GBWC 2010 Hexalogy: My First “Headshake” (1/6)

Sekian Bulan Menunggu

Akhirnya Sampai Juga Di:

Logo GBWC 2010

GLOBAL BIRD WATCHER`S CONFERENCE 2010!!!

Selasa, 23 November 2010

Hari yang cukup cerah, saya berada di rumah sanak saudara di Tegal Parang, Jakarta Selatan. Tiada hal lain yang saya tunggu kecuali jam 10 nanti, saya akan menuju Bandara Soekarno Hatta Tangerang, titik berkumpul beberapa Delegate dari Indonesia yang akan menghadiri Global Birdwatcher Conference 2010 di Jamnagar District, Gujarat, India. Woww!!!!

Saya masih ingat beberapa bulan lalu saat sebuah email dari  mas Imam, tertulis “bagi yang tertarik silahkan daftar” masuk ke dalam mailing list. Nah terus saya coba aja dah tuh, katanya sih gratis, akomodasi dan transportasi ditanggung termasuk tiket pesawat. Saya coba deh daftar sebagai seorang birdwatcher, dan tepat saat itu kawan saya Boas Emmanuel juga melakukan hal yang sama. Beberapa bulan kemudian saya kaget karena tiba-tiba datang undangan dari panitia, dan lebibih kaget lagi seminggu kemudian datang email dari travel agent yang mengurusi para tamu international, Uttej Rao.

Dan sekarang, meskipun hampir saja gagal karena terlambat mengumpulkan visa dan membuat repot semua orang (maaf ya semuanya!) saya dengan senang hati bersama beberapa orang keluarga berangkat menuju Bandara International Soekarno Hatta. Bang Igun, orang yang sudah repot-repot membantu saya dan penuh dengan pengalaman meskipun usianya masih muda (kita doakan semoga dia nggak GR), mengantarkan saya menuju loket garuda untuk mengeprint-kan tiket (yang sebenarnya nggak perlu). Katanya dia sih harus bayar, ternyata enggak! (mulai merasa ragu-ragu..)

Nah terus kami bertemu dengan Si Buas Bolang Boas dari Jakarta Birder—dia sudah menunggu dari jam 10 lho, padahal departure time jam 2 siang!! By the Way kami berdua meras aakan menjadi peserta termuda di konferensi ini, saya baru berumur 16 tahun dan Boas 19 tahun lo!! Terbayang peserta konferensi lain yang merupakan ornithologist handal, birdwatcher kawakan atau wildlife photografer dengan lensa super mahal yang mengikuti konferensi ini,  yang sudah lumayan berumur. Namun sebuah kejutan yang tidak kami ketahui menunggu disana.

Nah, kelar ngobrol-ngobrol sedikit, ngurus ini dan itu barulah kami pamitan kepada keluarga dan langsung menuju waiting room. Tadinya Bang Igun mau mewakili saya buat check in. “Keponakan saya di bawah umur”, katanya, Tapi dilarang sama petugas di gerbang masuk. “Anak laki-laki kok, biar berani sana!”, kata Petugasnya sambil bercanda. Ya, sebenarnya sih saya sudah pernah melakukan hal ini di penerbangan domestik, tapi takut ada perbedaan di penerbangan internasional.

Oia, hampir lupa. Rute penerbangan kami adalah Soetta Tangerang menuju Changi Singapura, dan keberangkatan peserta dari Indonesia dibagi menjadi dua gelombang dalam penerbangan ini, mas Ady (Jakarta Green Monster), Om Iwan Londo dan Nenek Tante Fransiska Noni (keduanya dari Burung Nusantara) berangkat duluan jam 10 tadi pagi, sementara saya, Boas, mas Imam Taufiqurahman (BIONIC UNY), mas Iqbal dan mas Dedy Istanto berangkat bersama jam 2 siang. Setelah itu penerbangan dilanjutkan bersama dari Changi Singapura menuju Mumbay, transit satu malam disana lalu keesokan harinya baru menuju Ahmedabad, Gujarat.

Di pemeriksaan fiskal, kami cuman bilang “Di bawah 21 tahun pak!” terus diperiksan deh paspor kita buat memastikan. Dengan ramah petugas fiskal mempersilahkan kami masuk. Padahal saya sudah menduganya dari beberapa referensi di Internet, tapi Bang Igun nggak percaya dan mengharuskan saya membawa NPWP milik ibu saya. Dan ternyata versi saya yang bener!!!

Nah, setelah cukup lama menunggu baru deh datang mas Imam, disusul mas Dedy Istanto yang ujug-ujug langsung melimpahkan beberapa stel jaket Jakarta Birder  kepada saya, katanya sih udah nggak ada lagi space di tasnya (apalagi di tas saya!), akhirnya saya jejalkan mereka secara paksa kedalam tas, nggak urusan lecek ataupun sobek yang penting muat!.

Beberapa menit sebelum Boarding muncul mas Iqbal dari Palembang. Dengan wajah super cerah dia menjelaskan keterlambatan pesawat yang ditumpanginya dari Palembang. Dengan begini, semua peserta gelombang dua genap berjumlah 5 orang (dasar goblok, 5 itu ganjil!!).

“Garuda lagi error tuh, untung masih keburu..”, ujarnya.

Akhirnya saatnya kita menaiki Aircraft. Pesawat milik Garuda Indonesia ini kelihatan bagus, dengan multimedia yang lengkap. Perjalanan selama satu jam lebih dilewati dengan mulus, bonus sedikit turbulance saat landing (senam jantung). Kamipun sampai di Changi International Airport di Singapura, dengan sedikit rasa menyesal karena membenamkan kamera di dalam tas sehingga nggak sempat mengambil foto-foto di atas pesawat, huuh…

“Hore, Keluar negeri!!!”, kata saya dan Boas yang duduk berdampingan tepat ketika pesawat menyentuh tanah.

Kami segera menuju terminal III saat mas Ady menjemput kami dan memandu kami langsung ke tempat check in. Sedikit norak juga saat menaiki Sky Train yang menghubungkan antar terminal. Saat itulah saya mengakui keindahan arsitektur Bandara super ini, ditambah duty-free shop yang benar-benar menjadi mall dalam arti sebenarnya. Jangan dibandingkan sama bandara Soekarno Hatta, saya nggak berani membayangkannya.

Nah, akhirnya bisa bertemu dengan Om Iwan Londo dan Tante Noni. Setelah check in saya dan Boas langsung menuju tulisan “Free Internet Acces”, berebut tempat dan mulai menyelami dunia maya. Hahaha, maklum.. keseringan ngenet di warnet super mahal!

Pas saya check Hp saya yang baru diisi kartu Mentari—kata bang Igun kartu ini bisa dipakai di luar negeri mana aja, nggak kayak kartu XL yang saya pakai. Ternyata pernayataan Bang Igun salah!!! Mentari kagak bisa dipakai langsung om! (Maaf, bukan promosi!).

Nah, setelah tiba waktunya kami segera menuju Gate milik Jet Airways, tapi harus ditunda dulu karena mas Imam masih menghilang di smoking room (haha, dasar nikotin-lovers!). Sambil naik eskalator datar (eh, bener nggak sih namanya?), kami dengan santai melenggang menuju Gate, walaupun sebenarnya bisa lebih cepat kalau dtambah jalan kaki, tapi..

“Emang dasar orang-orang malas, hehhe”, kata salah seorang dari kami, saya lupa siapa.

Terus sambil menunggu waktu menaiki pesawat, saya dan Boas lari lagi menuju tempat Free Internet Acces! Tapi saya kalah cepat sama Boas dan beberapa orang anak kecil India yang menempati semua pc yang ada. Aduuh,, walaupun sudah lomba lari, tetep aja kalah.. akhirnya saya nggak bisa ngakses internet lagi sampai waktunya naik pesawat T_T.

Tante Noni dan Om Iwan

Senja di Bandara International Changi, Singapura

Sampai di pesawat saya mendapat tempat duduk di tengah bersama mas Iqbal.  Waktu makan kami mulai mencium sesuatu yang kurang menyenangkan, makanan yang disajikan udah berbeda walau masih ada embel-embel “chicken”. Rasanya? Masya Allah, nasi tahu tempe jadi terasa jauh lebih enak. Sumpah dah, rasa rempahnya bener-bener kental membuat kami merasa enek, khas India. Ada sup tomat rasa saus tomat, juga ada jus tomat rasa saus tomat=ASEEM!!  Niatnya minta jus tomat supaya bisa menetralkan maag malah dapet jus tomat asem yang memperparah maag!!!  Waah, harus mulai membiasakan diri niih..

Lima jam penerbangan, sampai juga di Mumbay. Disini kami melangkah menuju Imigrasi India, konon katanya semua petugas imigrasi itu enggak ramah dan enggak punya ekspresi, seperti berhadapan dengan Long Wei si pencuri muka di dunia roh milik Avatar.  Nyatanya petugas imigrasi yang saya hadapi cukup ramah, dan cuman menanyakan beberapa pertanyaan singkat, terus di stempel dah tuh passport. Ketika dia menstempel passport saya, dengan riang saya berkata, “This is my first stamp in my passport!”. Eh, petugas imigrasinya malah senyum sambil goyang-goyang kepala gitu, istilahnya “Headshake” khas ala India. AWalnya saya nggak ngerti maksudnya apa, tapi beberapa hari kemudian saya baru ngerti maksudnya “iya!” (hehhe, maklum di Indonesia “iya” itu kan ngangguk-ngangguk, bukan geleng-geleng).

“Mas Imam mana??”, kata salah seorang dari kami. Yah, mas Imam hilang dan untuk mempersingkat cerita, dia hilang sampai keesokan paginya! Nah, gara-gara mas Imam hilang terjadilah sebuah kejadian besar, yang akhirnya membuat kami repot. Mau tahu? Tunggu ceritanya di episode selanjutnya ya!!

10 thoughts on “GBWC 2010 Hexalogy: My First “Headshake” (1/6)

  1. wah….!
    Ternyata si panji….
    Salut deh…..
    Tambah sukses nji. Dalam menyelamatkan burung, lulus un, pokoknya sukses lah bwat panji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s