Baluran-Britama BirdRace 2010: Kok Jadi Balapan Beneran?

Catatan ini adalah rangkaian cerita perjalanan Tim Al soneta bersama Kontingen Jogja Saparatoz dalam 1st Annual Baluran-Britama Birding Competition 2010

“Hello Guys, i`m Ring O`riri reporting from Baluran National Park. Until now, i still walk on with master Zee and he was get ready for the race,,, the race? wait! This isn`t a true race!”

Sabtu, 24 Juli 2010

Tidur semalaman di tendanya Mas Untung Biolaska yang temen-temennya pada “kabur” (habis temen se-timnya cewek sih, ya pastinya nggak bakal tidur di tenda ini dong). Cukup nyaman berselimutkan Sleeping Bag dan baru kali ini saya bisa tidur nyenyak di alam liar, tanpa kedinginan atau bangun di tengah malam. Segera setelah saya mengangkat kepala, Mas Untung memberi tahu saya untuk bersegera karena seremoni pemberangkatan peserta akan segera dimulai.

Saya segera bangkit dan keluar tenda. Sudah terang rupanya, padahal baru jam 5 pagi. Matahari pertama di pulau ajwa sudah bersinar terang, dan saatnya untuk berlomba. Segera setelah mencuci muka (sudah saya bilang saya tidak akan mandi untuk beberapa hari ke depan) saya pun segera menuju tenda Al-Soneta yang ternyata hanya diisi Mas Jarot dan Bintang, melenceng dari rencana awal yang katanya bakal diisi oleh kawan-kawan lainnya.

Disini, sudah tersedia makanan dan notebook lomba yang disediakan panitia. Saya bongkar tas dan memasukkan sebagian peralatan ke dalam, kecuali notebook yang akan dibawa Bintang. setelah semua siap, kamipun segera berangkat menuju depan kantor resort Bekol.

Persiapan...

Disini, kami mengambil barisan terdepan. Disini diadakan pembagian doorprice dan sambutan dari Bpk. Indra Arinal (akhirnya saya hafal namanya!) selaku Kepala BTNB. Setelah itu terjadi sesuatu hal yang cukup aneh. Bpk. Indra Arinal memegang bendera kotak-kotak hitam-putih layaknya bendera yang dikibarkan waktu start balapan.

“Wah, jadi balapan beneran nih?”, kata mas Jarot. Ya, kata “Birdwatching Race” hanya sebuah istilah tanpa ada unsur waktu ataupun balapan di dalamnya, tapi kok malah jadi balapan sungguhan?

“Dan 1st annual Baluran Britama Birding Competition.. DIMULAI!!!!”

Mungkin termotivasi oleh “bendera balap” yang dikibarkan, semua peserta jadi berjalan cepat seperti mau balapan sungguhan. Saya dan mas Jarot pun ikut-ikutan. Tujuan kami memang menjadi yang pertama sampai di Evergreen agar burung-burungnya masih fresh dan belum terganggu. Bintang yang start di belakang kami tinggal. Ini menjadi keuntungan bagi kami, dengan jarak yang diberikan maka keanekaragaman burung yang kami temukan bisa menjadi lebih banyak.

Foto oleh Mas Imam

Burung pertama yang kami lihat adalah Kacamata Biasa (Zosterops palpeborus/Oriental White-eye) disusul dengan kemunculan burung-burung merpati tanah seperti Tekukur Biasa (Sterptopelia chinensis/Spotted Dove), Dederuk Jawa (Streptopelia bitorquata/Island Coralled-Dove) dan Perkutut Jawa (Geopelia striata/Zebra Dove). Selanjutnya terlihat Bondol Peking (Lonchurra punctulata/Scaly-Breasted Munia) yang sedang bermain-main di tengah savanna, dilanjutkan dengan beberapa ekor Ayamhutan Hijau (Gallus varius/Green Junglefowl) yang terbang ke semak-semak begitu kami sudah sangat dekat dengannya. Lalu terlihat seekor Elang Tikus (Elanus caeraleus/Black-winged Kite) bermanuver belok yang sangat cantik, tapi kami tidak bisa melihatnya lama-lama karena kami harus bersegera menuju evergreen daripada yang lain.

Memasuki hutan musim, terlihat seekor Merak Hijau jantan (Pavo muticus/Green Peafowl) yang sedang terbang rendah menyebrang jalan dengan ekor yang terjuntai ke bawah, indah!. Lalu ada lagi Gemak Loreng  (Turnix suscicator/ Barred Buttonquail) yang berlari di tengah semak sementara Pelanduk Semak (Malacocincla sepiarum/Horsfield`s Babler) yang bersuara khas tidak jauh dari tempat perjumpaan si Pelanduk.

Semakin jauh ke hutan musim, terlihat burung semak yang lain seperti Perenjak Jawa (Prinia farmiliaris/Bar-winged Prinia) yang sedang mencari makan. Di tengah jalan, mas Jarot mendengar suara Gelatik jawa (Padda oryzivora/Javan Sparrow) yang selama ini dijadikan “kawan mainnya”. Lalu ada juga Betet Biasa juvenil (Psittacula alexandri/Pink-breasted Parakeet) yang sempat kami tuduh sebagai Serindit Jawa (Loriculus puscillus/Yellow-throated Hanging-parrot), namun tuduhan itu patah saat burung ini terbang mengeluarkan suara khas-nya. Ada juga burung-burung merpati buah seperti Punai Gading (Treron vernans/Pink-necked Green-pigeon), Punai Siam (Treron bicincta/Orange-breasted Green Pigeon) yang di jawa hanya bisa ditemukan di Baluran serta si merpati besar  Pergam Hijau (Ducula aenea/Green Imperial Pigeon) yang terus-terusan terbang di atas kepala. Lalu munculah Caladi Tilik (Dendrocopus moluccensis/Sunda Pygmi Woodpecker), Caladi Ulam (D. macei/Fulvous-breasted woodpecker) yang mirip dengan Caladi Tilik kecuali alisnya lebih pudar, dan ada juga si kembar Kapasan Kemiri (Lalage nigra/Pied Triller) dan Kapasan Sayap-poutih (L. suerii/White-shouldered Triller) yang alisnya tidak menyambung seperti saudara dekatnya si Kemiri.

Setelah itu kami bertemu dengan seorang polisi hutan yang dengan bersemangat memberi kami informasi mengenai kubangan favorit Gelatik Jawa yang ada sekitar 100 meter di depan. Walhasil, kami pun segera pergi menuju kubangan yang katanya menjadi tempat berkumpul burung favorit-nya Mas Jarot ini. Oia, di tengah jalan kami juga bertemu dengan Mas Zul dari BIONIC yang datang telat karena ada acra di Bali. Rupanya ia dan beberapa tim lain yang datang terlambat harus berjalan kaki dari end-point di evergreen karena tidak ada mobil yang boleh masuk ke dalam arena selama perlombaan.

Setelah beberapa lama berjalan, kami tidak menemukan kubangan tersebut. Yang kami temukan malah sebuah bekas sungai kering dengan beberapa ekor Delimukan Mutiara (Chalcophaps indica/Emerald Dove) yang langsung terbang begitu kami mendekat. Burung ini memang pemalu. Selain itu, ada juga seekor Kipasan Belang (Rhypidura javanica/Pied Fantail) yang sedang berburu makanan di tajuk pinggir kolam yang tersisa di sungai kering tersebut. Di sekitar sini terdengar suara burung-burung semak yang “nyebai”, ada suara tanpa rupa. Yang pasti, kami sempat mengidentifikasi suara Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius/Common Taylorbird) dan Cipoh Kacat (Aeghitina thipia/Common Iora).

Saya sempat mendengar suara Kancilan Bakau (Pachycephala grisola/Mangrove Whistler). Saya coba setel suara rekaman burung pemalu ini dengan Hp  (ingat! dalam lomba ini, alat-alat pemikat burung macam alat perekam diizinkan untuk dipergunakan). Akhirnya si “burung kelabu” ini mau keluar dari persembunyiannya mesti cuman sesaat, lalu sebelum bino terangkat dia sudah kembali lagi ke semak-semak dan menjawab “panggilan” kami. Di akhir, malah seekor Cipoh Kacat yang sok tau menirukan suara yang keluar dari Hp. Woalah!

Kami kembali untuk mencari Bintang, karena dia yang membawa blocknote untuk sketsa. Akhirnya kami bertemu dan beristirahat sejenak di bawah pohon di pinggir sungai kering. Disini saya menghabiskan sarapan yang belum saya santap dan mulai menggambar sketsa. Yupz, tugas ini selalu menjadi tugas saya, dan saya bangga dengan tugas ini, apalagi bila melihat rekan satu tim saya yang sudah sangat pro dengan burung. Bintang mengenal birdwatching sejak kelas 4 SD, dan mas Jarot adalah jebolan BIONIC yang kemampuannya bisa dibil;ang setara dengan birdwatcher kawakan di Jogjakarta. Dengan begini, cukup mereka yang menjadi identifier, saya yang amatiran cukup mejadi seksi sketsa saja, menjadi “ujung tombak” bagi tim ini karena sketsa adalah satu-satunya media input data pengamatan kepada juri.

Al-Soneta in Action

Me

Kembali ke arena, saya dan Mas Jarot yang dari tadi meras gatal-gatal karena ulat bulu langsung bangkit berjalan-jalan. Di atas kami, Elang-ular Bido (Spilornis cheela/Crested Sherpent-eagle) bersoaring ria sambil sesekali menghilang di belakang tajuk pepohonan. Menurut petunjuk Kang Bas–Dosen, birdwatcher kawakan, admin FOBI sekaligus juri kompetisi yang sedag mencari foto kupu-kupu–kubangan yang tadi kami cari ada di dekat plang Kebakaran Hutan. Akhirnya kami menemukannya, bersama Gelatik Jawa yang dari tadi kami cari (Yes, list baru!). Selain itu, ada juga Garangan Merah (Herpetes javanicus/Javan Monggose), musang merah kecil dari jawa dan jejak kaki Kerbau Liar plus flocking kupu-kupu yang cantik.

Walaupun belum sampai Evergreen, kami segera pergi menuju Bama sebelum suhu udara bertambah panas (ingat, untuk ke Bama kami harus menyebrang savanna Bekol yang panas dan gersang). Di tengah jalan kami turut membantu tim Munguk PPBJ (Mbak Sita dkk) dengan mengurangi beban yang dibawanya (Baca: menghabiskan makanan ringan yang dibawanya). Ternyata mereka membawa oleh-oleh kulit ari ular yang disimpannya di kantung plastik.

Begitu sampai lagi di Savanna Bekol, hawa panas dan gersang langsung menerjang ditambah angin kencang plus debu yang berhamburan. Glek, sebuah tantangan yang unik!. Di tengah savanna kami berpas-pasan dengan mobil yang dikawal oleh Pak Sutadi–panitia–dengan sepeda. Kami agak bingung karena seingat kami, selama tanggal perlombaan tidak ada mobil/motor yang boleh masuk ke arena. Ternyata itu adalah mobil yang membawa para wartawan–dan mereka mengarahkan kamera ke arah kami! Hehe, masuk TV cah!

Indahnya Gn. Baluran dilihat dari Savanna Bekol

Rusa Timor yang sedang berlari di savanna

Oia, di jalan kami bertemu dengan si Tepekong jambul yang memiliki nama ilmiah yang lucu, Hemiprocne longipennis! Jangan salah sangka, longipennis disini artinya bulu yang panjang mengacu pada jambul di atas kepalanya, bukan “anu” yang panjang. Ada lagi, saat Bintang dan Mas Jarot sedang berbincang-bincang, saya melihat seorang peserta expert di depan kami yang tiba-tiba berhenti melangkahd an menatap savanna. Begitu saya lihat, terlihat seekor raptor ukuran menengah sedang terbang soaring rendah. Setelah lama berdiskusi, kami putuskan itu adalah seekor Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus/Changeable Hawk-eagle).

Haduh! Payung hadiah dari BRI rusak kena angin!

Setelah lama berjalan dan mendengar berbincang-bincang tentang hal-hal yang agak saru (maklum, orang-orang biologi, hehe) kami akhirnya sampai di Bama, sebuah pantai indah di ujung timur jawa. Disini kami cuman beristirahat di teras villa sambil menunggu hari agak sore. Ya,  siang-siang begini dijamin gak akan ada burung yang nongol. So, daripada capek jalan-jalan nyari burung terus mending istirahat dan makan siang. Lumayan, makan di pantai sambil menatap laut yang luas, seekor Biawak Salvator (Varanus salvator/Water Monitor),  seekor Raja Udang Biru (Alcedo caerulescens/Caerulean Kingfisher) serta ekspresi anak-anak SMP dari tim Schedjultsem Spenamlasta yang kehilangan makan siang mereka karena dicolong monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis/Long-tailed Macaquez). Habis, udah diperingatkan jangan ditinggal barang-barangnya, masih aja ditinggal, hehe.

Pantai bama dari tempat kami makan

Iseng, saya pinjam kamera mas Lutfian Nazar dari UNNES dan mulai mencari burung utnuk di foto. Berpas-pasan dengan peserta expert asal Swedia, lalu melanjutkan perburuan sampai ke birdwatching trail Bama-Mantingan yang jalannya mulus, cantik berpadu pasir pantai dan dinaungi oleh pohon-pohon khas hutan pantai. Sempat berpas-pasan dengan Bpk. Indra Arinal, kepala BTNB yang juga membawa kemra berlensa panjang, mantab!. Sayang, tidak ada satupun burung yang nyantol di kamera, malah dapat ekspresi ganas seekor Macaca saat mau di foto.

Nb: Jangan kira Macaca disini ramah-ramah, mereka adalah musuh paling berat bagi para peserta! Ya, mereka perampok (perampok bukan pencuri) dan perusak ya bisa menghabiskan bekal anda dalam sekejap!

Kembali ke habitat, Bintang dalam keadaan “exited” begitu melihat Noordin Macaca Top (Ketua geng macaca disini) yang sedang mencumbu beberapa ekor macaca betina. Ya ampun Bin, sampai terpukau seperti itu, hehe.

Akhirnya, pukul 3 sore kami melanjutkan perjalanan lewat birdwatching trail Bama-Mantingan, yang kemarin sempat saya lalui bersama mas Dlohak dan mas Willy dari BIONIC. Disinilah saya benar-benar berada di “surga”. Awalnya, hanya seekor Elang-ular Bido yang terbang sangat rendah di hadapan kami. Entah kenapa, saya merasa “maklum” dengan pemandangan indah ini, padahal kalau di Merapi mungkin saya sudah jerit-jerit melihat raptor sedekat ini. Tapi di surga burung ini, semua bisa terjadi!

5 meter di depan, saya mulai mendengar suara Kangkareng Perut-putih (Anthracoceros albirostris/Asian Pied Hornbill) di atas tajuk hutan pantai. Kemudian, mulai terlihat bayangan mereka. Berjalan 3 meter kami langsung menemukan sekawanan burung ini terbang di atas tajuk! lalu 2 meter lagi baru kami lihat yangs edang hinggap. Ukurannya tergolong kecil untuk keluarga Hornbill, sekitar 45 cm dengan garis putih khas di tepi sayap serta warna kulit mata yang biru. Tanpa harus melangkah, nongolah si Bangau Tontong (Leptotilus javanicus/Lesser Adjutant) yang terbang ringan di atas si Kangkareng. Kamid an beberapa orang lainnya kaget dan takjub setengah mati begitu melihat si burung yang nongol begitu saja.

Hanya 5 meter dari lokasi kejadian, beberapa orang yang lain masih di belakang begitu kami bertemu dengan sekelebat bayangan putih di atas tajuk. Tadinya Bintang meremehkannya dan menganggap itu bangau tontong yang tadi, tapi setelah diperhatikan, ternyata itu adalah Elang-laut Perut Putih (Halieestus leucogaster/White-bellied Sea Eagle). Lalu kami turun ke sebuah pantai tak tersentuh untuk mencari Shore bird, tapi tidak ditemukan apa-apa selain pemandangan yang sangat indah.

Pantai kecil yang jarang tersentuh

Kami terus melajutkan perjalanan sampai di mantingan,sebuah sumber air yang konon katanya bisa bikin awet muda. Bintang berseloroh , “ada yang mau coba musyrik?”. Gara-gara perkataan itu, nggak ada yang berani cuci muka di sumber air itu, wah..wah.

Kami agak kecewa tidak menemukan Pelatuk Ayam, dan lebih kecewa lagi karena jalan yang kami tempuh ternyata sangat jauh. Akhirnya, kami kembali ke jalan utama Bekol-Bama. Begitu sampai di Savanna, kami langsung bersua dengan Mas Swiss, panitia yang juga merupakan birdwatcher asal Jogja. Entah mengapa, sebenarnya dia bukan panitia ini, tapi kharismanya begitu luas di dunia perburungan sampai-sampai kesuksesan acara ini selalu ditujukan kepadanya.

Namun, walaupun kharisma, keahlian birdwatching dan fotografinya yang luar biasa, dia tetap seorang birdwatcher Jogja yang nleneh dari nyleneh. Bayangkan, ketika seorang peserta menelpon dia dan berkata “Ayan! Pingsan!”, dia malah mengira “Ayam Pincang” alias ada Ayam Hutan yang pincang. Makanya, dia datang dengan sepeda dengan santai sambil membawa plastik kresek buat si “ayam”. Dan begitu sampai, dia baru tahu bahwa yang harus dibawanya  bukan seekor ayam, tapi sesosok tubuh manusia yang pingsan! Oalah mas, piye to?

Yeah, setidaknya di akhir sesi pengamatan ini, ada sedikit hiburan dari guyonan khas Mas Swiss. Panggilan khas-nya terhadap saya “suroso” ditujukan dengan nada mengejek karena saya cadel alias celat. Namun, di balik sosok ini, ada suatu sosok yang dikagumi oleh Bintang, mntan muridnya. Yeah, sebuah perkembangan luar biasa dari seorang birdwatcher dan mahasiswa yang kata Bintang kelihatan seperti orang gembel kini menjadi PNS di surga burung. Wow!

Para peserta di akhir sesi pengamatan

Di akhir sesi pengamatan ini, bayang-bayang gunung baluran masih terlihat di ujung sana, dengan cahaya yang mulai meredup dan angin sejuk pertanda hari petang. Di hadapan kami terhampar puluhan tim yang baru menyelesaikan sesi pengamatannya, sama seperti kami. Di ujung savanna, 2 ekor Alap-alap Sapi dan seekor Elang Tikus terbang dengan damai, bebas dan riang, menikmati senja di surga mereka. (Z)

Bersambung ke: Baluran-Britama BirdRace 2010: The Fire night

3 thoughts on “Baluran-Britama BirdRace 2010: Kok Jadi Balapan Beneran?

  1. Ping-balik: Baluran-Britama Birdrace 2010: Merak atau Lutung??? « Lonely Little Peregrine..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s