Mbah Maridjan vs Anggota DPR

 

Almarhum Mbah Maridjan

 

Mbah Maridjan telah tiada, tewas dalam terjangan awan panas gunung Merapi Selasa 26 Oktober yang lalu. Kakek anggota abdi dalem kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat yang diutus Sri Sultan Hamengku Bhuwana IX ini meninggal dalam keadaan sujud ke selatan, kepadaNya.

Oke, kita tahu bahwa itu sudah menjadi berita umum. Yang membuat saya merasa sedih adalah tanggapan kawan-kawan di luar kota tentang Mbah Maridjan. Dengan gegabah beberapa dari mereka berkata bahwa Mbah Maridjan dukun atau paranormal yang sok tahu, terlalu percaya hal gaib, atau Sok Berani. Saya merasa maklum karena mereka belum tentu mengerti siapa itu mbah Maridjan, latar belakangnya dan tanggung jawabnya. Ini yang membuat saya sedih: banyak orang sok tahu yang asal berbicara tanpa mengetahui latar belakangnya, tentu saja terkadang saya termasuk dalam kategori ini.

Sebenarnya kejadian ini bisa dijadikan suatu pelajaran bagi kita, bagaimana caranya menjalankan tanggung jawab yang kita emban. Namun sebelum membahasnya, ada baiknya saya jelaskan sistem pemerintahan Negri Yogyakarta sebagai Daerah istimewa di Indonesia agar anda mengerti betapa penting tugas dari keraton yang diberikan kepada Almarhum Mbah Maridjan.

Daerah Istimewa Yogyakarta bukanlah provinsi pada umumnya, melainkan suatu kerajaan dan semua rakyat tunduk kepada kerajaan tersebut, sementara rajanya yakni Sri Sultan Hamengku Bhuwana merupakan orang yang bertanggung jawab atas pemerintahan di daerah ini langsung kepada Presiden.

Mbah Maridjan sebagai Abdi Dalem alias staff keraton memiliki tanggung jawab langsung untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh Sri Sultan, dan tugasnya adalah sebagai Juru Kunci Merapi. Perintah ini diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Bhuwana IX (satu generasi yang lalu), yakni orang yang memprakarsai terbentuknya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Juru Kunci bukan berarti menjaga Merapi agar tidak meletus, melainkan penghubung antara “Ngarso Dalem” alias kesultanan dengan Gunung itu sendiri dengan menjalankan tradisi lama seperti labuhan dan tradisi lainnya. Itulah tugas dari Mbah Mardijan yang sesungguhnya, jadi dia Bukan Dukun ataupun Paranormal.

Nah, Mbah Maridjan yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi Juru Kunci Merapi ini ternyata sudah mengalami transformasi cinta secara alami, dari cinta kepada manusia menjadi cinta pada alam, dalam hal ini Gunung Merapi. Mengapa ia tidak mau turun dan menyelamatkan diri? Tak lain dan tidak bukan adalah karena dua alasan tadi: Tanggung Jawab dan Cinta.

Mbah Maridjan vs DPR

Mbah Maridjan memiliki tanggung jawab sebagai media perantara, bukan penanda apakah gunung Merapi akan meletus atau tidak. Jadi dia bukan menantang alam dan bisa mencegah meletusnya gunung Merapi. Tugasnya adalah menetap disana dan menjalankan tradisi lama di gunung itu, dan dia melakukannya sampai akhir hayatnya. Inilah yang saya maksud sebagai Tanggung Jawab kepada tugas, beliau tidak lari meskipun dirinya terancam karena beliau sudah diperintah untuk tetap tinggal disana.

Sekarang, kita bandingkan dengan Anggota DPR. Tanggung jawab mereka lebih besar, memerintah negara Indonesia dan memikirkan nasib rakyatnya. Dengan segala kecukupan yang ada, fasilitas lengkap bahkan minta tambah. Tapi begitu dihadapkan masalah, mereka kabur kemana-mana. Katanya kunjungan kerjalah, studi bandinglah dan segala kemunafikan terhadap bangsa yang bisa mereka lakukan.

Lalu kita beralih pada gaji mereka. Mbah Maridjan mungkin mendapat penghasilan yang besar dari iklan, ditambah penghasiland ari usaha lokal. Di luar itu gajinya sebagai Juru Kunci hanya beberapa ribu rupiah, yang habis bila dipakai naik angkot pulang pergi ke keraton. Tapi lihat, dia tetap sederhana dan melakukan apa yang menjadi tugasnya. Menjalankan tradisi Labuhan—dimana beliau harus berjalan kaki di ajlan menanjak tanpa sepatu dan peralatan lain untuk menaruh sesajen dan membaca doa  setiap tahunnya. Asal tahu saja, saya yang  muda dan alhamdulillah suka berpetualang  ini masih menggap-menggap bila harus menempuh trail yang dilalui Mbah Maridjan ketika Labuhan, dan itupun baru 1/4 jalan.  Roso!

Beralih ke anggota DPR, sudah gaji berlebih masih mau nambah, baik yang halal maupun yang tidak halal. Saat rapat meninggalkan tanggung jawab, tidur! Ngobrol sendiri, atau bahkan berkelahi! Padahal cukup duduk di tempat ber-AC, lalu berpikir jernih dan sedikit bicara. Tapi mereka tetap tidak bisa melakukannya!

Terakhir: Cinta. Ya, mbah Maridjan mengalami transformasi cinta bukan kepada sesama manusia, melainkan pada alam. Hal inilah yang juga membuatnya tidak mau pergi ketika Merapi “batuk-batuk”.  Analogi, saat seseorang yang dicintai sedang sakit, kita tentu tidak akan meninggalkannya meskipun kita beresiko tertular. Begitu juga Almarhum Mbah Maridjan, saat Merapi batuk-batuk, tentu dia tidak akan meninggalkan gunung yang dicintainya tersebut.

Lanjut ke para “pemimpin bangsa”. Dalam kampanyenya mereka mengumbar-umbar rasa cinta kepada rakyat secara audio, tapi hasilnya nihil kan? Saya tak perlu membahas hal yang satu ini karena kalian tentu tahu sendiri, cukup menyisihkan waktu untuk merenungkan hal ini.

Jogja Berduka

Birdwatching di Kinahrejo

 

Dan ketika berita itu menyebar, seluruh rakyat Jogjakarta yang asli hanya bisa berduka cita sambil terus memuji keberaniannya, sementara orang-orang sok tahu yang “jogja-jogjaan” hanya mengomentari hal-hal negatif.

Masalah beberapa orang yang ikut meninggal jangan diumbar-umbar, mereka hanya salah berkeyakinan tentang Mbah Maridjan, padahal almarhum telah memerintahkan mereka tturun (dalam sebuah koran, beliau berkata seluruh warga untuk mematuhi anjuran pemerintah). Hanya saja kebanyakan orang menganggap Merapi akan aman selama ada mbah Maridjan, padahal mbah Maridjan sama-sekali tidak pernah berkata akan hal tersebut.

Jadi, kami semua di Jogjakarta hanya bisa menunduk tajam. Pria yang sederhana ini telah tiada, begitu juga dusun indah penuh kenangan Kinahrejo. Masih saya ingat masa-masa awal birdwatching saya disana, melihat keindahan alam yang diciptakanNya, bersama guru dan orang yang saya cintai. Saya masih ingat ketika orang yang saya cintai itu, menggandeng tangan saya menuruni bukit curam di tengah hujan, romantis🙂 (hehehe, curhat sedikit)🙂.

Yang pasti saat itu kami semua berduka, kami semua tertegun, lalu merenungi semua yang kami dapat hari ini. Cerita guru saya di SMAN 1 Pakem semakin membuat kami terisak, dan satu hal yang saya ingat saat mereka berkata:

“Belajarlah darinya, dari alam, dan juga  kesetiannya akan tugas”

Selamat Jalan Mbah Maridjan, Semoga diterima disisi-Nya

3 thoughts on “Mbah Maridjan vs Anggota DPR

  1. (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Danyang tidak bisa dipungkiri, Mbah Maridjan juga mempunyai peranan yang tidak kecil dalam pelestarian hutan dan lingkungan hidup di Gunung Merapi

    *Sip….. Silahkan yang keduax, hehhehhe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s