GBWC 2010 Hexalogy: Where is Mr. Imam?? (2/6)

Rabu, 24 November 2010

Akhirnya Sampai Juga Di Mumbay!

“Where is Mr. Imam?”, kata salah seorang dari kami waktu mengambil bagasi di Bandara International Mumbay. Beberapa menit kami mencari, ke tempat imigrasi, ke toilet, ke smoking room (optimis banget, nggak taunya nggak ada juga!), juga ke tong sampah ! (kali aja dia lagi buang sampah terus nggak sengaja masuk ke dalam tong sampah). Bahkan kami sempat melihat bagian bawah kaki kami, kali aja terinjak (ngawur!).

Akhirnya kami coba menuju terminal transfer domestik, dimana kami harus menunggu penerbangan selanjutnya keesokan paginya. Ternyata mas Imam juga nggak ada! Setelah mempertimbangkan ini-itu, kami memutuskan untuk keluar menuju lobby Bandara International dan melanjutkan pencarian disana, sekaligus mencari camilan untuk dimakan. Ya sutralah, lagian disini juga nggak ada apa-apa, tapi sebelum itu, saat saya menukarkan uang di money charger, ada satu lagi perkataan bang Igun yang salah: “Diluar negeri juga bisa tuker rupiah kok Nji!!”, AARGH!!!!

Saat itu kami langsung bergegas menuju sebuah pojokan tempat kami bisa istirahat. Beberapa menit kemudian beberapa dari kami pergi mencari mas Imam, dan kembali dengan hasil yang nihil. Sebenarnya agak ngeri juga sih mengingat cerita-cerita di blog referensi yang mengatakan orang-orang India suka menipu, khususnya tukang taksi. Nah Lo!!

Beberapa jam kemudian, kami sempat dihebohkan dnegan kemunculan seekor burung kecil dari family silviidae, tapi kami belum tahu apa jenisnya. Akhirnya kami ramai-ramai berlomba memotret burung kecil itu, termasuk saya yang hanya mengandalkan kamera pocket 3x optical zoom yang aneh ini (syukurilah hasil pinjeman ini Nji, hehehe). Dapat beberapa frame yang tentu nggak bisa dibilang bagus, tapi setidaknya burungnya kelihatan.

Unidentified

Unidentified

Tiba-tba terasa pingin pipis, terus ingat blog referensi kalau toilet di India tuh jorok-jorok! Dengan ucapan Bismillah saya coba dah masuk ke Toilet umum dengan harga 2 ruppe, kira-kira Rp. 500 rupiah, lebih murah dari Indonesia!. Nah, ternyata nggak terlalu jorok, lumayan bersih. Terus begitu keluar dan ngasih uang Rs. 2,- petugasnya langsung goyang-goyang kepala. Gue bingung, ternyata maksudnya iya! (Headshake means Ya!!).

Kalau diperhatikan arsitektur bandara Mumbay memang apik, berbeda jauh dengan Soekarno Hatta. Tapi masalah kebersihan, kayaknya sama saja deh. Udah itu bandara ini juga cukup ramai, ternyata rombongan orang-orang yang mau menjemput para haji yang baru pulang. Yeaah, pokoknya keren lah yaaa….

Anak Hilang!

Terminal Kedatangan Bandara International Mumbay

Tiba-tiba kami dikejutkan dengan kemunculan beberapa ekor Gagak, sepertinya Gagak Rumah (House Crow/Corvus splendens). Ternyata kekagetan kami cuman sementara, karena begitu sampai di dalam bandara, jumlah gagaknya semakin meningkat! Beberapa jam saya mencoba tidur, tapi cuman dapat 2 jam. Maklum, konsentrasi menjaga barang bawaan plus nggak bisa mendapat posisi yang enak kayak teman-teman yang lainnya. Ya sutralah, tidur aja nggak usah mikir yang macem-macem! Tidur sambil clingak-clinguk kalau-kalau ada Mas Imam.

Esoknya sekitar pukul 4 waktu setempat kami memutuskan untuk berangkat menuju terminal keberangkatan. Rupanya tim kami dpecah lagi, Mas Iqbal terbang sendiri naik maskapai lain, sementara kami naik Kingfisher Airlines. Di terminal keberangkatan—masih clingak-clinguk nyari mas Imam— lagi-lagi kami disusahkan karena terminal keberangkatan domestik ada jauh di seberang, mesti naik taksi, sementara kami—kecuali mas Imam yang entah dimana dia berada—berada di terminal international. Pengecualian buat mas Iqbal, kami semua harus rela naik taksi menuju terminal domestik—yang menurut blog referensi, taksi india tuh suka nipu! Padahal kalau semalam kami nggak keluar terminal transfer, nggak perlu naik taksi!!

Kami naik prepaid taksi, yakni taksi bayar duluan. Setelah membayar kami diantar oleh dua orang petugas taksi menuju taksi yang akan mengantar kami. Nah, begitu masuk, kami malah dimintain Tip! Padahal tadinya baik, pas kita tolak dia langsung gebrak pintu gitu!. Terus di jalan ada lagi pengemis yang sekali ngemis nggak mau pindah sebelum dikasih uang. Waduh, akhirnya kita ngotot-ngototan dah tuh, karena kalaupun kasihan dan kita kasih uang, bakal lebih banyak pengemis lagi yang datang. Kali ini blog referensi benar!

Begitu sampai di gerbang Terminal Domestik kami dicegat sama rombongan  polisi dengan senapan, tapi senapannya aneh kayak bukan senapan yang biasa dipakai pasukan pengaman di bandara kita. Kayaknya versi lama, ada material kayunya gitu, dan sepertinya bukan senapan otomatis. Anyway, kita ditanyain pake bahasa Hindi, terus kita jelasin kalau kita dari Indonesia. Akhirnya dia mengerti dah tuh. Kita disuruh nunjukin paspor, terus disuruh lewat lagi dah.

Sampai di terminal keberangkatan domestik, kita langsung check in. Sebelumnya kita muter-muter nyari kingfisher airlines, dan tukang taksinya pun nggak tahu. Si Tukang Taksi pun bertanya sama ntukang Bajaj, ehh.. Autoricksaw (maklum, tinggal di negara aneh dimana majas metominia selalu digunakan). Dari sini saya mendapatkan keunikan bahasa Hindi yang kalau bicara harus dipadukan dengan gerakan tubuh. Waah, lucu jga.. tapi kami nggak bisa memperhatikannya lama-lama karena harus clingak-lcinguk lagi nyari Mas Imam.

Sampai juga di tempat. Sambil menunggu, saya membeli sebuah coklat panas yang lupa diaduk jadi rasa susu sama coklatnya misah, yach!. By the Way, saya sudah mulai mencium aroma conference karena ada beberapa muka-muka non-india disini, seperti Mr. Tripod yang membawa Tripod segede gabang, atau 2 orang bermuka chinese yang berduaan terus. Saya duga, mereka juga peserta konferensi. Sebelum naik pesawat kita harus diantar dulu pake bus, unik juga.

Nah, akhirnya datang waktu keberangkatan, walaupun masih khawatir nasib mas Imam. Saya duduk sendirian, dan bangku di sebelah saya pun kosong. Perjalanan 1 jam dimulai,  dan makanan pun disediakan. Kentang panggang yang terlihat enak, tapi pas dimakan ternyata hambar, plain, bener-bener aneh dah. Ditambah lagi nggak ada in-flight multimedia karena perjalanan domestik, bener-bener bosan dah. Untung ada kegiatan bagus: Clingak-clinguk nyari Mas Imam.

Leaving Mumbay

Akhirnya sampai juga di Ahmedabad! Masih kuatir dengan nasib mas Imam, kami melangkah keluar bandara dan menemukan seorang penjemput dengan tulisan “GBWC 210” di tangannya. Langsung aja kita nempel. Rupanya tebakan kami benar, Mr. Tripod alias Dave, juga si duo Chinese Djop dan kawannya yang ternyata berasal dari Filipina, juga seorang bermuka Hindia bernama Tharanga, ternyata berasal dari Sri Lanka. Nah, mereka rada bingung karena kita masih clingak-clinguk nyari mas Imam.

“Lo, panjenengan saka ngendi to?”. kata Dave, yang kalau diartikan dalam bahasa jawa kira-kira seperti itu bunyinya.

“Kula saking Indonesia mas, panjenengan pundi?”

Wo, kula saking Amerika jew. Kula ten mriki nggarap video e dhik, panjenengan?”

“Kula birdwatcher!”, jawab saya. Yeaaaa.. sekali lagi, ini cuman diartikan dalam bahasa jawa, bukan omongan orang aslinya🙂.

Di Bandara saya melihat seekor burung, sejenis Myna (Jalak). Saya segera mengadukannya kepada Boas. Saya mengira itu Kerak Ungu (Common Myna/Acridotheres tristis), tapi Boas menyanggah dan bilang, “Jangan asal tebak Nji!!”. Ternyata saya yang benar! hahaha.. Selain itu ada juga House Crow dimana-mana, juga seekor Alexandrine Parakeet (Psittacula eupatria) yang sepertinya salah identifikasi. Menurut saya itu Rose-ringed Parakeet (Psittacula krameri), who knows? Terserah mau ikut ajaran lurus Boas atau ajaran sesat milik saya, hehehe.

Patung Kuda Naik Orang

Rosy Starling (Sturnus roseus)

Setelah siap, kami semua pun digiring menuju sebuah taksi hotel yang mengantarkan kami ke sebuah hotel hanya untuk fresh up selama beberapa menit sebelum berangkat menuju Jamnagar. Hotelnya kalo nggak salah Royal apa gitu, saya juga lupa. Pokoknya kita disana cuman sebentar. Saya dan mas Ady check in dalam satu kamar, terus kekatrokan kami dimulai lagi saat berusaha menyalakan lampu tapi nggak bisa. Mau tahu alasannya? Tunggu di bagian selanjutnya.

Nah, akhirnya datang juga waktu makan, tapi karena waktu sarapan sudah habis da tidak ada jatah makan siang, kami cuman mendapatkan roti, teh dan kopi. Lumayan lah…. Abis itu kami langsung menuju bis yang sudah tersedia di depan hotel. Sebelumnya sempat ada sesi foto-foto bagi seekor Black Kite yang nangkring di atas fedung hotel, juga seekor Common Myna narsis plus kejutan dari 2 ekor Red-wattled Lapwing (Vanellus indicus), saudara dari Javan Lapwing atau Trulek Jawa (Vanellus macropterus), burung terlangka di Indonesia, dan paling banyak dicari tentunya. Yaah, kira-kira sama sulitnya mencari mas Imam di bandara, juga disini! (beluum ketemu bos!).

Roti Saus Tomat

Pas kami naik bus ada acara ngabsen penumpang. Nah, disini mulai ada kelucuan.. mau tahu??

“Ady Kristianto”<<<ini bener

“Dedy Astinto”<<<mulai ngaco

“Aiwan Londo”<<<mulai ngaco

“Fransisca Nonai”<<<udah ngaco

“Penjai Gusti Ekbar”<<<SUMPAH NGACO!!!

“Bus Emmanuel”<<<Lo kira temen gue Bus antar kota??

Nah, akhirnya perjalanan jauh—setara dengan Jakarta-Surabaya—pun kami lakukan dengan bus yang cukup nyaman ini. Udara disini cukup dingin, jadi saya langsung memakai jaket. Brr…. nggak rela menutup jendela dan melewatkan burung-burung yang beterbangan, saya buka jendela dengan resiko kedinginan. Benar saja, beberapa saat kemudian saya tertidur dan saat bangun… Wuaaah, tenggorkan langsung nyeri!

Tenggorokan yang nyeri ini bertambah nyeri ketika melihat list burung yang dilihat Boas. Wuaah!! saya melewatkan itu semua! Untung masihs empat lihat Painted Stork (Mycteria leucocephala), Eurasian Openbill (Anastomus oscitans) yang mulutnya nggak bisa mingkem, Bank Myna (Acridotheres ginginianus), dan alot of  Rosy Starling (Sturnus roseus), Common Myna dan House Crow.

Tante Noni

Autoricksaw bukan bajaj!

Emergency Toilet=Anywhere

Sampai di sebuah restoran kami berhenti untuk makan. Lagi-lagi dapat makanan India yang aneh-aneh, mulai dari Appetizer Sup Tomat rasa Saus Tomat (rasanya Asseeem!!), lalu Main Course pertama berupa Roti Canai (Disini mereka hanya menyebutnya “Roti”), Pasta with white sauce (ini lumayan familiar, kayak macaroni bakar), Kare, dan beberapa makanan lain yang aneh-aneh. Pas ditanya mau minum apa, saya pilih Teh, sementara beberapa orang lain memilih minum kopi kecuali Mas Ady yang memilih susu (sempat diketawain!). Nah, pas sudah disediakan, yang saya lihat di gelas saya hanyalahs ebuah cairan kental berwarna kopi susu (padahal mesennya teh!).  Pas saya coba… hueeek, ternyata bukan kopi susu! Ini teh ala India!! (padahal rasa dan warnanya sama sekali nggak mirip teh!). Saran dari saya, tanyakan dulu apakah teh ini sudah ada gula atau belum. Kalau belum, segera masukan 5 balok gula batu untuk menetralkan rasanya, serius lo!!

Di Restoran

Rock Pigeon (Columba livia)

Pas keluar restoran kami sempat melihat seekor Common Myna berkaki buntung, mungkin dicaplok Gagak Rumah. Kami juga mengambil foto beberapa ekor Blue Rock Pigeon alias Burung Dara (Columba livia) yang sedang makan biji jagung yang ditebar, juga ada Common Myna dan sahabatnya, Rosy Starling dan Bank Myna. Disana juga ada beberapa ekor Kuntul Perak (Intermediate Egret/ Egretta intermedia) dan Kuntul Besar (Great Egret/Egretta alba) yang berterbangan diantara pohon besar di belakang restoran.

Kembali di jalan, saya pindah ke kompartemen depan dekat supir. Ternyata supirnya bisa berbahasa Inggris dengan baik, kami langsung jadi kawan baik, apalagi pas dia nyetel laguy-lagu India, sejatinya saya mau request lagu Kutch Kutch Hota Hai, tapi malu takut dianggap ketinggalan jaman (ya iyaalaaa, udah berapa lamaa???).  Saat itu saya dan Boas melakukan lomba birdwatching in bus, dimana kita harus teliti menyambut semua burung yang datang melewati bus atau hanya hinggap di kanan-kiri jalan. Terlihat oleh saya Painted Stork, Eurasian Openbill , Black-shouldered Kite alias Elang Tikus (Elanus caeraleus) dan White-headed Stilt alias Gagangbayang Belang (Himantopus himantopus). Sementara Boas melihat hampir semua burung tersebut plus Shikra (Accipiter badius), Indian Roller (Coracias benghalensis) dan juga beberapa kali melihat Indian Peafowl alias Merak Biru (Pavo cristatus). Siaaal!! kalah telaaak!!

Nah, malamnya kami sampai di Hotel Express tempat kami menginap. Disana sudah ada Om Uttej Rao yang sudah kita temui di warung tadi (agak canggung juga, langsung minta maaf gara-gara telat ngirim visa, hehehe), juga mas Iqbal yang berangkat duluan dari Mumbai dan… MAS IMAAM!!!! Ternyata Mas Imam sudah sampai duluan, bareng sama mas Iqbal!! Waaah, padahal udah dicari sampai malam lo!! Ternyata dia langsung menuju terminal keberangkatan di lantai dua, manya kita nggak ketemu!!

Setelah makan malam (makanan India lagi!)  kami langsung check in. Nah, rupanya saya sekamar sama Tharanga Herath dari Sri Lanka. Sempet kagok juga sih cuz bahasa Inggris saya kan nggak bagus-bagus amat (merendah), tapi sikap ramahnya Tharanga bikin hati tenang (wkkwkwkw). Nah, kita langsung diantar ke kamar, disini kita baru tahu kalau KARTU GANTUNGAN KUNCI itu harus DITANCAPKAN KE PORT di dinding supaya ADA LISTRIK!!!! Pantesan di hotel tadi listriknya kagak nyala?? goblok gue… ketahuan Ndeso!! wkwkwkw

Our Room

Me in My Room

Yah, acara selanjutnya cuman mandi dan tidur. Saya persilahkan Tharanga mandi duluan terus nonton tv deh.. di website hotelnya katanya  sih International channel, tapi ternyata pake bahasa Hindi juga. Ya udah, cuman lihat gambar nggak ngerti artinya, hehehee.

Woke, saatnya mandi. Agak kagok kagak ngerti cara menyalakan shower, tapi akhirnya bisa (siapa dulu? Panji gitu lo!!). Ahh..segar, saatnya tidur!!