GBWC 2010 Hexalogy: Great Memories!

Better Late then Never

Hari sabtu terakhir di bulan november…

Hari terakhir konferensi. Saya merasa akan merindukan tempat ini. Apadaya, waktu sudah selesai. Sekarang waktunya saya bersenang-senang! Agenda hari ini adalah Field Visit ke Narara Island dan Tur kota Jamnagar. Mungkin karena kejadian ”Sleep Out Tragedy” kemarin membuat panitia berfikir ulang dan mengubah jadwalnya dari jam 6 pagi menjadi jam 7 pagi. Wahwah..Sekarang saya dan Tharanga sedang berjalan menuju bus. Tapi sebelum bus berangkat, kami menyempatkan diri mengamati burung di belakang hotel, lumayan dapat Greenish Prinia dan Gracefull Prinia, juga Purple Sunbird.

Birdwatchers

Coach Number A4

Halaman Belakang Hotel

Nah, akhirnya bus berjalan. Perjalanan sekitar 1 jam kami tempuh, melewati kesibukan India. Yaah, sejatinya sama saja dengan kesibukan kota-kota kecil di Indonesia, akan tetapi dengan background yang berbeda: padang savana luas, tanpa sawah, tanpa hutan kayu.

Sepanjang perjalanan-seperti biasa-saya terus memandang keluar. Hampir di setiap badan air kita bisa melihat Stilt dan Lapwing menyodok lumpur, sementara Spott-billed Duck berenang dan Cormorrant tidur siang diatas balok kayu. Dan hampir di setiap kali kita melihat angkasa, ada Gagak Rumah terbang berisik, mengusir para Myna dan Rock Pigeon yang sedang makan, sementara para raptor seperti Elang Paria dan Elang Bondol terus terbang dengan angkuh. Sekali lagi, semua ini terjadi di tengah kota, bukan daerah taman nasional!

Saat saya menatap iring-iringan bus di luar, ternyata kami dikawal oleh banyak sekali mobil polisi. Wow, serasa di acara konferensi Internasional! (lo kira lo sekarang lagi ada dimana??)
Kami sampai di Narara Island-yang ngasih nama aneh, jelas-jelas bukan pulau!. Disini sebelum birding kami disuruh tea break dulu. Kali ini teh yang disajikan lebih manis, entah berapa banyak gula yang mereka gunakan untuk meneteralkan rasa pahit teh yang aneh itu ==’. Untuk snack, kami dapat roti isi keju. Yah, lumayanlah….

Para Pengawal

Ambulans?

Time to birding! Saya mengikuti jejak Mas Imam, Mas Iqbal, Mas Dedy, Mas Ady dan Boas. Pertama kami dapat House Sparrow, kembaran burung Gereja Eurasia di P. Jawa. Sampai di tepi pantai, kami sudah disambut oleh Lesser Sandplover yang terlihat cukup banyak disini. Ada juga Isabeline Wheatear yang cukup narsis untuk difoto.

Air laut lagi surut, jadi kami bisa terus merangsek ke tengah laut. Di tengah jalan, kami meminjam sebuah monokuler dan melihat target kami: Crab Plover! Wow!

Karena Boas memutuskan untuk spotting di tempat, saya dan mas Imam melanjutkan perjalanan ke tengah laut. Disaat itu, Lesser Sandplover menjadi burung yang paling umum terlihat dimana-mana. Karena ukurannya kecil, saya nggak berani memotretnya dengan kamera aneh ini.

Selain Lesser Sandplover juga ada Great Egret dan Black Ibis yang dari tadi terus bermain kucing-kucingan dengan para birdwatcher. Rata-rata burung disini nggak terlalu takut sama manusia, benar-benar fantastis!
Selain itu mas Imam sempat melihat Broadbilled Sandpiper yang belum lama ini menjadi catatan baru di pantai kebanggaan birdwatcher Jogja, pantai Trisik. Lalu saya sendiri melihat Terek Sandpiper dengan paruh melengkung keatas khas miliknya serta Trinil Pembalik Batu alias Ruddy Turnstone, si pengembara jarak jauh yang terkenal akan kaki oranye-nya.

Sampai di tengah laut kami beristirahat sebentar di sebuah tumpukan batu. Melihat tingkah beberapa birdwatcher lokal yang memakai jas, kemeja dan bahkan baju sari ke pantai, kami malah tertawa sendiri. Ibarat ke pantai pakai kebaya, atau ibarat climbing pakai kain kafan, atai makan nasi pakai puding vanilla=nggak pantes!

Yah, memang kegiatan birdwatching disini sudah berkembang pesat karena dimulai ratusan tahun yang lalu saat koloni Inggris menguasai tempat ini. Hasilnya, birdwatching tidak hanya dilakukan oleh para akademisi dan instansi terkait seperti di Indonesia, tetapi juga dilakukan oleh semua orang dari seluruh kalangan, mantab!

Pantai alias Pulau Narara

Pulau Narara

Not sure what kind of egret, but seems to be Great White Egret

Egret’s Footprint

Alur air surut di pasir

Ok, karena sudah cukup siang kami memutuskan untuk kembali ke pantai. Baru beberapa meter kami disambut oleh si centil Kedidi Kecil alias Little Stint. Burung pantai imut yang satu ini memang sangat berani hingga saya bisa mengambil fotonya! Masih di jalan, kami melihat Trinil Kaki Hijau alias Greenshank dari jarak yang cukup dekat-sesuatu yang sangat jarang terjadi di pantai Trisik, sementara whiskered Tern, sejenis Gull (nggak bisa diidentifikasi) serta sejenis Sandmartin (juga nggak berhasil diidentifikasi) terus terbang diatas kami. Juga ada Broadbilled Sandpiper dan burung kebanggaan trisik, Kedidi Putih alias Sanderling.

Kembali ke petualangan kami di Narara Island, Gujarat, India. Kali ini seekor Mongolian Sandplover dan Kentish Plover, memecah kebosanan kami akan banyaknya Lesser Sandplover disana-sini.

Mongolian Sandplover mirip dengan Lesser Sandplover, kecuali kakinya yang lebih panjang dengan tibia (paha) hampir sama panjang dengan tarsus (betis). Selian itu warna kakinya juga lebih cerah daripada Lesser Sandplover. Cerek Tilil alias Kentish Plover, seperti kedua saudaranya yang sudah saya sebutkan juga merupakan burung migran yang sampai ke Indonesia. Burung ini sangat mirip dengan Cerek Jawa, sepupunya yang endemik pulau Jawa. Bedanya kerah putih yang tidak menyambung di tengkuk serta warna kepala lebih pucat. Ukurannya lebih kecil daripada Sandplover.

Sampai di pantai kami segera menuju tempat dimana mas Iqbal sedang beristirahat. Sambil berbagi cerita, kami ikut berteduh dari teriknya matahari, lalu datanglah mas Dedy Isntanto dengan “Si moncong putih”, lensa fix miliknya.

Saat waktunya makan siang saya baru sadar kalau saya meninggalkan kupon makan siang saya di hotel. Untunglah petugasnya mengerti dan membolehkan kami mengambil box makanannya. Entah mengapa makanan hari ini lebih nggak enak daripada makanan yang kemarin, bukan berarti makanan yang kemrain enak lo! Udah itu saya juga bingung, kenapa dari kemarin setiap kali kami makan selalu ada yang namanya bawang merah utuh. Buat apa ya?

Saya membuka sebuah kemasan saus mangga yang mirip kemasan saus cabe sachet di Indonesia. Ternyata orang India suka yang asem-asem? Saya coba aja mencampurkannya dengan bawang merah terus saya makan. Awalnya sih enak, tapi tiba-tiba saya merasa pusing! Saya bisa merasakan rasa bawang di kepala saya dan menjalar ke seluruh tubuh melewati pembuluh darah! Setelah dipikir-pikir, sepertinya amoniak di dalam bawang yang membuat saya langsung pusing kayak gini! Waduh, ternyata cara makan saya salah!

Akhirnya saya putuskan kembali ke laut dengan meminjam Olympus SP 800-UZ milik mas Iqbal dan mulai hunting foto. Cuman beberapa meter saya pusing lagi, udah itu saya diserang sama seekor kepiting! Mungkin karena saya manis dikiira makanan kali ya? (lagak lo!)

Tiba-tiba ada peserta yang datang dan menanyakan “dapat apa aja kamu?”. Saya tunjukan kepiting yang tadi. Peserta yang belum saya kenal itu mencoba mengambil fotonya. Saya mencoba mengingatkan bahwa kepiting itu galak, tapi gara-gara mendem bawang saya nggak bisa ngomong lancar, bahasa inggris saya hancur seketika! Akhirnya kamera si bapak itu menjadi korban petama “onion drunk”.

Narsis-narsis sedikit

Kembali ke pangkalan, sudah saatnya pulang. Coach mengingatkan kami kalau mau berhenti dan ngambil gambar tinggal bilang aja. Nah, baru beberapa meter jalan kita udah berhenti karena melihat gerombolan burung di tengah tambak. Terlihat ada pelican, flamingo (dua-duanya nggak berhasil diidentifikasi jenisnya) serta Godwits. Karena kami berdiri di sebuah pembatas sempit yang curam dan tinggi, kami harus hati-hati. Saya sempat hampir jatuh dan membanting kamera saya, sementara Tharanga benar-benar jatuh gara-gara buru-buru nyari Hpnya yang jatuh. Ouch, it will be hurt!

Lagi asyik-asyiknya, datanglah Eurasian Marsh Harrier terbang diatas kami. Burung pemangsa yang satu ini memang sangat lincah bermanuver diatas rawa kecil ini. Cantik sekali!

Kembali ke bus, saya tertidur lelap hingga bus kembali berhenti dan membuat saya terbangun. Kali ini, 2 ekor Merak Biru atau Indian Peafowl menjadi atraksi yang menarik bagi kami.Sampai di hotel saya langsung mandi.

Abis ini katanya bakal ada acara Experieence Jamnagar yang hanya menggunakan 2 bus. Kondisi hotel mulai sepi karena kebanyakan peserta sudah pulang atau pergi ke tempat lain, tapi saya, Mas Ady, Mas Imam, Mas Iqbal, John dan Dave tidak bisa meninggalkan acara ini. Kami berlima duduk di dalam bis yang sangat kosong, sementara bus yang satunya sangat penuh!

Ternyata kami cuman diajak ke Lakhota lake, tempat yang sudah 2 kali saya kunjungi. Yah, apa salahnya datang lagi? Lagipula kunjungan kali ini lebih fokus pada bermain-main dan melihat arsitektur tua jamnagar, bukan birding. Walaupun begitu, kami tetap menonton beberapa jenis burung yang menarik seperi Little Grebe, Little Cormorrant, Gull-billed Tern serta Spotted Duck. Untuk burung darat kami melihat Rose ringed Parakeet, Brahiminy Kite alias Elang Bondol dan White-browed Wagtail. Kami melewati jembatan menuju istana di tengah danau, Lakhota Palace. Istana ini terlihat cukup tua dan sepertinya tengah dilakukan perombakan besar disana-sini.

Nggak usah memperhatikan makhluk halus di situ, cukup perhatikan kemegahan benteng Lakhota di belakangnya, ok?

Di tengah danau yang luasnya sekitar 3 kali luas lapangan sepakbola ini berdirilah sebuah patung, patung yang sama yang saya lihat di Ahmedabad. Bedanya? Ukurannya jauh lebih besar! Pengunjung istana Lakhota rata-rata turis lokal, sementara kami adalah satu-satunya turis asing disini, maka itulah kami menjadi tontonan disini. Selain itu ada juga beberapa orang berpakaian muslim. Saya sapa, “Assalamualaikum”, tapi mungkin karena intonasi saya agak salah (onion drunk!) jadi dia nggak ngerti.

Saya dan Lee menyusur kedalam Istana yang telah dirombak menjadi museum. Rupanya kami harus membayar untuk bisa masuk museum. Sebenarnya tiketnya sangat murah, tapi kami pikir kami tidak punya waktu karena tour leader hanya membatasi waktu kami sekitar 45 menit. Di gerbang Istana, seseorang dari kami yang cukup jeli melihat relief Falcon di pundak seorang prajurit patung. Ya! Falcon! Rupanya kedekatan manusia dan burung sudah terjadi sejak jaman dahulu kala, mirip dengan relief Kakatua di Candi Prambanan (yang sebenarnya bukan daerah persebaran asli burung ini).

Relief Alap-alap di patung Lakhota

Nggak usah lihat 2 makhluk aneh, cukup liat patungnya saja.

Ring-necked Parakeet

Kami kembali ke tempat dimana Bus kami seharusnya menunggu, tapi ternyata tidak ada. Rupanya bus yang tadi pergi untuk suatu keperluan, terpaksalah kami menunggu. Lagi saat itu datanglah segerombolan pengemis. Pertama anak kecil yang ngomong nggak jelas sambil nunjuk-nunjuk mulutnya (mungkin maksudnya minta makan), lalu ada nenek-nenek nunjukin pil obat (maksudnya jualan obat atau minta duit buat nyari obat ya?). Karena di blog referensi dikatakan bahwa saya dilarang untuk memberi uang pada pengemis disini, saya (dan yang lainnya) memutuskan untuk tidak memberi mereka uang. Bukannya kami kejam, tapi satu pengemis diberi, 10 lainnya muncul! Yah, terpaksa mesti main tega.

Dave mulai bermain dengan kamera videonya sementara kami semua berkumpul di pinggir jalan, menonton matahari terbenam di belakang istana Lakhota. Tiba-tiba datanglah dua orang gadis kecil menenteng kertas. Dengan bahasa inggris yang lancar mereka meminta kami menandatangani kertas tersebut. Hmm, pas saya lihat, “Humanity Respect” dan pokoknya minta sumbangan. Yang aneh, kenapa mesti maksa? Akhirnya saya tidak memberi uang karena ingat kata-kata di blog referensi tentang “pengemis kelas atas”. Beberapa dari kami sadar dan tidak memberi uang, tapi masih ada aja yang tertipu.

“In my country, Begging is begging, not like this!”, ujar Lei.

Masih menunggu bus yang nggak datang-datang, ada seorang anak kecil (lagi!), tapi sekarang bukan pengemis. Anak laki-laki memegang Hp mencoba memotret kami. Daripada dia fotonya ngumpet-ngumpet, saya ajak aja foto bareng. Saya minta guide kami memegang kamera, dan jadilah foto narsis! hehehhe!

Baiklah, akhirnya datang juga itu bus, kami langsung menaikinya. Rupanya kami tidak segera dibawa ke hotel, melainkan masih ada satu sesi belanja. Tempatnya di dekat MP Shah Minicipal Townhall tempat konferensi berlangsung kemarin hari. Saya lihat sisa-sisa kesibukan kemarin masih ada disana-sini. Cukup berat rasanya harus meninggalkan tempat menyenangkan ini. Yeah, tempat yang sangat indah.

“Sorry, what is your name? I am forget about it”, tanya John. Sebuah pertanyaan aneh karena dia sudah mengenal kami selama 3 hari ini.

“Panji, call me Panji”, kata saya sambil menunjukan co-card.

“Uhm, Manji?”, balas dia. Lo kira Jumanji hah?

“no, P.A.N.J.I.. Panji”

“Panties??” (ya Allah, nyasar sampe situ ??)

Dan saya pun pusing dibuatnya, apalagi setelah itu kawan-kawan memanggil saya “Panties” (bagi yang nggak tahu silahkan cari di kamus).

Kami (Saya, Mas Ady, Mas Iqbal, Mas Imam dan Lee) pergi menuju sebuah pasar di pojokan dekat kuil kemarin. Disini kami tidak menemukan sesuatu yang menarik kecuali gerombolan orang berbaju sari. Kami pun pergi mencari tempat lainnya, dan kami menemukan sebuah toko camilan. Yeaah, karena perut mulai kosong kami sempaatkan diri membeli coklat dan makanan lain disini. Oia, penjaga tokonya sempat mengira kami dari Korea lo! (mata belo kayak gini dikira dari korea?).

Ok, sekarang kami pindah menuju sebuah tempat lain, sebuah toko yang lebih besar. Disini kami baru bisa membeli suvenir berupa patung ganesha, gantungan kunci, dan lain-lain. Akhirnya dapat juga! Yaah, harganya juga cukup murah. Uniknya, di setiap rak ada semacam gantungan berbentuk lambang nazi, tapi tanpa bundaran merah. Apa artinya ya?

Kembali ke bus, kami langsung menuju hotel. Saat itu sudah jam 8 malam, sementara kami mulai kehabisan rupee karena money changer di deket Townhall tutup. Perjalanan malam dimulai, menembus jalan raya gelap tanpa penerangan menuju hotel ekspress. Di dalam bus yang sepi, terbayang mozaik cahaya kendaraan memapar imajinasi dikaca depan, sementara semua orang mulai kelelahan berbicara. Semua merenung diam, termasuk saya yang masih bertanya, “apakah ini mimpi?”.

Sampai kesini, benar-benar suatu hal yang tidak saya sangka. Ribuan kilometer dari ruumah, di anak benua India, saya mengenang hidup saya dan kembali meraih kenyataan. Bukan, ini bukan mimpi, Panties!

One thought on “GBWC 2010 Hexalogy: Great Memories!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s