EXAVASOUR Backpacking 2010: The First Step!

Catatan ini adalah laporan perjalanan dari Ekspedisi lintas jalur selatan Jawa yang dilaksanakan atas kerjasama tim XDC sociaty

Minggu, 27 Juni 2010

Keberangkatan tim EXAVASOUR 2010 rupanya sempat dihalang-halangi oleh beberapa kejadian mulai dari tumpahnya satu botol madu di lantai kamar hingga pengantar ditilang Polisi (dan polisi tidak menjelaskan apa kesalahan kami!). Meskipun harus terlambat 12 jam, kami terus berusaha membuat perjalanan ini menjadi perjalanan yang ceria dan menyenangkan!

Nah, sebelum lanjut ke cerita, ada baiknya kalau kalian mengetahui apa itu EXAVASOUR. EXAVASOUR adalah singkatan dari Expedition of Javan South Route atau Ekspedisi Lintas Jalur Selatan Jawa. Saya dan kawan saya Adistya (bukan nama sebenarnya) rencananya akan melakukan perjalanan ala backpacker melintasi jalur selatan jawa sambil mengunjungi point of interest yang terserak di sekitarnya. Perjalanan ini dimulai pada hari minggu, 27 juni 2010 dan rencananya akan rampung pada hari minggu, 11 Juli 2010. Start point Ekspedisi ini adalah Jogjakarta, kemudian menuju Wonosobo, Purwokerto, Bandung, Bogor dan Jakarta kemduian kembali lagi ke Jogjakarta.

Kembali ke cerita, saya dan Adistia langsung mendapatkan Bis menuju Magelang dari terminal Jombor menuju terminal Tidar. Ongkosnya sekitar Rp. 7000/orang. Dari sana kami langsung mendapat bis kecil menuju Wonosobo dengan ongkos Rp.15000/orang. Menurut informasi, bis ini melewati lembah di antara gunung Sumbing dan Sindoro, dan walaupuin tanpa AC dijamin para penumpang nggak bakal kepanasan.

UGh, ternyata berat juga membawa tas Carrier ke dalam bus, untungnya pak Kernet yang baik hati membukakan pintu belakang untuk tempat kami menaruh tas Carrier dan ransel ini. Begitu berangkat barulah kami ingat kalau jaket dan makanan ringan ada di dalam ransel itu, sementara sekarang kami sudah kelaparan dan kedinginan. Walah-walah…

Selama 3 jam tersiksa terdiam di dalam bus yang penuh sesak, kami mulai memasuki daerah Wonosobo. Awalya sih kami mau turun di Terminal Mendolo untuk kemudian dijemput oleh saudaranya Adistia. Namun Pak Kernet menyarankan kami untuk turun di Garasi bis ini saja, karena lokasinya sudah dekat dengan rumah kakek dan nenek Adistya. akhirnya kami turuti saja apa perkataan si kernet dan mbak mas sesorang yang duduk di sebelah kami.

Nah, sampai di Garasi bis Putra Perdana, kami mendapat berita baik dan berita buruk. Berita baiknya begitu kami melihat ke papan nama yang ada tand alokasinya, disana tertulis JL. Dieng km 2. Artinya untuk tujuan berikutnya (Dieng) kami ntidak perlu susah-susah, cukup menunggu bis kecil menuju dataran tinggi Dieng. Berita buruknya, kami masih harus berjalan sekitar 2 kilometer yang menanjak menuju rumah kakek-neneknya Adistia dengan menggendong tas berat terkutuk ini. Wah!! Untung malam hari disini terasa dingin, jadi capek yang terasa langsung hilang dan digantikan oleh semangat backpacker untuk terus lanjut sampai mati di tujuan.

Akhirnya setelah berjalan jauh, sampailah kami di rumah kediaman kakek-neneknya Adistia. Disini kami langsung disambut dengan teh manis, makanan hangat dan berbagai macam kenikmatan lainnya. Akhirnya setelah menderita selama 3 jam kami bisa mendapat kesenangan, hehe. Dai kemarin kami memang sibuk memikirkan perkataan yang berbunyi “Backpacker itu harus menderita”, tapi saya rasa harus ditambahkan sedikit lagi, menjadi “Backpacker itu harus menderita sampai saatnya dia harus merasakan kesenangan”.

Karena terlalu lelah, kami langsung tertidur tanpa menonton siaran Piala Dunia—yang kami sesali keesokan harinya&mdash. Have a nice dream!

Senin, 28 Juni 2010

Bangun tidur, tidur lagi. Itulah sebagian kecil lirik dari salah satu lagu mbah Surip yang kami praktekan pagi ini. Hingga akhirnya pukul 07.00 pagi kami baru benar-benar bangun. Teh manis dan camilan menyambut kami di pagi hari ini.

Rencananya hari ini kami beristirahat dulu sambil menikmati kolam renang air hangat yang terletak di dekat rumah kakek-neneknya Adistia, lalu malamnya kami berencana untuk menikmati Mie Ongklok khas Wonosobo sambil menengok alun-alun kota Wonosobo. Keesokan harinya baru kami menuju ke Dataran Tinggi Dieng.

Pukul 09.00 lewat sedikit, kami segera pergi menuju kolam renang air hangat “Kalianget” yang terletak hanya sekitar 600 meter dari homestay. Kami menempuhnya cukup dengan berjalan kaki selama 15 menit. Sampai did alam Adistia langsung mengkritik pedas pengelola kolam renang ini karena dari sejak dia kelas 5 SD hingga sekarang tempat itu nggak pernah diperbaiki. Ubin kolam renangnya bolong-bolong berbahaya, ditambah sebuah perosotan air yang rusak dan terlihat kotor. Awalnya saya sih hanya tersenyum saja mendengar ocehan Adistia yang berenang sambil mengkritik, hingga saya melihat seekor Merak Hijau (Pavo muticus) yang dikurung dalam kandang yang sangat tidak layak, barulah saya ikut-ikutan mengoceh. Maklum, Merak Hijau yang dilindungi oleh UU no. 5 tahun 1990 atau 1994 (lupa!) itu tidak boleh dipelihara untuk alasan apapun, kecuali bagi institusi pemerintah yang khusus menangani hewan tersebut (nah lo, kok malah jadi kampanye?).

Yah, begitulah, disini lokasinya cukup ala kadarnya kalau nggak mau dibilang jelek. Tapi lumayan, berenang di kolam air hangat membuat kami melupakans ejenak kelelahan kami kemarin. Lalu kami pindah ke kolam air dingin dan menggiggil disana, dan segera kembali ke kolam air panas dan kepanasan disana. Ya, inilah buah dari keisengan kami.

By the way, kolam air panas ini masih mengandung belerang, terlihat dari warna airnya yang keruh. Katanya sih bisa buat kesehatan kulit, terserah mau percaya atau tidak. Tapi yang terjadi pada kulit muka kami lain lagi. begitu pulang dan mandi sore, muka kami terasa perih sekali. Ternyata, kami lupa memakai sunblock dan kulit muka kami terbakar!.

Malamnya, kami berencana untuk mengunjungi warung Mie Ongklok “Longkrang” sekaligus melihat alun-alun. Dengan motor milik kakeknya Adistia, kami segera meluncur menuju warung yangi—kata kakeknya Adistia—terkenal akan kelezatannya ini. Setelah berputar-putar mencari, akhirnya ketemu juga. Karena letaknya di jalan satu arah, kalau kelewatan,. terpaksa mesti berjalan jauh dulu sampai bisa kembali lagi.

Disini kami menyadari kalau kartu memori DSLR Canon EOS 450D milik Adistia terbawa di laptop yang dibawa oleh ibunya Adistia, yang beberapa saat yang lalu baru saja berangkat ke Jakarta dengan travel. Untunglah kartu memori tersebut bisa diselamatkan. Adistia dengan motor kakeknya langsung ngebut menuju suatu lokasi dimana travel tersebut berhenti, tepat disaat makanan disediakan.

Hmm, jadi ini ya rupa Mie Ongklok? Mie dengan porsi kecil (hikz..) berkuah kental yang dimakan bersama ste dan mendoan. Dan rasanya? manis bercampur gurih bumbu kacang. Satu porsi Mie Ongklok dihargai Rp.4000 rupiah, mendoan Rp.500/buah dan satenya Rp.1000/tusuk.

Ketika Adistia kembali, Mie Ogklok milik saya sudah habis. Karena kelelahan, kami hanya mengitari akubn-alun dengan motor tanpa mampir, dan segera kembali ke homestay.

Yah, backpacker memang harus menderita, dan ternyata jalanan tidak pernah semulus yang kita duga. Banyak yang harus dibatalkan, dan banyak juga yang harus ditambahkan. Setidaknya, beginilah rasa menjadi seorang backpacker.

*Bersambung ke EXAVASOUR 2010 D-2: The Plateu.
*Foto menyusul..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s