JBW VI: Rumah Berhantu dan Tersesat 3x

Minggu, 26 Juni 2011 pukul 06.00 AM

“Nji, mau bengi kowe weruh sing aneh-aneh ra?” begitu ujar Mas Han, satu-satunya penghuni BBC (Bionic Basecamp) saat itu.

“Ora ki, lha ngopo to?” jawab saya curiga.

“Artine kowe wong anyar pertama sing ora di weruhi,” kata dia, kalem.

Saat itu saya yang baru bangun nggak bisa berpikir apa-apa, jadi belum mengerti apa yang dimaksud oleh Mas Han. Namun saya juga mengutuki Mas Han, yang jelas-jelas menyuruh saya tidur sendiri di suatu ruangan yang sering “dikunjungi” oleh “sesuatu” yang kita bahas itu.

Ah, bagaimanapun tidur semalam sangat memuaskan, apalagi dengan ucapan “Goodnight, i love you” oleh seseorang disana. Begitulah adanya, malam minggu dihabiskan dengan berkirim-kirim sms mesra, ketimbang menghabiskannya berdua bersama si tambun Mas Han ==’.

Saya memang sengaja memilih untuk tidur di BBC. Besok hari adalah hari spesial, dengan adanya Jogja Bird Walk (JBW) VI di Suaka Margasatwa Waduk Sermo, Kulonprogo, Yogyakarta. Saya memilihnya dengan berbagai pertimbangan:

  1. supaya lebih dekat dengan lokasi kumpul (SMPN 16 Jogja), karena disuruh kumpul pagi-pagi.
  2. agar tidak tersesat di jalan, karena saya tidak tahu jalan dan saya yakin orang-orang Bionic pasti lebih paham jalan menuju Waduk Sermo.
  3. mencari boncengan, berhubung my Black-striped Red-maitcduck (Hondus varius) belum di-service.

Akhir-akhirnya, saya tahu bahwa alasan nomor dua benar-benar salah. Kenapa? Baca saja terus!

Oke, jadi setelah sarapan (ane ditraktir mas Han cuy!), kami langsung berangkat. Dengan pedenya dia mengebut, hingga akhirnya Mas Han celingukan menengok ke kanan dan ke kiri.

“Aku lali tuku bensin,” ujarnya, bukan sebuah masalah yang besar. “Aku ra ngerti SMPN 16 dimana toh?” lanjutnya. Sebuah masalah ==’.

Untungnya saya tahu dimana itu SMPN 16. Langsung saja kami mengarahkan motor menuju Alun-alun Selatan Jogja. Nah, sampai di kawasan Kraton, kami menemui masalah lagi.

“Ketoke menggok kene mas,” ujarku.

“Tenane?” jawab dia.

“Mbuh aku lali”

“Asem, piye ki? Ketoke aku digarapi deh”

Dan akhirnya kami berputar-putar di kawasan Kraton, hingga akhirnya berhasil mencapai titik kumpul yang di tentukan. Lumayan, sambil jalan-jalan…

“Sesuk meneh aku wegah boncengke Panji,” ujar mas Han, marah.

Sekarang kami menunggu kedatangan manusia-manusia lainnya. Padahal sudah ngaret, ternyata tetap jadi yang paling tepat waktu. Sial ==’.

Setelah menunggu sambil ngobrol ini dan itu, kami langsung capcuz menuju Waduk Sermo. Ramai-ramai berkonvoi, lalu istirahat sebentar di sebuah pombensin sambil menunggu motor kawan-kawan yang mengisi bensin. Nah, berhubung kami (saya dan Mas Han) sudah mengisi bensin sebelumnya, kami menunggu di depan sebuah warung kecil.

“Aku lali nggowo snack, tuku sek,” ujar mas Han. Yasudah, kami pun turun dari motor dan mulai menjarah isi toko. Tapi sialnya, begitu kami keluar dari toko tersebut..

“Lha kok sepi?” ujar kami berdua. Sial, kami sudah ditinggal!

Awalnya saya biasa-biasa saja, sampai tiba-tiba Mas Han berkata dengan sangat jelas, satu kata yang membuat alasan kedua saya tidur di BBC angker itu seperti tidak ada gunanya. Kata-kata yang mengerikan..

“Aku ora ngerti jalanne loo..”

Ahh..terdengar seperti sebuah suara penuh efek dramatisasi, diperlambat dan ditambah Echo yang berulang-ulang.

“Aaaakuuuu (akuuu..akuuu) oraaa (oraa..oraaa..) ngeeertiii (ngerrrtiii..ngerrtttiii..) jalaaaneeee… (jalaneee..jalaanee.. Jalanee…)”

Seakan-akan semua mobil dan motor itu bergerak dalam gerak lambat. Seberapa mengerikannya kata-kata itu, sampai semuanya menjadi gelap..gelap..dan gellaaaap..

****
Woy! Lanjutin ceritanya!
****

Maaf atas ke-lebay-an kata-kata diatas. Intinya kami panik. Dengan segera kami menghubungi Mbak Rini dari KSSL, dan untungnya dia menuntun kami kembali ke jalan yang benar. Yah, sepertinya duo Mas Han dan saya adalah duo spesialis nyasar ==’.

Baiklah, cukup lama kami berkendara. Masih diselingi beberapa insiden-insiden lain, macam ban bocor, katup ban lepas dan sebagainya. Akhirnya, kami sampai juga di Suaka Margasatwa Waduk Sermo!

Selama beberapa lama kami beristirahat, mungkin sekitar 15 menit. Kami langsung berkumpul untuk perihal pembagian kelompok pengamatan per petak. Tapi sebelumnya, ada sambutan yang wiseful dari Pak Ketua, Mas Juki sekaligus perkenalan masing-masing instansi.

Jadi, setiap kali nama instansi disebut, anggota instansinya langsung bersorak-sorak sendiri. Dan jelas, Alsoneta yang paling ramai, kenapa? Karena jumlah anggotanya. Yupz, dari 2 orang anggota Alsoneta, hanya saya yang hadir ==’.

“Masing-masing instansi membagi anggota kelompoknya, biar tersebar di 4 tim yang berbeda,” ujar mas Juki. Waduh, saya kan sendiri, gimana cara baginya??

Baik, jadi dengan sedikit trik, kami pun berkumpul. Manusia-manusia ramai macam saya, Antok, Udin, Iksan, Mbak Eni dan Mas Han tergabung dalam 1 tim, hehehehe. Dan yang jadi korban tentu Mbak Eni, karena pemandunya adalah Mas Shaim. Keduanya adalah ketua di instansi masing-masing (KSSL dan BIONIC). Karena itulah, kami menjodoh-jodohkan mereka :p

Oke, saatnya birding! Burung pertama yang kami lihat adalah Burung Madu Kelapa (Anthreptes mallaccensis/Brown-throated Sunbird). Burung yang cukup vokal, dengan paruh panjang khas burung madu. Tenggorokannya berwarna coklat-merah metalik dengan warna perut kuning dan bagian atas kehijauan.

Setelah itu ada juga Cinenen Pisang (Orthotomus sepium/Common Taylorbird), Burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis/Olive-backed Sunbird), Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus/Small Minivet) dan wow! Kehicap Ranting (Hypothimis azurea/Black-naped Monarch). Kehicap ranting itu burung yang cukup unik, dengan warna biru metalik dan bercak hitam di tengkuknya untuk burung jantan. Sementara burung betina hanya memiliki warna biru kusam di kepala, dan warna coklat di badannya.

Sementara itu, Sepah Kecil adalah burung yang cukup atraktif, apalagi kalau sedang bergerombol (flocking). Warnanya yang cukup cerah dan kontras, hitam-keabu-abuan dengan corak kuning dan merah menyala memang menarik perhatian. Disini, kami tidak menemukan kelompok yang cukup besar.

Perjalanan dilanjutkan, dibawah pimpinan ketua BIONIC UNY, Mas Shaim Basyari sebagai pemandu kami menapaki jalan yang cukup sulit. Ini dia yang aneh, berhubung Mas Shaim itu pernah hilang secara memalukan di Madura (Lihat artikel Surabaya Waterbird Watching Race), kami bersiap-siap untuk tersesat!

Disaat kami sedang asyik mengamati satu keluarga Bondol Jawa (Lonchurra leucogastroides/Javan Munia), mbak Eni melihat seekor ayam. Awalnya kami pikir itu hanya ayam kampung biasa, sampai belakangan mas Han berkata bahwa disini sering ditemukan Ayamhutan Merah (Gallus gallus/Red Junglefowl). Memang agak susah dibedakan, antara Ayam Kampung dan Ayamhutan Merah, karena aslinya Ayam Kampung adalah hasil domestifikasi dari Ayamhutan Merah.

“Ketoke dalane salah deh,” ujar Mas Shaim beberapa menit kemudian. “Wuih kok dalane ilang?” ujarnya lagi. Suatu kalimat yang sudah kami duga.

Akhirnya kami harus berjibaku dengan semak-semak dan kebun singkong milik penduduk. Mendaki sebuah bukit, dan berakhir di pinggir jalan aspal. Setidaknya kami nggak terlalu nyasar, tapi tetap aja capek ==’. Bayangkan, dalam sehari kami (saya dan Mas Han) 3x nyasar!

Tapi setidaknya kejadian tersesat tadi bisa terbayarkan oleh kicauan syahdu plus penampakan seekor burung kuning yang sangat cantik. Bayangkan, kepala dan jambulnya yang hitam, tenggorokan merah ngejreng dipadukan dengan warna kuning cerah di seluruh tubuhnya. Itu dia si Cucak Kuning (Black-crested Bulbul/Pycnonotus melanicterus), burung langka yang jumlahnya sangat melimpah disini!

Oke, setelah puas kami pun segera kembali ke basecamp. Kami menunggu beberapa lama hingga seluruh kelompok kembali, kemudian langsung masuk ke sesi forum.

Nah, disaat inilah kami baru tahu kalau jumlah pesertanya cukup fantastis, 75 orang! Kebanyakan adalah muka-muka baru dari berbagai macam instansi. Wow, ternyata Jogja memang kaya akan pengamat burung! Itupun juga masih belum semua instansi, masih ada beberapa instansi yang tidak bisa hadir di JBW kali ini.

Yah, setelah diskusi ini dan itu, dan semuanya cukup menyenangkan sehingga saya lupa detailnya. Jadi lebih baik saya melompat langsung ke bagian terpenting: penjelasan tentang “sesuatu” yang dimaksud mas Han di Bionic Basecamp tadi pagi.

Jadi ceritanya kami sudah pulang dan mampir sebentar menghajar semangkok mie ayam dijalan. Setelah itu, dengan perut kenyang kami melanjutkan perjalanan sambil terus bercerita.

“Yah, berarti kowe beruntung ora diweruhi,” ujar mas Han. “Biasanya orang-orang yang masih baru suka dikasih liat, cuman kamu aja yang nggak liat,” lanjutnya.

Dan mulailah ia bercerita tentang bayangan berbentuk daun kelapa di dinding. Beberapa saat kemudian dia sadar kalau tidak ada pohon kelapa di sekitar sana, dan bayangan itu adalah… Bayangan tangan yang sangat kurus dan panjang.

Ada lagi cerita tentang wanita yang menggantung di pojok ruangan, suara-suara dan macam-macam ragam mistis lainnya. Bahkan ketika mati lampu, tidak ada yang berani tinggal di rumah itu. Mereka semua pergi ke aktifitas masing-masing.

Yang jadi masalah adalah ketika kami sampai di Bionic Basecamp, tempat yang sedari tadi kami “krasani”. Bayangkan, sebuah gelas yang tergeletak di lantai tiba-tiba jatuh dan berputar-putar dalam kecepatan yang konstan.

“Demit,” ujar mas Juki santai.

GYAAAAAAA!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s