Bionic Base Camp: Tiny Wildlife Reserve in Urban City of Yogyakarta

It was a nice afternoon when I get surprised by a picture on my Facebook feed. It was a picture of small, brown, ferret-like animal in a body of water, uploaded from my friend and mentor Imam Taufiqurahman. Suddenly, I realized that it was a picture of Small Clawed Otter (Aonyx cinerea), a small carnivore that inhabit the river area of Java. Well, it is not weird to know he got the picture of it—even though it is an elusive and shy animal, we can still find it in a proper area for them to live. What made me surprised on that afternoon is when I know that he took that picture just behind his rent house, right in the middle of Yogyakarta’s urban area, which is not a very good habitat for any wild life.

Small-clawed Otter behind BBC by mas Imam T
Small-clawed Otter behind BBC by mas Imam T
Small-clawed Otter behind BBC by mas Imam T
Small-clawed Otter behind BBC by mas Imam T

Lanjutkan membaca Bionic Base Camp: Tiny Wildlife Reserve in Urban City of Yogyakarta

Iklan

Denmark Trip 2013 part 3: Birdie Birdie Backyard..

Esbjerg, 21 Agustus 2012

Hari ini adalah hari pertama saya di Esbjerg, dan saya lansung jatuh cinta pada tempat ini.

Mungkin, malam ini merupakan tidur saya yang paling nyenyak sejak 2-3 hari terakhir. Sepanjang perjalanan saya hanya bisa tidur beberapa jam, itupun setelah berusaha memejamkan mata di bawah cahaya lampu bandara yang terangnya kebangetan. Di pesawat pun saya nggak bisa tidur gara-gara efek kafein dari kopi yang saya minum plus belasan film newcomers yang tersedia di in-flight media-nya (Yay, thanks Qatar Airways! :D).

By the way, di apartment Jens yang sederhana ini saya tidur di ruang bacanya. Sebenarnya saya juga bingung fungsi ruangan ini, cuman sebuah ruang 3×3 meter berisi sofabed, sebuah meja besar dan kabinet kayu di sisinya. Di sofabed inilah saya tidur dengan nyenyak, ditambah selimut dan bed cover yang jauh lebih nyaman dari rumah sendiri (apalagi dari bangku pesawat, hehehe).

Pukul 5 pagi saya sudah bangun dan lansung sholat subuh. Jam biologis saya terasa diobrak-abrik, karena jam 5 pagi sudah terang berderang seperti jam 6 pagi di Indonesia. Lebih aneh lagi pas saya lihat jadwal shalat yang saya unduh di internet, bener-bener beda dari Indonesia. Bayangkan, saya harus bangun jam 1 pagi kalau nggak mau telat shalat subuh, seterusnya merupakan fajar remang-remang sampai jam 7 pagi, pas matahari benar-benar terlihat di ufuk timur agak ke utara. Kemudian waktu zhuhur dari jam 12 sampai jam 6 sore, ashar sampai jam 8 malam, lalu magrib sampai jam setengah 10 malam, baru masuk ke waktu isya. Wah nggak kebayang kalau saya ngotot pergi ke sini pas bulan puasa!

Setelah beberapa jam chatting-chatting dengan teman di Indonesia, akhirnya Jens bangun juga. Kami lansung sarapan (roti gandum) dan bersiap untuk menjelajahi kota Esbjerg sepanjang hari. Rencananya kami akan berkunjung ke tempat saudaranya Jens buat minjem sepedanya—sesuatu yang dibilang Jens sebagai ‘the most precious private thing for Danish’, mungkin lebih penting daripada Hp. Ya, sepeda merupakan moda transportasi utama di Denmark, mungkin setingkat dengan sepeda motor di sini, hanya saja lebih ramah lingkungan. Untungnya saudara Jens sudah pensiun dan nggak sering-sering keluar rumah, jadi saya bisa pakai sepedanya untuk mengamati burung selama 3 minggu ke depan.

sarapan pagi ini, roti gandum lezat plus selai strawberry dan daging kalkun asap lansung dari kulkas
sarapan pagi ini, roti gandum lezat plus selai strawberry dan daging kalkun asap lansung dari kulkas

Lanjutkan membaca Denmark Trip 2013 part 3: Birdie Birdie Backyard..