The real Indonesia

Minggu, 11April 2010

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Matahari bersinar cukup cerah. Di ujung utara sana, terlihat Gunung Merapi yang sangat indah, melambangkan kebesaranNya. Saya hanya bisa tersenyum sejenak sambil melihat gunung tersebut, sebelum akhirnya seekor anjing datang menyerang. Hah, ritual tiap pagi yang melelahkan, jalan-lihat gunung-dikejar anjing-pulang.

Tapi, sepertinya hari ini akan lain dari hari-hari sebelumnya. Ini hari minggu, bukan hari sabtu atau jumat. Ya, nama hari ini memang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Saya menunggu di depan SMAN 1 Pakem tercinta, melihat ke arah utara kalau-kalau muncul seorang pengendara motor berhelm putih yang segera mengambil kartu dari sakunya, menggesekan kartu itu ke ikat pinggangnya dan berteriak “HENSHIN” seraya berubah menjadi seorang Masked Rider. Wah, semakin aneh saja hari ini.

Sebenarnya, hari ini ada 2 acara penting dan agak penting yang rencananya akan saya hadiri. Acara yang agak pentingnya adalah Try Out gratis dari sebuah lembaga bimbingan pelajar pada pukul 8 pagi, dimana saya dan teman saya yang saya tunggu akan berangkat bersama ke tempat Try Out tersebut. Setelah itu, barulah acara pentingnya, menghadiri undangan dari KSSL untuk mengikuti kegiatan birdwatching tahunannya, kali ini di Pantai Trisik, Yogyakarta.

Manusia boleh berencana, tuhan yang menghendaki. Teman saya mungkin tidak jadi ikut, atau mungkin malah sudah berangkat terlebih dahulu. Terpaksa, saya harus meninggalkan acara “agak penting tersebut” beserta tumpangan gratis menuju acara pentingnya.  Yang jadi masalah sekarang, bagaimana saya bisa menghabiskan waktu 4 jam yang tersisa ini?

Sambil berjalan ke arah selatan, saya melihat sebuah angkotan kota menuju Monjali (Monumen Jogja Kembali), dekat dengan markas Kutilang. Nah, ketapa tidak ke Kutilang saja? Lumayan bisa nge-net gratis!

Tanpa terasa 4 jam berlalu, saya segera berpamitan pada kawan-kawan di Kutilang dan segera menuju KSSL. Hujan turun dengan derasnya, membuat saya hanya bisa meringkuk kedinginan.  Akhirnya hujan reda dan kami pun berangkat.

Ternyata, Trisik itu jauh ya! Pegal sekali rasanya harus duduk berlama-lama di atas motor. Akhirnya kami sampai di rumah MasAdhy Maruly atau yang biasa dipanggil mas Batak.  Namun, hujan tiba-tiba turun lagi. Setelah rapat sebentar, diputuskan acara akan tetap berjalan walau harus hujan-hujanan.

Kami berjalan dari laguna menuju muara. Dari sini, suara Cici Padi/Zitting Cisticola Cisticola juncidis terdengar dimana-mana. Burung kecil-mungil ini emang cukup bersik dengan suaranya yang men-Zit, maka itulah nama inggrisnya Zitting Cisticola.

Setelah beberapa langkah, burung pantai pertama pun terlihat. Ada Trinil Pantai/Common Sandpiper Actitis hypoleucos yang sedang menyendiri ditemani oleh ikon Pantai Trisik, Cerek Jawa/Javan Plover Charadrius javanicus yang memang mirip sekali dengan saudaranya Cerek Tilil/Kentish Plover Charadrius alexandrius yang mungkin sedang bermigrasi sekarang.

Tiba-tiba kami dikejutkan oleh ulah Cabak Kota/Savannah Nightjar Caprimulgus affinis yang terbang secara tiba-tiba dari balik semak. Ternyata dia sedang mengerami telurnya. Telur burung nokturnal ini tergolong kecil, seperti telur puyuh namun lebih buram. Ada cukup banyak Cabak Kota disini, dan mereka berterbangan dengan gaya khas. Disini juga terlihat seekor Gemak Loreng/Barred Button-quail Turnix suscicator yang berlari dengan sangat cepat, sebelum akhirnya terbang menjauh.

Tiba-tiba kami dikejutkan oleh seekor Cikalang Christmas/Christmas Frigatebird Fregata adrewsi yang terbang tepat di atas kami. Bagi saya yangbaru 2x ini mengamati burung pantai, ini adalah hal yang luar biasa. namunbagi Bintang–yang umurnya sama dengan saya–hal ini sudah biasa, karena dia sudah mngemati burung sejak kelas 4 SD!

Mas Batak berhenti di tepi kubangan. Ia melihat ada belasan ekor Cerek Jawa disini. Wow, dengan mata telanjang pun dia bisa melihat burung kecil ini!. Ternyata, diantara flocking Cerek Jawa ini terlihat seekor Kedidi Leher-merah/Red-necked Stint Calidris subminuta yang sedang mengusik para Cerek. Burung yang satu ini agaknya lebih berani dan kurang sensitif akan keberadaan manusia.

Menjelang senja, terlihat sebuah pemandangan yang indah di batas horizon sebelah barat. Matahari mulai terbenam perlahan, memancarkan cahaya keemasan yang indah. Sementara di sebelah timur terlihat pelangi yang juga tak kalah indahnya, membuat Bintang sampai terduduk lemas begitu melihat pemandangan spektakuler ini. Inilah the Real Indonesia, indonesia yang sebenarnya. Yang kaya, namun penduduknya tidak tahu letak kekayaanya.



One thought on “The real Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s