Denmark Trip 2013: Exploring Copenhagen! :D

Senin, 19 Agustus 2013

“Hello Panji, welcome to Denmark!” sambut Jens tepat di pintu kedatangan bandara Luthavn.

Jens masih sama seperti biasanya, dengan kemeja yang rapih, rambut memutih dan cara bicara yang khas dan ramah. Sudah hampir setahun sejak terakhir kali kami bertemu, tapi entah kenapa kami bisa begitu cepat akrab kembali dan larut dalam pembicaraan antar pengamat burung.

“So House Martin, did you see it’s white rump?” tanya Jens ketika saya bercerita tentang House Martin yang saya lihat tepat setelah saya turun dari pesawat. “You’ve got your first bird here, you’ll see more soon!” ujarnya lagi.

Kami segera menuju stasiun kereta api yang terintegrasi dengan bandara. Loket tiket kereta ada di dalam area lobby bandara yang ramai ini, dengan antrian yang cukup panjang. Untung Jens sudah membeli tiket lewat internet sehingga kami tidak perlu antri lagi. Stasiun kereta terletak di bawah bandara, yang dihubungkan dengan sebuah eskalator. Tidak ada pengecekan tiket di stasiun, tiket hanya perlu ditunjukan ketika sudah ada di dalam kereta—nggak seketat dan seribet Indonesia yah?

Begitu sampai di peron yang terbuka, saya merasa seperti masuk ke ruangan ber-ac: udaranya dingin tapi kering. Saat itu Kopenhagen dalam keadaan berawan, dan menurut Jens ini merupakan cuaca yang paling umum di Denmark. Kami menunggu kereta selama beberapa menit, sementara itu saya mulai menyesuaikan diri dengan suhu udara Kopenhagen dan aromanya yang khas (nggak bisa dideskripsikan wis, pokoke khas).

Peron kereta di bawah bandara Luthavn
Peron kereta di bawah bandara Luthavn

Setelah 15 menit, kereta pun sampai. Kereta ini berukuran cukup besar dan luas, rapih, serta dengan desain yang menarik dan efisien. Kata Jens kereta ini merupakan kereta dalam kota sehingga tempat duduknya nggak banya-banyak amat, dan kami terpaksa berdiri sepanjang perjalanan ke Kopenhagen Central Statio, jaraknya cuman 2 stasiun dari Luthavn Airport. Kesempatan ini saya gunakan untuk menikmati pemandangan kota Kopenhagen yang relatif sepi, dan saya pun melihat burung kedua saya di Denmark: Wood Pigeon.

Stasiun Luthavn dari dalam kereta. Saya lupa ngambil gambar interior keretanya :p
Stasiun Luthavn dari dalam kereta. Saya lupa ngambil gambar interior keretanya :p

Jalur kereta di Kopenhagen lebih banyak memakan ruang di bawah tanah, meskipun tidak full underground dan ada beberapa tempat yang terbuka. Kereta berjalan cukup cepat dan minim suara. Selalu ada pengumuman dalam bahasa Danish ketika kereta mendekati stasiun, kemudian nama stasiun akan muncul di layar yang ada di setiap gerbong. Hanya dalam 20 menit, kami sudah sampai di jantung kota Kopenhagen yang mulai ramai.

Kami pun turun sampai di Copenhagen Central Station. Stasiun ini tidak terlalu megah, tapi cukup besar, rapi dan ramai, meskipun tidak seramai stasiun Pasar Minggu di jam pulang kerja yang ramainya naudzubillah. Arsitekturnya benar-benar klasik, dengan tiang-tiang dan atap logam serta peron yang luas. Di setiap jalur terdapat layar LCD yang menayangkan jadwal, tujuan dan nomer peron kereta yang akan datang. Lanjutkan membaca Denmark Trip 2013: Exploring Copenhagen! 😀

Iklan

Denmark Trip 2013: Siksaan 26 Jam menuju Negeri Thumbellina

Sebenarnya saya sudah males-malesan buat nulis postingan tentang perjalanan saya ke Denmark. Sudah lewat berbulan-bulan sejak saya kesana, lalu langsung dibantai sama tugas-tugas kuliah yang bikin semrawut. Saya sempat berpikir untuk melupakan saja postingan yang sudah saya siapkan draft-nya itu, cukup saya yang tahu gimana cerita saya selama berada di negeri londoitu. Tapi kok ya rasanya sayang kalau draft saya ndak dilanjutin, ditambah lagi saya sudah hutang sama banyak teman bahwa saya bakal memposting pengalaman saya di negeri orang dan sudah banyak juga yang nagih. Huuffff..

Packing, done!
Packing, done!
Beberapa menit sebelum berangkat :D
Beberapa menit sebelum berangkat 😀

Minggu, 18 Agustus 2013

Antri di Qatar, angkot, dll

“ASSS*** antrinee cuuuk”, pisuh saya dalam hati melihat antrian di meja check in yang.. duh, nggak ngerti dah harus bilang apa.

Saya sudah datang 3 jam sebelum waktu boarding, lalu dengan sumringah masuk ke bandara Soekarno Hatta dengan pede-nya karena yakin nggak akan ada antrian panjang di meja check in. Saya bahkan sempat melempar senyum pada orang-orang di meja check in maskapai lain yang sedang ngantri puaanjaaaaaaang banget, sementara saya membayangkan meja check in saya nggak terlalu lamai, lenggang, luang, pokoke garek teko rampung wis… wah ternyata saya kualat.

Setelah mengantri lama (yang terasa cepat berkat sms-an sama si Nona) saya lansung menuju meja imigrasi—yang alhamdulillah ngantrinya nggak panjang-panjang amat, dan nggak perlu bawa-bawa tas gede yang sudah disetor di bagasi. Sedikit masalah terjadi di security check, karena saya harus melepas sepatu Caterpillar asli Klithikan saya gara-gara ada komponen metal di dalamnya. Wuah alamat buruk nih, nanti kan saya harus transit, melewati security check berkali-kali, jadi harus buka sepatu berkali-kali!

Setelah beberapa lama menunggu di ruang tunggu, akhirnya boarding time! Seperti yang biasa terjadi di Indonesi, begitu pintu dibuka, orang-orang lansung berdesakan seperti ingin berebut tempat duduk! Saya cuman bisa duduk kalem di belakang, menunggu ajang desak-desakan ala terminal bus itu usai sambil ngobrol bareng seorang traveller asal Eropa (lupa daerah mana hehehe) yang baru mau pulang habis jalan-jalan keliling Asia Tenggara.

Lanjutkan membaca Denmark Trip 2013: Siksaan 26 Jam menuju Negeri Thumbellina