Boom! Baluran-PLN Birding Competition: Exploring Paradise! (2)

Rabu, 13 Juli 2011 pukul 06.00

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Nji,, baterainya udha penuh,” ujar seorang kawan yang saya lupa siapa. Langsung saja saya cabut charger HP, dan menatap ke luar ruangan. Sudah terang ternyata, matahari pertama di pulau jawa!

Yah, Baluran memang terletak di ujung timur pulau jawa, jadi matahari yang kita saksikan disini adalah matahari yang pertama bersinar di pulau jawa. Jam 6 disini seperti jam 7 di Jogjakarta!

Begitu saya melihat ke luar ruangan, sudah ada beberapa orang birdwatcher yang melakukan ‘warming up’ di sekitar kompleks BTNB Batangan. Beberapa ekor burung terlihat tidak sungkan menunjukan diri mereka, menjadi perhatian para birdwatcher yang sibuk dengan binokular mereka. Saya sendiri mencatat Cipoh Kacat (Aegithina tiphia/Common Iora), Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus/Small Minivet), Bondol Peking (Lonchura punctulata/Scaly-breasted Munia), Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides/Javan Munia), Kekep Babi (Arthamus rhynorinchus/White-breasted Woodswallow), Cekakak Sungai (Halcyon chloris/Collared Kingfisher) dan sepasang Caladi (Dendrocopos sp) yang tidak sempat saya identifikasi jenisnya.

Setelah puas saya berbincang-bincang dengan beberapa orang birdwatcher dari seluruh Jawa-Bali. Yah, meskipun tidak seheboh yang pertama (1st Annual Baluran-Britama Birding Competiiton, peserta dari Riau sampai Timika!), tahun ini pesertanya tetap saja banyak: 210 orang!

oleh Khaleb Yordan

oleh Khaleb Yordan

Setelah sarapan bareng kawan-kawan Teens Go Green (Khaleb, Mas Ady Kristianto dkk) saya langsung menuju meja regristrasi. Disini, saya agak kecewa dengan competition kit yang diberikan. Jika tahun lalu competition kit-nya dimasukan rapi ke dalam tas jinjing kain, tahun ini menggunakan kantong kresek hitam berukuran besar. Tapi setidaknya kaus yang diberikan lebih baik–tanpa sablon karet . Yah, kegiatan regristasi ulang jadi terlihat seperti pembagian BLT!

Nah, ini dia bagian lucunya. Saat saya lagi asyik membaca daftar peserta, saya tertawa terpingkal-pingkal. Langsung saja saya bawa daftar peserta tersebut ke hadapan kawan-kawan.

“Mas.. BIONIC ki cen edan po piye??” ujar saya. Bayangkan saja, di tengah nama-nama tim yang kedengeran “keren”, muncul nama 10 tim Bionic dengan nama yang ndagel seperti biasanya. Yah, saat yang lain memakai nama tim “Ceyx rufidosa”, “Road Runner”, “Teens Go Green” dan lain-lain, 10 tim Bionic tersebut memilih nama “Tiwul Cinta”, “Gethuk”, “Jadah Tempe” dan makanan-makanan khas Jogjakarta lainnya!😄

Tidak hanya Bionic, tim-tim lain dari Jogja dan Surabaya juga memakai nama yang agak nyleneh. 4 Tim dari BIOLASKA UIN Sunankalijaga memakai nama “Ihir”, “Aye”, “Saparatoz” dan lain-lain. 2 dari 4 tim PeCuk Biologi ITS Surabaya memakai nama yang lebih edan bila diucapkan dengan nada yang tepat: “Cuk, Pecuk” dan “Pecuk, Cuk!”

“Nek ngene wingi Alsoneta mending nggo nama sing edan wae yo?” ujar saya. Yah, niatnya sih mau pakai nama alay macam “Alsoneta CayankDiaClelalu” atau “Alsoneta CetyaCakInginndcakitilagy”, supaya kesan anak muda masih terasa. Tapi kok malah jadi aneh ya? ==a

Oke, mas Zul yang berangkat terpisah karena sedang KKN sudah sampai di Batangan. Tim Alsoneta PPBJ sudah berkumpul, saatnya menuju Bekol!

Alsoneta-PPBJ Full Team!

Setelah berkemas, kami segera menuju truk bersama-sama. Pengalaman tahun lalu tesampluk ranting-ranting rendah ketika kami menaiki mobil bak terbuka menuju bekol membuat tidak ada orang yang berani duduk diatas kepala truk. Akhirnya, saya sendiri yang duduk disana.

“Nji, ati-ati! Ngko kowe kesampluk koyo taun wingi lo! (Nji hati-hati, nanti kamu kesampluk kayak tahun lalu lo!)” ujar mbak mas Dlohak. Tapi yah, demi mendapatkan pemandangan bagus, saya nekat-nekat aja duduk diatas sana.

Merenung di atas kepala truk..

Masih di atas truk

Tiga orang nekat diatas truk!

Rupanya saya beruntung (atau mungkin sial?), karena dahan-dahan rendah yang biasanya merintangi jalan sudah tidak ada, mungkin dtebang oleh panitia. Yah, agak kecewa karena perjalanan jadi nggak seseru tahun lalu, tapi setidaknya saya aman dari terjangan dahan-dahan rendah di jalan. Dan bagian terasiknya: pemandangan yang lebih luas! Bayangkan, Tepekong Jambul (Hemiprocne longipennis) berterbangan, lalu saat truk kami melintasi sebuah kubangan dengan ratusan kupu-kupu disana, yang terbang bersamaan dalam jumlah yang luar biasa–wow! Fantastis!

Akhirnya kami sampai di Bekol. Beberapa tim sudah mendirikan tenda, sementara kami bingung karena tidak membawa tenda. Yah, seperti tahun lalu, terpaksa menyebar dan numpang titip barang di tenda tim lain, hehehe😀

Suasana Basecamp

The Camp, oleh Khaleb Yordan

Saya segera menyapa beberapa kawan lama yang saya temui, salah satunya Khaleb Yordan dari Jakarta Birder yang sekarang tergabung dalam tim Teens Go Green. Kami segera membuat janji untuk berjalan-jalan sore hari nanti, sekalian survey lokasi. Yah, saya memang sudah tidak sabar untuk say hello sama kawan-kawan berbulu di Baluran😀

Nah kami langsung menuju menara pandang Bekol, itung-itung pemanasan. Disana kami hanya mendengar suara Perkutut Jawa (Geopelia striata/Barred Dove), lalu beberapa ekor Walet Linchi (Collocalia linchi/Cave swiflet), Kapinis Rumah (Apus affinis/Little Swift) dan Layang-layang Loreng (Hirundo striolata/Striated Swallow). Ada juga beberapa gerombolan Rusa Timor (Axis timorensis/Timor Deer) di tengah savanna.

Kami juga beremu dengan kawan-kawan Silvagama F. Kehutanan UGM. Mereka bisa dibilang menggantikan kawan-kawan KP3 Burung F. Kehutanan UGM yang tidak bisa datang. Wah, jadi ingat saya belum lolos SNMPTN, dan belu, berhasil masuk Fakultas Kehutanan UGM..hehehehe🙂

Gn. Baluran dari atas View Tower

Savanna Bekol dari atas View Tower

Naaah,, sekarang saatnya saya mengisi perut. Saat itu kami (saya, Bintang, Mas Azat, Mas Imam, Kang Harry dll) kebingungan mencari lokasi warung makan yang disediakan panitia (ingat! Panitia tidak menyediakan konsumsi!). Kami cari di dekat savanna, tidak ada. Di dekat kantor resort juga tak ada. Kami cari di bangunan belakang kemah, malah selera makan kami yang hilang! (Kami baru sadar kalau di bangunan dari terpal yang kami jumpai itu terulis “Toilet Portabel”)

“Piye ik? Wes ngelih ki!” ujar kawan-kawan serempak.

“Pokoke nek nganti ora eneng sego, tak gajul si Swiss!” ujar Kang Harry dari tim TN Karimun Jawa, teman lamanya Bintang.

Naah, disaat krisis itulah datang sebuah gerobak Bakso di depan jalan menuju savanna. Oooh,, bagaikan melihat oasis di tengah savanna, hanya saja oasisnya berupa kaldu ayam dengan seledri dan daging berbentuk bulat di dalamnya.

Saat kami hampir melakukan sujud syukur berjamaah, rupanya ada satu badai yang menghilangkan Oasis tersebut.

“Tunggu bentar ya dek, belum dimasak nih!” ujar penjual Bakso tersebut.

Kami pun terdiam.

“Berapa lama bu?”

“Yah paling-paling 1 jam”

Jedeeer! Sebuah petir raksasa menyambar telinga kami, membentuk suatu suara imaginatif mengerikan dengan suara tawa setan menggema di belakangnya, berulang-ulang..

“1 jaam..1 jaam.. 1 jaam..1 jaaam….1 jaaaaaaaaaamhahahahahahhaaa…HAHAHAHAHHAAA:..”

Dunia semakin gelap..dan gelap..dan…

“Bagi peserta dan panitia, di dapur di depan stand sudah disediakan minuman Es Degan gratis, bagi peserta yang berminat silahkan mengambil di depan stand.”

Sontak kami terbangun dari kegelapan. Ada suatu kalimat yang membuat kami terbangun, tapi kalimat itu masih terasa asing di telinga kami.

“Bagi peserta dan blablablabla.. Es Degan Gratis..blablablabla..”

WHAT? Es Degan, GRATIS?? Langsung saja kami menatap meja di dapur panitia, sebuah gelas plastik dengan tetes-tetes embun di sisi luarnya, menandakan isinya yang sangat dingin, menyegarkan; tersorot oleh sebuah cahaya yang membuatnya berkilau-kilau #suara surga.

Glek..SERBU!!

Dalam sekejap dapur panitia langsung penuh oleh para manusia yang kehausan di tengah Savanna. Bayangkan! Di tengah hari yang panas, dimana haus dan lapar menjadi momok utama, tiba-tiba datang rezeki nomplok dan gratis yang bagi kami..hikz..sangat mengharukan #lebay

Oke! Setelah satu gelas habis, kabar baik lainnya datang: baksonya sudah jadi. Eh habis kabar baik ternyata datang kabar buruk, ternyata ini bakso yang ada di samping kantor Batangan, yang tahun lalu saya makan dan langsung enek setelahnya. Kaldunya hambar, dan sausnya pun cuman penuh dengan bahan pewarna ==a

“Jarene eneng sego, wah piye ki mas Swiss,” ujar kami sambil meringis mencari nasi.

Nah saat itulah saya melihat mbak-mbak Silvagama yang tadi. Saya langsung ingat akan jaket yang kami tinggalkan sendirian diatas menara pandang!

Dan yah! Rupanya ada perubahan jadwal: orientasi peserta diganti menjadi malam hari, setelah acara pembukaan. Langsung saja saya manfaatkan waktu itu untuk birdwatching dan survey lokasi bareng Khaleb, Mas Ady dan kroni-kroninya, dengan trek Bekol-Bama. Bintang dan Mas Tom juga menuju pantai Bama, tapi melalui jalur berbeda, melewati Manting. Sementara Mas Zul dan kawan-kawan Bionic berjalan menuju Evergreen.

Saya agak kecewa begitu melihat savanna sudah ramai dengan orang.

“Nggak janji deh bisa liat Ayamhutan dari jarak dekat,” ujar saya kecewa.

Tahun lalu saya, Mas Dlohak dan Mas Willy bisa melihat Ayamhutan Hijau (Gallus varius/Green Junglefowl) dan bahkan Merak Hijau (Pavo muticus/Green Peafowl) dari jarak yang sangat dekat, karena kami manusia pertama yang menapaki jalan Bekol-Bama. Sekarang mungkin mereka sudah pada lari ketakutan, gara-gara ada banyak manusia disana. Yasudahlah..

Menuju Bama, oleh Khaleb Yordan

Menit-menit pertama tidak ada yang bisa dilihat selain Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis/Spotted Dove), Dederuk Jawa (Streptopelia bitorquarta/Island Turtle Dove) dan kawanan Rusa Timor (Axis Timorensis/Timor Deer). Sementara itu suara Perkutut Jawa (Geopelia striata/Barred Dove) bergema dimana-mana.

“Elang Tikusnya mana yah?” tanya saya pada diri saya sendiri. Membosankan, tahun lalu Elang Tikus (Elanus caeraleus/Black-shouldered Kite) dan Alap-alap Sapi (Falco molluccensis/Spotted Kestrel) sangat atraktif bermain di sekitar area savanna bekol. Sekarang? Tidak ada!

Yah, setidaknya Baluran masih bisa menghibur kawan-kawan saya dari Jakarta dengan kehadiran satu gerombolan besar Rusa Timor yang sedang dalam musim kawin. Dan yang hebat, dari tadi terdengar suara berat yang sangat mengerikan dari arah hutan, suara Banteng Jawa (Bos sondaicus)!

“Bantengnya ngamuk nih!” ujar Khaleb. Yah, suaranya memang mengerikan ==a

Khaleb dan Ilham langsung menuju savanna, menunduk-nunduk berusaha memotret rusa dari jarak dekat. Tapi kok malah kayak orang pacaran di tengah savanna yah? Saya malah diserahi tanggung jawab membawa Monokular dengan tripod jahannam yang berat dan keras. Aargh!

Mengamati Rusa Timor (Axis timorensis), oleh Khaleb Yordan

Rusa Timor (Axis timorensis), oleh Khaleb Yordan

Begitu memasuki hutan musim antara Bekol dan Bama, kami mulai melihat beberapa jenis burung lain seperti Kapasan Kemiri (Lalage nigra/Pied Thriller) dengan suara khas-nya “Kekkekkekee”. Tepat di pertigaan Jalan Bekol-Bama dan Mantingan, kami berhenti sejenak karena kedatangan sepasang burung asing.

“Crimson-winged Woodpecker!” teriak Khaleb riang.

Yah, Pelatuk Sayap Merah (Picus pinecus/Crimson-winged Woodpecker) merupakan burung yang cukup umum dijumpai disini, tapi tahun lalu saya tidak melihatnya. List baru alias Lifer!

Beberapa menit kemudian satu kejutan lagi pun datang. Dua ekor Punai Penganten terbang berpasangan. Satu lifer lagi bagi saya! Lalu ada juga Takur Ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala/Coppersmith Barbet) dan Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus/Small Minivet).

Menuju Bama, oleh Ilham Khoiri Iam

Nah, baru saja kami berbelok, dari arah kelebatan pohon palem terlihat satu bayangan besar terbang sekelabat. Sontak saja saya dan Khaleb yang berjalan paling depan berteriak berbarengan: Kangkareng!

Yah! Kangkareng Perut Putih (Anthaceros albirostris/Oriental Pied Hornbill) yang memang menjadi atraksi utama di hutan pantai Bama. Kami langsung berhenti dan membuka tripod. Ah, akhirnya bebas sejenak dari beratnya beban si monokular!

Beberapa saat kemudian, di gerbang menuju Pantai Bama, belasan ekor Kangkareng Perut Putih terlihat terbang satu persatu! Fantastis! Dan ada Ayamhutan Hijau melintas disana, sebuah Lifer bagi Khaleb.

Mengamati Kangkareng Perut-putih (Anthaceros albirostris), oleh Khaleb Yordan

Kangkareng Perut-putih (Anthaceros albirostris), oleh Khaleb Yordan

Sampai di Bama, rupanya sedang surut. Makaka yang biasanya merampok sekarang sedang bermain-main di padang Lamun sambil mencari makanan dari laut. Namun sayangnya, minus kehadiran shorebird.

“Kalau ada shorebird, kereen nih,” ujar Khaleb. Yah, Shorebird memang agak susah ditemukan di pantai TN Baluran, apalagi diluar musim migrasi.

Khaleb mengajak saya mencari Kangkareng Perut Putih lagi, rupanya dia belum dapat foto yang bagus. Yasudah, sekalian saya ajak ke hutan pantai, tapi rupanya sudah terlalu gelap untuk mengambil gambar disana, hanya satu ekor Pergam Hijau (Ducula aenea/Imperial Green Pigeon)

Welcome to Bama! oleh Khaleb Yordan

Menikmati Bama

Main perahu disaat surut?

Akhirnya karena sudah menjelang gelap, kami memutuskan untuk kembali ke Bekol. Masih disambut oleh belasan ekor Kangkareng Perut Putih, bonus beberapa ekor Gagak Hutan (Corvus enca/Slender-billed Crow).

Saya dan Khaleb yang masih frustasi belum menemukan Ayamhutan Hijau dari jarak dekat memutuskan untuk menimpuki semak-semak dengan batu.

“Ngapain kak?” tanya Arinta Tata, anggota Teens Go Green yang masih SMK.

“Iseng, kali aja ntar ada Ayamhutan keluar,” jawab Khaleb.

“Atau mungkin teriakan manusia yang sedang mendekam disana dan terkena lemparan batu,” jawab saya, dan kami pun tertawa beramai-ramai.

Hari semakin sore, ufuk barat yang dihiasi Gunung baluran mulai berubah kemerahan. Wow, fantastis: kami berjalan diantara savanna dan angin musim kering dengan pandangan lurus ke arah barat yang kemerahan! Suara banteng masih terdengar dimana-mana, bercampur suara Merak Hijau yang bersahut-sahutan.

“Merak!” kata mas Ady. Sontak kami semua berkumpul ke asal suara.

Rupanya ada gerombolan merak diatas pohon Widoro Bukol di kejauhan, bersiap untuk tidur. Lagi-lagi kami membuka kaki tripod dan mulai mengamati hewan cantik itu.

Mengamati Merak Hijau (Pavo muticus), oleh Ilham Khoiri Iam

Mengamati, oleh Ilham Khoiri Iam

Kalau tadi saya dan Khaleb berjalan paling depan, sekarang kami kelelahan dan berjalan di belakang. Semua karena kami terlalu semangat berjalan dan semangat membawa monokular nista di pundak beserta tripodnya yang keras. Ah, berat sekali monokular ini T.T

Sampai di Basecamp saya langsung mampir ke warung di sebelah warung bakso tadi. Yah, rupanya ada warung baru yang buka, dan tahu apa yang dijual? Pecel Ayam! Yeah! Dalam sekejap satu porsi pecel ayam, plus kerupuk dan air putih habis. Akhirnya makan nasi juga😀

Oia, berbeda dengan tahun lalu yang nggak madi 3 hari karena males ngantri, tahun ini saya relakan mengantri mandi. Kenapa? Karena saya nggak akan tahan 7 hari tanpa mandi! Yah, akhirnya sayapun memutuskan untuk mandi, dan karena pesertanya nggak sebanyak tahun lalu+ada banyak toilet tambahan yang disediakan panitia, ngantrinya nggak parah-parah amat😀

Oke, kembali ke konteks! Saat menjelang upacara pembukaan, Mas Zul dan Bintang malah menghilang entah kemana, padahal hari sudah gelap. Saya cari ke tenda nggak ada, ke ruang panitia nggak ada, ke warung, toilet, atas pohon, bungkus indomie, dan dalam tong sampah pun nggak ada!

“Nji, aku masih di Bama,” ujar Bintang via sms. Sudah malam dan masih di Bama? Wow, nekat!

Mas Zul akhirnya datang bersama-sama rombongan Bionic dari arah Evergreen. Lima menit kemudian, bertepatan dengan dimulainya acara, Bintang pun ikut merapat bersama kami.

Tiba-tiba barisan terdepan berdiri dan bersalaman dengan seseorang–jelas, itu orang penting. Dengan sigap saya dan beberapa orang lainnya menerobos ke depan dan langsung ngantri bersalaman dengan orang terdepan, berbasa-basi sedikit kemudian duduk lagi.

“Siapa Nji?” tanya Bintang yang nggak ikut ke depan.

“Mbuh,, asal maju aja..” jawab saya polos, sambil tertawa bersama-sama. Yah, yang penting bersalaman dengan orang penting, siapapun dia :p

Acara dilakukan secara formal, seperti biasa. Hanya saja, kali ini kami bisa duduk dengan santai, tidak seperti tahun lalu dimana kami dipaksa berdiri. Yah, setidaknya nggak sekaku tahun lalu.

Satu yang membuat saya tertawa adalah ketika Pak Indra Arinal, Kepala Balai TNB berpidato. Maaf-maaf ya pak, jujur pidatonya kurang mengenakan, panjang dan tidak jelas apa yang dibicarakan, mungkin karena posisi mulut yang kurang dekat dengan mik dan volume suara Pak Indra yang kecil.

Tapi.. Ada satu bagian yang saya suka, saat Pak Indra Arinal menyebut-nyebut Jogja di pidatonya, dan terdengar keras. Langsung disambut oleh sorakan riang kontingen Jogja!

“Blablabla..dan bisa kita lihat kebanyakan peserta ini berasal dari Jogja..”

“wuaaaaa!” teriak kawan-kawan kontingen Jogja, dilanjutkan dengan satu teriakan dari Mas Kukuh, Mas Anin dan Trendsetter Jogja lainnya. “Ji ro lu, BOOM!”

Yah, mereka memang menjadi biang kerok di Kontingen Jogja. Mereka juga yang membuat kata “UYE!” menjadi ciri khas Kontingen Jogja saat di WBWR Surabaya, dan kalimat khas Tony Lank “Saparatoz!” menjadi ciri khas Kontingen Jogja di 1st Annual Baluran BRItama Birding Competition 2010. Kali ini, rupanya pasukan penggembira ini mempopulerkan kata “Boom!” untuk menjadi ciri khas kontingen Jogja di BPBC 2011!

Dan tentu saja, yang terjadi adalah saat Pak Indra mengatakan kata Jogja, seluruh kontingen bersorak riuh dan diakhir-akhir, kami berteriak bersama-sama: “BOOM!”. Kontingen lain hanya bisa terbengong-bengong melihat kegilaan kami ini😀

Acara dilanjutkan, kali ini giliran “orang penting” tadi yang bicara, yang ternyata merupakan Dirjen PHKA! Posisinya hanya satu level di bawah menteri, dan saya baru saja bersalaman dengannya!

Di awal pidatonya, beliau berkata: “Coba pidato saya didengar, nanti saya kasih pertanyaan masing-masing berhadiah satu juta dari uang tunjangan saya sendiri”

Awalnya kami semua menganggap itu bercanda, karena setelah itu beliau hanya bercerita tentang pengalamannya. Tapi, setelah beberapa menit bercerita dengan bahasa yang apik, dia benar-benar membuka sesi kuis!

“Nah, sekarang saatnya saya bertanya. Seperti yang saya bilang, saya beri 5pertanyaan, masingkmasing berhadiah 1 juta dari tunjangan saya sendiri. Jadi, nanti saya mohon mas-mas panitia untuk melihat siapa yang lebih dulu angkat tangan.”

Suasana langsung menjadi tegang. Satu juta? Lumayan! Bisa beli cendol buat orang sedesa! #plak

“Pertanyaan pertama.. Karena kita berada di Baluran, sebutkan nama hewan yang dilindungi di Baluran!”

Dan tentu saja, seluruh peserta mengangkat tangannya! Wow, benar-benar hebat cara pak Dirjen menarik perhatian peserta dalam pidatonya. Dan memang bisa dilihat, semua peserta disini sama-sama ngiler akan iming-iming hadiah satu juta, di luar hadiah lomba sebenarnya!

“Pertanyaan ketiga, tadi saya bercerita tentang pelepasan harimau di TN Bukit Barisan. Di provinsi manakah TN Bukit Barisan berada?”

Seperti biasa, ratusan orang bebarengan mengangkat tangan.

“Yak, yang hijau itu! Yang dibelakang!” kata pak Dirjen.

“MAS ZU!” teriak kami kaget, mas Zu dari Bionic dapat jatah menjawab!

Mas Zu yang tampak kaget masih agak kebingungan. Beberapa teman menyarankan jawaban yang berbeda-beda, hingga akhirnya dia asal menjawab..

“JAMBI PAK!”

“SALAH!”

GUBRAAAK! Waduh sayang sekali. Mulai saat itu, tiap kami bicara dengan Mas Zu, kami selalu membicarakan “Jambi” dan “Satu Juta Lewat” sampai dia kesal. Hahhaa,, parah T.T

“Huuh..Gara-gara Jambi, lewat sudah satu juta..BOOM!”

Yah, acaranya memang mengerikan, dan mengasyikan. Dan lagi, manusia-manusia Jogjakarta ini kembali mengacau. Menjadi manusia paling berisik diantara semua peserta.. Yeah! BOOM!

Setelah acara-acara formal yang menjemukan, sampai juga di acara orientasi peserta, sementara para tamu undangan melakukan safari malam. Orientasi peserta kali ini dipimpin oleh Mas Es Tedy alias Sutadi yang kocak, dan tidak tahu akan kejutan yang menantinya besok😀

Acara dimulai dengan pembacaan tata tertib standar, seperti dilarang membuang sampah, mengganggu satwa, membuang puntung rokok atau membunuh panitia #plak. Setelah itu ada tatacara lomba, yang agak berbeda dengan tahun lalu. Karena lombanya dua hari, maka kami diberikan dua notebook untuk deskripsi dan sketsa. Nah, spesies yang sudah dideskripsikan kemarin tidak boleh dicantumkan di hari selanjutnya.

“Panitia menyediakan kertas, nggak perlu dikumpulkan, cuman bwt nyatat spesies hari pertama buat pengingat di hari kedua,” ujar Mas Tedy.

Kemudian diberikan peta area pengamatan, kali ini mencakup daerah yang jauh lebih luas dari tahun lalu. Jika tahun lalu area pengamatan hanya mencakup Evergreen (selatan Bekol), Bekol, Bama (Timur, dengan 2 trek berbeda), dan Mantingan (tenggara, menuju Bama), kali ini ditambah 2 trek baru yaitu Talpat (ke arah barat, menuju kacip) dan Balanan (Timur laut). Selain itu trek Evergreen diperpanjang hingga HM 40, dan disediakan mobilisasi umum berupa truk pada pukul 7 pagi bagi peserta yang menuju kesana dan pukul 16.30 sore bagi peserta yang ingin kembali ke basecamp.

Kami menyaksikan dengan seksama sambil menyusun strategi untuk besok hari.

“Gimana Bin?”

“Ntar dirapatkan aja sehabis ini,” jawab Bintang, yang diikuti anggukan mas Zul.

Tepat setelah acara selesai, kami berkumpul di tenda tempat duduk tamu yang sudah tidak dipakai. Kami sepakat untuk berpencar besok: saya ke Balanan, Mas Zul ke Talpat, sementara Bintang menuju Evergreen. Kertas sketsa diserahkan ke saya, sementara itu Mas Zul memegang kamera untuk lomba fotografi (ingat! Di lomba ini, fotografi menjadi bahan penentuan juara umum!).

Baiklah, karena sudah malam kami memutuskan untuk tidur. Saya sendiri tertidur di kursi tamu, sendirian. Sementara Bintang yang tadi berjanji untuk tidur disitu juga malah ngacir ke mushola, dan Mas Zul tidur di tenda kawan-kawannya dari Bionic. Wehee, saya tidur di kursi pejabat! Empuk :p

Okedeh, sampai besok😀

One thought on “Boom! Baluran-PLN Birding Competition: Exploring Paradise! (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s