eBird: Aplikasi Web bagi Pengamat Burung

eBird adalah satu dari sekian banyak aplikasi pengamatan burung berbasis website yang dikembangkan oleh Cornell’s Lab Ornithology. Aplikasi ini memungkinkan Anda untuk mencatat data observasi pengamatan burung yang Anda liat, khususnya jumlah individu dan jenis-jenis burung yang Anda lihat. Data ini kemudian dikumpulkan di database ebird dan dapat diakses oleh semua member yang terdaftar, dan dapat digunakan oleh para peneliti dan pengamat burung lain di seluruh dunia untuk kepentingan dunia ornithologi.

eBird merupakan aplikasi yang sangat berguna bagi para twitcher yang ingin mencatat daftar burung yang pernah mereka amati, atau bagi pengamat burung biasa yang ingin mendokumentasikan data pengamatan burung mereka. Aplikasi ini sangat mudah digunakan, tidak perlu mendownload karena berbasis website, dan juga GRATIS! Anda bisa menggunakan eBird untuk mencatat data pengamatan yang Anda miliki dan eBird akan mengolahnya sehingga mudah untuk dibaca, seperti pengelompokan burung yang Anda liat di suatu daerah, negara, atau suatu waktu tertentu.

Ingin mencobanya? Berikut merupakan panduan dasar dalam menggunakan eBird untuk mengunggah data pengamatan dan mengeksplorasi data yang telah Anda kirim:

Lanjutkan membaca eBird: Aplikasi Web bagi Pengamat Burung

Iklan

Kisah Ekek-geling Jawa, Si Paruh Gincu di Pasar Burung Yogyakarta

Burung kebiruan itu melompat-lompat di dalam sangkar bambu. Paruhnya yang besar berwarna merah seperti memakai gincu. Matanya kecoklatan, melotot dari balik topeng hitam di kepalanya. Beberapa kali ia kepakan sayapnya yang kecoklatan, melambai-lambai dari tenggerannya yang sempit dan kotor.

Kalau saja saya menjumpai burung ini di alam liar, tentu saya akan berjingkrak-jingkrak tidak karuan. Burung ini adalah Ekek-geling Jawa (Cissa thalassina), burung endemik jawa yang diberi status Kritis (Critically Edangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Keberadaannya di alam masih dipenuhi tanda tanya, beberapa orang yakin burung ini masih bertahan di sisa-sisa hutan pegunungan di Jawa barat, beberapa lainnya dengan pasrah mengatakan bahwa burung ini sudah ‘punah di alam’. Burung ini ibarat sebuah hadiah yang sangat besar bagi seorang twitcher–mungkin hampir setara dengan Trulek Jawa (Vanellus macropterus) yang legendaris, dan bisa dikategorikan sebagai ‘ultra mega tick of the year’!

Sayang seribu sayang, saya hanya melihat burung ini di balik kandang bambu yang tergantung cukup tinggi. Itu pun bukan di tempat penyelamatan dan konservasi hewan, namun di sebuah pasar burung besar di selatan kota Jogja. Ya, burung ini diperjualbelikan di Pasar Burung Yogyakarta (PASTY), dan dengan sangat kebetulan saya bisa menjumpainya pada saat saya berkunjung kesini, Jumat 17 Mei 2013.

“Nggak bisa diambil fotonya Nji, kejauhan,” kata Ekky, kawan saya yang saya ajak jalan-jalan ke tempat ini.

Sangkar burung itu diletakan cukup tinggi sehingga sulit untuk dipotret dengan kamera hp. Kandangnya cukup besar, mengimbangi ukuran si Ekek-geling yang bisa dibilang cukup besar. Kami tidak bisa menemui penjaga kios dimana burung tersebut dijual, sehingga tidak ada informasi lebih lanjut yang dapat kami peroleh tentang burung ini. Dengan berat hati kami memutuskan untuk pulang dan mencoba mencari informasi tentang burung ini di rumah. Lanjutkan membaca Kisah Ekek-geling Jawa, Si Paruh Gincu di Pasar Burung Yogyakarta

Melia Purosani Hotel: The Last Javan Sparrow’s Fortress?

This morning, i had to pick up my friend at Jombor Terminal. He is mas Ady Kristanto, an avid birdwatcher friend from Jakarta, and today he came here to be a speaker in a wildlife photography workshop. He asked me if i can take him somewhere, and i happily agreed.. off course, he paid me for the fuels and foods 😀 (now you know why i happily agreed).
It didn’t take a long time to wait for him at Jombor Terminal. Soon after we met and greeted, we moved to Bionic’s Basecamp. Here, he asked me if i knew some place for hunting. I was thinking about Javan Sparrow at Melia Purosani Hotel, some of my friend reported that this is their breeding time. I thought it would be a good place and time to took its picture.
“How many birds there?” he asked me.

“Many.. Usually they perched high. But a report a week ago said that they currently build some nest and they were seen perched so low, and easy enough to take their picture.”
“Well, worth to try.”
So we decided to visit Melia Purosani before we moved to his workshop place. An hour later, we departed to Melia Purosani Hotel, wich located near to the so-famoust Malioboro street.
FYI the Java Sparrow (Padda oryzivora) is a beautiful bird, it ‘was’ endemic to Java and also was the most common bird in agricultural area, became a serious pest for rice and grain. However its population decline sometime around 1990s. Nowadays this cute, funny pink-billed finch is so rare due to over-caught for pet, and listed as Vulnurable in IUCN’s red list. The remaining population is scatterd around this island, hiding from the poachers eyes, while some well-established feral colony grew up somewhere in other countries such as Singapore, Philipine, Thailand, or even Hawaii. This bird is a tragic example as victim of bird-trade, formerly the most common bird and now become one of the rarest bird in their native island.
Back to the story. We arrived at Melia Purosani hotel. At first we didn’t see any sign of this bird, while mas Ady’s face showed a pesimistic expression if we can find the target bird. There’s only Eurasian Tree Sparrow, the other finch that survive the bird-trade due their ‘unspecial’ apperance or voice, and also the main nesting rival for the Java Sparrow. There are many of them, together with Scaly-breasted Munia and Sooty-headed Bulbul.

We look up to the high balconies where the Java Sparrow usually perched, but none of them here.. Lanjutkan membaca Melia Purosani Hotel: The Last Javan Sparrow’s Fortress?