EXAVASOUR Backpacking 2010: The Plateu

Catatan ini adalah laporan perjalanan dari Ekspedisi lintas jalur selatan Jawa yang dilaksanakan atas kerjasama tim XDC sociaty

Dieng atau Selandia Baru?

Selasa, 29 Juni 2010 5 jam kami mempraktekan lagu mbah Surip, baru pukul 7 pagi kami berhenti “merem melek” dan akhirnya jadi “melek” sepenuhnya. Teh hangat rupanya sudah disiapkan oleh nenek-nya Adistia, menjadi awalan yang nikmat bagi hari ini. Hari ini, kami akan melanjutkan perjalanan mencari Point Of Interest di sekitar Wonosobo, tepatnya di atas sana, di Dataran Tinggi Dieng.

Pukul 9.00, dengan ransel penuh makanan ringan, kami berjalan penuh semangat sambil menenteng Canon EOS 450D milik Adistia. Bukannya mau pamer, tapi kerna kami tidak ingin kelewatan momen indah selama perjalanan nanti. Menurut informasi yang kami dapat, sepanjang perjalanan nanti kami akan disuguhi pemandangan yang luar biasa—ini yang tidak boleh kami lewatkan!.

Seperti yang saya bilang dalam cerita sebelumnya (EXAVASOUR D-1: First Step!), kami cukup beruntung karena homestay kami di Wonosobo dekat dengan Jalan Raya Dieng, sehingga kami cukup berjalan kaki sebentar sembil menunggu angkot. Dan lebih beruntungnya lagi angkot langsung tersedia begitu kami sampai di Jl. Dieng, padahal menurut informasi angkot menuju Dieng ini jarang lewat karena armada terbatas.

Pemandangan sepanjang Jl. dieng

Pasar Dieng

Jalan longsor digantikan dengan jembatan kayu

Di angkot kecil serupa angkot Jogja-Kaliurang ini kami mendapat tempat duduk paling belakang. Tempat yang pas untuk melihat keindahan panorama alam yang disediakan. Benar saja, baru 15 menit berjalan, Adistia langsung sibuk dengan Canon EOS 450D milkinya. Mulai dari panorama gunung, jalan, hingga jembatan darurat yang kami lewati karena jalannya longsor. Cukup seru, dan kami tidak juga berhenti berteriak “Asemm!!! Aku dapat frame apik!!!!”.

Sampai di wilayah dataran tinggi, kami langsung terpukau menatap tanaman sayuran, teh dan kentang yang ditanam terrasering. Memang hal ini sudah biasa kami lihat di tempat lain, tapi disini kami melihat sesuatu yang berbeda, yakni pipa-pipa paralon yang terlihat “mengambang” diantara kebun sayuran. Menarik sekali.

Tiba-tiba saya ingat kembali bacaan yang pernah saya baca di website indobackpacker. Ternyata gambaran mengenai tracking Himalaya yang ada di tulisan tersebut hampir sama dengan apa yang saya lihat sekarang. Kebun kentang, jalan terjal dan sempit, bis yang sudah karatan, semuanya hampir sama. Bedanya, mungkin hanya ketinggian!.

Akhirnya kami diturunkan di sebuah pertigaan dimana terdapat pos ojek wisata di salah satu sudutnya. Sebelum menyapa mereka, kami mengambil beberapa frame foto. Tas punggung saya terus saja menjadi primadona foto karena menunjukan jati diri backpacker, sementara hanya saya sendiri yang bawa. Jadi, seperti rental tas punggung buat foto gitu deh!

Dari pertigaan agak ke belakang ada sebuah Puskesmas tempat kelahiran saudaranya Adistia. Kata kakeknya, saat kelahiran saudara Adistia tersebut, warga kampung digegerkan dengan adanya Harimau yang masuk desa, mungkin mencari anaknya yang dicuri warga beberapa hari sebelumnya. Di belakang Puskesmas tersebut adas ebuah SPBU tempat kami menumpang buang air kecil Huh, di udara dingin seperti ini produksi urine memang meningkat, berseberangan dengan prouksi air keringat.

Setelah selesai berpose, kami menghampiri pos ojek wisata tadi. Disana kami menawar sewa ojek untuk mengelilingi seluruh POI yang ada di Dieng. Tadinya mereka menawar Rp.80.000/motor. Kami mencoba menawar dan akhirnya didapat harga sepakat, Rp.75.000/motor. Menurut informasi dari kakeknya Adistia, harga beberapa tahun yang lalu adalah Rp.50.000, jadis eharusnya minimal kami bisa menawar harga menjadis ekitar Rp.60.000. Sayang, diantara kami tidak ada satupun orang yang pintar menawar. Ini menjadi catatan penting untuk perjalanan selanjutnya, harus membawa kawan yang pintar menawar.

Akhirnya kami berangkat. Rencananya, kami akan berhenti di 5 titik wisata, yaitu Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuko, Kawah Sikidang, Telaga Warna dan Candi Pandawa. Perjalanan menuju Sumur Jalatunda adalah yang terjauh, melewati sebuah stasiun PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Geothermal) dan pipa-pipa rasaksa penyalur uap panas.

Adventurising dieng.. ya, itu saya!

"Bang, mana Pertamax-nya?"

Di sebuah kebun di pinggir bukit yang masih tersisa hutannya, saya melihat seekor Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) yang masih memiliki sedikit bulu kapas di pangkal sayapnya. Elang ini berada pada jarak yang cukup dekat, bersoaring sebentar lalu pergi. Sayang, saya gagal mendapat fotonya karena motor berjalan lebih cepat.

Setelah 10 menit, akhirnya kami sampai di Sumur Jalatunda, sumur yang konon katanya berkedalaman 1 kilometer. Sebenarnya sumur ini lebih seperti Danau besar yang mengisi sebuah jurang yang cukup dalam. Airnya hitam pekat, sepertinya tidak pernah disentuh oleh manusia selama ribuan tahun, terisolasi oleh tebing disekitarnya. Saya mengira masih ada kehidupan di dalamnya saat melihat seekor Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris) yang terbang di bawah sana. Menurut informasi, sumur ini konon dulunya tempat memandikan bayi Gatotkacha yang bertulang kawat berotot besi (Eh?? kebalik ya?).

Ada lagi mitos yang mengatakan, apabila kita berhasil melempar batu menyebrangi sumur untuk laki-laki dan setengahnya untuk perempuan dengan suatu niat, maka niat itu akan terkabul. Saya mencoba beberapa kali, namun hanya mencapai 1/4nya. Adistia juga mencoba dan nasibnya lebih mujur, mencapai 1/2nya. Ternyata batu yang kami ambil itu dijual seharga Rp.500 rupiah, dan kami harus membayar Rp.10.000 untuk 20 batu yang kami lempar. Catatan selanjutnya, kalau mau kesini harus bawa batu dari rumah. selain lebih banyak pilihannya, harganya juga lebih murah, yakni gratis!.

Setelah puas disana kami berpindah ke Kawah Candradimuka. Konon katanya bayi Gatotkacha “direbus” disinid an mendapat kekuatannya. Menurut kakeknya Adistia, kawah ini tidaklah sebegitu panas. Cairan yang ada di dalamnya merupakan belerang, yang memiliki titik didih rendah. Jadi walaupun kelihatan mendidih, kawah ini tidak sepanas air mendidih. Beliau sendiri pernah mencobanya, sementara kami tidak berani.

Belajar Macro di kawah Sileri

Disini, hanya dua hal yang bisa kami lihat, yakni asap dan orang pacaran. Wah, enggak enak! Kami hanya menghabiskan waktu 20 menit disini dan melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sikidang.

Di kawah Sikidang Adistia menjadi Guide. Dia yang menunjukan arah menuju kawah karena dulu dia pernah kesini. Sebelum itu, karena suara Adzan sudah berkumandang, kami luangkan waktu untuk beribadah., selepas itu barulah kami menuju Kawah Sikidang. Sayang, baru setengah perjalanan hujan turun. Kami langsung berlari seperti orang kesetanan menuju pos berteduh.

Setelah setengah jam menunggu akhirnya hujan reda. Kami segera menuju Kawah yang konon katanya merupakan tempat dimana seorang prabu ditimbun oleh ratu yang ingin dilamarnya. Karena dia marah, tanah tempat ia terpendam dipenuhi air belerang yang mendidih sepanas hati sang prabu. Sang prabu juga sempat mengeluarkan kutukan, dimana keturunan ratu di masa depan akan berambut gimbal. Inilah awal mula legenda anak berambut gimbal yang ada di Dieng. Sayang, kami tidak bisa melihat atau memotret anak berambut gimbal hingga akhir perjalanan.

Setelah menikmati panorama disana, kami lanjut menuju Telaga Warna. Disini kami harus membayar tiket masuk sebesar Rp.5000, padahal di tulisan bacaannya Rp.2000 (Humpp..!). Tapi ternyata harga tiket tersebut terbayar oleh apa yang kami lihat. 10 meter dari pintu gerbang, terlihat sebuah telaga luas yang sangat cantik. Warnanya hijau muda, dan di ujung sana terlihat berkilauan memantulkan cahaya matahari. Indah sekali! Dan saya sempat terharu ketika saya sadar bahwa saya sudah sampai begitu jauh dari rumah yang aman hanya untuk melihat telaga ini, yang selama ini hanya saya lihat di televisi. Luar biasa!

“Wah, isinya alga semua kan nji?”, kata Adistia menyeltuk. Ya, memang telaga ini berwarna hijau-biru (aqua marine) akibat alga yang tinggal di dalamnya.

Tiba-tiba….

“Ti-lu-li-lu-li-ll-ii-iiii…”

Saya kaget, terkejut setengah mati. Barusan adalah suara burung yang sama sekali tidak saya sangka berada disini. Remetuk Laut (Gerygone sulphurea) yang biasanya tinggal di dataran rendah hingga ketinggian 1500 mdpl bisa saya temui disini! Di ketinggian 2030 mdpl! Mungkinkah ini catatan baru?. Ternyata begitu saya sebarkan di milis beberapa hari kemudian, teman-teman pengamat burung berkata “bisa jadi ini catatan baru di Indonesia”, Yay!!!

Ayo!

Ada yang tahu artinya? Yupz, Telaga Warna

Sebelum saya pulih dari rasa keget tersebut, hujan kembali turun. Terpaksa demi menyelamatkan Canon EOS 45oD milik Adistia, kamipun berteduh di sebuah mushalla dekat gerbang masuk. Disini kami hanya bisa bengong mengamati telaga yang indah itu.

15 menit berlalu, hujan pun reda. Kami kembali berjalan menyusuri pesisir telaga. Pepohonan pinus membentuk semacam terowongan di jalan yang kami lalui. Batangnya dirayapi lumut berwarna merah yang membuatnya semakin cantik, khas pepohonan ketinggian. Saya hanya bisa melihat dengan takjub sambil memakan jeruk yang kami bawa sebagai bekal dan melempar kulitnya ke arah tanaman supaya menjadi pupuk alami bagi mereka.

Di tengah telaga kami melihat aktifitas kehidupan yang lain. Sekitar 15 ekor burung air serupa mandar dan itik berenang menuju pulau kecil di tengah danau untuk berjemur. Di ujung jalan yang kami temui, kami juga menemukan seekor Garangan Jawa (Herpetes javanicus) yang mencari makan di antara semak-semak. Dari semua hewa yang kami lihat, hanya Garangan Jawa yang berhasil kami potret, sementara si burung air tetap menjadi misteri bagi kami.

Terus berjalan menyusuri telaga, kami sampai dis ebuah rawa yang membatasi Telaga Warna dan telaga Pengilon. Dari sana terus ke depan, kami bisa melihat beberapa arca yang diletakkan di depan gua kecil yang terlihat menyeramkan, membuat kami tidak berani untuk masuk, hehe.

“Orang jaman dulu ternyata vulgar ya?”, kata Adistia seraya menunjuk arca perempuan yang tidak berpenutup dada, saya hanya tersenyum. (arca tersebut saya kira merupakan arca ratu Sima, pendiri candi Pandawa yang menjadi tujuan kami selanjutnya).

Pelataran Candi Pandawa

Setelah puas, kami kembali menemui para pengantar kami. Di tujuan akhir kami, Candi Pandawa, akhirnya kami harus berpisah dengan mereka. Dengan ucapan terimakasih kami meninggalkan tempat parkir dan segera mengeksplorasi kompleks percandian tersebut. Sebelumnya, kami berfoto ria di sebuah lapangan dengan lukisan batu melingkar di tengahnya, seperti crop circle!.

Sebelum sampai di kompleks candi, kami melihat sebuah pemandangan yang cukup lucu. Beberapa ekor domba merumput di padang rumput luas dengan latar belakang perbukitan&mdash:seperti di Selandia Baru!. Kamera pun diangkat, berpose di depan biri-biri untuk kemudian di upload ke Facebook dan mengaku sedang berada di Selandia Baru, hihi.

Dieng or New Zealand?

Di kompleks candi, kami menemukan kenyataan bahwa kompleks candi ini cukup kecil namun tertapa rapi, meskipun banyak kerusakan disana-sini. Beberapa candi bahkan sudah tidak bisa kita kenali lagi reliefnya. Tapi secara keseluruhan, kompleks candi ini cukup apik dengan latar belakang yang menawan. Di sini kami baru tahu teknologi orang jaman dulu yang bisa mengeringkan tanah Dieng yang sebenarnya sebuah danau menjadi perkampungan mereka. Wow!

Di sebuah candi—kalau tidaks alah Candi Arjuna—kami melihat relief yang unik di pintu masuknya. Seperti gambar monster bertaring panjang, yang saya kenalid engan nama Banaspati. Di sebelahnya, ada Candi milik salah satu istrinya Arjuna, yakni Candi Srikandi. Terlihat relief orang yang mukanya hilang termakan zaman, berlengan empat dan salah satu tangannya memegang semacam roda—saya mengnalinya sebagai dewa Wisnu, Adistia cuman angguk-angguk.

Saya berpikir, kalau di sisi sebelah sini ada Wisnu, pasti di sisi lain ada dewa Trimurti lain. Benar juga! Di sisi sebalinya, di sebelah kanan pintu masuk candi, terlihat relief orang berwajah empat, Brahma!. Dan di sisi belakang, terdapat relief yang paling ancur, namun bisa dikenali kain yang digunakan seperti sarung dan ular yang meililit di leher orang tersebut, Syiwa!. Wah, ternyata saya berbakat jadi sejarawan! Untung sering menonton serial Little Krishna di TPI, hehe..

Akhirnya, time to go home. Setelah berfoto narsis di tengah jalan di depan gapura selamat dtang, sebuah angkot pun datang. Dengan kondisi mual akibat asap rokok slah seorang penumpang, kami meluncur dengan santai menuju Homestay, dimana hidangan berupa nasi sudah tersedia—sesuatu yang belum kami dapat selama di Dieng.

Tiba-tiba, kakeknya Adistia datang dan bertanya, “mau ke Bandung besok atau sekarang?”. Sebelum kami jawab, dia kembali berkata “kalaus ekarang saya belikan, saya yang bayar!”. Mendengar kata-kata terakhir, kami langsung terdiam, sebelum akhirnya berteriak kegirangan mendapat tiket gratis ke tujaun berikutnya. Bandung, here we come!!

Mau tahu kelanjutan cerita kami di bandung? Tunggu kelanjutannya dalam EXAVASOUR 2010 D-3: Lost and Lose in The City

2 thoughts on “EXAVASOUR Backpacking 2010: The Plateu

  1. Ping-balik: EXAVASOUR Backpacking 2010: The First Step! « Lonely Little Peregrine..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s