Denmark Trip 2013 part 3: Birdie Birdie Backyard..

Esbjerg, 21 Agustus 2012

Hari ini adalah hari pertama saya di Esbjerg, dan saya lansung jatuh cinta pada tempat ini.

Mungkin, malam ini merupakan tidur saya yang paling nyenyak sejak 2-3 hari terakhir. Sepanjang perjalanan saya hanya bisa tidur beberapa jam, itupun setelah berusaha memejamkan mata di bawah cahaya lampu bandara yang terangnya kebangetan. Di pesawat pun saya nggak bisa tidur gara-gara efek kafein dari kopi yang saya minum plus belasan film newcomers yang tersedia di in-flight media-nya (Yay, thanks Qatar Airways! :D).

By the way, di apartment Jens yang sederhana ini saya tidur di ruang bacanya. Sebenarnya saya juga bingung fungsi ruangan ini, cuman sebuah ruang 3×3 meter berisi sofabed, sebuah meja besar dan kabinet kayu di sisinya. Di sofabed inilah saya tidur dengan nyenyak, ditambah selimut dan bed cover yang jauh lebih nyaman dari rumah sendiri (apalagi dari bangku pesawat, hehehe).

Pukul 5 pagi saya sudah bangun dan lansung sholat subuh. Jam biologis saya terasa diobrak-abrik, karena jam 5 pagi sudah terang berderang seperti jam 6 pagi di Indonesia. Lebih aneh lagi pas saya lihat jadwal shalat yang saya unduh di internet, bener-bener beda dari Indonesia. Bayangkan, saya harus bangun jam 1 pagi kalau nggak mau telat shalat subuh, seterusnya merupakan fajar remang-remang sampai jam 7 pagi, pas matahari benar-benar terlihat di ufuk timur agak ke utara. Kemudian waktu zhuhur dari jam 12 sampai jam 6 sore, ashar sampai jam 8 malam, lalu magrib sampai jam setengah 10 malam, baru masuk ke waktu isya. Wah nggak kebayang kalau saya ngotot pergi ke sini pas bulan puasa!

Setelah beberapa jam chatting-chatting dengan teman di Indonesia, akhirnya Jens bangun juga. Kami lansung sarapan (roti gandum) dan bersiap untuk menjelajahi kota Esbjerg sepanjang hari. Rencananya kami akan berkunjung ke tempat saudaranya Jens buat minjem sepedanya—sesuatu yang dibilang Jens sebagai ‘the most precious private thing for Danish’, mungkin lebih penting daripada Hp. Ya, sepeda merupakan moda transportasi utama di Denmark, mungkin setingkat dengan sepeda motor di sini, hanya saja lebih ramah lingkungan. Untungnya saudara Jens sudah pensiun dan nggak sering-sering keluar rumah, jadi saya bisa pakai sepedanya untuk mengamati burung selama 3 minggu ke depan.

sarapan pagi ini, roti gandum lezat plus selai strawberry dan daging kalkun asap lansung dari kulkas

sarapan pagi ini, roti gandum lezat plus selai strawberry dan daging kalkun asap lansung dari kulkas

Bicara soal burung, saya agak kaget melihat serombongan camar dan gagak di halaman kompleks apartment Jens. Seingat saya ada Black-headed Gull yang berukuran kecil dan Mew Gull yang lebih besar. Mereka benar-benar santai mengejar serangga di lapangan rumput tersebut, dan tidak terlalu terganggu saat kami berjalan di dekat mereka, sebuah pemandangan yang sangat jarang saya temui di Indonesia.

Suasana halaman gedung apartment Jens, noda putih-putih di rumput itu Common Gull loh!

Suasana halaman gedung apartment Jens, noda putih-putih di rumput itu Common Gull loh!

Kami pun berjalan kaki menyebrangi beberapa blok menuju rumah saudaranya Jens tersebut, termasuk melewati sebuah perkarangan yang dipenuhi masyarakat islam. Sayangnya kebanyakan penghuni disana (yang mayoritas merupakan pencari suaka dari negara yang berkonflik) agak anti sosial dengan warga kulit putih, dan kebanyakan tidak bisa berbahasa inggris. Saya jadi tidak bisa bertanya soal lokasi masjid buat jumatan beberapa minggu ke depan.

Oh ya, mengenai suasana kota Esbjerg, saya hanya perlu satu kata untuk mendeskripsikannya: SEPI. Ya, sepi, benar-benar sepi seperti tanpa penghuni. Hanya satu-dua orang yang terlihat berjalan di kejauhan, terkadang menggunakan sepeda, terkadang jalan kaki. Mobil pun sedikit, hanya beberapa saja yang terlihat. Meskipun sepi, masyarakat di sini cenderung berkendara dengan kecepatan rendah dan sangat menghormati pejalan kaki—mereka rela berhenti sejenak untuk mempersilahkan kami menyebrang, bahkan ketika kami masih beberapa langkah dari zebra cross!

Sampai di rumah saudaranya Jens, Jens menyuruh saya untuk masuk ke halaman belakang. Di sini kami pun memetik satu toples penuh buah plum biru yang matang di pohon. Saya memang belum pernah memakan buah plum, dan saya lansung suka begitu pertama kali mencicipinya. Perpaduan antara rasa masam anggur dan apel jadi satu di daging buah yang lembut seperti pisang tapi juga juicy seperti nanas (modaro, mumet le bayangke! :D).

Jens lagi asyik memanen buah plum lansung dari pohon

Jens lagi asyik memanen buah plum lansung dari pohon

Hasil 'merampok' di rumah saudara Jens: plum satu toples penuh!

Hasil ‘merampok’ di rumah saudara Jens: plum satu toples penuh!

Buah plum segar lansung dari pohon, rasanya masam, manis, lembek, pokoknya enak!

Buah plum segar lansung dari pohon, rasanya masam, manis, lembek, pokoknya enak!

Perjalanan pulang kami lakukan dengan cepat karena menggunakan sepeda. Saya menggunakan sepeda Jens, sepeda kota semi-fixie yang bikin pantat pegel. Sadelnya agak keras, stangnya terlalu jauh ke depan, dan tinggi-nya pun sesuai buat orang Eropa (saya mesti jinjit buat menapakan kaki). Saya juga kurang terbiasa naik sepeda semi-fixie, apalagi kalau harus ngerem dengan rem kaki. Walhasil, beberapa kali saya hampir menabrak Jens yang suka berhenti mendadak.

Setelah beristirahat beberapa menit di Apartment, kami lansung menuju hutan di dekat tempat tinggal Jens. Suasana countryside benar-benar menyejukan, dengan rerimbunan pohon dan ladang pertanian yang sangat luas menghiasi pinggiran jalan. Jalur khusus sepeda benar-benar nyaman untuk dilewati, kami tidak perlu takut dengan mobil-mobil yang melintas karena jalur kami benar-benar terpisah dari jalan utama. Di setiap perempatan, selain lampu merah untuk mobil dan pejalan kaki juga terdapat lampu merah untuk sepeda, sehingga kami bisa menyebrang perempatan dengan aman.

Ternyata hutan yang dibilang Jens bukan hutan lebat seperti yang saya kira, melainkan sebuah area countryside dengan kombinasi tanah lapang dan rerimbunan pohon yang agak tinggi. Area ini memang ditujukan sebagai sarana aktivitas luar ruangan yang bisa dinikmati oleh siapa saja, gratis! Ada area berkuda, padang rumput luas, dan area berkemah bagi pramuka. Di padang rumput terdapat beberapa ekor sapi yang—menurut Jens—tidak dimiliki oleh siapa-siapa, melainkan sengaja di lepas sebagai ‘mesin pemotong rumput’ alami. Cerdas, hehehe!

Hutan sub urban di Esbjerg

Hutan suburban di Esbjerg

Hutan konifer, seperti di negeri dongen!

Hutan konifer, seperti di negeri dongen!

Ladang bunga di pinggir hutan

Ladang bunga di pinggir hutan

Beberapa burung lansung menyambut kami begitu kami memasuki areal padang rumput. Beberapa ekor Wood Pigeon terlihat berterbangan di atas kanopi hutan, disusul burung-burung kecil seperti Yellowhammer, Chifchaf, dan Willow Warbler (dua burung terakhir sangat mirip dan hanya bisa dibedakan dari warna paruhnya!). Kami menyusuri pinggiran padang rumput sambil menghindari kotoran sapi yang terserak dimana-mana, dan lansung dikagetkan dengan sepasang Jay dengan suaranya yang mirip nenek lampir!

Jens di kolam pinggir hutan

Jens di kolam pinggir hutan

Kolam kecil di pinggir hutan, ada Mandar Batu lagi ngumpet di semak-semaknya

Kolam kecil di pinggir hutan, ada Mandar Batu lagi ngumpet di semak-semaknya

Memasuki hutan yang lebih gelap, kami bertemu dengan satu flock burung-burung kecil yang cukup ramai. Beberapa ekor Blue Tit, Coal Tit dan Bullfinch terlihat mematuki ranting dan berusaha menangkap serangga yang ada, sementara beberapa ekor Great Tit sibuk turun ke tanah dan mencari serangga di sana. Berbeda dengan Great Tit (Gelatik Batu Kelabu, Parus major) di Indonesia, Great Tit di sini memiliki warna yang lebih beragam, dengan perut kekuningan dan mantel hijau zaitun. Beberapa ekor Song Thrush lansung terbang begitu kami mendekati tempat persembunyian mereka.

Yellow Hammer (Emberiza citrinella)

Yellow Hammer (Emberiza citrinella)

Blue Tit (Parus caeraleus), burung kecil yang cukup umum di daerah sub urban

Blue Tit (Parus caeraleus), burung kecil yang cukup umum di daerah sub urban

Setelah melewati ladang pertanian, reruntuhan rumah bersejarah dan tempat-tempat menarik lain, kami dikejutkan dengan sesosok burung berukuran besar yang lansung terbang dari pucuk pohon. Rupanya seekor Common Buzzard, salah satu burung pemangsa yang paling umum di daerah countryside Eropa. Beberapa menit kemudian, terdengar suara unik yang menggema di seluruh hutan—suara dari si Common Buzzard yang sibuk mencari pasangannya.

Ladang gandum di dekat hutan

Ladang gandum di dekat hutan

Jens di lorong hutan pinggir kota

Jens di lorong hutan pinggir kota

Puas mengamati burung, kami pun lansung pulang ke apartment Jens dan mengamati rombongan burung di halaman kompleks apartment. Kali ini bukan Gull yang sibuk bermain di lapangan berumput, melainkan burung-burung hitam dari keluarga gagak: Rook dan Jackdaw. Si Rook sangat mudah diidentifikasi dari warna bulunya yang keunguan dan bulu pucat di sekitar mukanya, sementara Jackdaw berwarna hitam dan abu-abu dengan paruh pendek dan tebal.

Kami pun lansung masuk ke apartment dan beristirahat sejenak. Kaki saya terasa lelah menggowes sepeda, meskipun hanya beberapa kilometer. Jujur saja, saya sangat jarang bersepeda di Indonesia, dan sekarang saya harus menghabiskan waktu dengan bersepeda selama 3 minggu ke depan!

Belum hilang rasa lelah saya, Jens lansung menyiapkan makan siang sambil menggotong binokularnya. Waduh, perasaan saya nggak enak..

“Ayo lanjut pengamatan!” ujar Jens setelah saya menghabiskan roti gandum dan daging kalkun asap yang disediakan.

“Sekarang?”

“Iya sekarang, kita pengamatan di pelabuhan. Masih kuat kan?”

Hohohoh tentu saja saya nggak mau dibilang cemen sama kakek-kakek, meskipun saya sebenanrya sudah sangat capek. Yasudah, saatnya lanjut pengamatan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s