Elang, dan beberapa jenisnya di Pulau Jawa

 

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Elang merupakan kata yang paling umum digunakan untuk menyebut jenis-jenis burung pemangsa (Birds of Prey atau Raptor), padahal sejatinya tidaks emua burung pemangsa disebut Elang. Elang hanyalah salah satu kata yang mewakili semua jensi raptor dari keluargaAcciptridae. sayangnya bahasa Indonesia tidak memilki klasifikasi yang tepat mengenai hal ini. Bahkan di dalam KBI, kata “Elang” diartikan sebagai semua jenis burung berparuhd an berkuku tajam, berbeda dengan bahasa Inggris yang mengklasifikasikannya dalam berbagai nama.

 

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Sekarang, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu Raptor. Raptor atau Birds of Prey pada dasarnya mewakili semua jensi burung pemangsa seperti Elang, alap-alap, dan Burung hantu. Secara ilmiah, raptor terbagi menjadi 2 ordo yakni Falconiformes (Elang, elang-alap, alap-alap, Sikep, Baza dll) dan Strygiformes (Burung Hantu, celepuk dan Serak).

Sekarang kita hanya akan membahas 1 ordo, yakni Falconiformes yang terdiri dari semua raptor diurnal, kecuali bila alap-alap disendirikan dalam ordo falconiformes. Didalam ordo ini, terdapat beberapa keluarga, lain Mazhab lain versi. Tapi kalau saya sendiri lebih suka mengiktui mazhab dimana terdapat 4 keluarga di dalam ordo ini, yakni Acciptridae (Elang, Baza, Elang-alap, Nazar dan Sikep), Falconidae (Alap-alap), Saggitaridae (burung sekretaris) dan Pandionidae (Elang Tiram) . Ada juga ilmuwan yang membaginya ke dalam 3 ordo, dimana family Falconiformes( Alap-alap) disendirikan dalam ordo Falconiformes sementara keluarga Acciptridae dipisahkan dalam ordo Acciptriformes. Mau pakai yang mana? Terserah..Tapi kalau di Asia lebih suka memakai Ordo Falconidae yang terdiri dari Acciptridae dan Falconidae, sementara Pandionidae tergabung dalam Acciptridae.

Family Acciptridae dalam bahasa inggris dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan ukuran tubuh serta cara terbangnya, seperti Eagle, Hawk, dan Kite. Eagle (Elang) memilki ukuran tubjuh yang besar, lebih dari 60 cm seperti Elang Hitam (Ictinaetus malayensis/Indiana Black Eagle). Hawk (Elang-alap) memilki ukran tubuh kecil di bawah 50 cm, seperti Elang-alap Cina (Accipiter soloensis/Chinese Goshawk). Sementara itu ada juga Baza, ukurannya hampir sama dengan Hawk tapi memiliki perilaku yang lebih unik, kepala yang lebih seperti ayam (kecil) serta jambul khas-nya di atas kepala. Buzzard (Sikep) memilki ukuran tubuh kurang lebih sama dengan Eagle, namun kepalanya kecil dan lehernya panjang mirip burung dara. Yang terakhir adalah Kite (dalam bahasa Indonesia juga disebut “elang”) yang memilki perilaku terbang yang unik, yakni Hovering flight (terbang diam di satu titik).

Family Falconidae dalam bahasa Inggris juga dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan ukuran, seperti Falcon, Kestrel dan Hobby. Falcon berukuran besar, kuat dan kekar seperti Peregrine Falcon (Falco peregrinus/Alap-alap kawah) dan Gyr Falcon. Kestrel Berukuran kecil (sekitar 30cm) dan memilki kemampuan Hovering Flight seperti Alap-alap sapi (Falco molluccensis/Spotted Kestrel). Hobby mirip dengan Kestrel kecuali sayapnya yang lebih tajam di ujungnya, seperti Alap-alap Macan (Falco severus/Oriental Hobby). Terakhir adalah falconet, yakni alap-alap berukuran mini (15 cm) yang merupakan burung pemansga terkecil di dunia, seperti alap-alap capung (Microhyreax fringilarrius/Black-tighed Falconet). Sayangnya dalam bahasa Indonesia tidak ada perbedaan antara semua burung ini.

Beberapa contoh jenis elang dan saudaranya yang ada di Pulau Jawa dan sekitarnya adalah:

Acciptriformes

1. Elang Hitam (Ictinaetus malayensis/Indiana Black Eagle) Temnick, 1822

 

Foto by: Hendry Mono (Mas Mono)

Burung berukuran sedang (70cm), namun tampak besar ketika terbang. Cukup dominan dalam hal bertarung sehingga memiliki survival rate yang cukup tinggi. Tersebar di ketinggian 300-2000mdpl. Cukup umum dijumpai di hutan primer hingga perkebunan, terkadang suka nyelonong masuk ke desa pinggir hutan. Sesuai namanya, elang ini berwarna hitam kelam kecuali pada individu muda yang memiliki corak menyerupai Elang Brontok.

Field Mark:

Sayap yang menjari khas, kokoh dan lebar membentang, terlihat sangat besar dengan ekor yang panjang. Dewasa: Warna bulu hitam pekat, kecuali pada ekor yang memilki corak agak kecoklatan. Remaja: Dada bercorak garis seperti Elang Brontok fase terang. Sera kuning, kaki kuning, jari kelingking pendek tidak proporsional.

Kebiasaan:

Terbang soaring atau gliding sambil terkadang mengeluarkan suara seperti Elang-ular Bido. Cukup aktif di pagi sampai siang hari. Terkadang terbang rendah di atas tajuk mencari mangsa berupa tikus, kadal, tupai, ayam, burung kecil dan hewan-hewan kecil lainnya.

Status:

Jomblo Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix II CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

2. Elang-ular Bido (Spilornis cheela/Crested Sherpent-eagle) Latham, 1790

 

Foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

 

Burung berukuran sedang (50-60cm), berisik dan sangat mudah dijumpai di semua ketinggian. Jenis burung yang adaptif, bisa ditemui di berbagai macam habitat mulai dari hutan primer, hutan skunder, perkebunan, hutan pantai, savanna dan terkadang sampai di perkampungan penduduk. Walaupun namanya Elang-ular, tapi tidak selalu memakan ular.

Field Mark:

Sayap yang membusur membentuk huruf “C”, membulat dan memilki garis tebal berwarna putih di tepi sayap. Ekor pendek terkadang mengipas. Bagian mata tidak berbulu berwarna kuning. Warna bulu dominan coklat tua hingga hitam, tutul-tutul putih di dada dan perut.

Kebiasaan:

Terbang soaring atau gliding di ketinggian atau terbang gerilya diantara tajuk untuk berburu. Sangat suka bersuara, ribut dengan siulan “Kli-kliuw” atau “kliiw”. Memangsa ular, tikus, kadal, bajing dan hewan-hewan kecil lainnya.

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Status:

Jomblo Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix II CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

3. Elang Jawa (Spizaetus bartelsii/Javan Hawk-eagle), Stresemann, 1924

Nggak tau gambar-nya siapa

Burung berukuran sedang (60cm), sangat terkenal akan kelangkaannya. Pada masa orde baru dijadikan sebagai lambang negara Indonesia. Terlihat tampan dan gagah namun sebenarnya pengecut dan sangat mudah dikalahkan oleh elang jenis lain. Menempati hutan primer dan hutan skunder paa ketinggian 300mdpl. Sesuai namanya, endemik di Jawa.

Banyak orang mengira bahwa burung Garuda adalah spesies burung tersendiri. Sebenarnya, Elang jawa adalah si garuda itu sendiri. Dengan kata lain, Garuda, lambang negara yang kita bangga-banggakan selama ini adalah sejenis Elang bernama Elang jawa.

 

Field Mark:

Sayap membulat dan menekuk sedikit ke atas ketika soaring. Kepala tidak terlalu kecil, proporsional dengan ekornya yang agak lebih panjang dari Elang brontok. Jambul khas di kepalanya terlihat saat hinggap. Warna dominan coklat merah, dada berwarna putih bercoret melintang pada burung dewasa dan  cokelat polos pada burung muda.

Foto by: Adhy Maruly (Mas Batak)

Kebiasaan:

Terbang soaring atau gliding di atas tajuk utnuk berburu. Sangat jarang bersuara, sangat pendiam dan anggun ketika terbang. Memangsa tikus, kadal, tupai, bajing, ayamhutan dan hewan-hewan kecil lainnya.

Status:

menikah Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix I CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

Catatan:

Beberapa ahli sering menyebutnya Nizaetus bartelsii.

4. Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus/Changeable Hawk-eagle), Gmelin, 1788

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss) fase terang terbang

Burung berukurans edang (60cm), sangat mirip dengan Elang jawa. Sesuai namanya, memilki dua fase yakni fase gelap dan fase terang. Lebih tersebar luas dari saudaranya dan menempati habitat yang lebih beraneka-ragam. Memilki banyak ras dan banyak bentuk, ada yang berjambul, ada yang tidak.

Ada yang bilang nama virus brontok terisnpirasi dari nama burung ini.

Field Mark:

Sayap membulat dan menekuk sedikit ke atas, mirip dengan saudaranya Elang Jawa. Bedanya, ekor yang agak lebih pendek, dua spot terang di sayap serta garis vertikal di bagian dada pada fase terang.

Fase terang: Bagian bawah putih bercorak vertikal hitam mirip Elang hitam muda dan Elang Jawa. Bagian atas coklat pucat.

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss) fase gelap hinggap

Fase peralihan: Bagian bawah keabu-abuan, bagian atas sama dengan fase terang.

Fase gelap: Berwarna hitam pekat mirip Elang Hitam dewasa, tapi tidak memiliki warna kuning di paruhnya.

Kebiasaan: Sama dengan Elang Jawa. Terkadang bersuara mirip Elang Ular-bido.

Status:

menikah Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix I CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

Catatan:

Beberapa ahli memasukkannya dalam genus Nizaetus, ada juga yang menyendirikan ras S. cirrhatus limnaetus menjadi ras tersendiri.

5. Elang-laut Perut-putih (Halieestus leucogaster/White-bellied sea Eagle) Gmelin, 1788

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Elang yang sangat spektakuler, berukuran sangat besar (70-85 cm).  Dengan ukurannya bisa dibilang sebagai raja lautan. Tersebar di pesisir pantai dan terkadang masuk ke hutan dataran rendah. Ada catatan hidup di dataran tinggi.

Field Mark:

Ukuran yang sangat besar, sayap kokoh panjang dan lebar, kepala panjang serta ekor sangat pendek membentuk baji. Warna dominan putih, sayap membentuk pola hitam bagian atas dan hitam-putih di bagian bawah. Juvenile: warna putih digantikan warna coklat agak pucat.

Kebiasan:

Terbang rendah di atas air lalu menyambar mangsanya, berupa ikan atau terkadang burung lain. Bersura nyaring “ah..ah””

Status:

Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix I CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

6. Elang Tiram (Pandion halieestus/Osprey) Linneus, 1758.

 

Foto by: Kulashekara C. S.

Burung berukuran sedang (60cm). Tidak termasuk dalam family acciptridae, tapi dipisahkan dalam family tersendiri yaitu Pandinidae. Sayangnya dalam Bahasa Indonesia namanya tetap disebut “Elang”.  Tersebar di pesisir pantai.

Field Mark:

Warna hitam-putih yang mencolok, topeng berwarna hitam serta bentuk sayap yang khas, panjang dan agak meruncing.

 

Foto by: Remo Kohrimpoh

Kebiasaan:

Terbang menangkap mangsa di air atau di udara. Suka bertengger di tiang-tiang dermaga atau di atas kapal.

Status:

Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix II CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

7. Elang-ular Jari-pendek (Circaetus gallicus/Short-toed Snake-eagle) Gmelin, 1788

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Berukuran besar (65 cm), kekar dan pucat.  Dalam Buku “Panduan Lapangan: Burung di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali” oleh McKinnon dijelaskan burung ini adalah pengunjung musim dingin yang langka, sangat jarang terlihat. Pertemuan terbanyak ada di TN. Baluran di Situbondo, Jawa Timur.

Field Mark:

Tubuh kekar, bagian atas coklat keabu-abuan, bagian bawah putih dengan coretan gelap, tenggorokan dan dada coklat. Terdapat garis-garis melintang yang samar pada perut dan empat garis melintang yang samar pada ekor. Remaja berwarna lebih pucat dari dewasa. Pada waktu terbang, sayap terlihat lebar dan panjang, dengan garis panjang mencolok pada penutup sayap dan bulu terbang.
Iris kuning, paruh hitam dengan sera abu-abu, kaki kehijauan.

Kebiasaan:

Menghuni pinggir hutan dan semak sekunder. Terbang melingkar dan meluncur dengan sayap yang cibentangkan lurus dan datar. Seperti alap-alap raksasa, sering melayang-layang diam sambil mengepakkan sayapnya.

8. Elang Tikus (Elanus caeraleus/Black-winged Kite) Desfontaines, 1789

 

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Berukuran sedang (30-45cm) dengan cara terbang yang unik. Sekilas mirip dengan alap-alap, namun sayapnya lebih membulatd an warna matanya yang terang. Tersebar di dataran rendah dan perbukitan hingga ketinggian 2000mdpl. Termasuk dalam golongan “kite” yang berarti suka melakukan terbang hovering yang jarang bisa dilakukan oleh jenis lainnya.

Field Mark:

Memiliki bercak hitam pada bahu, bulu primer hitam panjang khas. Dewasa: warna mahkota, punggung, sayap pelindung, dan bagian pangkal ekor abu-abu; muka, leher, dan bagian bawah putih. Remaja: bercorak warna coklat. Pada saat mencari mangsa, suka melayang-layang diam sambil mengepak-ngepakkan sayap. iris merah, paruh hitam dengan sera kuning, serta kaki kuning.
Iris merah, paruh hitam dengan sera kuning, kaki kuning

Kebiasaan:

Bertengger pada pohon mati atau tiang telepon. Melayang-layang di atas mangsanya seperti diuraikan di atas. Suka berburu di daerah yang kering terbuka dengan pohon yang terpencar-pencar. Memangsa Belalalng, ular, tikus atau burung yang masih muda.

Status:

Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix II CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

9.Elang Bondol (Haliastur indus/Brahminy Kite)  Boddaert, 1783

Foto by: Mike Ciang

Berukuran sedang (45cm). Cukup terkenals ebagai maskot kota Jakarta, walaupun populasinya sangat mengenaskan di kotanya. Anda bisa mengenalinya dengan melihat logo busway. Sekilas mirip dengan Elang Botak dari Amerika, tapi ukurannya jelas jauh lebih kecil. Termasuk dalam golongan “Kite” yang berarti memilki keahlian terbang hovering yang jarang dimilki jenis lainnya.

Field Mark:

Berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Dewasa: kepala, leher, dan dada putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh renaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu.
Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram.

Foto by: Mike Ciang

Kebiasaan:

Biasanya sendirian, tetapi di daerah yang makanannya melimpah dapat membentuk kelompok sampai 35 individu. Ketika berada di sekitar sarang, sesekali memperlihatkan perilaku terbang naik dengan cepat diselingi gerakan menggantung di udara, kemudian menukik tajam dengan sayap terlipat dan dilakukan secara berulang-ulang. Terbang rendah di atas permukaan air untuk berburu makanan, tetapi terkadang juga menunggu mangsa sambil bertengger di pohon dekat perairan, dan sesekali terlihat berjalan di permukaan tanah mencari semut dan rayap. Menyerang burung camar, dara laut, burung air besar, dan burung pemangsa lain yang lebih kecil untuk mencuri makanan.
Makanannya sangat bervariasi. Di perairan diantaranya memakan kepiting, udang, dan ikan; juga memakan sampah dan ikan sisa tangkapan nelayan. Di daratan memangsa burung, anak ayam, serangga, dan mamalia kecil.

Status:

Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix II CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

10. Elang-alap Cina (Accipiter soloensis/Chinese Goshawk) Horsfield, 1821

Foto by: Chien-te Wang

Burung pemangsa ukuran sedang (33cm) dan merupakan pengunjung tetap di pulau jawa. Cukup sering berkumpul bersama Elang-alap Jepang pada saat migrasi. Cukup mudah dibedakan dari saudaranya.

Field Mark:

Warna dewasa, tubuh bagian atas abu-abu biru dengan ujung putih yang jarang pada bulu punggung dan garis-garis melintang samar pada bulu ekor terluar. Tubuh bagian bawah putih terdapat sapuan merah karat yang samar pada dada dan sisi tubuh dengan sedikit garis abu-abu pada paha. Sayap bawahnya sangat khas seluruhnya terlihat putih kecuali ujung bulu primer yang hitam. Remaja tubuh bagian atas coklat, tubuh bagian bawah putih terdapat garis-garis gelap pada ekor, coretan pada tenggorokan serta garis-garis pada dada dan paha.
Paruh abu-abu dengan ujung hitam , sera dan kaki jingga, iris merah atau coklat.

 

Kebiasaan:

Mengunjungi daerah terbuka sampai pada ketinggian 900 mdpl pada musim dingin di seluruh Sunda Besar. Setiap Oktober melewati Puncak (Bogor) dan Bali Barat dalam jumlah besar. Biasanya berburu di tenggeran, tetapi kadang-kadang terbang melingkar di atas, dan menerkam mangsanya dari tanah.

Foto by: Wengchun

11. Elang-alap Jepang (Accipiter gularis/Japanese Sparrowhawk) Temminck & Schlegel, 1844

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Raptor migrant dari belahan Bumi utara, bertamu ke Indonesia bulan September-Desember. Burung yang cukup atraktif, lebih gesit dan lebih lincah dari 2 saudara kembarnya Elang-alap besra dan Elang-alap Jambul. Ukurannya juga paling kecil (27 cm) dibandingkan 2 saudaranya. Sering juga disebut Elang-alap Nippon.

Field Mark:

Jantan dewasa: tubuh bagian atas abu-abu, ekor abu-abu dengan beberapa garis melingkar gelap, dada dan perut merah karat pucat dengan setrip hitam sangat tipis di tengah dagu, setrip kumis tidak jelas. Betina: tubuh bagian atas coklat (bukan abu-abu), bagian bawah tanpa warna karat, bergaris-garis cokalt melintang rapat. Dada remaja: lebih banyak coretan daripada garis-garis melintang dan lebih merah karat.
Iris kuning sampai merah, paruh biru abu-abu dengan ujung hitam, sera dan kaki kuning-hijau.

Kebiasaan:

Berburu di sepanjang pinggir hutan, di atas hutan sekunder, dan daerah terbuka. Biasanya berburu dari tenggeran di pohon, tetapi kadang-kadang terbang berputar-putar untuk mengamati tanah di bawahnya dengan cara terbang “kepak-kepak-luncur” yang khas. Menyerang dengan agresif pendatang yang mendekati sarang.

12. Elang-alap Besra (Accipiter virgatus/Besra) Temminck, 1822

Foto by: Michele and Peter Wrong

Burung berukuran sedang, sangat mirip dengan Elang-alap Jepang kecuali ukurannya yang lebih besar. Berbeda dengan saudaranya, Elang-alap Besra adalah reptor penetap yang jarang dijumpai di Pulau Jawa.

Field Mark:

Berukuran sedang (33 cm) mirip Elang Alap Jambul tetapi lebih kecil dan tanpa jambul. Warna jantan dewasa, tubuh bagian atas abu-abu gelap dengan ekor bergaris tebal, tubuh bagian bawah putih dengan garis melintang coklat dan sisi tubuh merah karat, tenggorakan putih dengan strip hitam di tengah, strip kumis hitam.

Kebiasaan:

Duduk tenang di hutan menunggu mangsanya. Sering terlihat bertengger di pohon mati yang tinggi di hutan. Terbang mengitari teretori secara reguler.

13. Elang-alap Jambul (Accipiter trivirgatus/Crested Goshawk) Temminck, 1824

 

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Burung ketiga yang kembar dengan Elang-alap Besra dan Elang-alap Jepang. Ukurannya paling besar  diantara 2 saudaranya (40cm), selain itu dia juga berjambul yang terlihat ketika bertengger.

Field Mark:

Tubuh tegap dengan jambul yang jelas. Jantan dewasa : tubuh bagian atas coklat abu-abu dengan garis-garis pada sayap dan ekor, tubuh bagian bawah merah karat, dada bercoretan hitam, ada garis-garis tebal hitam melintang pada perut dan paha yang putih. Lehernya putih dengan setrip hitam menurun ke arah tenggorokan dan ada dua setrip kumis.Remaja dan betina : seperti jantan dewasa, tetapi coretan dan garis-garis melintang pada tubuh bagian bawah berwarna coklat serta tubuh bagian atas coklat lebih pucat.

 

Foto by: Mohanram Kempajaru

Kebiasaan:

Berburu di tenggeran yang rendah di laut. Selalu tinggal di hutan lebat. Pada waktu berbiak kadang-kadang memperlihatkan cara terbang yang khas, yaitu getaran sayap (bulu putih pada sisi tubuhnya terlihat jelas) berselang dengan luncuran pendek dalam lingkaran yang sempit.

14. Elang-ikan Kepala Abu (Ichthyophaga ichthyaetus/Grey-headed Fish Eagle) Horsefield, 1821

Foto by: Sumit K Sen

Berukuran besar (70 cm), jarang terlihat. Di Jawa hanya tersebar di kawasan Jawa Barat, pernah tercatat di Jawa Timur tapi belum ada catatan baru.

Field Mark:

Sayap membulat, berbeda dengan Elang-laut Perut-putih yang kokoh. Berwarna abu-abu, coklat, dan putih. Dewasa: kepala dan leher abu-abu, dada coklat; sayap dan punggung coklat gelap; perut, paha, dan pangkal ekor putih; ujung ekor bergaris lebar hitam. Remaja: bagian atas coklat kekuningan, bagian bawah bercoret coklat dan putih; ekor coklat mengkilap dengan ujung bergaris hitam. Ekor pendek.
Iris coklat sampai kuning, paruh dan sera abu-abu, tungkai tanpa bulu, dan kaki putih sampai kuning.

 

Foto by: John and Jemy Helms

Kebiasaan:

Sering mengunjungi daerah perairan, sungai danau, dan paya di hutan dataran rendah. Menukik menerkam ikan ketika terbang atau dari posisi bertengger di pohon. Jarang terbang melayang-layang.

15. Elang Perut-karat (Hieraaetus kienerii/ Rufous-bellied Eagle) Geoggroy Saint Hilaire, 1835

 

Foto By: Rajnesh Suvarna

Berukuran agak kecil, tersebar di hutan pegunungan. Jarang terlihat di Pulau Jawa, namun penghuni tetap sampai ketinggian 1500 mdpl. Jambulnya cukup unik ya?

Foto By: Kiran Poonacha

Field Mark:

Berwarna coklat kemerahan, hitam, dan putih, dengan jambul pendek. Dewasa: mahkota, pipi, dan tubuh bagian bawah kehitaman; ekor coklat dengan garis hitam tebal dan ujung putih. Dagu, tenggorokan, dan dada putih bercoret hitam; sisi tubuh, perut, paha, dan bagian bawah ekor coklat kemerahan dengan coretan hitam perut. Pada waktu terbang terlihat bercak bulat yang pucat pada pangkal bulu primer. Remaja: tubuh bagian atas coklat kehitaman dengan bercak kehitaman pada mata. Alis dan tubuh bagian bawah keputih-putihan.
Iris merah, paruh kehitaman, sera dan kaki kuning.

Kebiasaan:

Mendiami kawasan hutan di pinggir hutan, terlihat berputar-putar atau meluncur rendah di atas pohon. Terbang mengitari teretori, menyerang secara cepat mangsa di permukaan tanah atau di tajuk pohon, mirip dengan Peregrine Falcon.

16. Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus/Oriental Honey Buzzard) Temnick, 1821

 

Foto by: Adhy Maruly (mas Batak)

Si burung lucu dari bumi belahan utara. mengunjungi Indonesia pada bulan September-Desember, namaun ada juga catatan ras penetap di Pulau Jawa. Berukuran sedang (60cm) dengan kepala yang kecil da panjang, ciri khas Buzzard. Sering terjadi konflik antara burung ini dengan elang-elang penetap seperti Elang Hitam.

Field Mark:

Kepala kecil dan panjang, ekor sering membentuk kipas. Berwarna hitam dengan jambul kecil. Warna sangat bervariasi dalam bentuk terang, normal, dan gelap dari dua ras yang berbeda yang masing-masing meniru jenis elang berbeda dalam pola warna bulu. Terdapat garis-garis yang tidak teratur pada ekor. Semua bentuk mempunyai tnggorokan berbercak pucat kontras, dibatasi oleh garis tebal hitam,sering dengan garis hitam mesial. Ciri khas ketika terbang: kepala relatif kecil, leher agak panjang menyempit, ekor berpola.
Iris jingga, paruh abu-abu, kaki kuning, bulu berbentuk sisik (terlihat jelas pada jarak dekat).

Kebiasaan:

Sering mengunjungi hutan pegunungan. Ciri sewaktu terbang adalah beberapa kepakan dalam yang diikuti luncuran panjang. Melayang tinggi di udara dengan sayap datar. Mempunyai kebiasaan aneh yaitu merampas sarang tawon dan lebah sesuai namanya. Dia juga sering memakan serangga.

 

 

Falconiformes

1. Alap-alap Kawah (Falco peregrinus/Peregrine Falcon) Tunstall, 1711

Foto By: Imam Taufiqurahman (Mas Imam)

Burung berukuran besar (45 cm), cantik, anggun dan menawan sehingga menjadi lambang blog ini. Burung tercepat di dunia, menukik menangkap dari ketingian sehingga disebut raja angkasa atau spesialis “fly-attack”. Kemunculannya sangat tak terduga dan yang paling dinanti oleh para birdwatcher, karena bisa muncul dimana-mana, seperti di perkotaan sampai di tengah hutan. Salah-satu contoh pos perjumpaannya yang paling sering adalah di Jl. Malioboro, Yogyakarta.

Di Indonesia ada 1 ras penetap (F. peregrinus ernesti) dan 1 ras pengunjung musim dingin (F. peregrinus calidus).

 

Field Mark:

Sayap panjang meruncing dan melebar pada pangkalnya, lebih tumpul dibandingkan Alap-alap lain.  Bertubuh kekar dan besar. Topeng khas di muka, pada ras ernestii berwarna biru tebal dan pada ras calidus berwarna biru pucat. Ras ernesti memiliki garis-garis samar di dada.

Foto by: Igor Karyakin

Kebiasaan:

Terbang melingkar di ketinggian atau terbang cepat, melintas secara tiba-tiba dan hilang dengan cepat, kecuali bila andasedang beruntung melihatnnya soaring santai di udara. Menukik dariketinggian, menubruk mangsa dengan kecepatan yang luar biasa. Suka berburu pada petang hari, menyambar kelelawar, burung Layang-layang atau merpati. Seperti yang disebutkan diatas, dia spesialis terbang.

2. Alap-alap Sapi (Falco moluccensis/Spotted Kestrel) Bonaparte, 1850

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Burung berukuran kecil (30 cm). Cukup cantik dan sedikit mengesalkan karena sangat sensitif. memiliki perilaku yang unik, yakni terbang diam di udara (Hovering) lalu mengejar mangsanya dengan berlari di tanah. Burung kosmopolis, bisa ditemui bahkan di tengah kota seperti di Monas, Jakarta.

 

Foto by: Swiss Winnasis (Mas Swiss)

 

Field Mark:

Sayap runcing dan khas, ekor panjang bergaris-garis. Warna dominan coklat berpola hitam. Ekor biru-keabu-abuan bergaris hitam.

Kebiasaan:

Mengunjungi daerah terbuka dengan rumput yang tinggi  seperti savanna atau padang rumput. Suka terbang diam di satu titik sebelum kemudian menukik mendekati mangsa lalu berlari mengejar mangsanya di tanah. Mangsa berupa tikus, kadal, kelelawar kecil dan burung-burung kecil.

3. Alap-alap Macan (Falco severus/Oriental Hobby)

Foto by: Ramki Sreenivasan

Burung berukuran kecil (25 cm), bertempat tinggal di hutan perkebunan dan hutan dataran rendah. Sangat sulit dijumpai. Cantik dan anggun menawan.

Foto by: Rajnesh Suvarna

Field Mark:

Sayap panjang sangat lancip, jauh lebih lancip dari Alap-alap lain. Warna dada merah karat, warna bagian atas hitam.

 

Kebiasaan:

Lebih lincah dari alap-alap sapi, berburu di atas tajuk pohon. Lebih suka bertengger di pohon daripada batu cadas. Memangsa serangga, tikus, kadal dan burung-burung kecil.

4.Alap-alap Capung (Microhierax fringilarrius/Black-tighed Falconet)

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Burung berukuran sangat kecil (15 cm),  merupakan burung pemangsa terkecil di dunia. Sudah cukup jarang ditemui di pulau Jawa. Burung yang sangat berani yang mampu menyerang burung-burung yang ukurannya sama ataus edikit lebih besar sebagai mangsa.

Field Mark:

Ukurannya yang kecil sudah cukup membantu. Dahi putih, dada berwarna karat, mahkota hitam, strip mata hitam dengan pipi putih.

Kebiasaan:

Menangkap mangsa dengan brutal dari tempat bertengger . Memangsa capung, serangga, burung lain yang seukuran atau sedikit lebih besar.

Bacaan lebih lanjut:

Situs Resmi Raptor Indonesia

Situs Foto Biodiversitas Indonesia

Situs Foto Oriental Bird Images

Blog Swiss Winnasis: Baluran and Me

Foto:

http://pratapapa81.wordpress.com

http://www.fobi.web.id

http://www.raptorindonesia.org

http://www.orientalbirdimages.org

Sumber:

Buku Burung Baluran oleh Swiss Winnasis

Panduan Lapangan:Burung-burung di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali oleh Mc. Kinnon dkk.

http://burungpemangsa.blogspot.com

http://pratapapa81.wordpress.com

http://raptorindonesia.org

http://www.bio.undip.ac.id

http://www.fobi.web.id

http://www.burung-nusantara.org

 

Birdwatching Saat Puasa? Siapa Takut?

Berkali-kali saya lakukan kegiatan gila ini. Pertama dan kedua, waktu monitoring sarang Elang Jawa lagi gencar-gencarnya, dan ketiga, waktu pengamatan bareng Jakarta Birder di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta. Semuanya terjadi di bulan Ramadhan tahun 2009 yang lalu.

Kebayang kan gimana rasanya? Sarang Elang jawa yang terletak di Alas tekek, sebuah dataran di Kinahrejo, TNGM itu cukup mudah dicapai, namun diperlukan nafas yang panjang karena jarangs ekali ada bonus track datar disini. Ya, untuk menuju kesini, anda harus berjalan kaki dalam track menanjak yang curam. Gimana rasanya kalau kesana saat puasa? Saat itu saya benar-benar merasa biasa saja, seperti birdwatching diluar bulan ramadhan. Yah, mungkin sih kita bakal merasa sangat kehausan, tapi lama-lama toh juga hilang. Hal yang sama juga terjadi waktu saya mengamati burung bersama Khaleb dan Boas dari jakarta Birder di TMR, Jakarta. Dengan godaan dari tukang jualan plus hawa panas Jakarta, kalau dijalani dengans emangat birdwatching toh tidak akan terasa. Paling pol yo cuman kelelahan, kehausan terus ambruk, nggak lebih kok!.

Okay, stop bercerita. Intinya birdwatching sambil berpuasa aman-aman saja kok, asal anda tahu tips dan trick-nya. mau tahu? Yukz…

  1. Pilihlah waktu yang tepat untuk birdwatching, atur waktu sebaik mungkin supaya anda tidak mudah kelelahan. Contoh, kalau biasanya anda mengamati burung sepanjang hari, cobalah mengamati burung cukup di pagi ataus ore hari. Lumayan kan bisa buat ngabuburit? Atau kalau yang lebih enak lagi, coba amati Celepuk dan kawan-kawan dengan night birdwatching alias birdwatching malam hari.
  2. Pilih juga lokasi yang tepat, jangan “ngoyo” mengamati burung di puncak bukit atau di tengah savanna gersang. Yah, jangan juga iktui jejak saya mengamati sarang Elang Jawa di Alas Tekek kecuali kalau iman anda benar-benar kuat. Pengamatan di taman kota atau sawah belakang sudah cukup kok!.
  3. Sahur dan berbuka dengan makanan yang berimbang dan penuh energi. Pilih makanan ber-glukosa tinggi supaya anda bisa mendapatkan ATP lebih banyak (kecuali akalu anda diabetes!). Inilah inti dari sabda Rasulullah SAW, “Berbukalah dengan yang manis”.
  4. Bawa barang-barang secukupnya, jangan ngoyo bawa binokular gede dan berat, cukup bawa binokular mini saja. Jangan ngoyo juga membawa lensa yang panjang-panjang.
  5. Pilih kaos yang tipis, nggak usah pakai baju kamuflase yang sumuk.
  6. Mungkin konsentrasi anda bakal sedikit terganggu. Kalau sudah begini, istirahat di bawah pohon juga ok.
  7. Kalau sudah nnggak kuat, ya tidur aja di bawah pohon. Sip kan?

OK, happy Birding!!!!

Baluran Britama BirdRace2010: The Fire Night

Catatan ini adalah rangkaian cerita perjalanan Tim Al soneta bersama Kontingen Jogja Saparatoz dalam 1st Annual Baluran-Britama Birding Competition 2010

Capek setelah pengamatan, kami langsung mendapat jatah kuis. Gila apa? lagi capek langsung kuis? mana tim Al Soneta nggak ada matras, duduk dengan pasrah di atas tanah. Heheh, biarlah tidak apa-apa, selama kontingen Jogja masih bersatu, suasana boring akan cepat lenyap. KO eh.. OK, we are ready, give us the question as fast as you can!

Pertama, diadakan kuis antar peserta, dimana setiap peserta membuat 5 sketsa terbaik untuk ditebak oleh tim lainnya secara acak. Sialnya, ada satu sketsa yang kami kenal sebagai suku columbidae, sejenis punai, tapi yang menggambar sketsa lupa menulis keterangan kunci: Warna kepala!. Y!, di TNB ada dua jenis punai yang perbedaannya hanya ada pada warna kepala, yakni Punai Gading (Trern vernans/Pink-necked Green Pigeon) dan Punai Siam (Treron bicincta/Orange-breasted Green-pigeon). Akhirnya kami jawab saja: WARNA KEPALA TIDAK JELAS. PUNAI GADING ATAU SIAM? ENTAH!

“Baik, saatnya kuis…”

Iya..iya, kami tahu ini saatnya kuis.  Cepetan, udah capek nih!!!

“Sesi pertama, sesi pengetahuan umum!”

Iya..iya.. cepetan atuh mas. Jangan bikin penasaran!

“Sudah siap??”

Sudah! dari tadi juga sudah siap!.

“Pertanyan pertama.. siap-siap!”

Ayo..ayo…. kami pasti bisa… cepetan! gampang… gampang!!!

“Dimana fosil Archeopterix pertama kali ditemukan?”

HAH??!!!! ini kuis birdwatcher atau kuis paleontologi? Kok nyasar ke fosil sih?. Iya, kami memang tahu Archaeopteryx itu nenek moyang burung, tapi kok pertanyaannya sejauh ini?

“Ayo..ayo.. waktunya 1 menit lo!”

MAMPUS! Kami nggak tau apa-apa. Saya sering membaca artikel tentang dia, tapi nggak pernah inget dimana fosilnya pernah ditemukan!. Arkhirnya saya menerawang, mengingat-ingat dimana fosil-fosil hebat pernah ditemukan. Hm.. Cina, Amerika Utara dan… Jerman! ya Jerman! semoga betul. Bismillah..

Pertanyaan selanjutnya bener-bener ngeselin. Ada yang bisa kita jawab, seperti “apa nama alat penghasil suara burung?” dan tentu kami menjawab Sirring (heheh, ini kan pelajaran kelas 2 SMA, dan perlu di ingat bahwa ada dua orang anak SMA di tim Al SONETA). Ada juga pertanyaan yang bener-bener pusing, seperti “Apa nama filamen terkecil dari bulu burung?” (yang ini bener-bener nggak bisa kami jawab).

Kuis kedua: Suara burung. Sebagai seorang pengamat nekat yang nggak punya binokular, saya sering bergantung pada teknik ini. Tapi, di lomba ini, lain lagi ceritanya. Suara burungburung yang ditampilkan tentunya 100% berbeda dengan burung-burung yang biasa saya dengar di dekat rumah. Bahkan,mungkin “bank” suara burung yang ada di Hp ini jadi tidak berguna. Wah, andaikan saya bisa belajar bersama Bas Van Ballen, birdwatcher paling senior yang katanya suka ngident lewat suara itu!.

Oke, sesi ini dilewatkan dengan penuh rasa bingung dan pusing. Apalagi suara generator listrik yang menyaingi suara burung yang disetel panitia. Fuh…. lumayan.. capek pengamatan udah nggak terasa lagi.

Sesi ketiga: tebak gambar. Saya rasa ini yang lebih mudah dari sesi tebak suara ini. Rupanya tidak! Kurangajar, foto yang tditampilkan adalah foto-foto gagal hasil jepretan hari ini. \walhasil, pusing dah tuh kepala ngident burung-burung nggak jelas kayak gini.

Oh… akhirnya sesi kuis selesai. Mas Rendy yang duduk di depan kami berbalik dan berbisik, “sst… tadi temenku sms dan baru di jawab sekarang.. ternyata jawaban kuis kalian tentang Archeopteryx benar! ada di jerman!”. Yay!

Sekarang, saatnya Api unggun. Di saat seperti ini, seluruh kontingen Jogja dijamin siap bikin rusuh. Lihat saja, mereka duduk bersama-sama, dan capeknya pengamatan tadi siang juga sudah hilang. Ada kawan yang lucu, mbak-mbak yang cantik, Jagung Rebus de-el-el. Semuanya lengkap! heheheh.

“Ayo, yang mana dari Papua??”

“HOII!!!”, kawan-kawan Jogja pada berteriak, seakan mereka yang dipanggil.

“Bandung!!!”

“HOI!!!!”

“Jakarta!”

“HOI!!!!”

“Ini yang teriak dari tadi orang mana sih?”

“JOGJA MBAK!!!!”

“Oh.. pantes…”, wkwkwkwkw.

Hal terlucu saat terjadi pembagian doorprice dengan mini game atau kuis. Pertama, si “mbak MC yang bersuara merdu” membacakan soal, “Apa nama lain dari Leptotilus javanicus?”

Sontak, kami pada berebutan angkat tangan. Yang dipanggil ke depan saya lupa namanya, dan jawabannya sudah pasti benar: Bangau Bluwok.

“Ada jawaban lain?”, kata mbak MC.

Saya sebenarnya pingin maju terus jawab pake nama inggrisnya, tapi saat itu saya lupa nama inggrisnya!. Akhirnya yang maju malah mas Kukuh (BIONIC), dengan janggut dan brewoknya yang selebat hutan hujan tropis di blok Kacip sana.

AWalnya dia mau jawab pake nama inggrisnya, Lesser Adjutant. Dia malah memperkenalkan diris ebagai “Bowo” (secara teknis namanya memang mengandung kata “Bowo”, tapi…). Terus, waktu dia jawab, dia malah lupa dan akhirnya menjawab “Bangau Sandang Lawe”, sudah pasti salah.

Waktu ditanya sama Mbak MC, “darimana toh Bowo? kok kayak Peppy the Expoler ya??”

Jawabnya: “Jogja mbak..”

Sontak seluruh kontingen Jogja menjawab, “Bukan!!!! Bukan mbak!!!! Nggak kenal!!!!!”..wkwkwkwwk.

Yah, malam ini saya dan beberapa orang lain mendapat doorprise yang lumayan.  Saya berhasil dapat doorprise denagn mengalahkan 2 orang lainnya dalam adun cepet-cepetan ngomong “sate tujuh tusuk” tanpa kepeleset. Hehehehe.. Lumayan, dapat topi lapangan yang sudah lama saya idam-idamkan.

Okay, saatnya tidur…

Minggu, 25 Juli 2010

Bangun dengan deg-degan. Nanti siang adalah acara pengumuman pemenang!. Saya segera cuci muka dan seperti biasa, tidak mandi. Setelah itu saya berkumpul bersama kawan-kawan kontingen Jogja lainnya, menunggu sarapan dihidangkan. Nah, disinilah cowok-cowok mulai beraksi, ngajakin kenalan cewek-cewek yang lumayan cakep. Hehehe.

Satu jam kemudian..

Wajah-wajah kenyang

Gila, lama juga makanannya dihidangkan. Akhirnya kami langsung berlari menuju meja saji begitu makanan siap. Yah, kami berlari seperti orang nggak makan 5 tahun. Sambil makan, sambil ambil foto narsis :-p.

Setelah makan saatnya sasarehan alias diskusi. Disini, mas Swiss sebagai moderator, lalu narasumbernya dari berbagai pihak. Setelah pengantar, dibuka sesi pertanyaan. Disini, saya, Mas Zoel dan Mas Kukuh ikut bertanya, niatnya ya supaya dapat doorprice, heheh. Yupz, kami dapat ikat pinggang!

Waktu pengumuman pemenang.

Setelah Coffe break, saatnya acara yang paling depan. Sang master biodiversity, kang Bas maju ke depan. Dengan gaya santai dia mulai mebacakan keputusan pemenang.

“Dan juaranya adalah…. UNNES SEMARANG!!!”, ujarnya, lalu disambung dengan lucu, “..juara 3 maksudnya..”.

Lalu, “Juara Dua Beginner, tim Al SONETA!!!!!!!!! 193 point!!!”

Ha? juara dua? yeah.. targetnya gak tercapai..

“Dan Juara 1 Beginner, Voulenteer BALI BARAT!!!! 195 point!!!”

Wah, nyaris!!!! cuman selisih 2 point!!!! Nggak apalah, yang penting bisa menang..heheheh. Alhamdulillah…

Sungguh sebuah anugrah yang luar biasa. Kontingen Jogja ramai-ramai meluapkan euphorianya. Hebat! Kami menang lagi.. Al SONETA juara lagi… Anak-anak SMA lagi!!!! Walau turun tingkat ke peringkat 2, tidak apa-apa. Yang penting Happy Birding!!! UNTUKMU JOGJA!!!!!!

Satu untuk semua!

Baluran-Britama BirdRace 2010: Kok Jadi Balapan Beneran?

Catatan ini adalah rangkaian cerita perjalanan Tim Al soneta bersama Kontingen Jogja Saparatoz dalam 1st Annual Baluran-Britama Birding Competition 2010

“Hello Guys, i`m Ring O`riri reporting from Baluran National Park. Until now, i still walk on with master Zee and he was get ready for the race,,, the race? wait! This isn`t a true race!”

Sabtu, 24 Juli 2010

Tidur semalaman di tendanya Mas Untung Biolaska yang temen-temennya pada “kabur” (habis temen se-timnya cewek sih, ya pastinya nggak bakal tidur di tenda ini dong). Cukup nyaman berselimutkan Sleeping Bag dan baru kali ini saya bisa tidur nyenyak di alam liar, tanpa kedinginan atau bangun di tengah malam. Segera setelah saya mengangkat kepala, Mas Untung memberi tahu saya untuk bersegera karena seremoni pemberangkatan peserta akan segera dimulai.

Saya segera bangkit dan keluar tenda. Sudah terang rupanya, padahal baru jam 5 pagi. Matahari pertama di pulau ajwa sudah bersinar terang, dan saatnya untuk berlomba. Segera setelah mencuci muka (sudah saya bilang saya tidak akan mandi untuk beberapa hari ke depan) saya pun segera menuju tenda Al-Soneta yang ternyata hanya diisi Mas Jarot dan Bintang, melenceng dari rencana awal yang katanya bakal diisi oleh kawan-kawan lainnya.

Disini, sudah tersedia makanan dan notebook lomba yang disediakan panitia. Saya bongkar tas dan memasukkan sebagian peralatan ke dalam, kecuali notebook yang akan dibawa Bintang. setelah semua siap, kamipun segera berangkat menuju depan kantor resort Bekol.

Persiapan...

Disini, kami mengambil barisan terdepan. Disini diadakan pembagian doorprice dan sambutan dari Bpk. Indra Arinal (akhirnya saya hafal namanya!) selaku Kepala BTNB. Setelah itu terjadi sesuatu hal yang cukup aneh. Bpk. Indra Arinal memegang bendera kotak-kotak hitam-putih layaknya bendera yang dikibarkan waktu start balapan.

“Wah, jadi balapan beneran nih?”, kata mas Jarot. Ya, kata “Birdwatching Race” hanya sebuah istilah tanpa ada unsur waktu ataupun balapan di dalamnya, tapi kok malah jadi balapan sungguhan?

“Dan 1st annual Baluran Britama Birding Competition.. DIMULAI!!!!”

Mungkin termotivasi oleh “bendera balap” yang dikibarkan, semua peserta jadi berjalan cepat seperti mau balapan sungguhan. Saya dan mas Jarot pun ikut-ikutan. Tujuan kami memang menjadi yang pertama sampai di Evergreen agar burung-burungnya masih fresh dan belum terganggu. Bintang yang start di belakang kami tinggal. Ini menjadi keuntungan bagi kami, dengan jarak yang diberikan maka keanekaragaman burung yang kami temukan bisa menjadi lebih banyak.

Foto oleh Mas Imam

Burung pertama yang kami lihat adalah Kacamata Biasa (Zosterops palpeborus/Oriental White-eye) disusul dengan kemunculan burung-burung merpati tanah seperti Tekukur Biasa (Sterptopelia chinensis/Spotted Dove), Dederuk Jawa (Streptopelia bitorquata/Island Coralled-Dove) dan Perkutut Jawa (Geopelia striata/Zebra Dove). Selanjutnya terlihat Bondol Peking (Lonchurra punctulata/Scaly-Breasted Munia) yang sedang bermain-main di tengah savanna, dilanjutkan dengan beberapa ekor Ayamhutan Hijau (Gallus varius/Green Junglefowl) yang terbang ke semak-semak begitu kami sudah sangat dekat dengannya. Lalu terlihat seekor Elang Tikus (Elanus caeraleus/Black-winged Kite) bermanuver belok yang sangat cantik, tapi kami tidak bisa melihatnya lama-lama karena kami harus bersegera menuju evergreen daripada yang lain.

Memasuki hutan musim, terlihat seekor Merak Hijau jantan (Pavo muticus/Green Peafowl) yang sedang terbang rendah menyebrang jalan dengan ekor yang terjuntai ke bawah, indah!. Lalu ada lagi Gemak Loreng  (Turnix suscicator/ Barred Buttonquail) yang berlari di tengah semak sementara Pelanduk Semak (Malacocincla sepiarum/Horsfield`s Babler) yang bersuara khas tidak jauh dari tempat perjumpaan si Pelanduk.

Semakin jauh ke hutan musim, terlihat burung semak yang lain seperti Perenjak Jawa (Prinia farmiliaris/Bar-winged Prinia) yang sedang mencari makan. Di tengah jalan, mas Jarot mendengar suara Gelatik jawa (Padda oryzivora/Javan Sparrow) yang selama ini dijadikan “kawan mainnya”. Lalu ada juga Betet Biasa juvenil (Psittacula alexandri/Pink-breasted Parakeet) yang sempat kami tuduh sebagai Serindit Jawa (Loriculus puscillus/Yellow-throated Hanging-parrot), namun tuduhan itu patah saat burung ini terbang mengeluarkan suara khas-nya. Ada juga burung-burung merpati buah seperti Punai Gading (Treron vernans/Pink-necked Green-pigeon), Punai Siam (Treron bicincta/Orange-breasted Green Pigeon) yang di jawa hanya bisa ditemukan di Baluran serta si merpati besar  Pergam Hijau (Ducula aenea/Green Imperial Pigeon) yang terus-terusan terbang di atas kepala. Lalu munculah Caladi Tilik (Dendrocopus moluccensis/Sunda Pygmi Woodpecker), Caladi Ulam (D. macei/Fulvous-breasted woodpecker) yang mirip dengan Caladi Tilik kecuali alisnya lebih pudar, dan ada juga si kembar Kapasan Kemiri (Lalage nigra/Pied Triller) dan Kapasan Sayap-poutih (L. suerii/White-shouldered Triller) yang alisnya tidak menyambung seperti saudara dekatnya si Kemiri.

Setelah itu kami bertemu dengan seorang polisi hutan yang dengan bersemangat memberi kami informasi mengenai kubangan favorit Gelatik Jawa yang ada sekitar 100 meter di depan. Walhasil, kami pun segera pergi menuju kubangan yang katanya menjadi tempat berkumpul burung favorit-nya Mas Jarot ini. Oia, di tengah jalan kami juga bertemu dengan Mas Zul dari BIONIC yang datang telat karena ada acra di Bali. Rupanya ia dan beberapa tim lain yang datang terlambat harus berjalan kaki dari end-point di evergreen karena tidak ada mobil yang boleh masuk ke dalam arena selama perlombaan.

Setelah beberapa lama berjalan, kami tidak menemukan kubangan tersebut. Yang kami temukan malah sebuah bekas sungai kering dengan beberapa ekor Delimukan Mutiara (Chalcophaps indica/Emerald Dove) yang langsung terbang begitu kami mendekat. Burung ini memang pemalu. Selain itu, ada juga seekor Kipasan Belang (Rhypidura javanica/Pied Fantail) yang sedang berburu makanan di tajuk pinggir kolam yang tersisa di sungai kering tersebut. Di sekitar sini terdengar suara burung-burung semak yang “nyebai”, ada suara tanpa rupa. Yang pasti, kami sempat mengidentifikasi suara Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius/Common Taylorbird) dan Cipoh Kacat (Aeghitina thipia/Common Iora).

Saya sempat mendengar suara Kancilan Bakau (Pachycephala grisola/Mangrove Whistler). Saya coba setel suara rekaman burung pemalu ini dengan Hp  (ingat! dalam lomba ini, alat-alat pemikat burung macam alat perekam diizinkan untuk dipergunakan). Akhirnya si “burung kelabu” ini mau keluar dari persembunyiannya mesti cuman sesaat, lalu sebelum bino terangkat dia sudah kembali lagi ke semak-semak dan menjawab “panggilan” kami. Di akhir, malah seekor Cipoh Kacat yang sok tau menirukan suara yang keluar dari Hp. Woalah!

Kami kembali untuk mencari Bintang, karena dia yang membawa blocknote untuk sketsa. Akhirnya kami bertemu dan beristirahat sejenak di bawah pohon di pinggir sungai kering. Disini saya menghabiskan sarapan yang belum saya santap dan mulai menggambar sketsa. Yupz, tugas ini selalu menjadi tugas saya, dan saya bangga dengan tugas ini, apalagi bila melihat rekan satu tim saya yang sudah sangat pro dengan burung. Bintang mengenal birdwatching sejak kelas 4 SD, dan mas Jarot adalah jebolan BIONIC yang kemampuannya bisa dibil;ang setara dengan birdwatcher kawakan di Jogjakarta. Dengan begini, cukup mereka yang menjadi identifier, saya yang amatiran cukup mejadi seksi sketsa saja, menjadi “ujung tombak” bagi tim ini karena sketsa adalah satu-satunya media input data pengamatan kepada juri.

Al-Soneta in Action
Me

Kembali ke arena, saya dan Mas Jarot yang dari tadi meras gatal-gatal karena ulat bulu langsung bangkit berjalan-jalan. Di atas kami, Elang-ular Bido (Spilornis cheela/Crested Sherpent-eagle) bersoaring ria sambil sesekali menghilang di belakang tajuk pepohonan. Menurut petunjuk Kang Bas–Dosen, birdwatcher kawakan, admin FOBI sekaligus juri kompetisi yang sedag mencari foto kupu-kupu–kubangan yang tadi kami cari ada di dekat plang Kebakaran Hutan. Akhirnya kami menemukannya, bersama Gelatik Jawa yang dari tadi kami cari (Yes, list baru!). Selain itu, ada juga Garangan Merah (Herpetes javanicus/Javan Monggose), musang merah kecil dari jawa dan jejak kaki Kerbau Liar plus flocking kupu-kupu yang cantik.

Walaupun belum sampai Evergreen, kami segera pergi menuju Bama sebelum suhu udara bertambah panas (ingat, untuk ke Bama kami harus menyebrang savanna Bekol yang panas dan gersang). Di tengah jalan kami turut membantu tim Munguk PPBJ (Mbak Sita dkk) dengan mengurangi beban yang dibawanya (Baca: menghabiskan makanan ringan yang dibawanya). Ternyata mereka membawa oleh-oleh kulit ari ular yang disimpannya di kantung plastik.

Begitu sampai lagi di Savanna Bekol, hawa panas dan gersang langsung menerjang ditambah angin kencang plus debu yang berhamburan. Glek, sebuah tantangan yang unik!. Di tengah savanna kami berpas-pasan dengan mobil yang dikawal oleh Pak Sutadi–panitia–dengan sepeda. Kami agak bingung karena seingat kami, selama tanggal perlombaan tidak ada mobil/motor yang boleh masuk ke arena. Ternyata itu adalah mobil yang membawa para wartawan–dan mereka mengarahkan kamera ke arah kami! Hehe, masuk TV cah!

Indahnya Gn. Baluran dilihat dari Savanna Bekol
Rusa Timor yang sedang berlari di savanna

Oia, di jalan kami bertemu dengan si Tepekong jambul yang memiliki nama ilmiah yang lucu, Hemiprocne longipennis! Jangan salah sangka, longipennis disini artinya bulu yang panjang mengacu pada jambul di atas kepalanya, bukan “anu” yang panjang. Ada lagi, saat Bintang dan Mas Jarot sedang berbincang-bincang, saya melihat seorang peserta expert di depan kami yang tiba-tiba berhenti melangkahd an menatap savanna. Begitu saya lihat, terlihat seekor raptor ukuran menengah sedang terbang soaring rendah. Setelah lama berdiskusi, kami putuskan itu adalah seekor Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus/Changeable Hawk-eagle).

Haduh! Payung hadiah dari BRI rusak kena angin!

Setelah lama berjalan dan mendengar berbincang-bincang tentang hal-hal yang agak saru (maklum, orang-orang biologi, hehe) kami akhirnya sampai di Bama, sebuah pantai indah di ujung timur jawa. Disini kami cuman beristirahat di teras villa sambil menunggu hari agak sore. Ya,  siang-siang begini dijamin gak akan ada burung yang nongol. So, daripada capek jalan-jalan nyari burung terus mending istirahat dan makan siang. Lumayan, makan di pantai sambil menatap laut yang luas, seekor Biawak Salvator (Varanus salvator/Water Monitor),  seekor Raja Udang Biru (Alcedo caerulescens/Caerulean Kingfisher) serta ekspresi anak-anak SMP dari tim Schedjultsem Spenamlasta yang kehilangan makan siang mereka karena dicolong monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis/Long-tailed Macaquez). Habis, udah diperingatkan jangan ditinggal barang-barangnya, masih aja ditinggal, hehe.

Pantai bama dari tempat kami makan

Iseng, saya pinjam kamera mas Lutfian Nazar dari UNNES dan mulai mencari burung utnuk di foto. Berpas-pasan dengan peserta expert asal Swedia, lalu melanjutkan perburuan sampai ke birdwatching trail Bama-Mantingan yang jalannya mulus, cantik berpadu pasir pantai dan dinaungi oleh pohon-pohon khas hutan pantai. Sempat berpas-pasan dengan Bpk. Indra Arinal, kepala BTNB yang juga membawa kemra berlensa panjang, mantab!. Sayang, tidak ada satupun burung yang nyantol di kamera, malah dapat ekspresi ganas seekor Macaca saat mau di foto.

Nb: Jangan kira Macaca disini ramah-ramah, mereka adalah musuh paling berat bagi para peserta! Ya, mereka perampok (perampok bukan pencuri) dan perusak ya bisa menghabiskan bekal anda dalam sekejap!

Kembali ke habitat, Bintang dalam keadaan “exited” begitu melihat Noordin Macaca Top (Ketua geng macaca disini) yang sedang mencumbu beberapa ekor macaca betina. Ya ampun Bin, sampai terpukau seperti itu, hehe.

Akhirnya, pukul 3 sore kami melanjutkan perjalanan lewat birdwatching trail Bama-Mantingan, yang kemarin sempat saya lalui bersama mas Dlohak dan mas Willy dari BIONIC. Disinilah saya benar-benar berada di “surga”. Awalnya, hanya seekor Elang-ular Bido yang terbang sangat rendah di hadapan kami. Entah kenapa, saya merasa “maklum” dengan pemandangan indah ini, padahal kalau di Merapi mungkin saya sudah jerit-jerit melihat raptor sedekat ini. Tapi di surga burung ini, semua bisa terjadi!

5 meter di depan, saya mulai mendengar suara Kangkareng Perut-putih (Anthracoceros albirostris/Asian Pied Hornbill) di atas tajuk hutan pantai. Kemudian, mulai terlihat bayangan mereka. Berjalan 3 meter kami langsung menemukan sekawanan burung ini terbang di atas tajuk! lalu 2 meter lagi baru kami lihat yangs edang hinggap. Ukurannya tergolong kecil untuk keluarga Hornbill, sekitar 45 cm dengan garis putih khas di tepi sayap serta warna kulit mata yang biru. Tanpa harus melangkah, nongolah si Bangau Tontong (Leptotilus javanicus/Lesser Adjutant) yang terbang ringan di atas si Kangkareng. Kamid an beberapa orang lainnya kaget dan takjub setengah mati begitu melihat si burung yang nongol begitu saja.

Hanya 5 meter dari lokasi kejadian, beberapa orang yang lain masih di belakang begitu kami bertemu dengan sekelebat bayangan putih di atas tajuk. Tadinya Bintang meremehkannya dan menganggap itu bangau tontong yang tadi, tapi setelah diperhatikan, ternyata itu adalah Elang-laut Perut Putih (Halieestus leucogaster/White-bellied Sea Eagle). Lalu kami turun ke sebuah pantai tak tersentuh untuk mencari Shore bird, tapi tidak ditemukan apa-apa selain pemandangan yang sangat indah.

Pantai kecil yang jarang tersentuh

Kami terus melajutkan perjalanan sampai di mantingan,sebuah sumber air yang konon katanya bisa bikin awet muda. Bintang berseloroh , “ada yang mau coba musyrik?”. Gara-gara perkataan itu, nggak ada yang berani cuci muka di sumber air itu, wah..wah.

Kami agak kecewa tidak menemukan Pelatuk Ayam, dan lebih kecewa lagi karena jalan yang kami tempuh ternyata sangat jauh. Akhirnya, kami kembali ke jalan utama Bekol-Bama. Begitu sampai di Savanna, kami langsung bersua dengan Mas Swiss, panitia yang juga merupakan birdwatcher asal Jogja. Entah mengapa, sebenarnya dia bukan panitia ini, tapi kharismanya begitu luas di dunia perburungan sampai-sampai kesuksesan acara ini selalu ditujukan kepadanya.

Namun, walaupun kharisma, keahlian birdwatching dan fotografinya yang luar biasa, dia tetap seorang birdwatcher Jogja yang nleneh dari nyleneh. Bayangkan, ketika seorang peserta menelpon dia dan berkata “Ayan! Pingsan!”, dia malah mengira “Ayam Pincang” alias ada Ayam Hutan yang pincang. Makanya, dia datang dengan sepeda dengan santai sambil membawa plastik kresek buat si “ayam”. Dan begitu sampai, dia baru tahu bahwa yang harus dibawanya  bukan seekor ayam, tapi sesosok tubuh manusia yang pingsan! Oalah mas, piye to?

Yeah, setidaknya di akhir sesi pengamatan ini, ada sedikit hiburan dari guyonan khas Mas Swiss. Panggilan khas-nya terhadap saya “suroso” ditujukan dengan nada mengejek karena saya cadel alias celat. Namun, di balik sosok ini, ada suatu sosok yang dikagumi oleh Bintang, mntan muridnya. Yeah, sebuah perkembangan luar biasa dari seorang birdwatcher dan mahasiswa yang kata Bintang kelihatan seperti orang gembel kini menjadi PNS di surga burung. Wow!

Para peserta di akhir sesi pengamatan

Di akhir sesi pengamatan ini, bayang-bayang gunung baluran masih terlihat di ujung sana, dengan cahaya yang mulai meredup dan angin sejuk pertanda hari petang. Di hadapan kami terhampar puluhan tim yang baru menyelesaikan sesi pengamatannya, sama seperti kami. Di ujung savanna, 2 ekor Alap-alap Sapi dan seekor Elang Tikus terbang dengan damai, bebas dan riang, menikmati senja di surga mereka. (Z)

Bersambung ke: Baluran-Britama BirdRace 2010: The Fire night

Baluran-Britama Birdrace 2010: Merak atau Lutung???

Cerita ini adalah cerita perjalanan tim Al Soneta dari kontingen Jogja Saparataos dalam 1st Annual Baluran Britama Birding Competition

“This is Zee G.A. as your guide from flight number Al-S0n3t4 fly over the savana. No wonder the hard way to get in, but how we can see that the struggle for this journey, always have nice scenery at the end. Yupz, here we are, Africa of Indonesia!”

Jumat, 23 Juli 2010

Ah, akhirnya bisa tidur dengan nyenyak, lepas dari cengkaraman si kurungan maut gerbong tua itu. Pagi ini, sekitar pukul 5 pagi, saya terbangun akibat ocehan kawan-kawan yang sibuk mencari sarung untuk salat subuh. Saatnya mengikuti jejak mereka.

Pagi ini, saya kembali dengan beberapa teman lama dari berbagai kota. Salah satunya, mbak Nadia dari Bicons Bandung, yang dulu juga mengikuti SuraMadu WBWR 2010 dan sempat janjian bakal ketemu di Bandung waktu liburan gara-gara kelas 3 ikut UNAS dulu, tapi akhirnya ya tidak jadi.

Setelah bercakap-cakap sebentar, saya putuskan untuk mengambil Bino pinjaman dari RCI (terimakasih Pak Kabul!!) dan berjalan-jalan keluar sebentar menyapa burung-burung yang ada di sekitar BTNB. Nggak perlu jauh-jauh, cukup ke jalan di belakang kantor BTNB.

Disini saya merenungi sebutan “surga burung” dan “Africa of Indonesia” di BTNB. Apa yang saya lihat disini belum membuktikan kedua hal tersebut, karena saya melihat burung-burung di sekitar BRNB cukup sepi dan pemandangannya pun tidak sep-spektakuler yang saya bayangkan. Yeah, mungkin saya hanya perlu masuk lebih jauh. Setidaknya suara Takur ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala),  beberapa ekor Bentet Kelabu (Lanius schah/Long-tailed Shrike) dan Caladi Ulam (Dendrocopos macei/Fulvous-breasted Woodpecker) sudag cukup membuat saya berada di “alam”.

Setelah sekian lama, saya memutuskan kembali ke BTNB. Disini belum banyak perubahan yang terjadi, hanya teman-teman yang tadi sibuk  mencari sarung sekarang beralih sibuk antri mandi. Daripada ngantri, lebih baik cari makanan. Untung ada mas Shaim yang juga mau nyari makanan, sip.. waktunya jajan!

Keluar dari pintu gerbamg BTNB, belok kiri ada warung Bakso. Disini kami bertemu dengan Mbak Citra dari Surabaya yang baru selsesai makan bersama Bintang Mbak sita dan kawan-kawan PPBJ lainnya.

“Wah nji, jagain tuh Shaim biar nggak hilang kayak di surabaya dulu.. gawat nih kalau dia sendirian!”, kata mereka. Haha, kasihan juga mas  Shaim, gara-gara kejadian 5 bulan yang lalu dia jadi kena getahnya terus (bagi yang belum tahu kisahnya, silahkan baca disini).

Setelah say hay langsung deh kita masuk ke dalam warung sederhana ini. Pesan Bakso 2 mangkok plus es teh manis. Mantab! Bakso yang disajikan cuman satu tapi gedhe. Ditambah kuah bening (asli, jernih banget!) dan mie bihun yang masih keras dan sedikit tetelan. Rasanya memang kurang sempurna, apalagi saus yang disediakan di meja ternyata tidak mengandung cabe sama sekali. Tapi ya tidak apa-apa, yang penting perut aman.

Ketika balik, ketemu sama anak-anak BIONIC yang juga mau nyari makan. Kami nasihati supaya tidak memakai sausyang ada di atas meja karena rasanya sama sekali tidak pedas. Setelah itu, hanya ada acara duduk-duduk di depan gerbang BTNB sambil berkenalan dengan beberapa peserta yang baru datang, dan salah satunya berasal dari tempat yang cukup jauh: Batam! Disinilah kami tahu betapa luar biasanya acara ini sehingga pesertanya pun rela datang dari jauh.

Oh iya, disini kita juga sempat birdwatching ringan tanpa binokular. Terlihat B. Madu Sriganti (Nectarinia jugularis/Olive-backed Sunbird) sedang mencari makan di tajuk rendah di seberang jalan—sesuatu yang jarang kami lihat. Biasanya mereka lebih suka bermain di tajuk atas sehingga menyulitkan bagi kita untuk melihat corak biru metaliknya yang cantik. Selain itu, ada pula beberapa ekor Kekep Babi (Arthamus leucorynchus/ White-breasted Woodswallow) yang terbang soaring di atas jalan raya.

Setelah akwan-kawan BIONIC yang lain selesai makan, kami mundur sedikit dan mengamati Cekakak Sungai (Halcyon chloris/Coralled Kingfisher) yang sedang meratap menunggu serangga datang. Cukup unik, kami mendapat moment spesial disaat burung ini terjun dari tempat hinggapnya menangkap serangga. Ketika kami memtuskan kembali ke aula tempat kami tidur, terlihat 2 ekor Cipoh Kacat yang terbang sangat rendah dan coraknya terlihat sangat jelas, sesuatu yang langka terlihat di rumah saya. Pretty Birdy!

Setelah mandi—yang ternyata merupakan mandi terakhir saya selama 3 hari ke depan—saya dan Mas eh Mbak eh Mas Dlohak kembali pergi ke belakang kantor BTNB sambil menenteng binokular. Sepi, hanya terlihat Bentet Kelabu (Lanius schah/ Long-tailed Shrike) yang terus bersuara serak “Kaak..Kaak”.

Begitu kembali, ternyata acara daftar ulang sudah dimulai. Disini sudah ada Bintang dan Mbak Sita yang mengurus tim yang dibiayai oleh Yayasan Kutilang, yakni PPBJ 1, Munguk PPBJ, Al Soneta dan Schedultsem Spenamlasta (terimakasih pak Ige!). Setelah itu kamilangsung kembali ke aula untuk mengemas barang-barang dan segera pergi ke lokasi lomba di kantor resort Bekol.

Ternyata, kendaraan yang membawa kita menuju Bekol adalah beberapa truk yang biasa membawa sapi! tapi tentu saja sudah bersih dari kotoran.  Haha, jadi ingat masa-masa SMP ketika tidak punya ongkos buat pulang, langsung nebeng truk-truk yang seperti itu. Kalau saya pikir, biasanya sapi yang naik truk dan manusia yang melihat dari pinggir jalan, namun sepertinya hari ini akan terjadi yangs ebaliknya. Manusia yang naik truk, banteng dan kerbau liar yang menonton kami (walau pada akhirnya kami tidak melihat banteng atau kerbau liar di pinggir jalan).

Awas Kiri!!!

Di tengah perjalanan, saya menemukan keuntungan dan kekurangan naik truk besar seperti ini. Keuntungannya, ternyata selama 12 kilometer ke depan kami hanya akan melewati aspal yang kurang mulus ditambah beberapa medan offroad yang tentunya tidak bisa dilalui bus atau semacamnya, dan dengan bak terbuka kami bisa lebih menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan Batangan-Bekol. Kekurangannya, dengan bak terbuka kami tidak memiliki perlindungan di bagian atas sehingga selain pana, kami juga harus sibuk menunduk jika ada dahan atau ranting dari pohon di pinggir jalan yang bisa memukul kepala kami, ouch!.

“Next stop… Evergreen.. Check your belongings, and watch your head carefully, thank you”. (trans-baluran).

Bruk..brak.. bruk… tiga buah dahan berhasil memukul kepala saya, ouch!. Namun semua rasa sakit itu terbayar sudah saat kami melihat pemandangan Gunung Baluran yang indah ditambah beberapa vegetasi kering sepertis avanna dan hutan musim di kiri-kanan jalan. Kami juga sempat terhibur dengan adanya beberapa ekor burung unik yang muncul seperti Kekep Babi, Cekakak Sungai dan Ayam-hutan Hijau (Gallus varius).

Dan akhirnya, blas! Sebuah dahan terakhir dilewati dan munculah padang savanna yang sangat luas di kanan jalan. Kami terkesima melihat pemandangan indah macam ini, dan serentak semua orang berkata “Oh…”.

It`s the mountain!

Setelah sampai di Kantor Resort Bekol, kami diarahkan untuk segera membuat tenda. Beberapa sponsor juga sudah mendirikan stan di jalan masuk menuju Kantor resort Bekol. Tim Al-Soneta yang tidak membawa dome mendapat bantuan dari tim Jogjakarta lainnya, alhamdulillah, nggak jadi tidur di luar. Sayangnya, lokasi tempat kami berkemah yang sudah ditentukan oleh panitia terletak agak jauh dari lokasi berkemah kawan-kawan PPBJ lainnya, dan tempatnya juga kurang menyenangkan, panas tanpa peneduh!.

Nah, sambil menunggu shalat jumat saya pun mulai bermain poker dengan kawan-kawan BIONIC. Dan ketika permainan selesai, tebak apa yang saya lihat! Seekor Alap-alap Sapi (Falco moluccensis/ Spotted Kestrel) terbang rendah di atas Camping Ground! Wow, hebat!.

Camping Ground!!

Ketika waktu shalat jumat sudah dekat, panitia yang baik hati memberitahukan kami bahwa ada es kelapa muda yang bisa diambil peserta di dekat stan milik sponsor. Nah, disinilah pos kami beberapa hari ke depan ketika jatah makan disiapkan, sehingga kami bisa mendapat antrian terdepan, hehe.

Ketika itu, datanglah rombongan anak-anak SMP dari tim Schedulsem Spenamlasta beserta Pak Ige, Mas Imam dan mas Batak dengan mengendarai mobil Colt L300-nya—alhamdulillah mereka selamat!, hehe.  Ternyata sebagai sponsor Pak Ige tidak membuka lapak. eh.. stan, tapi malah jualan di depan pos jaga. Ternyata lapak eh stan tanpa atap-nya Pak Ige malah lebih laku dari stan milik sponsor yang lain!. Tentu saja, SKJB Mc. Kinnon cetakan baru mejadi barang terlaris disini.

Ketika berjalan menuju tenda “kawinan” yang digunakan untuk shalat jumat, muncul gossip diantara birdwatcher Jogja tentang siapa yang akan menjadi Khotib. Sempat muncul kekhawatiran kalau yang menjadi Khotib adalah Mas Swiss, panitia asal Jogja yang juga merupakan “guru” bagi bintang dan sederajat dengan beberapa sepuh birdwatcher Jogjakarta. Bisa dibayangkan kalau dia yang menjadi khotib, mungkin akhir-akhir dakwahnya bakal nyambung ke burung dan ditambah dengan beberapa”kata keramat” yang sering diucapkannya. Dan ternyata…

“Assalamualaikum wrm wbr dst…

“Saudara jamaah sidang jumat yang dimuliakan, mari kita ingat allah yang menciptakan makhluknya dengan sangat sempurna, seperti burung yang terbagi menjadi beberapa ordo seperti columbiformes, acciptriformes, passeriformes dan lain-lain. Masing-masing ordo tersebut dibagi lagi menjadi family seperti columbidae… acciptridae.. nectarinidae.. sungguh besar Dia yang menciptakan merak hijau dengan ekornya yang indah, Kancilan bakau yang susah dilihat tapi indah suaranya, atau kapasan kemiri yang bisa dibedakan dengan kapasan sayap putih dengan alisnya. Anda lihat, betapa agung Dia yang mengizinkan kita untuk menciptakan Nikon D200 dan lensa Zoom tele sigma 120-500 mm. Luar biasa bukan??.. heh, anda memperhatikan nggak? As** ni!, bukannya pada dengerin khotbah malah liatin savanna? Hoy! As*!.. dengerin dong! $#$%$^$^$%%^$!!!!”

Hah! saya terbangun dari tidur! rupanya angin semilir dari padang savanna membuat saya mengantuk dan tertidur selama khotbah jumat. Saya cek ke mimbar, alhhamdulilah.. bukan mas Swiss (Hehhe.. Peace mas Swiss!! cuman bercanda!).

Setelah shalat jumat dan makan siang (saya di antrian pertama! yang lain pada ngantri panjaaang! heheh), acara pembukaan pun dimulai. Agak kurang menyenangkan juga sih, karena acaranya terlalu formal. Kita disuruh memakai kaos khusus dan membawa ID card. Sampai disana disuruh baris berbaris ala tonti, disuruh sikap siap sempurna. Padahal basic kebanyakan peserta disini adalah “cah-cah ndagelan” yang nggak bsia serius ala tonti. Pantas saja, mas Batak langsung misuh-misuh dan Bintang ikut berkomentar, “Terlalu formal.. pake disuruh sikap sempurna segala..”.

Saya menimpali sedikit, memang kesan formal biasanya ditampilkan kalau ada tamu penting yang datang. Tapi kemarin waktu Walikota Surabaya datang di acara Suramadu WBWR 2010 acaranya tidak se-formal ini, para peserta bisa duduk dengan bebas dengan memakai baju apapun. Lah, ini ketika seorang Bupati datang kok harus pakai baju resmi birdrace, Id-card harus dibawa, ditambah ada panitia yang menjadi komando upacara yang menyiapkan barisan seperti pemimpin militer. Walhasil, barisan depan memang terlihat tertib (tidak setertib tonti tentunya) dan barisan belakang malah pada duduk-duduk, melihat savanna sambil mengeker Alap-alap sapi yang sedari tadi berkejaran di savanna.

Disini saya baru tahu bahwa peserta birdrace berasal dari Batam sampai Timika! Ada juga saudara Schedultsem Spenamlasta (tim dari sMPN 16 Jogja) yang berasal dari Timika, lalu ada juga tim Arismaduta yang merupakan juara 1 Semarang Birdrace kelas pelajar kemarin. Wah, ternyata kami Al Soneta tidak lagi menjadi tim dengan anggota termuda disini, tapi ada juga tim-tim lain yang berumur jauh lebih muda yang berasal dari SMA/SMP, sama seperti kami!. Wau, hebat juga Birdrace di Baluran yang bsia menarik peserta sebanyak ratusan orang!.

Setelah acara pembukaan, acara dilanjutkan dengan acara makan siang (Saya ada di barisan pertama! yay!) dan acara penanaman pohon. Saya tidak mengikuti acara terakhir ini karena sudah terlalu jemu dengan segala macam seremonial dan ingin cepat-cepat melihat burung-burung di sekitar sini. Maka dari itu, selepas makan siang saya langsung kembali ke camping ground, mengambil Bionokular dan berganti baju dengan baju hitam tipis (yang selanjutnya akan saya pakai terus selama 3 hari ke depan) dan langsung melompat ke acara orientasi lapangan.

Disini, saya beserta beberapa orang peserta lain sudah mulai mengamati burung-burung cantik dan umum seperti Cekakak Sungai dan  Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis/ Spotted Dove), sementara si Merak Hijau (Pavo muticus/ Green Peafowl)  belum terlihat. Begitu berbelok ke arah jalan Bekol-Bama, terdengar suara Perkutut Jawa (Geopelia striata/Zebra Dove) dan terlihatlah ia sedang bersantai di ujung dahan. Burung ini cukup sulit ditemukan liar di Jogjakarta tapi malah dijadikan hewan khas daerah ini (hewan khas di dalam kandang kali maksudnya). Selain itu, ternyata jenis burng merpati tanah lainnya yang juga jarang ditemukan di Jogja bisa dengan mudah ditemukan disini, yakni Dederuk Jawa (Sreptopelia bitorquata) yang mirip dengan Tekukur Biasa saat sedang terbang, kecuali warna kemerahan di sekitar leher dan garis melintang hitam di tengkuk.

Saya mendekati sebuah sumber air yang dipompa oleh kincir angin yang dipasang di atas sebuah pohon di sekitar Savanna. Disini hampir semua hewan menggantungkan hidupnya saat musim kering di Baluran, namun kali ini saya tidak bisa menemukan apapaun disini kecuali burung-burung yang sudah saya sebut diatas ditambah feses hewan-hewan karnivora. Di sebelahs elatan 2 ekor Alap-alap Sapi masih main kejar-kejaran, cukup unikd an jarang terlihat di tempat lain.

Saya kembali ke jalan yang benar dan menjumpai kawan-kawan yang lain seperti Bintang dan Mbak Sita (mereka berdua statusnya nggak jelas). Disini terlihat Perenjak Jawa (Prinia farmiliaris/Bar-winged Prinia) lagi nangkring di atas pohon sambil bernyanyi merdu. Dua garis putih di sayapnya adalah kunci utama untuk mengenalinya.

Setelah agak bersenda gurau sebentar saya kembali menyusuri jalan menuju Bama. Setelah agak beberapa lama saya mulai merasa haus, apalagi di tengah matahari yang terik ini. Saya menghadap ke belakang dan… saya sendirian di tengah savanna! teman-teman yang lain berada jauh di belakang dan di depan, sementara saya tidak membawa air sama sekali. Dengan pertimbangan “udah terlanjur jauh”, terpaksa saya tahan rasa lelah dan haus ini dan melanjutkan perjalanan demi bertemu si Merak Hijau, sementara jalan trans-savanna masih sangat panjang sebelum akhirnya mencapai tempat yang lumayan “adem”.

Savanna tanpa Akua!!!

Di tengah perjalanan terdengar seruan “Merak!” dari dua orang di depan. Rupanya mas Dlohak dan mas Willy dari BIONIC. Saya yang sedang beristirahat di bawah bayangan pohon kecil segera bangkit dan berlari, kemudian berhenti dan mulai mengendap-endap di tengah rumput savanna yang mengering. Dan.. itu dia Merak Hijau alias Green Peafowl yang selama ini saya cari-cari! Akhirnya, setelah beberapa lama saya berhasil melihat burungc antik ini di alam liar. Burung ini berjarak sekitar 20 meter dari tempats aya berdiri, kemudian saya mengendap-endap sendirian hingga jaraknya kurang dari 10 meter. Terlihat 1 ekor Merak jantan yang berbulu indah terbuai dihempas angin. Cantik! Akhirnya saya pun mundur dan menbiarkan si merak ini berjalan sunyi menuju rerimbunan perdu. Wow!

Merak Hijau, akhirnya kutemukan kau!

Selanjutnya saya segera mengejar mas Dlohak dan mas Willy yang segera meninggalkan lokasi. serta merta saya minta air dan alhamdulillah dikasih. Ah.. leganya!!! Sekarang kami berniat untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai Bama dengan melewati hutan musim yang sudah terlihat jelas di depan.

Ketika memasuki perubahan vegetasi, terlihat seekor Raptor bertubuh sedang sedang terbang hovering di dekat kami. Pertama saya meremehkannya dan menganggapnya sebagai Alap-alap Sapi, tapi setelah saya melihat ukurannya dan warna dominannya yang putih, saya mulai curiga dengan raptor ini. Setelahs ekian lama menatap dsia dengan penuh kecurigaan, saya mengenalinya sebagai Elang Tikus (Elanus caeraleus/Black-winged Kite) dengan dominasi warna putih dan ujung sayap membulat berwarna hitam.

Teru berjalan ke dalam hutan musim, terlihat Perenjak Jawa dan Gelatik-batu Kelabu (Parus major/Great Tit) yang sedang bermain-main di rumput dans emak perdu. Berbeda dengan namanya, burung inis ama sekali tidak  memiliki hubungan dekat dengan burung Gelatik (Padda sp./Sparrow) kecuali mereka sama-sama berada dalam ordo passeriformes. Mungkin karena corak pipinya yang mirip dengan corak pipi Gelatik Jawa (Padda oryzivora/Javan Sparrow) jadi masyarakat mencap dia sebagai jenis Gelatik.

Tiba-tiba terlihat seekor Ayamhutan Hijau (Gallus varius/Green Junglefowl) yang sedang menyebrang jalan di kejauhan (jadi ingat pertanyaan “kenapa ayam menyebrang jalan?). Ketika saya memberitahu kedua teman seperjalanan saya, mas Dlohak langsung memasang binokular di muka sementara mas Willy memandang ke arah samping.

Ayamhutan deket banget!!

“Dimana Nji?”, kata mas Dlohak.

“Itu di kejauhan”, jawab saya.

“Ngapain jauh-jauh, itu disamping ada!”, kata mas Willy. Saya menengok, dan…

“ASSSS***!!!” (Brrr…. 200 ekor tekukur dan dederuk berterbangan mendengar kata keramat itu)

Gila! seekor Ayamhutan Hijau jantan tepat disamping saya!. Serta merta saya ambil Hp dan memotertnya dengan teknik digiscoping. Memang hasilnya kurang bagus, tapi setidaknya ada bukti kalau disini memang surganya burung. Di dekat Ayamhutan tersebut, beberapa ekor betina bersembunyi di semak-semak, tidak seperti jantannya yang masih melenggang dengan santai. “Who care? It`s not youre buisness”, kira-kira seperti itulah kata si Ayamhutan. Selepas kejadian tersebut, kami terus saja melihat Ayamhutan yang berseliweran di pinggir jalan seperti layaknya Ayam kampung di perkarangan rumah.

“Ass***!!! As**!! As*!!!” (Brr…Brr…..Brrr….)

Mulai merasa dibohongi oleh pasir pantai

Akhirnya kami sampai di pertigaan menuju pantai Bama. Karena nggak ada satupun dari kita yang pernah kesini, kami terkecoh dengan jalan kecil dengan pasir pantai sebagai dasarnya. Akhirnya kami ikuti jalan ini (yang nggak tahunya adalah jalan memutar menuju pantai Bama, lebih jauh dari jalan satunya yang tidak kami pilih! Sial!). Disini saya mengakui daya ketelitian mata mas Willy yang dengan mudah menemukan Takur Ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala/Coppersmith Barbet) yang bertengger di atas tajuk yang rimbun. Selain itu kami bertemu juga dengan Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus/Small Minivet) yang terbang bergerombol bersuara “Swiit..swiit..”. Memasuki tempat yang agak terbuka, mas Willy berteriak lagi, “itu!! itu!! merak!! asli merak cuz  gede banget!!!”. Walhasil kamipun berjalan cepat agak mengendap-endap demi mengejar Merak itu.

“Kamu lihat ke kiri.. aku ke kanan”, begitu kata Mas Willy. Kita sih percaya saja karena kita sudah tahu kemampuan mata mas Willy, namun..

“Itu tuh yang gedhe banget?” kata mas Dlohak.

“Iya.. eh tapi…”

“ITU KAN LUTUNG!!!!!”

Ternyata “merak” yang dibilang mas Willy adalah seekor LUTUNG JAWA!!!. Ya, jauh amat sih dari Merak Hijau menjadi Lutung Jawa (Trachippitechus auratus/Ebony Langur)????. Ternyata ketelitian mata tidak menjamin segalanya, haha.

Peta yang menganjurkan kita mengambil jalan sesat

Akhirnya kami menyerah dan kembali ke jalan yang benar. Disini kami bertemu dengan rombongan KP3 Forestry UGM yang ikut “tersesat” di jalan yang sesat ini. Mas Faqih yang menjadi ketua rombongan bahkan rela mblasak-blusuk ke semak-semak karena mengira suara daun palem yang bergesekans ebagai suara laut! Hahaahahaha. Akhirnya kamipun memutuskan untuk pulang.

Begitu mendekati jalan besar, kami menyusun rencana untuk “mencegat” mobil yang lewat untuk ditumpangi sampai ke Bekol, mengingat jarak yang cukup jauh dan tenaga dan waktu yang sudah habis, sementara kami juga melihat beberapa mobil turis yang menuju Bama saat kami menuju ke hutan musim.  Nah, kebetulan! begitu sampai di jalan besar terlihatlah mobil pick-up Mitsubishi Strada dengan tulisan “Manggala Agni” (Satuan anti kebakaran hutan) yang menuju ke arah kami. Serta merta kami hentikan dia dan… alhamdulillah dia berhenti. Ruapanya mobil ini digunakan untuk mengangkut kasur yang ada di villa pantai Bama untuk tidur panitia (huu… curang..). Dan si bapak yang menyetir pun mengijinkan kami untuk naik!!

Truk yang rela mengantar kita kembali (perhatikan Truknya, bukan orang yang berpose di depannya)

Sepanjang perjalanan, mas Faqih menjadi komandan yang memberi aba-aba untuk menunduk apabila ada dahan rendah yang bisa membentur kepala kami (sama seperti disaat kita berangkat dari Batangan menuju Bekol). Selain itu, dia juga memberi aba-aba bila bertemu rombongan lain sehingga kami bisa memberi kata “selamat capek” kepada mereka, heheh. yupz, begitu ada rombongan lain, kami semua lantas melambaikan tangan dan tersenyum sekaligus mengingatkan “udah sore, balik saja!” sementara mereka hanya bisa tertawa dan menunjuk-nunjuk seakan ingin berkata “sialan….”.

Sesampainya di Camping ground, kami langsung turun dan menunggu makan malam disajikan (dan saya ada di barisan depan lagi!!), setelah itu dilanjutkan acara selanjutnya yaitu pembacaan tata tertib dan penjelasan mengenai lomba besok. Sementara itu, kami juga berkenalan dengan Leon dan Ronald, kawan SMP dari Timika. Ada juga tim yang mengambil kesempatan untuk berjualan kaos buatannya dengan kata-kata yang agak “lebay”.

“Silahkan dipilih mas… buat ongkos pulang..” (What the…??)

Setelah itu saatnya tidur. Tapis ebelum itu, diadakan rapat tertutup antara saya, mas jarot dan Bintang. Bintang yang ternyata berbalik arah menuju Evergreen (hutan anomali yang hijau sepanjang tahun) berpendapat lebih baik kita pergi ke Evergreen pada paginya lalu menembus savanna di siang hari bolong menuju Bama. Kamipun setuju karena bila kami menuju Evergreen (entah kenapa saya suka sekali istilah ini) pencahayaannya kurang tepat dan akan membuat burung-burung terihat siluet. Sip.. saatnya tidur!!!!

Bersambung ke Baluran-Britama Birdrace 2010: Kok jadi balapan beneran???