasional Denmark. Ada juga ratusan ekor Mallard, Nothern Lapwing, dan beberapa ekor burung lain yang sedang asyik mencari makan di lokasi tersebut.

Setelah sekitar 1 jam mengayuh sepeda, kami pun sampai di lokasi tujuan. Awalnya saya tidak bisa melihat kolam yang kami tuju karena Jens memutuskan untuk mengamati dari kejauhan, dari balik rerumputan ilalang yang cukup tinggi. Dari sini kami bisa mengamati puluhan European Spoonbill yang sedang asyik tidur di daratan di tengah-tengah kolam, sementara beberapa ekor bebek yang sulit diidentifikasi terlihat asyik makan di sekitarnya. Setelah bersepeda lagi menuju lokasi yang lebih dekat, saya lansung terkesima dengan pemandangan yang saya lihat: sebuah danau besar di tengah-tengah area agrikultur, dengan background belasan kincir angin di kejauhan dan ribuan—saya ulang, RIBUAN—ekor waterfowl yang sedang asyik berenang di airnya yang kelihatan dingin. Wow!

Pemandangan pertama Sneum Engsø

Pemandangan pertama Sneum Engsø

Eurasian Spoonbill

Eurasian Spoonbill

Danau tersebut dibatasi dengan pagar untuk mencegah orang-orang masuk dan mengganggu burung-burung di sana. Di pinggir danau ada beberapa meja piknik yang dapat digunakan siapapun, lengkap dengan kamar mandi sederhana di ujung tempat piknik tersebut. Ada juga beberapa papan berisi informasi mengenai burung-burung yang ada di sana, termasuk jadwal kapan burung tersebut bermigrasi, dan informasi penting lainnya—yang sayangnya hanya tersedia dalam bahasa Denmark. Hmm, sepertinya pemerintah Denmark sudah sangat paham dengan tradisi birdwatching di negaranya sendiri!

Pemandangan Sneum Engsø.. ya, titik-titik hitam di air itu waterfowl semua!

Pemandangan Sneum Engsø.. ya, titik-titik hitam di air itu waterfowl semua!

Sneum Engsø dengan Common Starling yang lewat di atasnya

Sneum Engsø dengan Common Starling yang lewat di atasnya

Jens lansung mendirikan tripod dan memasang monokular yang kami bawa dari rumah. Luar biasa, ada belasan spesies bebek yang bisa saya lihat hanya dalam satu bidang pandang; mulai dari Mallard yang umum, Green-winged Teal yang kecil dan imut, Common Shelduck yang besar dan unik, Nothern Shoveler dengan paruhnya yang besar, Tufted Duck yang suka menyelam dan lain-lain. Di pinggir kolam ada beberapa jenis shorebird yang terlihat; seperti Common Snipe dengan paruhnya yang panjang, Cerek Besar atau Grey Plover, European Golden Plover yang mirip dengan Cerek Kernyut di Indonesia, Green Sandpiper, dan lain-lain.

Jens on action

Jens on action

Di daratan yang dihuni Spoonbill tadi, kami melihat beberapa ekor angsa yang lebih besar dan lebih suka berdiri daripada berenang; seperti Egyptian Goose yang merupakan hasil introduksi, Barnacle Goose, Barnacle Goose yang hitam-putih, serta Greater White-fronted Goose. Beberapa ekor Grey Heron sedang asyik mencari makan di pinggiran daratan tersebut, sementara seekor Marsh Harrier muda terlihat berusaha berburu mangsa di pinggiran danau. Beberapa saat kemudian, puluhan ekor Greylag Goose terlihat terbang dengan suara yang ramai di angkasa. Keren!

Rombongan Greylag Goose yang numpang lewat

Rombongan Greylag Goose yang numpang lewat

Kami pun tidak melupaka burung-burung darat yang ‘menggoda’ kami di semak-semak sekitar danau. Ada beberapa jenis warbler yang terlihat, seperti Icterine Warbler, Blackcap, Willow Warbler dan Chifchaf. Ada juga jenis-jenis burung spesialis daerah terbuka seperti Skylark, White dan Yellow Wagtail, serta Meadow Pipit. Di kejauhan, ratusan bayangan gelap terlihat berterbangan di atas lahan pertanian, mirip seperti bondol di Indonesia. Ternyata mereka adalah Common Starling, si burung umum yang belum saya temui dari 2 hari kemarin!

Wood Pigeon

Wood Pigeon

Common Starling

Common Starling

Setelah puas di danau, kami pun bergeser sedikit ke arah pantai yang jaraknya hanya beberapa meter dari danau, dibatasi oleh tanggul setinggi 3 meter dengan pinggiran yang landai. Sebelum menaiki tanggul ini, hanya ada sedikit angin kencang yang terasa, masih tergolong normal bagi saya. Namun ternyata di balik tanggul ini, angin dari laut berhembus sangat kencang, menembus jaket tebal saya dan membuat saya menggigil kedinginan! Kami pun tidak terlalu lama berada di lokasi ini, hanya sekedar mengamati beberapa jenis burung seperti Dunlin, Curlew, Avocet, Ruff dan burung-burung umum lain sebelum berpindah tempat.

Great Cormorant dan Pied Avoced (background)

Great Cormorant dan Pied Avoced (background)

Saya kembali mengayuh sepeda bersama Jens, kali ini melewati sisi lain danau dan jalur setapak yang dipenuhi domba. Di sini, lagi-lagi kami menemukan burung yang unik: 4 ekor Grey Partridge, burung serupa puyuh berukuran besar yang suka menghuni daerah terbuka. Burung-burung ini cukup pemalu, lansung terbang menjauh dari rerumputan tinggi sebelum kami melihat keberadaan mereka. Dari kejauhan, kami pun melihat burung-burung ini berlari dengan cara yang unik, kemudian menghilang ke rerumputan.

Common Starling lagi

Common Starling lagi

Di perjalanan pulang, Jens mengajak saya berhenti lagi di sebuah taman kecil di pinggir kota. Lagi-lagi ada meja piknik dan tempat barbeque lagi, beserta jalan-jalan setapak yang cukup asri di pinggir kolam yang ada di tengahnya. Saya jadi berpikir, enak juga tinggal di sini, setiap kali jenuh bisa lansung ngadem di taman kota yang sepi seperti ini. Kalau bingung mau jalan sama pacar, bisa lansung mengambil kotak piknik terus makan bareng di taman. Coba kalau di Jogja ada banyak ruang publik seperti ini, ya?

Nah, di taman ini ada beberapa jenis burung lagi yang kami temui. Yang paling menarik adalah si Greater Spotted Woodpecker, pelatuk kecil yang mirip Caladi Ulam di Indonesia. Selain itu ada juga Raja-udang Erasia atau Common Kingfisher yang asyik menunggu mangsa di tepi kolam. Sayangnya kedua burung ini terlalu jauh untuk dipotret!

Setelah memakan plum liar yang ada di pinggir taman, kami pun memutuskan untuk pulang.  Jarak yang cukup jauh rupanya memberi beban yang berat pada tubuh saya—yang jarang sekali diajak latihan fisik seperti ini. Genjotan sepeda yang agak berat ditambah rasa kantuk akibat jetlag ringan membuat saya tidak berkutik begitu sampai di apartment. Namun semangat saya kembali membara begitu Jens bercerita tentang tujuan jalan-jalan kami besok.

“To the oldest city in Denmark. Sedikit pengamatan, nggak ada naik sepeda. Kita naik bus besok.”

Saya lansung sumringah. Akhirnya bisa istirahat sehari tanpa digeber mengayuh sepeda ke jarak yang benar-benar jauh, hehehe😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s