Denmark Trip 2013 part 2: Kereta di Negeri Thumbellina

Lebih baik telat daripada tidak ngupdate sama sekali😀

Copenhagen, 20 Agustus 2013

Seperti negara lain di Eropa, kereta merupakan salah satu sistem transportasi jarak jauh yang paling dibanggakan di Denmark. Terdapat cukup banyak jaringan kereta api modern di negara ini, mulai dari kereta kelas komuter untuk dalam kota sampai kereta api cepat antar kota. Dalam perjalanan saya ini, saya beruntung bisa menikmati perjalanan kereta dari Copenhagen menuju rumah teman saya, Jens Ole Byskov. Yay!

Ketika saya sampai di Copenhagen Central Station, saya memang tidak merasa aneh. Suasana begitu ramai, penuh sesak dengan orang-orang sama seperti kota-kota besar lainnya. Tapi begitu saya mulai melangkahkan kaki kembali ke dalam kereta menuju Esbjurg tempat Jens tinggal, suasana yang berbeda kembali terasa. Kereta yang kami tumpangi begitu sepi, hanya beberapa orang yang terlihat sedang duduk manis di kursinya, tanpa berbicara sepatah kata pun. Kereta pun berjalan perlahan-lahan, meninggalkan Copenhagen yang ramai dan mulai memasuki kota-kota kecil di sekitarnya—yang begitu lenggang, sepi, seperti tidak berpenghuni.

Oh ya, bicara soal kereta, kereta jarak jauh yang saya dan Jens tumpangi menuju Esbjerg (baca: esbya) ini berbeda dengan kereta metro yang membawa kami dari bandara. Kereta ini lebih luas, dengan 4 tempat duduk yang saling berhadapan. Di atas pintu tiap gerbong terdapat nama tujuan dan kode gerbong yang berbeda. Tidak semua gerbong menuju Esbjerg, beberapa gerbong akan berpisah dari rangkaian kereta dan menuju ke stasiun yang berbeda. Tiap gerbong hanya memiliki beberapa tempat duduk, dan dibatasi dengan sebuah pintu otomatis. Tempat duduknya sendiri cukup empuk dan nyaman, dengan sandaran tangan (arm rest) di kedua sisinya. Rangka gerbong dibuat sangat kuat dan kedap suara, sehingga keadaan di dalam gerbong begitu nyaman dan… yah, sepi.

Tipikal bentuk kereta antar kota di Denmark, termausk yang saya naiki ke Esbjerg.

Tipikal bentuk kereta antar kota di Denmark, termausk yang saya naiki ke Esbjerg.

Bagian dalam kereta menuju Esbjerg. Nyaman, kan?

Bagian dalam kereta menuju Esbjerg. Nyaman, kan?

Ya, sepi! Sepertinya saya baru saja menemukan kata yang tepat untuk mendeskribsikan Denmark pada kesan pertama saya.

Sepanjang perjalanan, kereta tidak pernah penuh dan selalu menyisakan beberapa tempat duduk yang kosong. Kereta ini melewati beberapa landscape yang menarik di sepanjang jalan, dimulai dari pemandangan kota Copenhagen yang penuh gedung-gedung bertingkat, kemudian berangsur-angsur berubah menjadi suasana pinggiran kota yang tidak terlalu ramai, lalu kota-kota kecil yang sepi, dan akhirnya menjadi ladang gandum yang luaaas dan dipenuhi burung-burung menarik. Hooded Crow dan Rook, dua jenis gagak yang paling umum di negara ini memenuhi setiap sudut, ditemani oleh satu hingga dua ekor raptor seperti Common Buzzard (Indonesia: Elang Buteo) dan Common Kestrel (Indonesia: Alap-alap Erasia) yang asyik berterbangan di atas ladang gandum. Seekor Gajahan Besar (Eurasian Curlew) terlihat terbang dengan paruhnya yang panjang mencolok di atas ladang pertainan. Sepasang Jackdaw di atas atap sebuah stasiun kecil menambah panjang daftar jenis burung saya di negara ini, sangat menghibur dengan bentuk tubuhnya yang kecil, sangat berbeda dengan gagak-gagak lain yang lebih besar.

Kereta ini melewati beberapa landscape yang menarik di sepanjang jalan, dimulai dari pemandangan kota Copenhagen yang penuh gedung-gedung bertingkat, kemudian berangsur-angsur berubah menjadi suasana pinggiran kota yang tidak terlalu ramai, lalu kota-kota kecil yang sepi, dan akhirnya menjadi ladang gandum yang luaaas dan dipenuhi burung-burung menarik

Suasana menjadi lebih seru ketika pemandangan yang saya nanti-nanti akhirnya terlihat ketika kereta menyebrangi lautan. Ya, lautan! Jalur kereta yang kami naiki memang menyebrangi sebuah terusan laut yang sangaaaat lebar. Setengah dari penyebrangan tersebut dilewati melalui terowongan bawah laut yang panjang dan menurun, entah sampai kedalaman berapa, yang jelas telinga saya terasa agak tertekan ketika berada di dalam sana. Selanjutnya kereta akan menyembul di sebuah daratan buatan kecil selebar 10 meter dan memanjang di kiri dan kanan rel, dengan pemandangan laut yang begitu luas di kedua sisinya. Di ujung mata memandang hanya terdapat lautan luas dengan ombaknya yang khas dan beberapa kincir angin putih yang sangat cantik. Beberapa jenis camar terlihat sedang asyik berenang di lautan, sementara puluhan ekor Pecuk-padi Kecil (Little Cormorant) dan Pecuk-padi Besar (Great Cormorant) berjemur di batu-batu besar di pinggir daratan buatan tersebut.

Sepanjang perjalanan kami melewati beberapa stasiun kecil di kota-kota yang juga tidak begitu besar. Meskipun ‘kecil’ jika dibandingkan dengan Copenhagen Central Station, stasiun-stasiun ini begitu lengkap, bersih dan rapi. Peronnya terbuka dengan satu atau dua bangunan utama di pinggir stasiun yang bentuknya mirip satu sama lain. Setiap kali kereta akan memasuki stasiun, terdapat pengumuman dalam bahasa Denmark yang menyebutkan nama stasiun tersebut (dengan nada suara yang aneh seperti orang jutek, tapi juga lucu), diikuti dengan munculnya nama stasiun pada layar kecil di pintu antar gerbong. Pengumuman dalam bahasa inggris hanya diumumkan ketika memasuki stasiun yang agak besar, serta pengumuman-pengumuman standar macam ‘hati-hati, ada copet!’ dll.

Tipikal stasiun-stasiun kecil di Denmark. Yang satu ini adalah stasiun di kota Ribe, yang saya kunjungi beberapa hari selanjutnya.

Tipikal stasiun-stasiun kecil di Denmark. Yang satu ini adalah stasiun di kota Ribe, yang saya kunjungi beberapa hari selanjutnya.

Pengumuman stasiun selanjutnya.

Pengumuman stasiun selanjutnya.

Kereta cepat antar kota. Sayangnya kami tidak naik kereta ini.

Kereta cepat antar kota. Sayangnya kami tidak naik kereta ini.

“Naeste station, Esbjurg,” kata rekaman suara mbak-mbak dengan nada judes di speaker, menunjukan bahwa kami sudah sampai di kota tujuan. Kami sampai di Esbjerg tepat pukul 20.30 malam.. atau lebih tepat pukul 20.30 petang, karena matahari baru saja akan tenggelam pada waktu itu.

Jens segera mengajak saya melangkah keluar stasiun yang tidak terlalu besar, kemudian lansung menyetop sebuah taksi yang sedang standbye di depan pintu stasiun. Taksi di sini menggunakan mobil VW yang unik, sesuai dengan nama perusahaannnya, Volkswagen Taxi. Jujur, ini adalah pengalaman pertama saya naik mobil ‘di sisi yang salah’, karena Denmark menggunakan sistem Right Lane atau setir kiri. Pemandangan di sepanjang jalan dipenuhi dengan rumah-rumah berwarna merah yang khas dari Denmark, dengan nuansa senja yang sedikit mencekam. Tidak ada mobil lain yang terlihat sepanjang jalan, hanya beberapa pesepeda yang menggunakan jalur khusus di sisi jalan. Hampir tidak ada manusia yang terlihat, suasana begitu sepi, begitu tenang, dan begituuu damai….

Yah, mungkin inilah rasanya tinggal di negara maju yang pertumbuhan penduduknya minus..hehehe..

15 menit kemudian kami sampai di apartemen Jens di Novrupvej (baca: Novalvej..memang nama-nama tempat disini agak ribet ya =.=a), suatu daerah yang terletak agak jauh di pinggiran kota. Jens tinggal di kompleks apartemen 3 lantai yang sangat asri, terdiri dari beberapa kompleks dan dengan lapangan yang cukup luas di antara gedung-gedung tersebut. Apartemen Jens terletak di lantai 3 gedung paling barat, sehingga kami dapat melihat pemandangan matahari terbenam yang indah setiap hari.. yay!

Suasana di sekitar apartemen milik Jens.

Suasana di sekitar apartemen milik Jens.

Jens pun menunjukan kamar tidur saya selama 3 minggu ke depan, sebuah kamar yang cukup luas dengan sofa dan meja di dalamnya, cukup nyaman untuk beristirahat. Kamar ini berhubungan lansung dengan ruang TV dan dapur (hihihihihihihi) yang bersebrangan dengan kamar tidur Jens. Seluruh ruangan dihiasi oleh furnitur modern-minimalis yang sangat cantik, kembali mengingatkan saya tentang status Denmark sebagai salah satu negara pengekspot furniture terbaik di Eropa. Lampu-lampu bergaya khas art-deco terlihat menarik di sudut-sudut ruang, dinding abu-abu dan lantai kayu yang hangat berpadu cantik dengan sofa biru gelap di ruang keluarga.

Tidak lengkap rasanya rumah seorang pengamat burung tanpa ornamen burung di dalamnya. Pada rumah Jens berbentuk beberapa patung burung hantu imut di atas meja, beberapa corak di tirai, dan hal-hal lain yang mengingatkan kita akan pengamatan burung. Di kamar Jens, terdapat sebuah lemari besar berisi buku-buku panduan pengamat burung dari seluruh dunia, sebagian merupakan barang ekslusif yang sudah sulit ditemui di pasaran. Jujur saja, koleksi buku ini membuat saya merasa seperti berada di surga!

Salah satu buku di perpustakaan pribadi milik Jens. Yep, that's a Harpy Eagle!

Salah satu buku di perpustakaan pribadi milik Jens. Yep, that’s a Harpy Eagle!

1002613_10200998334538727_2016278438_n

Koleksi buku birdwatching field guide milik Jens.

Koleksi buku birdwatching field guide milik Jens.

Setelah beristirahat sejenak di kamar dan mengabari keluarga di rumah bahwa saya sudah sampai, Jens mengajak saya makan malam. Semangkok sup sayur-sayuran segar instan menjadi menu kami malam ini, dengan bungkus unik yang mirip dengan merk penyedap rasa di Indonesia (yang belakangan juga membuat produk yang mirip, satu perusahaan kali ya?). Kami pun berbincang-bincang sejenak sambil menikmati suasana malam yang begitu sepi, hening, tanpa suara kendaraan bermotor, manusia, atau serangga apapun yang biasanya terdengar di tempat asal saya. Hmmm..

Malam itu sayapun tidur dengan nyenyak, menunggu petualangan lain sambil menyapa burung-burung di negara ini keesokan harinya. Yap, tunggu cerita saya selanjutnya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s