Denmark Trip 2012 part 4: Harbor of Life!

Perjalanan ke pelabuhan membutuhkan waktu sekitar 30 menit, dengan trek perkotaan yang cenderung menurun. Sepanjang jalan saya dihibur dengan pemandangan kota Esbjerg yang adem ayem, begitu sepi dan jauh dari keramaian ala Copenhagen. Bangunan-bangunan tinggi kemerahan, instalasi listrik yang rapi, taman-taman yang bersih dan asri, serta jalan raya yang lebar namun sepi menjadi hal yang sangat menghibur untuk dilihat sambil bersepeda keliling kota. Sedikit sekali orang yang terlihat, dan kebanyakan yang saya lihat hanyalah orang-orang tua. Mayoritas remaja memilih untuk tinggal di kota-kota besar seperti Copenhagen atau Odense yang memiliki fasilitas pendidikan yang lebih baik.

Seperti yang saya bilang, Denmark begitu perhatian dengan pengendara sepeda, sehingga di seluruh jalan selalu ada jalur khusus sepeda yang terpisah di pinggirnya; beberapa bahkan dibatasi dengan pembatas jalan khusus. Di setiap perempatan pun terdapat lampu lalu lintas khusus pengendara sepeda, sehingga kita bisa menyebrang dengan aman.  Pengendara mobil pun sangat hormat kepada para pesepeda; sangat berbeda dengan apa yang sering saya alami di Indonesia. Hmm, pantas negara ini didaulat menjadi negara paling bahagia di dunia, ya?

Lampu Lalin khusus sepeda, salah satu bentuk penghormatan kepada pesepeda di Denmark

Lampu Lalin khusus sepeda, salah satu bentuk penghormatan kepada pesepeda di Denmark

 Begitu sampai di pelabuhan, saya lansung disambut dengan pemandangan industri yang tidak asing, persis dengan apa yang saya lihat di film-film. Peti kemas di mana-mana, kapal-kapal besar berlabuh dengan rapi, gedung-gedung berserakan di mana-mana. Yang membedakan pelabuhan ini dengan Indonesia adalah kerapihannya yang sangat luar biasa, hampir tidak ada sampah atau ceceran oli kapal yang terlihat. Suasananya pun sangat sepi, berbeda dengan pelabuhan di Indonesia yang hampir selalu ramai dengan berbagai macam orang.

Ada banyak burung yang menyambut kedatangan kami di pelabuhan, khususnya beberapa jenis camar yang memang selalu menarik untuk diamati. Selain tiga jenis camar yang umum ditemukan (Common, Black-headed dan Herring Gull), kami melihat seekor camar yang lebih besar dengan punggung yang gelap, seperti berwarna hitam. Ukurannya sangat mirip dengan herring gull, namun paruhnya lebih besar dan perawakannya terlihat lebih kekar dari camar-camar lain.

“So, What do you think?” tanya Jens sambil mengerdipkan matanya. Hmm, tantangan identifikasi?

“I’m not sure, it should be Black-backed, but i don’t know lesser or greater,” jawab saya jujur. Ya, ada 2 macam camar berpunggung hitam di Eropa: Greater Black-backed Gull dan Lesser Black-backed Gull, keduanya sangat mirip dan hanya bisa dibedakan lewat ukuran, sementara saya belum pernah melihat keduanya sama sekali.

“Ukurannya mirip herring gull kan? Berarti Lesser,” jelas Jens sambil menunjuk Herring Gull di sebelahnya. “Camar memang sulit untuk diidentifikasi, tapi bukan berarti mustahil” lanjutnya.

Kami melanjutkan perjalanan di sekitar kompleks pelabuhan yang besar. Ada beberapa jenis burung lain yang terlihat, seperti seekor Artic Tern yang sedang asyik beristirahat di tiang pelabuhan, ratusan camar berterbangan, Greater Cormorant, dan seekor Kestrel yang tiba-tiba terbang di atas kepala kami. Ada juga beberapa ekor Ruddy Turnstone (Trinil Pembalik Batu) yang sedang asyik tiduran di atas pemecah ombak—mereka jauh lebih jinak dibandingkan di Trisik, saya bahkan bisa memotretnya dari jarak kurang dari 3 meter!

Trinil Pembalik Batu a.k.a Ruddy Turnstone

Trinil Pembalik Batu a.k.a Ruddy Turnstone

Pecuk Padi Besar a.k.a Greater Cormorant

Pecuk Padi Besar a.k.a Greater Cormorant

Kami melanjutkan pengamatan ketanah kosong di belakang pelabuhan, masih berbatasan dengan lautan lepas. Ada ratusan camar yang terlihat, salah satunya adalah Greater Black-backed Gull, camar  terbesar yang ada di Eropa. Di arah daratan, ada beberapa jenis burung seperti Linnet, White Wagtail, Greenfinch, Bluethroat, serta Chifchaf dan Willow Warbler. Di jalan setapak yang menempel di pemecah ombak, kami bertemu dengan seekor burung yang cukup narsis: Northern Wheatear, burung serupa sikatan yang suka bertengger di tempat-tempat terbuka. Di belakangnya, satu keluarga Black Redstart sedang asyik mencari makan sebelum bermigrasi di musim dingin.

European Greenfinch  di Esbjerg Havn

European Greenfinch di Esbjerg Havn

Nothern Wheatear yang super narsis

Nothern Wheatear yang super narsis

Lahan kosong, surga bagi para burung

Lahan kosong, surga bagi para burung

Beberapa ekor Hooded Crow terlihat berkumpul di tengah-tengah tanah kosong berumput yang agak jauh dari pantai—seekor di antaranya terlihat sangat gelap, yang menurut Jens merupakan persilangan alami antara Hooded Crow dan Carrion Crow. Kedua jenis crow ini memiliki persebaran yang terpisah, Hooded Crow di daerah utara dan Carrion Crow di selatan. Esbjerg merupakan satu dari sedikit lokasi di mana kedua jenis ini overlapping, berada di satu tempat yang sama. Nah, di lokasi overlap inilah individu hybrid antara kedua jenis ini terlihat, dengan warna yang gelap namun masih berpola tudung seperti Hooded Crow. Menarik, bukan?

Jalan setapak yang kami lalui berakhir di sebuah laguna besar, di mana ada ribuan ekor gull yang sedang beristirahat di sana. Rupanya tempat tersebut merupakan lokasi roosting favorit bagi para camar yang kelelahan dan bersiap untuk tidur di malam hari. Selain camar, ada juga beberapa jenis shorebird yang terlihat, seperti Oystercatcher (kedidir), beberapa jenis sandpiper, dan lain-lain. Kami pun lansung menyisir ribuan ekor camar yang ada untuk menemukan jenis yang menarik diantara jenis-jenis umum yang sudah kami lihat sebelumnya.

Oystercatcher dan Common Redshank

Oystercatcher dan Common Redshank

“Look!” ujar Jens sambil menunjuk ke tengah daratan kecil yang dikepung air. “Lihat gull dengan kaki kuning di atas sana?”

Saya mengangguk pelan. “What is it?”

“Itu adalah camar yang cukup langka di sini, kamu beruntung menemukannya. Mediterranean gull!” jawab Jens bersemangat. Well, saya beruntung lagi!

1. Mediterranean Gull 2. Lesser Black-backed Gull 3. Black-headed Gull 4. Herring Gull

1. Mediterranean Gull
2. Lesser Black-backed Gull
3. Black-headed Gull
4. Herring Gull

Beberapa menit kemudian, datang seorang pengendara sepeda dari arah kota. Jens lansung mengenali orang tersebut, salah satu pengamat burung terbaik di kota ini. Jens pun berbincang-bincang dengan kawannya tersebut dalam bahasa Denmark sambil mengenalkan saya dan menjelaskan asal-usul saya dari Indonesia. Setelah berbincang-bincang, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke beberapa taman-taman di kota.

Mengendarai sepeda menuju kota ternyata lebih berat daripada ke pelabuhan. Terrain yang menanjak sedikit membuat saya ngos-ngosan, meskipun sepeda yang diberikan Jens tergolong ringan. Ya, saya memang bukan pegiat sepeda di Indonesia, sehingga fisik saya masih belum terlatih untuk menggenjot pedal melawan tanah yang menanjak. Namun rasa lelah ini lansung hilang begitu saya sampai di taman kota Esbjerg, sebuah ruang terbuka hijau yang besar dan dipenuhi dengan pepohonan hijau khas musim panas.

Taman kota ini memang indah, dengan lapangan rumput yang luas dan jalan setapak yang rapi. Ada beberapa kursi yang bisa dipakai warga kota untuk bersantai, bahkan ada meja barbeque yang bisa dipakai secara cuma-cuma! Di tengah taman terdapat beberapa kolam besar dengan air yang jernih, dan lebih asyiknya lagi ada puluhan Mallard yang lansung ramai begitu kami datang mendekat. Bukannya lari, para bebek lucu ini malah mendekati kami sambil bersuara unik. Rupanya bebek-bebek di sini sudah tidak takut pada manusia, karena warga kota suka memberi mereka makan. Menurut Jens, ritual memberi makan bebek ini merupakan kegiatan penghilang stress yang ampuh, dan Jens pun lansung memberikan sebagian rotinya ke bebek-bebek itu. Wah, kalau di Indonesia sudah habis diburu kali ya?

Mallard di salah satu taman kota Esbjerg

Mallard di salah satu taman kota Esbjerg

Lucunya, para mallard ini malah mendekat meminta makan bila didekati!

Lucunya, para mallard ini malah mendekat meminta makan bila didekati!

Mallard lain yang sedang asyik berenang

Mallard lain yang sedang asyik berenang

Hmm, ternyata perburuan masih menjadi momok yang besar bagi negara ini, meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia. Pada musim berburu (open season), ada banyak orang yang suka memburu bebek-bebek liar untuk hobi. Meskipun dilakukan secara terkontrol sehingga tidak membahayakan populasi para bebek, kegiatan ini membuat bebek-bebek liar cenderung takut kepada manusia dan terbang menjauh ketika didekati. Bebek-bebek di taman kota cenderung tidak aman karena kegiatan berburu dilarang di taman kota, dan hanya bisa dilakukan di tanah pribadi saja. Beberapa bebek yang tinggal di luar taman kota sering mampir di kolam ini, namun mereka tidak mau mendekat seperti bebek-bebek yang sudah menjadi penghuni tetap lokasi tersebut, seperti 2 ekor Green-winged Teal yang kami lihat di kejauhan di kolam yang sama.

Setelah asik mengamati burung, kami pun memutuskan untuk pulang. Entah kenapa tenaga saya seperti terkuras habis dan hampir tidak kuat mengayuh sepeda lagi. Sampai di apartment, saya lansung duduk lemas di dapur. Kepala saya pening, mata saya berputar-putar, rasanya ingin sekali saya tidur secepatnya.

“Are you ok?” tanya Jens cemas.

“A little bit dizzy.. i don’t know why,” jawab saya sambil mengurut kepala yang agak pening.

“Well my friend, welcome! That’s the jetlag!” jawab Jens dengan riang.

OK, rupanya saya tidak anti Jet Lag seperti yang saya kira, hanya saja level jet lag saya lebih rendah dari kebanyakan orang. Akhirnya kami memutuskan untuk makan malam dan lansung beristirahat untuk pengamatan besok, di sebuah lokasi yang menurut Jens cukup ‘spektakuler’. Hmm, jadi penasaran, seperti apa ya lokasinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s