GBWC 2010 Hexalogy: I Scream for Ice Cream!

“Tulisan yang bener-bener telat buat di update :D”

Jumat, 24 November 2010

“Panji, Wake up! I thinked we were sleep out and we missed the bus!”

Gubrak!saya langsung bangun dan duduk tegak diatas kasur. Dengan gerakan robot super cepat saya raih HP, menatap tajam-tajam ke arah pojok kanan atas tempat dimana jam digital berada. Kemudian saya kucek mata saya, kucek lagi, kucek lagi, melek, kucek lagi, melek lagi, membentur-benturkan kepala sampai akhirnya saya sadar..

“SLEEEP OUUT!!!!!”

*suara tawa iblis*

Jumat, 26 November 2010

Saya berlari menuju lobby hotel, meninggalkan Tharanga yang masih geleng-geleng kepala, bukan karena senang seperti biasanya tapi karena merasa menyesal. Saya juga, tadi pagi sempat bangun jam 4 tapi saya pikir masih terlalu pagi. Sekarang sudah jam 7 pagi, sementara bus berangkat jam 5!

“So while they see some amazing bird out there, we stuck in our room!”

Di lobby, nggak ada siapa-siapa selain petugas. Aduh, gimana nih? Yang pasti kami bakal melewatkan birdwatching pagi, tapi kami nggak mau melewatkan semua acara konferensi. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu disini.

Tiba-tiba lobby jadi ramai. Beberapa orang berdatangan, termasuk mr. Amran Hamzah yang sibuk sama laptopnya. Ternyata setelah di check, di jadwal yang tadinya tertulis “breakfast at Conference venue” berubah menjadi “Breakfast at hotel”. Fiuuh, kabar baik, ternyata para birdwatcher bakal balik kesini, jadi kita bisa mendapatkan bus kita kembali. Yeaah!

Nah, jangan senang dulu. Tiba-tiba datang si Boas dan mas Ady. Tharanga secara polos menceritakan kejadian tadi pagi, membuat mereka tertawa ngakak sambil senyum 20 jari. Waduh, mati gue dipermalukan! Ditambah lagi tiba-tiba Tharanga kehilangan kupon makannya. Waduh! Akhirnya saya bantuin dia nyari kemana-mana, akhirnya nggak ketemu. Saya sarankan dia bertemu manager restoran dan berbicara dengannya. Untunglah managernya mengerti dan memberikan Tharanga secarik surat untuk makan. Waaduuh!

The Hotel Express

Meski telat masih bisa gaya!

OK, kejadian tadi dilupakan saja. Sekarang saatnya makan, meskipun rasanya aneh pokoknya makan sajalah, rasa lapar tidak bisa dikompromi. Setelah selesai, langsung cabut ke bus A-4!

Setelah kejadian sleep out tadi pagi, kami kembali ke semangat para birdwatcher lagi. Saya berteriak dan Tharanga geleng-geleng kepala. Akan tetapi, ada suatu masalah: bus kami nggak jalan-jalan. Ditunggu 30 menit, masih nggak jalan. Supirnya masih sibuk bersih-bersih, coach kami hilang entah kemana, sementara semua bus lainnya sudah berangkat duluan. 1 jam kemudian, akhirnya coachnya datang. Ternyata dia juga ketiduran, argh!!

Sampai di M. P. Shah Minicipal Townhall Jamnagar, kami tidak segera masuk ke dalam acara konferensi, tapi melihat tingkah pola Boas yang berusaha menga,bil gambar pelayan restoran yang mengenakan baju sari secara diam-diam (candid). Hahaha, rupanya dia ditugasi mas Iqbal buat mengambil gambar pelayan restoran yang disukainya, waduh! Setelah selesai bercapek-capek dan bersusah payah mengambil gambar candid, tiba-tiba datangan peserta konferensi lainnya dan meminta foto dengan para pelayan restoran, dan mereka mau tuh diambil gambarnya. Waduh, tau kayak gitu mending langsung minta aja!

Saya tanya, dimana kawan-kawan yang lain? Jawab Boas lagi shalat jumat. Goblok, saya lupa sekarang hari jumat! Yaudah, izin sekali aja deh…

Rencananya setelah ini, saya, Boas dan Lee bakal pergi ke  Danau Lakhota lagi. Rupanya mereka ngebet pingin lihat Danau yang kemarin saya kunjungi itu. Ya sudah, saya diminta menjadi pemandu. Tapi sebelum itu, saya mesti mengisi bensin dulu.

Kami semua masuk ke dalam restaurant ketika Lee dan kawan-kawan datang. Lee bilang dia belum lapar, tapi kami paksa dia dengan alasan, “cuman buat duduk-duduk”. Di dalam, tanpa banyak alasan kami langsung mengambil hidangan penutup tanpa menyentuh hidangan utamanya. Hmm, Ice Cream Vanilla Butter Schotch! Wow!

Habis satu mangkok, kami nambah lagi. Habis lagi, nambah lagi! Jadi menu makan siang hari ini adalah: Ice Cream Butter Schotch! Dan ya, kami tidak makan apapun selain Ice Cream!

Tiba-tiba datanglah kawan-kawan yang lain, seperti Ostap, John dan kawan-kawan lainnya. Meja kami pun jadi bertambah seru, dimana semua teman saya di konferensi ini berkumpul bersama! Ada Tharanga (Sri Lanka), Boas (Indonesia), Lee (China), Jonathan (Prancis, tinggal di China), Ostap (Ukrania), Djop (Filipina) dan lain-lain (nggak disebut jangan marah!). Dan lucunya, semua melakukan satu tindakan yang sama: Makan Ice Cream!

Yeah, ini pertama kali seumur hidup saya mengalami kejadian seseru ini, beragam warna dan beragam rupa manusia berkumpul dalam satu jeratan, jerat persahabatan yang semakin erat. Jeratan yang kalau dirasakan oleh Adolf Hitler, oleh pasukan Zionist dan Mossad, oleh Jengish Khan, mereka semua pasti akan bertanya dalam hati: Untuk apa ada perang?

Baiklah, saatnya pindah menuju Lakhota Lake. Tharanga nggak mau ikut karena dia bilang “Too hot for Birding”, sementara si Ostap bilang kalau dia punya sesi presentasi abis ini. Gila! Bilang bolos di depan pembicaranya! (malu 19 turunan!)

5 menit jalan kaki, kami (Saya, Boas, Lee dan Jonathan) sampai di Danau Lakhota. Unik, kemarin sepertinya belum ada informasi apa-apa mengenai burung disni, sekarang sudah berdiri sebuah papan mengenai burung-burung di Lakhota Lake. Wow?!

Anehnya lagi, kalau kemarin cuman ada satu jenis Tern disini yaitu Gull-billed Tern, sekarang kami dapat tambahan 2 jenis lagi, Lesser Crested Stern alias Dara-laut Bengala dan yang satu lagi saya lupa. Kamipun langsung sibuk mengambil gambar terbaik yang bisa diambil.

Splash!

Saat itu datanglah 3 orang anak India, salah satunya masih kecil tapi bahasa Inggrisnya bagus abis. Saya pikir dia bakal berbuat yang enggak-enggak, ternyata dia baik sekali! Bahkan dia mau menerjemahkan apa yang dikatakan seorang kakek yang memberi makan burung disana, katanya, “Minggir, saya akan memancing mereka keluar”. Rupanya Lee yang dari tadi mau memotret Rosy Starling dan Bank Myna tapi nggak dapet-dapet dibantuin sama kakek-kakek tadi supaya burungnya datang. Wah..baiiiik…

Lee dan saya sampai bingung karena Bahasa Inggris kami sama-sama nggak bagus. Yah, sepertinya kami kalah sama anak kecil!

Rosy Starling, Common Myna and Bank Myna yang dipancing sama si Kakek

Pas pulang, saya mengerti mengapa di blog referensi dikatakan bahwa kalau ke Cina mesti bisa bahasa Mandarin. Yeah, ceritanya saya jalan bareng Lee, lalu tiba-tiba dia bertanya “Dimana besop?”. Saya bingung, maksudnya apa, terus dia ngulangin lagi “Dimana Beshop?”. Saya geleng-geleng. Akhirnya dia bilang “Market, i want to buy some souvenir”. Ohh, mkasudnya GIFT SHOP!!!!

Sekitar 10 meter dari Conference Venue kami berhenti karena tertarik melihat sebuah Candi tua, dan didalamnya ada John (bedakan antara John dan Jonathan) beserta kamera dan Tripod segede gabangnya yang dibawain sama Dave. Yah, sepertinya mereka berdua selalu melakukan segala sesuatu hal bersama-sama.

Lihat-lihat bolehlah, apalagi umur candi ini sudah tua, saya lupa berapa angkanya. Tapi perut saya sudah bergejolak minta di drop isinya. Waduh, padahal saya bawa tas! Ribet kan, di kamar mandi nggak ada cantelannya! Akhirnya saya minta Boas pegangin sebentar. Belum 3 menit, sudah dipanggil sama Boas karena bis-nya mau berangkat! Ladhalah! Jadi, saya kembali ke tempat duduk saya di pojok belakang, mengkerut menahan sakit perut sepanjang perjalanan menuju Khijadiya.

Candi India

Sampai di Khijadiya, kami diarahkan menuju Flamingo Tower setelah sebelumnya nyasar sampai ke hutan musim dimana Painted Stork bersarang.Kami juga melewati semacam jalan berair yang spektakuler, jadi bus ini melewati jalan yang dialiri air! Saya dan seseorang di depan sampai melongo keluar jendela saking kerennya, ampai akhirnya sebuah tangan menampar saya dari bus yang bersebelahan—Boas Emmanuel, untung kamera yang saya pegang nggak kolaps dan masuk ke dalam air. Lebih beruntung dari bapak-bapak di depan tadi yang topinya jatuh ke dalam air!

Di jalan sempit pemisah kolam air tawar, dari atas bus kami melihat Common Redshank, lalu ada juga beberapa kelompok jenjang alias Crane, Trinil pantai alias Common Sandpiper sementara Mandar Hitam alias Common Coot dan beragam jenis bebek tersebar dimana-mana.

20 detik sebelum topi bapak di depan ini jatuh ke dalam air

3 detik sebelum topi si bapak itu jatuh

Bus berhenti sebentar. Lihat kan kepala si Bapak sudah tidak ada?

Begitu turun, saya langsung tertarik pada kumpulan pink jauh di sebelah sana. Flamingo! Ya, Flamingo! Saya pikir Great Flamingo, tapi terlalu dini untuk menentukan jenis spesies. Bahkan Tharanga dan Prof Ornithology pun tidak berani menyimpulkan jenis spesiesnya.

Kami berjalan menuju tower. Ada Paddyfield Pipit, White-tailed Lapwing (yang cukup jarang terlihat) serta catatan manis baru lainnya, si cantik imut Cerek Kalung-kecil alias Little Ringed Plover, si cantik yang sellau saya kejar kemana-mana. Di sebelahnya, ada si pemberani Kedidi Kecil alias Litte Stint yang memang susah dibedakan dengan Kedidi leher-merah di Indonesia, kecualis aat musim berbiak.

Sampai tower saya langsung memastikan flamingo. Greater Flamingo saya pikir, dari leher kecil panjang ditambah warnanya yang lebih pucat. Selain itu ada juga si Pelican sedang mencari makan, dan terlalu banyak burung yang bis asaya lihat dari Scope yang disediakan panitia ini.

Saat kembali ke bus, saya mendapat sambutan luar biasa dari sekeor hewan liar yang cukup besar. Bluebull alias Nilgay! Hewan yang biasa saya lihat di KB. Ragunan ini bisa saya lihat di habitat aslinya! Ternyata, hewan ini tergolong umum dijumpai, berbeda dengan nasib Banteng Jawa milik kita yang sangat susah dijumpai.

Selain Bluebull, kami juga melihat seekor Wheatear, tidak jelas apakah Desert Wheatear atau Isabelline Wheatear karena dia terbang cepat, hinggap lalu sebelum binokular saya melihatnya dia sudah terbang lagi. Tapi kata birdwatcher lokal sih Isabelline, percaya saja deh..

Jejak si Blue Bull alias Nilgay

Belajar Makro

Yah, begitulah petualangan saya. Tanpa banyak bicara kami menembus remang-remang kegelapan India, yang bikin ngiri soalnya motornya buatan lokal semua. Tau kan buatan lokal India kayak apa? Iya! Bajaj yang di Indonesia harganya segaban, sekelas RX King atau bahkan Ninja! Motor bebek jarang ditemui, paling banyak vespa. Sementara motor matic cuman 1x saya temui, sepertinya Mio (aduh, jadi malu yang punya Vario nih..hehehe).

Sampai di hotel langsung ngibrit ke kerumunan orang-orang, ada Boas dan kawan-kawan yang lagi sibuk ini itu. Saya langsung lari aja menuju kamar, udah ngantuk!!!

Bersambung nggak ya??

6 thoughts on “GBWC 2010 Hexalogy: I Scream for Ice Cream!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s