Kenali Senjatamu!

Binokular dan monokular merupakan barang wajib bagi para birdwatcher. Bayangkan, betapa sulitnya kita mengidentifikasi burung bila tidak memakai kedua benda ini, meskipun beberapa orang birdwatcher bisa melakukannya.

Pepatah mengatakan, “kenali senjatamu”. Bagi para birdwatcher, pepatah ini mungkin bisa diartikan “kenali binokular dan monokularmu”, karena kedua benda ini adalah senjata utama bagi para birdwatcher dalam mengamati dan mengidentifkasi burung. Penting bagi para birdwatcher untuk mengenali senjatanya sebelum membelinya. Berikut beberapa pertimbangan yang bisa digunakan sebelum membeli bino atau monokular:

  • Kondisi atau lokasi pengamatan
    Para birdwatcher yang tinggal di dekat pantai atau sering mengamati buurng pantai biasanya lebih suka memakai monokular denagn tripod, karena burung-burungnya jarang bergerak dan terkadang membutuhkan perbesaran yang besar untuk bisa mengidentifikasinya. Berbeda apabila kita lebihs ering mengamati burung hutan yang aktif di vegetasi yang rimbun, binokular dengan perbesaran sedang lebih baik untuk digunakan.

    Seperti yang kita ketahui, semakin besar perbesarannya, semakin besar pula ukuran binokularnya. Bila kita terlalu ngebet memakai binokular ukuran besar untuk burung-burung hutan, tentunya akan sangat sulit bagi kita untuk menstabilkan pandangan kita, apalagi mengikuti gerakan si burung. bagi saya, perbesaran 8×10 juga sudah mencukupi.

  • Jenis burung yang akan diamati
  • Bila kita mengamati burung berukuran kecil dan aktif, sebaiknya gunakan binokular ukuran sedang. Namun bila burungnya pendiam, kita bisa menggunakan monokular, tentunya dengan tripod. Untuk amannya–bila anda tidak tahu jenis burung apa yang akan anda temui–gunakanlah yang perbesaran 8×10 atau 10×12.
    Lain lagi bila anda ingin mengamati burung-burung nokturnal, seperti Owl atau Frogmouth. Binokular night-vision mungkin cukup keren, tapi agak sulit karena hanya akan terlihat warna hijau. Sebenarnya, menggunakan lampu atau senter juga sudah cukup, walau mungkin anda akan sedikti mengganggu mereka. Sorotkan lampu tepat ke wajahnya agar si burung tidak kabur.

  • Merek, Type dan Kantong.
    Tentunya, hal ini mesti diperhatikan. Bila anda menggunakan binokular tanpa merk, tentu hasilnya akan berbeda dengan binokular ber-merk terkenal, seperti Nikon. Namun, biasanya binokular tanpa merk jauh lebih mahal dari yang tidak bermerk. Silahkan anda pertimbangkan antara urusan kantong serta kualitas.
    Kalau saya lebih suka menggunakan Nikon, bukannya promosi, tapi yang bisa dipinjam ya hanya itu. Bila anda ingin mengetahui merk-merk binokular da monokular atau scope yang sering digunakan oleh para birdwatcher, silahkan kunjungi http://www.optics4birding.com
    Berdasarkan jenis lensanya, ada dua jenis binokular, yakni roof prism dan porro prism. Sebenarnay keduanya hampir sama, hanya letak prismanya saja yang berbeda. Kalau saya lebih suka menggunakan porro prism karena lebih praktis, tinggal tempel ke mata. Kalau roof-prism sejatinya jauh lebih jelas, asalkan kita tahu cara menggunakannya, yakni dengan menaraik Eyepiece hingga penuh (khusus untuk mata normal). Untuk lebih jelasnya silahkan lihat diagram di bawah ini.

    Porro-prism (kiri) dan roof-prism (kanan)

    Selain tiu, juga terdapat beberapa fitur lainnya dalam suatu binokular, seperti Waterproof, close fokus, nitrogen purge atau image stabilized. Kalau waterproff saya rasa semua sudah tahu, merupakan fitur pertahanan dari air, cocok digunakan untuk musim hujan. Kita tahu bahwa Binokular yang basah bisa mengakibatkan citra yang dihasilkannya berkabut selamanya. Close focus merupakan fitur untuk melihat burung-burung yang jaraknya cukup dekat. Nitrogen purge berarti isi didalam binokular adalah gas nitrogen yang indeks bias-nya lebih kecil dari udara sekitar, yang artinya gambar lebih jelas. Sementara image stabilizer merupakan fitur penyeimbang citra dari  objek yang kita lihat. Silahkan pilih sesuai kebutuhan dan kantong anda.
    Bagi yang ingin memilih monokular atau scope, ada juga dua jenis, yaitu yang bengkok dan juga yang lurus (nggak tahu apa istilahnya). Yang bengkok gampang digunakan buat melihat burung-burung yang suka main diatas, sementara yang lulus bisa digunakan buat burung yang main di atas atau di bawah, terserah anda.

Pada intinya, pilihlah senjatamu sesuai kebutuhan. Selamat memilih!

A Little piece of Surabaya

Kamis, 11 Februari 2010 Pukul 20.00


Aku masih bersiap-siap di kediaman Bintang, rekan satu tim-ku. Masih terbayang nekad juga saya ini yang belum pernah mengamati burung air, tapi tiba-tiba mengikuti Waterbird Watching Race (WBWR) 2010 di Surabaya ini. Tapi untunglah! saya bersama orang-orang yang tepat. Bintang adalah seorang birdwatcher muda dnegan seabrek pengalaman yang diperolehnya dari kelas 3 SD hingga kelas 1 SMA sekarang. Selain itu, ada Mas Jarot yang dulu pernah membimbing ekstrakulikuler Birdwatching di SMPN 16, dia juga seorang birdwatcher kawakan yang bisa diandalkan keahlian identifikasinya. Sementara aku, berdiri di posisi penggambar sketsa, mengaplikasikan kebiasaanku melukis sketsa burung dimana-mana, hehehehe :-).

Bagi yang belum tahu, Birdrace adalah ajang kompetisi antar birdwatcher yang berlomba-lomba menunjukan kemampuan identifikasi mereka lewat data lapangan yang akan dinilai oleh tim juri. Ok, stop memikirkan birdrace sebagai ajang Gladiator antar Birdwatcher. Nyatanya, para birdwatcher malah dipersatukan disini, walaupun dalam kondisi bersaing.

Tentu saja kami datang bukan tanpa persiapan. Selama sebulan penuh aku terus berlatih  mengidentifikasi burung air dan menggambar sketsa dalam berbagai posisi, baik berdiri, duduk maupun tiduran. Sehari sebelum keberangkatan, aku menginap di rumah Bintang untuk mendapatkan “spesial training” dan terus membaca “Kitab Suci” Birdwatcher di wilayah oriental, Fieldguide by Mc.Kinon. Wah, sampai penuh ini otak menghafalkan seabrek jenis burung yang bedanya cuman tipis, paling-paling hanaya satu garis kecil di kepala atau warna yang lebih pucat. Argh!!!

Ok, kita lewati semua yang terjadi dan langsung masuk ke cerita utamanya: Kontingen Jogja di Suramadu WBWR 2010. Kali ini, ada 22 orang birdwacthers Jogja yang siap tempur di Surabaya. Ada 3 tim dari Bionic UNY, 1 tim dari KSSL FKh UGM, tim Si-Fitung (Mbak Sitta,Mbak Alifi,Mas Untung, semuanya dari instansi yang berbeda), serta yang paling muda tim Al-Soneta (Alumni Sekolah Menengah Pertama, idenya Bintang). Yang paling muda? yupz! karena tim ini terdiri dari lulusan SMP yang masih ABG-ABG, termasuk mas Jarot, hehehe.

Pukul 21.30

Kami sampai di St. Lempuyangan. Tanpa disangka-sangka, stasiun ini telah ramai oleh para Birdwatcher Jogja, baik yang ingin mengikuti kompetisi maupun yang mengantar, kompak sekali. Aku jadi berpikir, apakahkawan-kawan dari kota lain juga seperti ini ya?

Bersama kawan-kawan lama, waktu berjalan sangat cepat. Kereta Gaya Baru Malam yang akan kami ntumpangi sudah datang. Hmm, aku hanya bisa membayangkan kereta yang penuh, sempit, dan mungkin  kami tidak akan mendapat tempat duduk. Setidaknya, hanya sebagian pikiranku itu benar. Kereta tidak penuh, namun memang sempit, dan kami juga tidak mendapat tempat duduk. Namun, setelah menunggu beberapa lama, kamipun mendapat tempat duduk yang layak.Hmm, lumayan!.

“Walah, tumben kosong, wingi pas aku lagi arep neng malang,, penuh!! nganti 5 jam aku ngadek, ora lingguh-lingguh!(walah, tumben kosong, kemarin waktu aku ke malang penuh! 5 jam berdiri terus!)”, kata Bintang. Gila, nggak terbayang rasanya harus berdiri terus selama 5 jam lebih!.

Jumat, 12 Februari 2010 pukul 04.00

“Bangun! Udah hampir sampai!”, suara itu terdengar tepat saat kami mulai memasuki Stasiun Gubeng. Langsung saja kami bangun  dari tidur yang lumayan pules ini. Gila aja! hingga telah malam, suara-suara pedagang makanan masih terdengar mengganggu tidur kami!.

Setelah turun, kami segera mencari tempat beristirahat sejenak. Karena hampir semua toilet di stasiun tutup, kami putuskan untuk mencari masjid. Setelah shalat shubuh, kebanyakan dari kami langsung meneruskan mimpi tadi malam.Sementara itu, saya dan beberapa orang teman lainnya lebih suka mencari makanan buat mengganjal perut.

Kata Mas Zul dari Bionic, seluruh kontingen Jogja akan dijemput oleh panitia. Dengan sabar kami menunggu panitia datang, hingga terdengar deringan Hp..

“Halo? mbak ini gimana?”

“Oh, iya.. sedang kami jemput, berapa orang?”

“22 orang mbak..”

“Hah?! 22? banyak amat? lebih baik kalian naik angkot aja deh..tunggu sebentar, biar kami akan segera menuju lokasi”.

“OK mbak..”

Seluruh obrolan diatas disaksikan oleh seluruh Kontingen Jogja. Wah,, nggak jadi dapet tumpangan gratis deh!. Akhirnya kami menyewa 2 buah angkot seharga Rp.4000/orang. Sambil melihat-lihat pemandangan kota Surabaya, kami sempat melihat burung-burung unik seperti Kerak Kerbau dan seekor Kapinis yang bermain-main di dekat sebuah kolam. Akhirnya, kami sampai di lokasi tujuan.

Sampai di lokasi tujuan, fakultas Biologi ITS . Disini, terlihat beberapa orang peserta yang sudah datang sejak semalam. Sedang asyik-asyiknya beristirahat, tiba-tiba terlihatlah wajah yang sudah nggak asing bagi saya, ada Boas, Mbak Dara dan Mas Ady dari Jakarta! wah, nggak nyangka bisa bertemu mereka disini!.

Di kampus ITS ini, kami langsung bersitirahat sambil ngantri mandi. Gila! di fakultas Biologi ITS hanya ada 2 kamar mandi, satu untuk cewek dan satu untuk cowok, padahal yang mau mandi ada banyak banget!. Sebagai orang lapangan, sebenarnya aku lebih terima nggak mandi, tapi karena Walikota Surabaya mau datang, nggak enak dong kalau harus tampil dengan bau kecut!

Akhirnya–setelah 1 jam menunggu–NaCl yang telah di-ekskresikan dari tadi malam bisa terbuang dari kulit. Wow! Segarnya!. Setelah daftar ulang, kami “disuguhi” beberapa suvenir dari sponsor, termasuk kartu remi “Cak-Cuk Surabaya” yang berisi kata-kata nakal dan kreatif, mirip seperti Dagadu-nya Jogja. Setelah tertawa ngakak membaca kartu-kartu yang agak “nakal” tersebut, panita segera memanggil kami untuk menghadiri acara pembukaan.

Acara pembukaan berlangsung dengan tertib, namun tiba-tiba, sesosok wajah muncul di antara peserta.Wajah yang tidak asing lagi bagi kami, tapi tetap mengejutkan! Ternyata mas Swiss dari Baluran juga ikut disini?? Gila!!! Bener-bener reuni kawan-kawan lama!.

Setelah makan siang (akhirnya dapat makanan yang layak!) dan salat Jum`at,dengan terkantuk-kantuk ,kami segera menuju ke spot pengamatan pertama: Bangkalan, Madura. Melewati Jembatan Suramadu, orang-orang “Ndeso” ini tidak bisa berhenti ngoceh, selalu saja membuat keadaan makin kisruh, hehe. Hmm, tidak seperti yang aku perkirakan, nggak ada satupun burung air yang terlihat di jembatan ini. Padahal, kata teman saya jembatan ini penuh dengan burung air, hmm?

Sebuah drama terjadi saat kami berada di Madura, sebuah kejadian yang akan diangkat ke layar lebar dengan judul “Sa`im Bean The Movie: Lost in Madura”. Ceritanya, minubus yang kami tumpangi bannya kempes, tepat di Jl Kusuma Bangsa no 86. Dengan cekatan, sang sopir mennganti ban kempes dengan ban cadangan, sementara kami hanya bisa menunggu dengan panik, takut waktu pengamatan kami akan berkurang. Akhirnya,  ban berhasil diperbaiki dan kami segera menaiki minubus. Tiba-tiba..

“Lho? Sa`im dimana?”, kata Mas Zul dari Bionic. Kami pun menjadi panik, terlebih saat pak Supir berkata “wah, cepet mbak.. Kulo ndak ngerti jalane je.. bisa-bisa ketinggalan!”. Wah! denagn segera kami menelpon mas Sa`im, tapi tidak ada jawaban. Dengan senang berat hati kami meninggalkannya, dimanapun dia berada.

Beberapa meter kemudian. “Wah, ada SMS.. isinya: Sik, aku lagi kebelakang! (ke Toilet)”. Sontak kami semua tertawa, membayangkan bagaimana rupanya saat dia mengetahui bahwa mobil ini telah meninggalkannya. “Salah sendiri lungo nggak anti-anti”, kata salah seorang dari kami. Dan benar, beberapa saat kemudian ada sms lagi yang berbunyi: “Hey! aku ketinggalan!”, ealah.

“Halo im, ntar ada panitia yang jemput kamu, kamu diam aja di tempat, jangan kemana-mana! baterai kamu hemat, jangan buat main game, ok?”, kata Mas Zul di telepon. Bayangkan, bagaimana raut muka dari Mas Sa`im! Kami benar-benar tertawa tergelak-gelak (istilah baru!) begitu memikirkannya. Ketika salah seorang panitia kami sms, apa jawabnya? “Hehe.. jadi pingin ketawa!”. Upz… perut kami benar-benar sakit karena kami terus saja tertawa mendengarnya.

Sampai di tempat pengamatn, langsung saja binokular yang kami bawa dari Jogja dikeluarkan.

“Saatnya beraksi!!”, kataku,

“Oke boss! Siap!!”, kata si Bino.

“Tolong ya Bino!”

“Siap Boss Panji!!”, balasnya.

Akhirnya, 20-an spesies burung teramati, mulai dari Layang-layang api (Hirundo rustica) yang hinggap di tiang listrik, disusul dengan terlihatnya beberapa ekor Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) yang berterbangan. Lalu, munculah Kekep Babi (Artamus leucorhynchus), burung paling menyebalkan yang pernah ada. Baru beberapa langkah, seekor Elang Bondol (Haliastur indus) terlihat terbang bersama beberapa ekor Dara-Laut Kumis (Chlidonias hybridus). Terus melangkah, ada puluhan Trinil Rawa ( Tringa stagnatilis) dan juga Cerek Jawa (Charadrius javanicus). Di Akhir, kami melihat Kirik-kirik Senja (Merops leschenaulti) dan Kirik-kirik Laut (Merops philippinus) dengan ekor panjangnya yang eksotis. Wow!.

Setelah selesai, kami segera kembali ke Surabaya, tepatnya ke arah Medokan ayu, tempat pengamatan untuk keesokan harinya. Setelah rekap data dan identifikasi sketsa–tanpa mandi–kamipun langsung tertidur lelap di selimuti hawa panas Surabaya dan nyamuk-nyamuk jahannam yang terus mengemis darah. Nyoh!

Sabtu, 13 Februari 2010 pukul 07.00

Besoknya, setelah mengantri mandi dan sarapan, kami langsung menuju tempat pengamatan. Kali ini, pengamatan dilakukan Full day dari pukul 07.00-17.00 WIB. Tidak berbeda jauh dengan tempat pengamatan pertama, bedanya hanya disini lebih terpencil dan lebih ramai. Baru datang sudah ada Blekok Sawah, Bambangan Merah dan Mandar Batu dengan perisai kepalanya yang unik. Beberapa saat kemudian, muncul si RajangUdang Biru (Alcedo caerulescens), Dara Laut Tiram (Gelochelidon nilotica),  Cerek Jawa, Trinil dll. Wow!

Strategi kami jalankan: Berpencar. Ya! Inilah salah satu strategi paling ampuh dari kontingen Jogja, karena semakin kita berpencar, maka semakin banyak wilayah yang bisa terlihat, dan semakin banyak spesies yang bisa kita amati. Dengan sandal yang licin akibat lumpur, kami berjalan tertatih-tatih melewati pematang tambak.

Namanya juga orang Jogja,  “madang ra madang sing penting kumpul” (makan ataupun tidak makan, yang penting tetap berkumpul).  Bisa ditebak, tim yang tadinya sudah berpencar tiba-tiba berkumpul lagi.Yupz, walaupun sedang bersaing, kebersamaan mesti dijaga!

Setelah agak lama, tim al-Soneta pun kembali bergerak. Akhirnya kami menemukan sebuah gubuk milik penjaga tambak. Kami pun menjadikan tempat ini sebagai Basecamp. Sementara Bintang “menghilang” kembali, saya lebih memilih beristirahat sejenak menemani Mas Jarot yang kurang tidur semalam, sambil menunggu lumpur di sandal kering. Tanpa diduga, seekor Gajahan Penggala (Numenius phaoepus) terbang sambil menjerit ketakutan. Ya ampun, memang muka kami seseram itu ya?

Di Basecamp, saya mencoba mengidentifikasi suara burung. Ada suara Bubut (Centropus sp), Kancilan Bakau (Pachycephala grisola) yang suaranya saya jadikan nada sms, lalu juga ada Remetuk laut dan burung-burung berisik lainnya. Perlahan, kawan-kawan kontingen Jogja yang tadinya terpencar kembali bersatu kembali.

Sebelum menyantap makan siang, Bintang dan beberapa orang lainnya kembali sambil membawa seabrek spesies yang dijumpainya. Saya sendiri juga ikut berpencar sambil membawa monokular. Luar biasa, seekor Tangkar Centrong terlihat sangat dekat dengan diri saya!

Setelah makan siang, kami menyadari bahwa persediaan minuman kami habis. Akhirnya,kami putuskan untuk menuju pos panitia, mungkin ada minuman dingin, hehe.

Setelah tersasar kesana kemari, mencari setetes air bersih diantara puluhan hektar air payau, kami pun berjuang mencapai pos panitia dengan bersusah payah, tak terbayang betapa parahnya dehidrasi yang kami derita.  Hingga akhirnya, terlihatlah sebuah gubuk kecil dengan beberapa orang peserta lainnya yang duduk sambil meminum es teh manis yang segar… Wah!!

“Bu, Es teh 18!!, kata Mas Zul, sementar kami terus bersorak kegirangan.

Walah dek, banyune entek je…(Walah dek, airnya habis!)”, sahut si ibu penjaga warung yang juga menjadi pos panitia.

Kami tercengang, berusaha memahami kata-kata dari si Ibu tadi. A-I-R-N-Y-A H-A-B-I-S? Perlahan tapi pasti, satu persatu dari kami pun berjatuhan, GUBRAK!

Ya, iki tak masak banyune.. mesak`ake..(ya, ini saya masak duilu airnya… kasihan)”, kata si Ibu. Hah, harus menunggu lagi. Untungnya, sebelum air yang dimasak mendidih, datanglah panitia yang membawa beberapa botol akua dingin. Thanks God!

Setelah agak berlama-lama di warung tersebut, tim Al-soneta kembali melanjutkan perjalanan. Terlihat Kapasan Sayap Putih  betina, Bambangan Kuning, dan burung-burung laut lainnya. Setelah berlama-lama, kami putuskan untuk kembali ke basecamp. Disana, waktu rekap data sebagian besar saya habiskan untuk mandi, karena dipaksa oleh Bintang dan Mas Jarot. Tiba-tiba saya melihat wajah yang lagi-lagi nggak asing, seorang master burung pantai. Ternyata Kang Iwan Londo! Terakhir kali saya bertemu dengannya, kami sedang mengamati burung di Suaka Elang TNGHS.

Malamnya, seharusnya diadakan acara kuis. Tapi berhubung hujan dan tenda yang digunakan bocor, acra langsung dilanjutkan ke acara puncak: Pentas seni yang dibintangi oleh band asal Surabaya, Bubut Sanggar Alang-alang!

“Wah, nama bandnya apik… Bubut alang-alang Centropus bengalensis!”, celetuk Bintang. “Jangan-jangan nyanyinya, But..but..but…, he3..”.

Malam yang hebat, ditutup dengan  nyanyian merdu dari salah satu panitia WBWR 2010. Hah, it`s time to rest!.

Minggu. 14 Ferbuari 2010 pukul 06.00

Pukul 07.00, kami segera bersiap-siap meninggalkan lokasi menuju ITS untuk pengumuman pemenang. Setelah berbasa-basi,  Dewan Juri pun memulai rapat sementara para peserta beristirahat sejenak. Saya berpikir, mungkinkah kami juara?

Hingga datanglah saat yang ditunggu-tunggu. Setelah evaluasi dari mas Swiss selaku dewan juri, ditambah pemberitahuan spesies kuncinya (yaitu Elang Brontok Spizaetus cirrhatus, Berkik Kumbang Besar, Bubut Jawa Centropus nigrorufus serta Cangak Abu Ardea cinerea), pengumuman pemenang pun dilakukan. Awalnya, dilakukan pengumuman Tim ter-, yakni ter-manis, ter-heboh, ter-aniaya dll. Ternyata, tim Bionic dan tim Si-Fitung–keduanya perwakilan Jogja–berhasil meraih tim ter-heboh dan ter-manis (Ya ampun, indra pengecap panitia pada rusak kali ya? hehe).

Lalu kang Londo pun maju ke depan, memegang mic sambil berbasa basi sebentar, dan..

“Tim berpotensi.. Bionic Piyek!”

Kontingen Jogja kembali riang. Suasana semakin tegang.

“Juara 3, tim MoBuPI TK cemara!”

Kami bertepuk tangan. Ada seorang Jogja juga di tim itu, yang juga merupakan murid kang Iwan Londo sendiri. Suasana semakin tegang.

“Juara 2, Jakarta Green Monster!!”

Saya bertepuk tangan. Boas, teman yang biasa saya jumpai kalau sedang main di Jakarta bisa mengalahkan murid-murid Kang Iwan Londo!.

“Dan.. Juara pertama WBWR 2010 adalah….”, kang londo memberikan jeda cukup lama. “Tim.. AL SONETA!!!!!!”

“WHAT???”, saya nggak percaya, kita benar-benar menang!!!!! Sambil Cengengesan, saya, Bintang dan Mas Jarot maju kedepan untuk mengambil hadiah. Ucapan selamat pun dilontarkan darimana-mana. Hehe, nggak nyangka!!

Siangnya, kami segera pulang dengan kereta Sri Tanjung. Keadaannya benar-benar sepi, sehingga kami bisa duduk satu gerbong. Wah, What a great journey!!

Bahkan Di Jantung Kota Jakarta!

Panser adalah kendaraan wajib bagi para pengamat burung untuk menembaki para pemburu

Jumat, 26 September 2009

Hari ini, saya kembali di ajak oleh Jakarta Birder untuk birding di Taman Monumen Nasional atau Monas. Setelah sampai di tempat parkir motor, saya belum melihat tanda-tanda dari Khaleb dan kakaknya Boas. Beberapa ekor walet linchii /Collocalia linchii sedang terbang melayang sementara seekor Betet biasa/ Psittacula alexandri terbang dari arah jalan raya ke dalam Taman Monas sambil teriak-teriak “copet!! copet!!!”.Wah, mesti waspada nih!

Tiba-tiba terdengar suara burung yang belum bisa saya identifikasi. Ada 3 ekor, mereka semua terbang bersama sebelum akhirnya saya melihat Khaleb, Boas dan temannya, Andy . Mereka langsung menyimpulkan burung tadi adalah Caladi Ulam dari suaranya dan jambul merahnya, bandingkan bila saya yang melakukan, 5 jam baru bisa teridentifikasi!. He3, Sambutan yang cukup menarik.

Tiba-tiba terdengarlah suara “Kut-kut-kut” berulang-ulang, yang merupakan suara dari burung incaran saya: Takur Ungkut-ungkut/ Megalaima haemacephala yang bertengger di sebuah ranting tanpa daun. Wow!! ini baru sambutan yang hebat! Sayangnya ada seorang anak iseng  yang membawa senapan angin membidik Burung tersebut, dan anjrid! ternyata ayahnya malah mendukung anak tersebut untuk menembak! Spontan,  teriak-teriak mengusir burung tadi supaya dia terhindar dari senapan angin si anak. Berhasil, dia pergi!

“Gile.. mau jadi apa tuh bocah? bokapnya dukung lagi!”, tutur saya.

“Berani amat nembak burung di depan birdwatcher”, sambung para birder lainnya.

“He iye, bayangin kite lagi birding, tiba-tiba burung yang ada di binokular langsung jatuh ketembak…”

“Kalau gitu sih, tiap kali birding kita bawa senapan aja ye… biar kalo ada yang nembak burung, kita bales tembak burung-nya!”

(GREAT IDEA!!!!)

Perjalanan dilanjutkan, kami melihat rombongan Merpati Batu/ Columba livia yang sedang terbang,  dan kami sempat mengiranya sebagai Punai Gading/Treron vernans. Pengamatan pun kami alihkan sejenak untuk mengamati perilaku percumbuan dari beberapa Merpati di sini (Dasar laki-laki!! he3 :-p). Waktunya belajar mendapatkan pacar! Mungkin para merpati ini bisa membantu saya, he3. Setidaknya, kami sempat melihat Jalak Suren/Sturnus contra dan Kerak kerbau di dalam kandang Rusa tutul/Axis axis serta seorang perempuan cantik tapi bodoh memberi makan rusa di kandang, padahal ada papan larangannya!

Setelah berputar-putar mencari Bentet Kelabu/ Lanius schah, kami pun melihat 3 ekor Jalak Suren yang sedang bermain-main di tanah bersama Kerak Kerbau, B. Gereja Eurasia dan Tekukur . Di atasnya terlihat seekor Caladi Ulam yang mencari mangsa, sementara itu suara Remetuk Laut terdengar dimana-mana, bersahutan dengan suara para pedagang yang berteriak  “akua..akua…mijon.. mijon..”. Sempat terpikir oleh saya, bagaimana mungkin mereka bisa menciptakan prodruk baru bernama Mijon?

Pencarian Bentet kelabu dan Kapinis Rumah kami lanjutkan. Di dekat sebuah kolam, kami melihat seekor Kerak kerbau yang sedang minum, lalu bersembunyi dan akhirnya kabur melihat kedatangan kami. Target kami, Kepinis Rumah pun terlihat. Burung yang seperti Walet dan beregerak lincah ini hanya terlihat melintas beberapa kali. Akhirnya saya tahu perbedaannya: Tubuh lebih besar, sayap lebih runcing, dan terbang lebih cepat.

Setelah berputar-putar mencari Bentet Kelabu, akhirnya kamipun menyerah dan memutuskan untuk pulang. Seekor Kekep Babi menjadi hidangan penutup bagi kami. Burung yang satu ini memang pemberani dan usil, sehingga ia mampu menyerang hewan yang jauh lebih besar darinya, bahkan Elang sekalipun!!

NB:

Thanks buat fotonya dari Khaleb Yordan. Maaf ya nggak bisa memberikan banyak foto cuz pulang dari Monas, data saya hilang bersama Hp-nya… Copet Sialan!!!!!!!!! Ramalan si Betet ternyata tepat.. hikz..hikz…

Inside and Outside the cage of Ragunan Zoo

Selasa, 15 september 2009

Angsa Hitam (Cygnus atratus) Salah satu penghuni "innercage" TMR

Puasa tidak menjadi halangan bagi saya untuk bersilaturahmi dengan burung-burung di kota Jakarta. Kembali ke kota kelahiran dengan memanfaatkan momen lebaran ini membuka kesempatan saya untuk mengenal burung-burung kota metropolitan ini.

Bersama teman-teman Jakarta Birder, saya berjanji untuk bertemu dengan mereka di Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Jalanan masih cukup ramai mengingat hari ini masih hari kerja. Kira-kira pukul 07.30 saya mendarat di TMR, lalu langsung berjalan menuju tempat pertemuan: Kandang Pelikan alias Undan Kacamata. Kontras sekali, di dalam TMR tampak sepi, hanya beberapa orang yang terlihat, bukan untuk melihat binatang tapi hanya untuk jalan-jalan, berolahraga dan melihat-lihat pemandangan. Ya, jarang sekali ada orang yang serius memperhatikan hewan-hewan di dalam kandang untuk mengambil informasi sebanyak-banyaknya, apalagi yang diluar kandang!.

Di depan kandang Pelikan terlihat beberapa orang yang duduk di kursi taman. Seorang diantaranya berada di kursi yang paling pojok, menyendiri dan mengambil Binokular.. Yap! itu pastilah teman dari Jakarta Birder. Setelah berkenalan sebentar, Boas–nama si pembawa Binokular– memberitahukan bahwa dia baru saja melihat Raptor  (Burung Pemangsa) ukuran sedang, dan adiknya–Khaleb– sedang mengejar raptor tadi. Baru saja berkata demikian, saya melihat seekor raptor terbang di dekat kami, diatas Children Zoo. Wow!! Cantik sekali!!. Kemudian Khalab datang dengan membawa kabar gembira: Alap-alap Sapi. Ya!! Raptor yang tadi kami amati adalah Alap-alap sapi alias Spotted Kestrel (Falco moluccensis) dan merupakan tick (catatan baru) bagi life-list saya! Wow!.

Sambil menunggu Mas Ady Kristianto (Jakarta Green Monster), saya dan Boas mencoba belajar trick photography Digiscoping, yakni memadukan antara binokular dan kamera biasa (dalam hal ini, kamera HP). Saya cukup kesulitan dalam menggunakan trick ini, sehingga saya belum mendapatkan foto apapun.

Berjalan ke arah kandang Buaya dan Kudanil, kami mencoba untuk mencari Raja Udang Meninting, burung dari family Alcedidae dengan nama latin Alcedo meninting. Dalam perjalanan, kami melihat Kerak Kerbau sedang membangun sarang di kandang Emu, juga beberapa ekor Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis) juga Cinenen Pisang dan Cinenen Jawa ( Orthotomus sutorius dan O. sepium). Selain itu, suara Betet Biasa (Psittacula alexandri) juga terdengar ramai. Ada juga B. Madu Kelapa (Anthreptes malaccensis), B.Cabe jawa(Diaceum trochilleum),juga Merbah cerukcuk(Pycnonotus goaivier) dan Kutilang(P. aurigaster), Wallet linchii (Collocalia linchii)dan Wallet sarang putih(C. fuciphaga), juga Blekok sawah(Ardeola spesiosa).

Sampai di daerah berkolam diantara kandang buaya dan kudanil, kami melihat seekor Perenjak Jawa (Prinia farmiliaris) dan beberapa ekor Merbah Cerukcuk. Juga terlihat sepasang Gelatik Batu Kelabu  (Parus major). Lalu terdengar suara target kami, Raja Udang Meninting. Setelah berjalan sebentar, akhirnya target kami terlihat, bertengger dan terjun ke dalam air, lalu terbang kembali ke tempat bertengger. Burung berwarna biru metalik ini memang menarik perhatian kami.

Setelah Raja Udang pergi, terlihat seekor Betet di dalam sarang. Di dekatnya terlihat seekor Kucica Kampung, sebuah tick lagi bagi life-list saya. Wow!!! Burung hitam-putih ini memang mempesona bila dilihat di luar kurungan yang biasa membelenggunya.

Kembali berjalan, kami hanya menyaksikan seekor B. Madu Sriganti (Nectarinia jugularis) yang diserang oleh B. Madu Kelapa. Corak mereka hampir sama, hanya ukuran dan warna tenggorokan yang membedakan mereka, menjawab sebuah pertanyaan dari saya selama ini. Di kandang Kasuari, kami sempat menyaksikan aksi seekor kasuari yang merasa terganggu oleh kedatangan kami, lalu mengeluarkan suara yang cukup unik.

Lagi musim breeding!!!

Dalam perjalanan, mas Ady melihat seekor Kareo Padi yang langsung menghilang ketika kami menoleh ke arahnya. Juga terlihat Kerak kerbau dan Merbah cerukcuk, lalu di kandang Rusa Timor yang luas, kami melihat Blekok sawah yang sedang mencari makan. Kejutan datang ketika Khaleb dan Mas Ady melihat seekor Kucica kampung dengan warna perut hitam, ras yang tidak terdapat di pulau jawa. Mungkin hasil lepasan atau semacamnya.

The dream team

Di tempat beristirahat, 3 spesies Kakatua yang berbeda pulau terlihat disini: Kakatua Jambul kuning, kecil  (Cacatua sulphurea),Kakatua Tanimbar(Cacatua gofinii) dan Kakatua Koki/ Jambul kuning besar(Cacatua galerita). Setelah beristirahat, Mas Ady memutuskan untuk pulang, sementara kami bertiga mencoba keberuntungan di Pusat Primata Schmutzer. Terlihat beberapa ekor Sepah Kecil bergerombol terbang. Di pintu masuk, Remetuk laut terlihat saat Burung Cabe Jawa juga terdengar.

Hancur!!!! si Merbah Cerukcuk (Pycnonotus goaivier)

Di dalam PPS, tepatnya di enklosur Gorila, terlihat B. Madu Kelapa, B. Cabe Jawa, serta Kutilang. Kareo Padi sempat terlihat 2x di enklosur Gorila dan Orangutan. Kami juga sempat berlatih Digiscoping di enklosur Orangutan, dan berhasil memotret Tekukur biasa, Merbah Cerukcuk dan Perenjak Jawa.

Kelelahan, kami pun memutuskan  untuk pulang, dan Wow!! Si Kestrel kembali terlihat! Dia bersoaring sebentar sebelum hilang. Kami juga sempat menemukan bangunan sarang yang dicurigai sebagai sarang kestrel, karena dari tadi pagi Kestrel ini terlihat hinggap disana. Sambil beristirahat, kami pun menunggu Kestrel itu untuk muncul kembali, dan acara pulang harus diundur sebentar.

Saya dan Boas pun tertidur lelap, lima menit berselang terikana Boas membangunkan saya. “Nji!! Bangun!! OHB nji!!!”

Saya tersentak, melihat sekeliling dengan mata rabun sampai akhirnya terlihat seekor Raptor ukuran besar, Sikep Madu Asia/ Oriental Honey Buzzard (OHB). Woww!! Khaleb sempat melihat burung pemangsa ini diserang oleh sepasang Kestrel setelah mendekati sarang ini. Setelah mereka hilang, kami lagi-lagi memutuskan untuk pulang, lalu Boas melihat Sikep Madu Asia lagi, dan acara pulang pun harus di undur lagi.

Kami berlari-lari mengejar Sikep tadi, berteriak-teriak hingga sempat menyita perhatian pengunjung lainnya. Setelah kejar-kejaran terlihat seekor Kestrel betina hinggap di ujung sebuah menara. Dia bersuara “kekekekeke”, lalu datang pejantannya, mendekat lalu terbang menjauh kembali, seperti berpratoli. Wow!!! Sebuah pengalaman hebat!!! dan akhirnya, Kestrel dengan ekor bergaris-garis itu pun terbang menjauh, sementara kami pun pulang menjauh.Hari yang hebat!!!


Menanti pasangan..
neng? tengok kesini neng!