Baluran-Britama Birdrace 2010: Merak atau Lutung???

Cerita ini adalah cerita perjalanan tim Al Soneta dari kontingen Jogja Saparataos dalam 1st Annual Baluran Britama Birding Competition

“This is Zee G.A. as your guide from flight number Al-S0n3t4 fly over the savana. No wonder the hard way to get in, but how we can see that the struggle for this journey, always have nice scenery at the end. Yupz, here we are, Africa of Indonesia!”

Jumat, 23 Juli 2010

Ah, akhirnya bisa tidur dengan nyenyak, lepas dari cengkaraman si kurungan maut gerbong tua itu. Pagi ini, sekitar pukul 5 pagi, saya terbangun akibat ocehan kawan-kawan yang sibuk mencari sarung untuk salat subuh. Saatnya mengikuti jejak mereka.

Pagi ini, saya kembali dengan beberapa teman lama dari berbagai kota. Salah satunya, mbak Nadia dari Bicons Bandung, yang dulu juga mengikuti SuraMadu WBWR 2010 dan sempat janjian bakal ketemu di Bandung waktu liburan gara-gara kelas 3 ikut UNAS dulu, tapi akhirnya ya tidak jadi.

Setelah bercakap-cakap sebentar, saya putuskan untuk mengambil Bino pinjaman dari RCI (terimakasih Pak Kabul!!) dan berjalan-jalan keluar sebentar menyapa burung-burung yang ada di sekitar BTNB. Nggak perlu jauh-jauh, cukup ke jalan di belakang kantor BTNB.

Disini saya merenungi sebutan “surga burung” dan “Africa of Indonesia” di BTNB. Apa yang saya lihat disini belum membuktikan kedua hal tersebut, karena saya melihat burung-burung di sekitar BRNB cukup sepi dan pemandangannya pun tidak sep-spektakuler yang saya bayangkan. Yeah, mungkin saya hanya perlu masuk lebih jauh. Setidaknya suara Takur ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala),  beberapa ekor Bentet Kelabu (Lanius schah/Long-tailed Shrike) dan Caladi Ulam (Dendrocopos macei/Fulvous-breasted Woodpecker) sudag cukup membuat saya berada di “alam”.

Setelah sekian lama, saya memutuskan kembali ke BTNB. Disini belum banyak perubahan yang terjadi, hanya teman-teman yang tadi sibuk  mencari sarung sekarang beralih sibuk antri mandi. Daripada ngantri, lebih baik cari makanan. Untung ada mas Shaim yang juga mau nyari makanan, sip.. waktunya jajan!

Keluar dari pintu gerbamg BTNB, belok kiri ada warung Bakso. Disini kami bertemu dengan Mbak Citra dari Surabaya yang baru selsesai makan bersama Bintang Mbak sita dan kawan-kawan PPBJ lainnya.

“Wah nji, jagain tuh Shaim biar nggak hilang kayak di surabaya dulu.. gawat nih kalau dia sendirian!”, kata mereka. Haha, kasihan juga mas  Shaim, gara-gara kejadian 5 bulan yang lalu dia jadi kena getahnya terus (bagi yang belum tahu kisahnya, silahkan baca disini).

Setelah say hay langsung deh kita masuk ke dalam warung sederhana ini. Pesan Bakso 2 mangkok plus es teh manis. Mantab! Bakso yang disajikan cuman satu tapi gedhe. Ditambah kuah bening (asli, jernih banget!) dan mie bihun yang masih keras dan sedikit tetelan. Rasanya memang kurang sempurna, apalagi saus yang disediakan di meja ternyata tidak mengandung cabe sama sekali. Tapi ya tidak apa-apa, yang penting perut aman.

Ketika balik, ketemu sama anak-anak BIONIC yang juga mau nyari makan. Kami nasihati supaya tidak memakai sausyang ada di atas meja karena rasanya sama sekali tidak pedas. Setelah itu, hanya ada acara duduk-duduk di depan gerbang BTNB sambil berkenalan dengan beberapa peserta yang baru datang, dan salah satunya berasal dari tempat yang cukup jauh: Batam! Disinilah kami tahu betapa luar biasanya acara ini sehingga pesertanya pun rela datang dari jauh.

Oh iya, disini kita juga sempat birdwatching ringan tanpa binokular. Terlihat B. Madu Sriganti (Nectarinia jugularis/Olive-backed Sunbird) sedang mencari makan di tajuk rendah di seberang jalan—sesuatu yang jarang kami lihat. Biasanya mereka lebih suka bermain di tajuk atas sehingga menyulitkan bagi kita untuk melihat corak biru metaliknya yang cantik. Selain itu, ada pula beberapa ekor Kekep Babi (Arthamus leucorynchus/ White-breasted Woodswallow) yang terbang soaring di atas jalan raya.

Setelah akwan-kawan BIONIC yang lain selesai makan, kami mundur sedikit dan mengamati Cekakak Sungai (Halcyon chloris/Coralled Kingfisher) yang sedang meratap menunggu serangga datang. Cukup unik, kami mendapat moment spesial disaat burung ini terjun dari tempat hinggapnya menangkap serangga. Ketika kami memtuskan kembali ke aula tempat kami tidur, terlihat 2 ekor Cipoh Kacat yang terbang sangat rendah dan coraknya terlihat sangat jelas, sesuatu yang langka terlihat di rumah saya. Pretty Birdy!

Setelah mandi—yang ternyata merupakan mandi terakhir saya selama 3 hari ke depan—saya dan Mas eh Mbak eh Mas Dlohak kembali pergi ke belakang kantor BTNB sambil menenteng binokular. Sepi, hanya terlihat Bentet Kelabu (Lanius schah/ Long-tailed Shrike) yang terus bersuara serak “Kaak..Kaak”.

Begitu kembali, ternyata acara daftar ulang sudah dimulai. Disini sudah ada Bintang dan Mbak Sita yang mengurus tim yang dibiayai oleh Yayasan Kutilang, yakni PPBJ 1, Munguk PPBJ, Al Soneta dan Schedultsem Spenamlasta (terimakasih pak Ige!). Setelah itu kamilangsung kembali ke aula untuk mengemas barang-barang dan segera pergi ke lokasi lomba di kantor resort Bekol.

Ternyata, kendaraan yang membawa kita menuju Bekol adalah beberapa truk yang biasa membawa sapi! tapi tentu saja sudah bersih dari kotoran.  Haha, jadi ingat masa-masa SMP ketika tidak punya ongkos buat pulang, langsung nebeng truk-truk yang seperti itu. Kalau saya pikir, biasanya sapi yang naik truk dan manusia yang melihat dari pinggir jalan, namun sepertinya hari ini akan terjadi yangs ebaliknya. Manusia yang naik truk, banteng dan kerbau liar yang menonton kami (walau pada akhirnya kami tidak melihat banteng atau kerbau liar di pinggir jalan).

Awas Kiri!!!

Di tengah perjalanan, saya menemukan keuntungan dan kekurangan naik truk besar seperti ini. Keuntungannya, ternyata selama 12 kilometer ke depan kami hanya akan melewati aspal yang kurang mulus ditambah beberapa medan offroad yang tentunya tidak bisa dilalui bus atau semacamnya, dan dengan bak terbuka kami bisa lebih menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan Batangan-Bekol. Kekurangannya, dengan bak terbuka kami tidak memiliki perlindungan di bagian atas sehingga selain pana, kami juga harus sibuk menunduk jika ada dahan atau ranting dari pohon di pinggir jalan yang bisa memukul kepala kami, ouch!.

“Next stop… Evergreen.. Check your belongings, and watch your head carefully, thank you”. (trans-baluran).

Bruk..brak.. bruk… tiga buah dahan berhasil memukul kepala saya, ouch!. Namun semua rasa sakit itu terbayar sudah saat kami melihat pemandangan Gunung Baluran yang indah ditambah beberapa vegetasi kering sepertis avanna dan hutan musim di kiri-kanan jalan. Kami juga sempat terhibur dengan adanya beberapa ekor burung unik yang muncul seperti Kekep Babi, Cekakak Sungai dan Ayam-hutan Hijau (Gallus varius).

Dan akhirnya, blas! Sebuah dahan terakhir dilewati dan munculah padang savanna yang sangat luas di kanan jalan. Kami terkesima melihat pemandangan indah macam ini, dan serentak semua orang berkata “Oh…”.

It`s the mountain!

Setelah sampai di Kantor Resort Bekol, kami diarahkan untuk segera membuat tenda. Beberapa sponsor juga sudah mendirikan stan di jalan masuk menuju Kantor resort Bekol. Tim Al-Soneta yang tidak membawa dome mendapat bantuan dari tim Jogjakarta lainnya, alhamdulillah, nggak jadi tidur di luar. Sayangnya, lokasi tempat kami berkemah yang sudah ditentukan oleh panitia terletak agak jauh dari lokasi berkemah kawan-kawan PPBJ lainnya, dan tempatnya juga kurang menyenangkan, panas tanpa peneduh!.

Nah, sambil menunggu shalat jumat saya pun mulai bermain poker dengan kawan-kawan BIONIC. Dan ketika permainan selesai, tebak apa yang saya lihat! Seekor Alap-alap Sapi (Falco moluccensis/ Spotted Kestrel) terbang rendah di atas Camping Ground! Wow, hebat!.

Camping Ground!!

Ketika waktu shalat jumat sudah dekat, panitia yang baik hati memberitahukan kami bahwa ada es kelapa muda yang bisa diambil peserta di dekat stan milik sponsor. Nah, disinilah pos kami beberapa hari ke depan ketika jatah makan disiapkan, sehingga kami bisa mendapat antrian terdepan, hehe.

Ketika itu, datanglah rombongan anak-anak SMP dari tim Schedulsem Spenamlasta beserta Pak Ige, Mas Imam dan mas Batak dengan mengendarai mobil Colt L300-nya—alhamdulillah mereka selamat!, hehe.  Ternyata sebagai sponsor Pak Ige tidak membuka lapak. eh.. stan, tapi malah jualan di depan pos jaga. Ternyata lapak eh stan tanpa atap-nya Pak Ige malah lebih laku dari stan milik sponsor yang lain!. Tentu saja, SKJB Mc. Kinnon cetakan baru mejadi barang terlaris disini.

Ketika berjalan menuju tenda “kawinan” yang digunakan untuk shalat jumat, muncul gossip diantara birdwatcher Jogja tentang siapa yang akan menjadi Khotib. Sempat muncul kekhawatiran kalau yang menjadi Khotib adalah Mas Swiss, panitia asal Jogja yang juga merupakan “guru” bagi bintang dan sederajat dengan beberapa sepuh birdwatcher Jogjakarta. Bisa dibayangkan kalau dia yang menjadi khotib, mungkin akhir-akhir dakwahnya bakal nyambung ke burung dan ditambah dengan beberapa”kata keramat” yang sering diucapkannya. Dan ternyata…

“Assalamualaikum wrm wbr dst…

“Saudara jamaah sidang jumat yang dimuliakan, mari kita ingat allah yang menciptakan makhluknya dengan sangat sempurna, seperti burung yang terbagi menjadi beberapa ordo seperti columbiformes, acciptriformes, passeriformes dan lain-lain. Masing-masing ordo tersebut dibagi lagi menjadi family seperti columbidae… acciptridae.. nectarinidae.. sungguh besar Dia yang menciptakan merak hijau dengan ekornya yang indah, Kancilan bakau yang susah dilihat tapi indah suaranya, atau kapasan kemiri yang bisa dibedakan dengan kapasan sayap putih dengan alisnya. Anda lihat, betapa agung Dia yang mengizinkan kita untuk menciptakan Nikon D200 dan lensa Zoom tele sigma 120-500 mm. Luar biasa bukan??.. heh, anda memperhatikan nggak? As** ni!, bukannya pada dengerin khotbah malah liatin savanna? Hoy! As*!.. dengerin dong! $#$%$^$^$%%^$!!!!”

Hah! saya terbangun dari tidur! rupanya angin semilir dari padang savanna membuat saya mengantuk dan tertidur selama khotbah jumat. Saya cek ke mimbar, alhhamdulilah.. bukan mas Swiss (Hehhe.. Peace mas Swiss!! cuman bercanda!).

Setelah shalat jumat dan makan siang (saya di antrian pertama! yang lain pada ngantri panjaaang! heheh), acara pembukaan pun dimulai. Agak kurang menyenangkan juga sih, karena acaranya terlalu formal. Kita disuruh memakai kaos khusus dan membawa ID card. Sampai disana disuruh baris berbaris ala tonti, disuruh sikap siap sempurna. Padahal basic kebanyakan peserta disini adalah “cah-cah ndagelan” yang nggak bsia serius ala tonti. Pantas saja, mas Batak langsung misuh-misuh dan Bintang ikut berkomentar, “Terlalu formal.. pake disuruh sikap sempurna segala..”.

Saya menimpali sedikit, memang kesan formal biasanya ditampilkan kalau ada tamu penting yang datang. Tapi kemarin waktu Walikota Surabaya datang di acara Suramadu WBWR 2010 acaranya tidak se-formal ini, para peserta bisa duduk dengan bebas dengan memakai baju apapun. Lah, ini ketika seorang Bupati datang kok harus pakai baju resmi birdrace, Id-card harus dibawa, ditambah ada panitia yang menjadi komando upacara yang menyiapkan barisan seperti pemimpin militer. Walhasil, barisan depan memang terlihat tertib (tidak setertib tonti tentunya) dan barisan belakang malah pada duduk-duduk, melihat savanna sambil mengeker Alap-alap sapi yang sedari tadi berkejaran di savanna.

Disini saya baru tahu bahwa peserta birdrace berasal dari Batam sampai Timika! Ada juga saudara Schedultsem Spenamlasta (tim dari sMPN 16 Jogja) yang berasal dari Timika, lalu ada juga tim Arismaduta yang merupakan juara 1 Semarang Birdrace kelas pelajar kemarin. Wah, ternyata kami Al Soneta tidak lagi menjadi tim dengan anggota termuda disini, tapi ada juga tim-tim lain yang berumur jauh lebih muda yang berasal dari SMA/SMP, sama seperti kami!. Wau, hebat juga Birdrace di Baluran yang bsia menarik peserta sebanyak ratusan orang!.

Setelah acara pembukaan, acara dilanjutkan dengan acara makan siang (Saya ada di barisan pertama! yay!) dan acara penanaman pohon. Saya tidak mengikuti acara terakhir ini karena sudah terlalu jemu dengan segala macam seremonial dan ingin cepat-cepat melihat burung-burung di sekitar sini. Maka dari itu, selepas makan siang saya langsung kembali ke camping ground, mengambil Bionokular dan berganti baju dengan baju hitam tipis (yang selanjutnya akan saya pakai terus selama 3 hari ke depan) dan langsung melompat ke acara orientasi lapangan.

Disini, saya beserta beberapa orang peserta lain sudah mulai mengamati burung-burung cantik dan umum seperti Cekakak Sungai dan  Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis/ Spotted Dove), sementara si Merak Hijau (Pavo muticus/ Green Peafowl)  belum terlihat. Begitu berbelok ke arah jalan Bekol-Bama, terdengar suara Perkutut Jawa (Geopelia striata/Zebra Dove) dan terlihatlah ia sedang bersantai di ujung dahan. Burung ini cukup sulit ditemukan liar di Jogjakarta tapi malah dijadikan hewan khas daerah ini (hewan khas di dalam kandang kali maksudnya). Selain itu, ternyata jenis burng merpati tanah lainnya yang juga jarang ditemukan di Jogja bisa dengan mudah ditemukan disini, yakni Dederuk Jawa (Sreptopelia bitorquata) yang mirip dengan Tekukur Biasa saat sedang terbang, kecuali warna kemerahan di sekitar leher dan garis melintang hitam di tengkuk.

Saya mendekati sebuah sumber air yang dipompa oleh kincir angin yang dipasang di atas sebuah pohon di sekitar Savanna. Disini hampir semua hewan menggantungkan hidupnya saat musim kering di Baluran, namun kali ini saya tidak bisa menemukan apapaun disini kecuali burung-burung yang sudah saya sebut diatas ditambah feses hewan-hewan karnivora. Di sebelahs elatan 2 ekor Alap-alap Sapi masih main kejar-kejaran, cukup unikd an jarang terlihat di tempat lain.

Saya kembali ke jalan yang benar dan menjumpai kawan-kawan yang lain seperti Bintang dan Mbak Sita (mereka berdua statusnya nggak jelas). Disini terlihat Perenjak Jawa (Prinia farmiliaris/Bar-winged Prinia) lagi nangkring di atas pohon sambil bernyanyi merdu. Dua garis putih di sayapnya adalah kunci utama untuk mengenalinya.

Setelah agak bersenda gurau sebentar saya kembali menyusuri jalan menuju Bama. Setelah agak beberapa lama saya mulai merasa haus, apalagi di tengah matahari yang terik ini. Saya menghadap ke belakang dan… saya sendirian di tengah savanna! teman-teman yang lain berada jauh di belakang dan di depan, sementara saya tidak membawa air sama sekali. Dengan pertimbangan “udah terlanjur jauh”, terpaksa saya tahan rasa lelah dan haus ini dan melanjutkan perjalanan demi bertemu si Merak Hijau, sementara jalan trans-savanna masih sangat panjang sebelum akhirnya mencapai tempat yang lumayan “adem”.

Savanna tanpa Akua!!!

Di tengah perjalanan terdengar seruan “Merak!” dari dua orang di depan. Rupanya mas Dlohak dan mas Willy dari BIONIC. Saya yang sedang beristirahat di bawah bayangan pohon kecil segera bangkit dan berlari, kemudian berhenti dan mulai mengendap-endap di tengah rumput savanna yang mengering. Dan.. itu dia Merak Hijau alias Green Peafowl yang selama ini saya cari-cari! Akhirnya, setelah beberapa lama saya berhasil melihat burungc antik ini di alam liar. Burung ini berjarak sekitar 20 meter dari tempats aya berdiri, kemudian saya mengendap-endap sendirian hingga jaraknya kurang dari 10 meter. Terlihat 1 ekor Merak jantan yang berbulu indah terbuai dihempas angin. Cantik! Akhirnya saya pun mundur dan menbiarkan si merak ini berjalan sunyi menuju rerimbunan perdu. Wow!

Merak Hijau, akhirnya kutemukan kau!

Selanjutnya saya segera mengejar mas Dlohak dan mas Willy yang segera meninggalkan lokasi. serta merta saya minta air dan alhamdulillah dikasih. Ah.. leganya!!! Sekarang kami berniat untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai Bama dengan melewati hutan musim yang sudah terlihat jelas di depan.

Ketika memasuki perubahan vegetasi, terlihat seekor Raptor bertubuh sedang sedang terbang hovering di dekat kami. Pertama saya meremehkannya dan menganggapnya sebagai Alap-alap Sapi, tapi setelah saya melihat ukurannya dan warna dominannya yang putih, saya mulai curiga dengan raptor ini. Setelahs ekian lama menatap dsia dengan penuh kecurigaan, saya mengenalinya sebagai Elang Tikus (Elanus caeraleus/Black-winged Kite) dengan dominasi warna putih dan ujung sayap membulat berwarna hitam.

Teru berjalan ke dalam hutan musim, terlihat Perenjak Jawa dan Gelatik-batu Kelabu (Parus major/Great Tit) yang sedang bermain-main di rumput dans emak perdu. Berbeda dengan namanya, burung inis ama sekali tidak  memiliki hubungan dekat dengan burung Gelatik (Padda sp./Sparrow) kecuali mereka sama-sama berada dalam ordo passeriformes. Mungkin karena corak pipinya yang mirip dengan corak pipi Gelatik Jawa (Padda oryzivora/Javan Sparrow) jadi masyarakat mencap dia sebagai jenis Gelatik.

Tiba-tiba terlihat seekor Ayamhutan Hijau (Gallus varius/Green Junglefowl) yang sedang menyebrang jalan di kejauhan (jadi ingat pertanyaan “kenapa ayam menyebrang jalan?). Ketika saya memberitahu kedua teman seperjalanan saya, mas Dlohak langsung memasang binokular di muka sementara mas Willy memandang ke arah samping.

Ayamhutan deket banget!!

“Dimana Nji?”, kata mas Dlohak.

“Itu di kejauhan”, jawab saya.

“Ngapain jauh-jauh, itu disamping ada!”, kata mas Willy. Saya menengok, dan…

“ASSSS***!!!” (Brrr…. 200 ekor tekukur dan dederuk berterbangan mendengar kata keramat itu)

Gila! seekor Ayamhutan Hijau jantan tepat disamping saya!. Serta merta saya ambil Hp dan memotertnya dengan teknik digiscoping. Memang hasilnya kurang bagus, tapi setidaknya ada bukti kalau disini memang surganya burung. Di dekat Ayamhutan tersebut, beberapa ekor betina bersembunyi di semak-semak, tidak seperti jantannya yang masih melenggang dengan santai. “Who care? It`s not youre buisness”, kira-kira seperti itulah kata si Ayamhutan. Selepas kejadian tersebut, kami terus saja melihat Ayamhutan yang berseliweran di pinggir jalan seperti layaknya Ayam kampung di perkarangan rumah.

“Ass***!!! As**!! As*!!!” (Brr…Brr…..Brrr….)

Mulai merasa dibohongi oleh pasir pantai

Akhirnya kami sampai di pertigaan menuju pantai Bama. Karena nggak ada satupun dari kita yang pernah kesini, kami terkecoh dengan jalan kecil dengan pasir pantai sebagai dasarnya. Akhirnya kami ikuti jalan ini (yang nggak tahunya adalah jalan memutar menuju pantai Bama, lebih jauh dari jalan satunya yang tidak kami pilih! Sial!). Disini saya mengakui daya ketelitian mata mas Willy yang dengan mudah menemukan Takur Ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala/Coppersmith Barbet) yang bertengger di atas tajuk yang rimbun. Selain itu kami bertemu juga dengan Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus/Small Minivet) yang terbang bergerombol bersuara “Swiit..swiit..”. Memasuki tempat yang agak terbuka, mas Willy berteriak lagi, “itu!! itu!! merak!! asli merak cuz  gede banget!!!”. Walhasil kamipun berjalan cepat agak mengendap-endap demi mengejar Merak itu.

“Kamu lihat ke kiri.. aku ke kanan”, begitu kata Mas Willy. Kita sih percaya saja karena kita sudah tahu kemampuan mata mas Willy, namun..

“Itu tuh yang gedhe banget?” kata mas Dlohak.

“Iya.. eh tapi…”

“ITU KAN LUTUNG!!!!!”

Ternyata “merak” yang dibilang mas Willy adalah seekor LUTUNG JAWA!!!. Ya, jauh amat sih dari Merak Hijau menjadi Lutung Jawa (Trachippitechus auratus/Ebony Langur)????. Ternyata ketelitian mata tidak menjamin segalanya, haha.

Peta yang menganjurkan kita mengambil jalan sesat

Akhirnya kami menyerah dan kembali ke jalan yang benar. Disini kami bertemu dengan rombongan KP3 Forestry UGM yang ikut “tersesat” di jalan yang sesat ini. Mas Faqih yang menjadi ketua rombongan bahkan rela mblasak-blusuk ke semak-semak karena mengira suara daun palem yang bergesekans ebagai suara laut! Hahaahahaha. Akhirnya kamipun memutuskan untuk pulang.

Begitu mendekati jalan besar, kami menyusun rencana untuk “mencegat” mobil yang lewat untuk ditumpangi sampai ke Bekol, mengingat jarak yang cukup jauh dan tenaga dan waktu yang sudah habis, sementara kami juga melihat beberapa mobil turis yang menuju Bama saat kami menuju ke hutan musim.  Nah, kebetulan! begitu sampai di jalan besar terlihatlah mobil pick-up Mitsubishi Strada dengan tulisan “Manggala Agni” (Satuan anti kebakaran hutan) yang menuju ke arah kami. Serta merta kami hentikan dia dan… alhamdulillah dia berhenti. Ruapanya mobil ini digunakan untuk mengangkut kasur yang ada di villa pantai Bama untuk tidur panitia (huu… curang..). Dan si bapak yang menyetir pun mengijinkan kami untuk naik!!

Truk yang rela mengantar kita kembali (perhatikan Truknya, bukan orang yang berpose di depannya)

Sepanjang perjalanan, mas Faqih menjadi komandan yang memberi aba-aba untuk menunduk apabila ada dahan rendah yang bisa membentur kepala kami (sama seperti disaat kita berangkat dari Batangan menuju Bekol). Selain itu, dia juga memberi aba-aba bila bertemu rombongan lain sehingga kami bisa memberi kata “selamat capek” kepada mereka, heheh. yupz, begitu ada rombongan lain, kami semua lantas melambaikan tangan dan tersenyum sekaligus mengingatkan “udah sore, balik saja!” sementara mereka hanya bisa tertawa dan menunjuk-nunjuk seakan ingin berkata “sialan….”.

Sesampainya di Camping ground, kami langsung turun dan menunggu makan malam disajikan (dan saya ada di barisan depan lagi!!), setelah itu dilanjutkan acara selanjutnya yaitu pembacaan tata tertib dan penjelasan mengenai lomba besok. Sementara itu, kami juga berkenalan dengan Leon dan Ronald, kawan SMP dari Timika. Ada juga tim yang mengambil kesempatan untuk berjualan kaos buatannya dengan kata-kata yang agak “lebay”.

“Silahkan dipilih mas… buat ongkos pulang..” (What the…??)

Setelah itu saatnya tidur. Tapis ebelum itu, diadakan rapat tertutup antara saya, mas jarot dan Bintang. Bintang yang ternyata berbalik arah menuju Evergreen (hutan anomali yang hijau sepanjang tahun) berpendapat lebih baik kita pergi ke Evergreen pada paginya lalu menembus savanna di siang hari bolong menuju Bama. Kamipun setuju karena bila kami menuju Evergreen (entah kenapa saya suka sekali istilah ini) pencahayaannya kurang tepat dan akan membuat burung-burung terihat siluet. Sip.. saatnya tidur!!!!

Bersambung ke Baluran-Britama Birdrace 2010: Kok jadi balapan beneran???

3 thoughts on “Baluran-Britama Birdrace 2010: Merak atau Lutung???

  1. Ping-balik: Baluran-Britama BirdRace 2010: Sri Tanjung… Kopi.. Nasi… « Lonely Little Peregrine..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s