A Little piece of Surabaya

Kamis, 11 Februari 2010 Pukul 20.00


Aku masih bersiap-siap di kediaman Bintang, rekan satu tim-ku. Masih terbayang nekad juga saya ini yang belum pernah mengamati burung air, tapi tiba-tiba mengikuti Waterbird Watching Race (WBWR) 2010 di Surabaya ini. Tapi untunglah! saya bersama orang-orang yang tepat. Bintang adalah seorang birdwatcher muda dnegan seabrek pengalaman yang diperolehnya dari kelas 3 SD hingga kelas 1 SMA sekarang. Selain itu, ada Mas Jarot yang dulu pernah membimbing ekstrakulikuler Birdwatching di SMPN 16, dia juga seorang birdwatcher kawakan yang bisa diandalkan keahlian identifikasinya. Sementara aku, berdiri di posisi penggambar sketsa, mengaplikasikan kebiasaanku melukis sketsa burung dimana-mana, heheheheūüôā.

Bagi yang belum tahu, Birdrace adalah ajang kompetisi antar birdwatcher yang berlomba-lomba menunjukan kemampuan identifikasi mereka lewat data lapangan yang akan dinilai oleh tim juri. Ok, stop memikirkan birdrace sebagai ajang Gladiator antar Birdwatcher. Nyatanya, para birdwatcher malah dipersatukan disini, walaupun dalam kondisi bersaing.

Tentu saja kami datang bukan tanpa persiapan. Selama sebulan penuh aku terus berlatih¬† mengidentifikasi burung air dan menggambar sketsa dalam berbagai posisi, baik berdiri, duduk maupun tiduran. Sehari sebelum keberangkatan, aku menginap di rumah Bintang untuk mendapatkan “spesial training” dan terus membaca “Kitab Suci” Birdwatcher di wilayah oriental, Fieldguide by Mc.Kinon. Wah, sampai penuh ini otak menghafalkan seabrek jenis burung yang bedanya cuman tipis, paling-paling hanaya satu garis kecil di kepala atau warna yang lebih pucat. Argh!!!

Ok, kita lewati semua yang terjadi dan langsung masuk ke cerita utamanya: Kontingen Jogja di Suramadu WBWR 2010. Kali ini, ada 22 orang birdwacthers Jogja yang siap tempur di Surabaya. Ada 3 tim dari Bionic UNY, 1 tim dari KSSL FKh UGM, tim Si-Fitung (Mbak Sitta,Mbak Alifi,Mas Untung, semuanya dari instansi yang berbeda), serta yang paling muda tim Al-Soneta (Alumni Sekolah Menengah Pertama, idenya Bintang). Yang paling muda? yupz! karena tim ini terdiri dari lulusan SMP yang masih ABG-ABG, termasuk mas Jarot, hehehe.

Pukul 21.30

Kami sampai di St. Lempuyangan. Tanpa disangka-sangka, stasiun ini telah ramai oleh para Birdwatcher Jogja, baik yang ingin mengikuti kompetisi maupun yang mengantar, kompak sekali. Aku jadi berpikir, apakahkawan-kawan dari kota lain juga seperti ini ya?

Bersama kawan-kawan lama, waktu berjalan sangat cepat. Kereta Gaya Baru Malam yang akan kami ntumpangi sudah datang. Hmm, aku hanya bisa membayangkan kereta yang penuh, sempit, dan mungkin  kami tidak akan mendapat tempat duduk. Setidaknya, hanya sebagian pikiranku itu benar. Kereta tidak penuh, namun memang sempit, dan kami juga tidak mendapat tempat duduk. Namun, setelah menunggu beberapa lama, kamipun mendapat tempat duduk yang layak.Hmm, lumayan!.

“Walah, tumben kosong, wingi pas aku lagi arep neng malang,, penuh!! nganti 5 jam aku ngadek, ora lingguh-lingguh!(walah, tumben kosong, kemarin waktu aku ke malang penuh! 5 jam berdiri terus!)”, kata Bintang. Gila, nggak terbayang rasanya harus berdiri terus selama 5 jam lebih!.

Jumat, 12 Februari 2010 pukul 04.00

“Bangun! Udah hampir sampai!”, suara itu terdengar tepat saat kami mulai memasuki Stasiun Gubeng. Langsung saja kami bangun¬† dari tidur yang lumayan pules ini. Gila aja! hingga telah malam, suara-suara pedagang makanan masih terdengar mengganggu tidur kami!.

Setelah turun, kami segera mencari tempat beristirahat sejenak. Karena hampir semua toilet di stasiun tutup, kami putuskan untuk mencari masjid. Setelah shalat shubuh, kebanyakan dari kami langsung meneruskan mimpi tadi malam.Sementara itu, saya dan beberapa orang teman lainnya lebih suka mencari makanan buat mengganjal perut.

Kata Mas Zul dari Bionic, seluruh kontingen Jogja akan dijemput oleh panitia. Dengan sabar kami menunggu panitia datang, hingga terdengar deringan Hp..

“Halo? mbak ini gimana?”

“Oh, iya.. sedang kami jemput, berapa orang?”

“22 orang mbak..”

“Hah?! 22? banyak amat? lebih baik kalian naik angkot aja deh..tunggu sebentar, biar kami akan segera menuju lokasi”.

“OK mbak..”

Seluruh obrolan diatas disaksikan oleh seluruh Kontingen Jogja. Wah,, nggak jadi dapet tumpangan gratis deh!. Akhirnya kami menyewa 2 buah angkot seharga Rp.4000/orang. Sambil melihat-lihat pemandangan kota Surabaya, kami sempat melihat burung-burung unik seperti Kerak Kerbau dan seekor Kapinis yang bermain-main di dekat sebuah kolam. Akhirnya, kami sampai di lokasi tujuan.

Sampai di lokasi tujuan, fakultas Biologi ITS . Disini, terlihat beberapa orang peserta yang sudah datang sejak semalam. Sedang asyik-asyiknya beristirahat, tiba-tiba terlihatlah wajah yang sudah nggak asing bagi saya, ada Boas, Mbak Dara dan Mas Ady dari Jakarta! wah, nggak nyangka bisa bertemu mereka disini!.

Di kampus ITS ini, kami langsung bersitirahat sambil ngantri mandi. Gila! di fakultas Biologi ITS hanya ada 2 kamar mandi, satu untuk cewek dan satu untuk cowok, padahal yang mau mandi ada banyak banget!. Sebagai orang lapangan, sebenarnya aku lebih terima nggak mandi, tapi karena Walikota Surabaya mau datang, nggak enak dong kalau harus tampil dengan bau kecut!

Akhirnya–setelah 1 jam menunggu–NaCl yang telah di-ekskresikan dari tadi malam bisa terbuang dari kulit. Wow! Segarnya!. Setelah daftar ulang, kami “disuguhi” beberapa suvenir dari sponsor, termasuk kartu remi “Cak-Cuk Surabaya” yang berisi kata-kata nakal dan kreatif, mirip seperti Dagadu-nya Jogja. Setelah tertawa ngakak membaca kartu-kartu yang agak “nakal” tersebut, panita segera memanggil kami untuk menghadiri acara pembukaan.

Acara pembukaan berlangsung dengan tertib, namun tiba-tiba, sesosok wajah muncul di antara peserta.Wajah yang tidak asing lagi bagi kami, tapi tetap mengejutkan! Ternyata mas Swiss dari Baluran juga ikut disini?? Gila!!! Bener-bener reuni kawan-kawan lama!.

Setelah makan siang (akhirnya dapat makanan yang layak!) dan salat Jum`at,dengan terkantuk-kantuk ,kami segera menuju ke spot pengamatan pertama: Bangkalan, Madura. Melewati Jembatan Suramadu, orang-orang “Ndeso” ini tidak bisa berhenti ngoceh, selalu saja membuat keadaan makin kisruh, hehe. Hmm, tidak seperti yang aku perkirakan, nggak ada satupun burung air yang terlihat di jembatan ini. Padahal, kata teman saya jembatan ini penuh dengan burung air, hmm?

Sebuah drama terjadi saat kami berada di Madura, sebuah kejadian yang akan diangkat ke layar lebar dengan judul “Sa`im Bean The Movie: Lost in Madura”. Ceritanya, minubus yang kami tumpangi bannya kempes, tepat di Jl Kusuma Bangsa no 86. Dengan cekatan, sang sopir mennganti ban kempes dengan ban cadangan, sementara kami hanya bisa menunggu dengan panik, takut waktu pengamatan kami akan berkurang. Akhirnya,¬† ban berhasil diperbaiki dan kami segera menaiki minubus. Tiba-tiba..

“Lho? Sa`im dimana?”, kata Mas Zul dari Bionic. Kami pun menjadi panik, terlebih saat pak Supir berkata “wah, cepet mbak.. Kulo ndak ngerti jalane je.. bisa-bisa ketinggalan!”. Wah! denagn segera kami menelpon mas Sa`im, tapi tidak ada jawaban. Dengan senang berat hati kami meninggalkannya, dimanapun dia berada.

Beberapa meter kemudian. “Wah, ada SMS.. isinya: Sik, aku lagi kebelakang! (ke Toilet)”. Sontak kami semua tertawa, membayangkan bagaimana rupanya saat dia mengetahui bahwa mobil ini telah meninggalkannya. “Salah sendiri lungo nggak anti-anti”, kata salah seorang dari kami. Dan benar, beberapa saat kemudian ada sms lagi yang berbunyi: “Hey! aku ketinggalan!”, ealah.

“Halo im, ntar ada panitia yang jemput kamu, kamu diam aja di tempat, jangan kemana-mana! baterai kamu hemat, jangan buat main game, ok?”, kata Mas Zul di telepon. Bayangkan, bagaimana raut muka dari Mas Sa`im! Kami benar-benar tertawa tergelak-gelak (istilah baru!) begitu memikirkannya. Ketika salah seorang panitia kami sms, apa jawabnya? “Hehe.. jadi pingin ketawa!”. Upz… perut kami benar-benar sakit karena kami terus saja tertawa mendengarnya.

Sampai di tempat pengamatn, langsung saja binokular yang kami bawa dari Jogja dikeluarkan.

“Saatnya beraksi!!”, kataku,

“Oke boss! Siap!!”, kata si Bino.

“Tolong ya Bino!”

“Siap Boss Panji!!”, balasnya.

Akhirnya, 20-an spesies burung teramati, mulai dari Layang-layang api (Hirundo rustica) yang hinggap di tiang listrik, disusul dengan terlihatnya beberapa ekor Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) yang berterbangan. Lalu, munculah Kekep Babi (Artamus leucorhynchus), burung paling menyebalkan yang pernah ada. Baru beberapa langkah, seekor Elang Bondol (Haliastur indus) terlihat terbang bersama beberapa ekor Dara-Laut Kumis (Chlidonias hybridus). Terus melangkah, ada puluhan Trinil Rawa ( Tringa stagnatilis) dan juga Cerek Jawa (Charadrius javanicus). Di Akhir, kami melihat Kirik-kirik Senja (Merops leschenaulti) dan Kirik-kirik Laut (Merops philippinus) dengan ekor panjangnya yang eksotis. Wow!.

Setelah selesai, kami segera kembali ke Surabaya, tepatnya ke arah Medokan ayu, tempat pengamatan untuk keesokan harinya. Setelah rekap data dan identifikasi sketsa–tanpa mandi–kamipun langsung tertidur lelap di selimuti hawa panas Surabaya dan nyamuk-nyamuk jahannam yang terus mengemis darah. Nyoh!

Sabtu, 13 Februari 2010 pukul 07.00

Besoknya, setelah mengantri mandi dan sarapan, kami langsung menuju tempat pengamatan. Kali ini, pengamatan dilakukan Full day dari pukul 07.00-17.00 WIB. Tidak berbeda jauh dengan tempat pengamatan pertama, bedanya hanya disini lebih terpencil dan lebih ramai. Baru datang sudah ada Blekok Sawah, Bambangan Merah dan Mandar Batu dengan perisai kepalanya yang unik. Beberapa saat kemudian, muncul si RajangUdang Biru (Alcedo caerulescens), Dara Laut Tiram (Gelochelidon nilotica),  Cerek Jawa, Trinil dll. Wow!

Strategi kami jalankan: Berpencar. Ya! Inilah salah satu strategi paling ampuh dari kontingen Jogja, karena semakin kita berpencar, maka semakin banyak wilayah yang bisa terlihat, dan semakin banyak spesies yang bisa kita amati. Dengan sandal yang licin akibat lumpur, kami berjalan tertatih-tatih melewati pematang tambak.

Namanya juga orang Jogja,¬† “madang ra madang sing penting kumpul” (makan ataupun tidak makan, yang penting tetap berkumpul).¬† Bisa ditebak, tim yang tadinya sudah berpencar tiba-tiba berkumpul lagi.Yupz, walaupun sedang bersaing, kebersamaan mesti dijaga!

Setelah agak lama, tim al-Soneta pun kembali bergerak. Akhirnya kami menemukan sebuah gubuk milik penjaga tambak. Kami pun menjadikan tempat ini sebagai Basecamp. Sementara Bintang “menghilang” kembali, saya lebih memilih beristirahat sejenak menemani Mas Jarot yang kurang tidur semalam, sambil menunggu lumpur di sandal kering. Tanpa diduga, seekor Gajahan Penggala (Numenius phaoepus) terbang sambil menjerit ketakutan. Ya ampun, memang muka kami seseram itu ya?

Di Basecamp, saya mencoba mengidentifikasi suara burung. Ada suara Bubut (Centropus sp), Kancilan Bakau (Pachycephala grisola) yang suaranya saya jadikan nada sms, lalu juga ada Remetuk laut dan burung-burung berisik lainnya. Perlahan, kawan-kawan kontingen Jogja yang tadinya terpencar kembali bersatu kembali.

Sebelum menyantap makan siang, Bintang dan beberapa orang lainnya kembali sambil membawa seabrek spesies yang dijumpainya. Saya sendiri juga ikut berpencar sambil membawa monokular. Luar biasa, seekor Tangkar Centrong terlihat sangat dekat dengan diri saya!

Setelah makan siang, kami menyadari bahwa persediaan minuman kami habis. Akhirnya,kami putuskan untuk menuju pos panitia, mungkin ada minuman dingin, hehe.

Setelah tersasar kesana kemari, mencari setetes air bersih diantara puluhan hektar air payau, kami pun berjuang mencapai pos panitia dengan bersusah payah, tak terbayang betapa parahnya dehidrasi yang kami derita.¬† Hingga akhirnya, terlihatlah sebuah gubuk kecil dengan beberapa orang peserta lainnya yang duduk sambil meminum es teh manis yang segar… Wah!!

“Bu, Es teh 18!!, kata Mas Zul, sementar kami terus bersorak kegirangan.

Walah dek, banyune entek je…(Walah dek, airnya habis!)”, sahut si ibu penjaga warung yang juga menjadi pos panitia.

Kami tercengang, berusaha memahami kata-kata dari si Ibu tadi. A-I-R-N-Y-A H-A-B-I-S? Perlahan tapi pasti, satu persatu dari kami pun berjatuhan, GUBRAK!

Ya, iki tak masak banyune.. mesak`ake..(ya, ini saya masak duilu airnya… kasihan)”, kata si Ibu. Hah, harus menunggu lagi. Untungnya, sebelum air yang dimasak mendidih, datanglah panitia yang membawa beberapa botol akua dingin. Thanks God!

Setelah agak berlama-lama di warung tersebut, tim Al-soneta kembali melanjutkan perjalanan. Terlihat Kapasan Sayap Putih  betina, Bambangan Kuning, dan burung-burung laut lainnya. Setelah berlama-lama, kami putuskan untuk kembali ke basecamp. Disana, waktu rekap data sebagian besar saya habiskan untuk mandi, karena dipaksa oleh Bintang dan Mas Jarot. Tiba-tiba saya melihat wajah yang lagi-lagi nggak asing, seorang master burung pantai. Ternyata Kang Iwan Londo! Terakhir kali saya bertemu dengannya, kami sedang mengamati burung di Suaka Elang TNGHS.

Malamnya, seharusnya diadakan acara kuis. Tapi berhubung hujan dan tenda yang digunakan bocor, acra langsung dilanjutkan ke acara puncak: Pentas seni yang dibintangi oleh band asal Surabaya, Bubut Sanggar Alang-alang!

“Wah, nama bandnya apik… Bubut alang-alang Centropus bengalensis!”, celetuk Bintang. “Jangan-jangan nyanyinya, But..but..but…, he3..”.

Malam yang hebat, ditutup dengan  nyanyian merdu dari salah satu panitia WBWR 2010. Hah, it`s time to rest!.

Minggu. 14 Ferbuari 2010 pukul 06.00

Pukul 07.00, kami segera bersiap-siap meninggalkan lokasi menuju ITS untuk pengumuman pemenang. Setelah berbasa-basi,  Dewan Juri pun memulai rapat sementara para peserta beristirahat sejenak. Saya berpikir, mungkinkah kami juara?

Hingga datanglah saat yang ditunggu-tunggu. Setelah evaluasi dari mas Swiss selaku dewan juri, ditambah pemberitahuan spesies kuncinya (yaitu Elang Brontok Spizaetus cirrhatus, Berkik Kumbang Besar, Bubut Jawa Centropus nigrorufus serta Cangak Abu Ardea cinerea), pengumuman pemenang pun dilakukan. Awalnya, dilakukan pengumuman Tim ter-, yakni ter-manis, ter-heboh, ter-aniaya dll. Ternyata, tim Bionic dan tim Si-Fitung–keduanya perwakilan Jogja–berhasil meraih tim ter-heboh dan ter-manis (Ya ampun, indra pengecap panitia pada rusak kali ya? hehe).

Lalu kang Londo pun maju ke depan, memegang mic sambil berbasa basi sebentar, dan..

“Tim berpotensi.. Bionic Piyek!”

Kontingen Jogja kembali riang. Suasana semakin tegang.

“Juara 3, tim MoBuPI TK cemara!”

Kami bertepuk tangan. Ada seorang Jogja juga di tim itu, yang juga merupakan murid kang Iwan Londo sendiri. Suasana semakin tegang.

“Juara 2, Jakarta Green Monster!!”

Saya bertepuk tangan. Boas, teman yang biasa saya jumpai kalau sedang main di Jakarta bisa mengalahkan murid-murid Kang Iwan Londo!.

“Dan.. Juara pertama WBWR 2010 adalah….”, kang londo memberikan jeda cukup lama. “Tim.. AL SONETA!!!!!!”

“WHAT???”, saya nggak percaya, kita benar-benar menang!!!!! Sambil Cengengesan, saya, Bintang dan Mas Jarot maju kedepan untuk mengambil hadiah. Ucapan selamat pun dilontarkan darimana-mana. Hehe, nggak nyangka!!

Siangnya, kami segera pulang dengan kereta Sri Tanjung. Keadaannya benar-benar sepi, sehingga kami bisa duduk satu gerbong. Wah, What a great journey!!

2 thoughts on “A Little piece of Surabaya

  1. Ping-balik: Baluran-Britama Birdrace 2010: Merak atau Lutung??? « Lonely Little Peregrine..

  2. Ping-balik: Baluran-Britama Birdrace 2010: Merak atau Lutung??? « Lonely Little Peregrine..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s