Dari Gang Kecil di Mampang sampai Kanal-kanal di Denmark

Cerita panjang yang telat diposting dan nggak terlalu penting :p

Entah kenapa, saya merasa memiliki jiwa jalan-jalan dan blusukan yang terlalu tinggi. Sejak dari kecil saya suka main ke rumah teman yang jauh-jauh sepulang sekolah, tentu saja tanpa pamitan, lalu dimarahi orangtua semalaman. Rekor hilang saya pun paling tinggi diatara adik-adik saya—pertama kali saat berumur 2 tahun, ketika saya dan orangtua sedang belanja di Blok M Plaza. Kata ibu, saya hilang amgara-gara nelusup-nelusup di antara pakaian, terus langsung menghubungi satpam begitu sadar kalau diri saya terpisah dari orangtua—tanpa nangis!

Meskipun saya tumbuh di kota besar Jakarta yang sumpek dan miskin suasana yang alami, toh saya masih bisa memenuhi keinginan saya untuk jalan-jalan dan blusukan. Mulai dari rawa-rawa tempat berkumpulnya air comberan, gang-gang sempit yang ibu saya saja nggak tahu kemana arahnya, jalan-jalan di sekitar rumah, dan lain-lain. Waktu saya sepulang sekolah pun selalu saya habiskan untuk jalan-jalan di tempat yang baru, baik sendiri maupun ramai-ramai, dan berusaha menemukan sesuatu yang berbeda setiap harinya.

Yah, sudah ratusan kali saya dimarahi ibu karena suka bikin panik—main jauh-jauh sepulang sekolah tanpa pamit dari rumah. Tapi toh saya nggak pernah kapok, karena saya selalu bisa menemukan sesuatu yang baru dari petualangan saya itu—mulai dari rental PS yang murah dan kasetnya lengkap, tempat nongkrong abang-abang gulali yang rasanya aduhai, hingga penjual keong-keong langka yang hampir semua anak di tempat tinggal saya sendiri nggak pernah tahu!

Kebiasaan jalan-jalan tanpa pamit ini sempat padam ketika saya SMP, namun tumbuh lagi ketika saya mengenal dunia pengamatan burung di SMA. Birdrace pertama saya di ITS Surabaya pun saya jalani secara diam-diam, sampai budhe dan pakdhe tempat saya nge-kost selama SMA panik nyariin saya yang bolos 3 hari! Tapi alhamdulillah, perjalanan saya itu tidak sia-sia—tim kami yang terdiri dari Bintang, saya dan Mas Jarot berhasil memenangkan juara pertama🙂

Nah, mungkin di waktu-waktu SMA inilah kebiasaan jalan-jalan saya mulai menghasilkan sesuatu. Saya jadi sering ikut birdrace di tempat-tempat yang jauh, yang sebelumnya belum pernah saya bayangkan: Baluran, Surabaya, dll. Rekor jarak jalan-jalan saya pun semakin besar ketika mendapat undangan untuk hadir di Global Birdwatcher Conference di Gujarat, India pada tahun 2010 lalu Wow!

at Global Birdwatcher's Conference, India

at Global Birdwatcher’s Conference, India

Meskipun ada sedikit kendala saat pembuatan visa, erupsi Merapi 2010 dan sempat merepotkan tour agent serta teman-teman Indonesia lainnya, alhamdulillah saya berhasil mengunjungi tanah kelahiran Mahadma Gandhi itu (My greatest apologize for mr Uttej Rao, mas Iwan Londo, Boas dll yang sudah repot karena saya :P). Selama hampir 1 minggu kami menikmati keindahan burung-burung liar yang ada di India dan melihat banyak hal yang selama ini hanya ada di dalam bayangan saya. Saya pun tidak malu mengakui kalau itu adalah kunjungan pertama saya ke luar negeri, dan saya sangat menikmatinya.

Begitu nikmat, sehingga saya ingin melakukannya lagi.

Beberapa tahun yang lalu, saya berkenalan dengan seorang birdwatcher asal Denmark, Jens Ole Byskov. Kami saling mengenal dari aplikasi Birds and Birdwatching di Facebook, sebuah aplikasi yang menyenangkan tapi sayang sekali harus ditutup. Kami pun saling mengenal, bertukar pikiran dan banyak cerita tentang perjalanan pengamatan masing-masing. Dari situ saya tahu kalau Jens merupakan pengamat burung yang sudah mumpuni, sudah mengamati burung selama hampir 50 tahun dan mengunjungi puluhan negara di dunia—kecuali Indonesia! Pantas saja dia berada di nomer paling atas dalam ‘best birdwatcher’ di aplikasi tersebut, dengan jumlah lifer.. 5000-an species!

Setelah beberapa lama berkenalan, pada akhir tahun 2011 Jens mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu lekat dalam ingatan saya hingga saat ini: “Would you like to go to Denmark and do some birdwatching here with me?”.

Saat itu saya tidak tahu harus merespon apa. Dengan asumsi pertanyaan itu hanya lelucon, saya pun menjawab kalau saya tidak mungkin bisa pergi kesana dalam waktu dekat. Tidak sampai saya punya uang yang cukup untuk menghidupi diri saya sendiri.

Dan Anda tahu apa tanggapan dia?

“I would like to pay everything for you so you can be here, it will nice to see a young passionate birdwatcher like you, show you my culture and my country, and do some birdwatching together. So, how is it, are you really want to go?”

Dan saya tidak bisa mengatakan hal lain selain, “Janc****k! yes, I really want to go!!!”

Kami pun mulai merencanakan kunjungan saya ke Denmark. Awalnya saya sih agak ragu dengan orang yang saya kenal di internet dan tiba-tiba ngajak saya ke negaranya. Namun karena saya sudah lama mengenak Jens dan tahu seluk beluk tentang hidupnya, saya pun percaya pada Jens dan mempersiapkan segala hal yang saya butuhkan untuk pergi ke Denmark pada waktu yang telah kami sepakati: awal musim semi, bulan Mei 2012.

Pada bulan februari 2012, musim dingin yang sangat berat menerjang bumi Eropa. Jens berkali-kali mengeluhkan keadaan tersebut dan merasa sangat ingin pergi ke suatu tempat. Mengingat dia belum pernah mengunjungi Indonesia, saya pun menawarkannya pergi ke Indonesia sambil bercanda. Entah kenapa Jens menganggapnya dengan serius, dan 15 menit kemudian, dia langsung menunjukan tiket pesawat Copenhagen-Amsterdam-Jakarta yang sudah dia beli untuk bulan depan!

“I need you to accompany me for this trip around your island!” katanya dengan bersemangat. Karena saat itu saya sudah keluar dari kampus lama dan menunggu SNMPTN tahun depan, saya hanya bisa manggut-manggut setuju sambil geleng-geleng heran dengan spontanitasnya (manggut+geleng=muter-muter).

Yap, di bulan Maret 2012, kami pun berjalan-jalan keliling pulau Jawa, saling mengenal lebih dekat dan membangun kepercayaan satu sama lain. Saat itu juga kami gunakan untuk mempersiapkan diri saya dalam mengunjungi Denmark, termasuk mencari hal-hal yang dibutuhkan untuk membuat visa, dan lain-lain. Kami pun menikmati perjalanan panjang tersebut, sebuah perjalanan yang saking nikmat dan panjangnya sampai saya lupa untuk menulisnya di blog ini.

Jens Ole Byskov di semak belukar Taman Nasional Gunung Gedhe Pangrango, Maret 2012

Jens Ole Byskov di semak belukar Taman Nasional Gunung Gedhe Pangrango, Maret 2012

Cibereum Waterfall

Cibereum Waterfall

Rawa Gayonggong, Maret 2012.

Rawa Gayonggong, Maret 2012.

Setelah Jens pergi, saya pun memulai proses pembuatan visa—suatu proses krusial yang sangat menentukan nasib perjalanan saya ke Denmark. Saya mengumpulkan segala hal yang saya butuhkan untuk membuat visa: paspor, akte lahir, surat pernyataan, dan lain-lain. Semua sudah saya lakukan sebisanya, dan saya begitu yakin visa saya akan diterima.

Tapi sayang, ternyata nasib berkata lain. Saya gagal mendapatkan visa, karena saat itu saya tidak bekerja ataupun kuliah di instansi manapun, sehingga saya tidak bisa menunjukan surat pernyataan bekerja/kuliah yang diperlukan Kedutaan Besar Denmark sebagai jaminan bahwa saya akan kembali lagi ke Indonesia.

Saya dan Jens hanya bisa pasrah, meskipun sudah menghabisan uang dalam jumlah yang cukup banyak. Kami tetap menjaga hubungan lewat dunia maya, saling memberi kabar dan cerita masing-masing seperti biasanya. Harapan saya untuk membuat rekor baru di catatan jalan-jalan saya pun mulai redup, setidaknya dalam beberapa bulan sampai Jens menawarkan kesempatan kedua untuk mengunjungi negerinya.

Saat itu saya baru saja merayakan ulang tahun ke 19, saat Jens menawarkan saya untuk ‘mencoba keberuntungan kita lagi’. Banyak sekali hal yang sudah berubah saat itu, saya diterima di Universitas Negeri Yogyakarta dan berkuliah di sana sekaligus mengakhiri masa bebas saya selama 9 bulan belakangan, kemudian saya juga mengakhiri hubungan saya dengan seseorang setelah lebih dari 1,6 tahun bersama (alhamdulillah, saya menemukan seseorang yang lebih baik beberapa bulan kemudian). Saat itu pula ekspetasi saya yang sebelumnya meledak-ledak menjadi begitu kalem, entah kenapa saya agak percaya kalau usaha saya kali ini akan gagal, sama seperti sebelumnya.

Tapi saya harus berterimakasih kepada salah seorang kawan syang sekarang sudah menjadi orang terdekat saya (bagi yang ikut Baluran 2013 pasti tahu, hehehe..:p). Berkat dukungan , dorongan, tamparan, tendangan, pukulan dan tusukannya (ini mau berantem apa ya? hehehe), saya berhasil mengikuti semua intruksi pembuatan visa schengen, kali ini dengan surat pernyataan masih kuliah dari kampus, bookingan tiket pesawat yang nggak jadi saya beli plus surat jaminan finansial dari Jens yang sangat membantu proses pembuatan visa saya!

Pada tanggal 12 Agustus 2012, saya mendapat sms dari VFS (agen pembuatan visa untuk hampir semua negara schengen, nggak bisa bikin langsung di kedutaannya L) kalau paspor saya sudah bisa diambil, dan pernyataan lolos/tidaknya visa tersebut ada di dalam paspor itu. Karena suatu kesalahpahaman yang sangat bodoh dari saya, saya baru bisa mengambilnya hari kamis, 15 Agustus 2012. Dengan dagdigdug sambil berjalan keluar dari gedung Plaza Asia, saya membuka bungkusan coklat berisi paspor saya.. 1, 2, 3 Hap! Lalu ditangkap saya pun membuka paspor tersebut tepat ke halaman itu: halaman tepat dimana visa schengen saya bertengger dengan manisnya.

Saya tidak bisa menggambarkan betapa senangnya saya waktu itu😀

Jadi, saya langsung menghubungi Jens yang langsung membelikan saya tiket pesawat untuk hari Minggu, 17 Agustus 2013, agak telat 2 hari dari rencana semula. Tapi semua berjalan baik-baik saja, dan waktu 2 hari itu saya habiskan untuk persiapan fisik dan mental mengahadpi perjalanan antarbenua saya yang pertama. Dan sekali lagi, saya tidak bisa berhenti tersenyum membayangkan segala kehebohan yang akan saya alami di negeri itu.

Pada akhirnya, Minggu 18 Agustus 2013, saya pun berangkat dari rumah tante di Jakarta menuju bandara Soekarno Hatta, naik angkot mikrolet M-20 sampai ke mampang yang reot, di tengah hujan gerimis galau ala Jakarta. Dan akhirnya saya akan menuju sebuah negara di benua yang sebelumnya hanya bisa saya kunjungi lewat mimpi dan angan-angan saya, sebuah rekor baru dalam kehidupan blusukan saya. Denmark adalah gang baru yang akan saya lewati, yang penuh dengan kejutan tidak terduga di dalamnya—seperti rental PS yang murah, sepi dan koleksi kasetnya lengkap :p—dan menorehkan sebuah cerita seru yang akan saya bahas di postingan selanjutnya.

Jadi, semula bermula dari menghilang di rak-rak baju di sebuah toko di Plaza Blok M, Jakarta, lalu ke hutan belantara, hingga ke tanah kelahiran Mahadma Gandhi dan sekarang, rumah Hans Christian Andersen. Rasa terimakasih sebesar-besarnya harus saya sampaikan kepada Allah SWT yang mengizinkan saya melihat sisi lain bumi-Nya, kepada ibu, adik-adik, keluarga dan si “N” yang memberi saya dukungan baik fisik, mental hingga finansial, serta Jens Ole Byskov yang memberi saya kesempatan untuk melihat negerinya. Denmark, here I come!

Oh ya, kali ini saya pamit ke orangtua lho😀

Copenhagen, Agustus 2013

Copenhagen, Agustus 2013

(Tunggu cerita saya di Denmark pada postingan berikutnya..)

One thought on “Dari Gang Kecil di Mampang sampai Kanal-kanal di Denmark

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s