Serunya Mengarungi Afrika van Java dengan Yamaha X-Ride

14444752_10208923022610976_1543255857645085082_o

Taman Nasional Baluran memang tempat yang luar biasa. Sebagian besar orang tertarik pada hamparan savana kering nan luas, mengingatkan kita pada pemandangan di Afrika sana. Saya sendiri selalu tertarik pada keanekaragaman hayatinya, dengan ratusan spesies burung, mamalia dan satwa lain yang selalu asyik untuk diamati. Kedua hal inilah yang membuat saya dan seorang memutuskan untuk berkunjung lagi ke Baluran pada bulan September lalu, sehingga kami bisa lari sejenak dari rutinitas kerja dan kuliah yang menjemukan.

Nah, salah satu tantangan bagi pengunjung Baluran adalah jalan aspal rusak dan berbatu sepanjang 12 kilometer menuju savanna bekol. Jaraknya yang jauh memang tidak mungkin ditempuh dengan berjalan kaki, sehingga kami pun memutuskan untuk menyewa sepeda motor di Banyuwangi. Kami pun sadar bahwa medan yang cukup susah ini tidak bisa dilewati sembarangan motor; kami harus pandai-pandai memilih kendaraan yang kuat dan nyaman melewati jalanan berbatu. Pilihan kami pun jatuh pada Yamaha X-ride, motor matic trail dari Yamaha yang terkenal akan ketangguhannya. Baca lebih lanjut

Switchable Me: Mudahnya Bekerja Bersama Satwa Liar dengan Acer Switch Alpha 12

IMG_5971

Hidup di berbagai lingkungan berbeda bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan daya adaptasi yang tinggi untuk bisa switch dari satu lingkungan ke lingkungan lain, seperti sistem pernafasan khusus pada salamander yang memungkinkannya bernafas baik di darat maupun di air. Hal ini juga berlaku bagi saya yang hidup di dunia kerja dan hobi yang berbeda, sehingga saya memerlukan sebuah perangkat khusus untuk beradaptasi di kedua lingkungan tersebut.

Sejak kecil, saya selalu tertarik dengan satwa liar. Ada kebahagiaan tersendiri yang saya rasa ketika bisa menyaksikan tingkah laku mereka di alam, mulai dari tingkah riang burung-burung kecil hingga kenakalan para monyet di kanopi pohon. Lambat laun, ketertarikan ini berubah menjadi rasa sayang dan ingin melindungi. Saya pun bertekat mencari cara terbaik untuk keberadaan mereka di alam, sekaligus menyebarkan rasa cinta terhadap satwa ke orang lain.

Menjelang dewasa, saya pun memutuskan untuk mendalami ilmu biologi di perguruan tinggi. Di sini, saya pun mulai mengenal dunia wildlife photography dari berbagai kolega di kampus. Kegiatan yang awalnya hanya iseng ini perlahan menjelma jadi hobi baru. Selain sesuai dengan kecintaan saya terhadap satwa liar, saya juga bisa mendokumentasikan keindahan mereka di alam dan menyebarkannya ke masyarakat luas. Dengan cara ini, saya harap mereka pun bisa merasakan rasa cinta yang sama dan ikut melindungi satwa liar di habitatnya masing-masing. Baca lebih lanjut

A Short Story From The Tree of Life

Wake up!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

I was on the second floor of Biology Lab in my university, when some strange crowd took away my attention. There, right across the lab’s corridor, stands a big fig tree with some flying shadows jumping around on its branch, screaming various calls and songs that will attract any nearby birder’s curiosity. I recognized them as a bunch of Sooty-headed Bulbul (Pycnonotus aurigaster) and Yellow-vented Bulbul (P. goaivier), two common urban birds frequently seen in this area. However, it was unusual that they gathered in a big number in a single tree like this.. so I expected something bigger in it.

As I took a closer look using my camera, I saw this little, squishy red ball squezzed between the bulbul’s pointy bill. It is the fig, the magic fruit that teases the desire of every hungry bird in the world. As my eyes got wider, I saw the very similar little balls hanging off on almost every branches of the tree, filling it with the cherry red dots among the bright green leaves. So my suspicion was true.. It was the time again, when the lab’s courtyard suddenly became a paradise for every birds and birdwatchers. The “Tree of Life” has released its magic to the world!

Baca lebih lanjut

Kencan Pelu Bersama Yu Sritanjung

Hari ini saya kembali berkencan bersamanya, namun tanpa obrolan. Kami hanya melihat ke luar jendela, mendengar hentakan rel yang bersahut-sahutan, lalu tenggelam dalam memori masing-masing.

Sritanjung kini berwarna kelabu, memendam sejarah yang lalu menuju cerita nan baru

Sritanjung kini berwarna kelabu, memendam sejarah yang lalu menuju cerita nan baru

Beberapa minggu nan lalu, saya mengikuti Bali Bird Race (BBR) 2016 yang diselenggarakan oleh Himabio Universitas Udayana. Alasan saya mengikuti birdrace ini cuman satu: ingin berlibur sejenak dari hiruk-pikuk dunia orang dewasa nan rumit, sekaligus menikmati suasana Bali yang sudah lama tidak saya kunjungi. Bersama Abid dan Hasbi yang saya culik dari kewajiban skripsi mereka (huahahaha *tawa jahat*), saya pun berangkat menggunakan Sritanjung—kereta api ekonomi legendaris yang selalu sukses membuat baper setiap kali saya menumpang di gerbongnya.

Bagi pengamat burung Jogja yang sering mengikuti birdrace di Baluran tahun 2010-2014 lalu, nama Sritanjung ini akan selalu tersimpan di hati. Kereta ekonomi jurusan Lempuyangan-Banyuwangi Baru ini menjadi satu-satunya moda transportasi murah dan cepat yang bisa mengantarkan kita ke ujung timur Pulau Jawa. Di sini, kita pun akan terjebak dalam love-hate relationship nan rumit dengan besi-besinya yang berkarat—karena mau tidak mau, kita harus duduk terdiam di dalam gerbongnya selama belasan jam ke depan; menyebrangi setengah panjang Pulau Jawa dengan berbagai bentang alamnya yang serba ajaib.

Baca lebih lanjut

Menapaki Jejak Junghuhn, Menikmati Gelora Samudra

Ngongap, 5 Mei 2016

Franz Wilhelm Junghuhn menarik nafas panjang begitu mendengar gemuruh ombak lautan. Selama berminggu-minggu, ia sudah menjelajahi berbagai wilayah terpencil di tengah Pulau Jawa, berusaha menyebranginya secara vertikal dari Pantai Utara hingga ke Pantai Selatan. Setelah beberapa kali singgah di berbagai desa dan melukis beberapa pemandangan indah di kawasan tersebut, akhirnya ia pun sampai di Desa Rongkop nan terpencil. Tepat di sisi selatan desa ini, terbentang sebuah pantai karang tersembunyi tempat sang naturalis menemukan tujuan utamanya: Samudra Hindia.

800px-S-Kueste

Sudkuste Bei Rongkop, lukisan hasil karya Franz W. Junghuhn yang mengabadikan pemandangan Pantai Ngongap satu setengah abad yang lalu. Saat ini, beberapa fitur bentuk karang di lukisan masih bisa kita kenali di Pantai Ngongap.

Junghuhn memang berhasil sampai di Pantai Ngongap, sebuah pantai karang di selatan Desa Rongkop, Gunungkidul. Pantai ini memang tidak begitu tenar dibandingkan dengan pantai-pantai lain, namun namanya sudah tidak asing di kalangan pengamat burung Jogja—meskipun jarang dikunjungi karena lokasinya nan jauh. Di pantai inilah kita bisa melihat puluhan ekor burung Buntut-sate putih (Phaeton lepturus), sejenis burung laut (seabird) yang jarang terlihat di pesisir pantai. Bahkan menurut mas Kukuh, mungkin pantai Ngongap adalah satu-satunya tempat daratan Indonesia di mana kita bisa melihat Buntut-sate Putih secara dekat, tanpa harus berlayar di perahu.

Pertama kali saya mendengar tentang pantai ini dari cerita Bintang saat dia mengikuti JBW belasan tahun yang lalu, saat dia masih SD. Saya pun baru bisa mengunjungi pantai ini sekitar 2 tahun yang lalu, bersama kawan saya Khaleb Yordan yang ngebet ingin memotret si Buntut-sate Putih (lagi). Di kunjungan ini, saya pun mendengar kisah dari mas Kukuh tentang sang naturalis Franz Wilhelm Junghuhn yang pernah singgah di pantai ini di tahun 1856. Di sini, ia pun mengabadikan pemandangan sang pantai karang dalam sebuah lukisan–sama seperti beberapa destinasi lain yang sempat ia kunjungi, seperti Merapi, Dieng, serta Candi Sewu.

Ketika saya menyambangi Pantai Ngongap untuk yang kesekian kalinya, saya masih bisa membayangkan perasaan Junghuhn sekitar satu setengah abad yang lalu. Hamparan bukit karang yang seakan tidak berujung menjadi pemandangan yang biasa, diselingi beberapa ladang kecil di lembahnya. Deretan formasi tanaman pandan, semak dan pohon kelapa terlihat di kejauhan, memberi kesan hijau di antara landscape yang serba kering ini. Bukit tinggi dan jalanan yang rusak seakan menyembunyikan Samudra Hindia di belakangnya—membuat Pantai Ngongap tetap terjaga dari infeksi turis, tidak seperti pantai-pantai lain yang mulai rusak. Hanya bagi mereka yang mau tetap berjalan hingga titik tikungan terakhir, sebuah pemandangan indah akan langsung menyapa mata.

IMG_20160505_095958_HDR[1]

Samudra Hindia!

“Wuah, lauuuut!!!”

“Akhirnya sampai juga..”

“Bokongku keram lek!

Berbagai kalimat lain pun terlontar dari mulut para Bionicers di hari Isra Miraj itu, ketika kami melihat pemandangan mengejutkan di hadapan kami. Bentangan biru samudra—ribuan kilometer jauhnya—menghampar luas menuju horizon lengkung bumi. Daratan yang serta-merta berujung samudra ini memberikan efek kejut bagi siapapun yang sampai di ujung jalan berbatu, tepat di halaman parkir gazebo rapuh yang menjadi ikon utama pantai ini. Mungkin, rasa terkejut ini juga dirasakan oleh Junghuhn ketika menemukan pantai ini, apalagi setelah berjalan berminggu-minggu melewati pelosok tanah Jawa yang belum dijinakan.

IMG_20160505_121338

Rugged?

IMG_20160505_113747

Untamed Java

Ngongap ternyata masih sama dengan yang dulu. Dentuman ombak terdengar bertalu-talu, menghantam gua-gua bawah air yang ada di bawah tebing. Ratusan ekor Walet sarang-hitam (Aerodramus maximus) terlihat terbang santai di pinggir karang, ditemani Dara-laut Tengkuk Hitam (Sterna sumatrana) yang sesekali menukik ke lautan. Terkadang, beberapa ekor Dederuk Jawa (Streptopelia bitorquarta) terbang dari satu sisi ke sisi lain, lalu bernyanyi di bawah naungan bersama para Pelanduk Semak (Malacocincla sepiaria) yang tak pernah diam. Mungkin satu-satunya yang berubah hanyalah gazebo yang semakin kotor—tanpa kakek-kakek tua yang dulu sempat tinggal di sini, namun sekarang menghilang entah ke mana.

“Itu, buntut sate!” ujar Mas Kir sambil menunjuk ke langit, memecah kesibukan selfie-selfie kami yang seakan tidak ada habisnya.

Bagai dikomando, kami semua pun langsung menengok ke langit. Seekor burung putih cemerlang, terbang melayang di atas Samudra dengan anggun seakan tanpa beban. Bak layangan ringan yang tertiup angin kencang, ekor panjang sang Buntut-sate Putih pun berkibar lurus di belakangnya tubuhnya. Ia pun berputar di antara ombak, melewati kami yang melongo terpana, lalu kembali menghilang di balik barisan karang di ujung sana. Luar biasa!

DSCF3253

Sudkuste Bei Rongkop, lukisan hasil karya Franz W. Junghuhn yang mengabadikan pemandangan Pantai Ngongap satu setengah abad yang lalu. Saat ini, beberapa fitur bentuk karang di lukisan masih bisa kita kenali di Pantai Ngongap.

Entah apakah Junghuhn juga melihat burung ini di kunjungannya dulu—lagipula, dia memang bukan orang yang terobsesi pada burung. Namun, gemulai kepakan sayap sang Buntut-sate nan legendaris tetap menjadi tambahan yang istimewa bagi landscape Pantai Ngongap. Kami pun terpana dengan kehadiran burung-burung ini yang seakan tiada habisnya, terus menerus datang dengan gaya terbangnya nan halus. Saya yakin, jika Junghuhn juga melihat burung ini dulu , beliau akan semakin terpana dengan keindahan pesisir selatan Jawa yang selalu penuh dengan kejutan.

Hari itu kami hanya melihat sedikit burung di Pantai Ngongap, namun rasa puas pun tetap terasa di hati. Meskipun dataran Jawa sudah tidak seliar di tahun 1856, kami masih bisa merasakan aroma petualangan di kawasan pantai Ngongap yang seakan tidak tersentuh peradaban. Di sinilah kami menapak tilas jejak sang naturalis, merasakan kekaguman akan bentang alam Pulau Jawa yang sempat ia rasakan dulu. Semoga tempat ini tetap tersembunyi selamanya, jauh dari tangan liar manusia yang berusaha menaklukan segalanya.

Mikail Kaysan,Sang Child Prodigy di Dunia Pengamat burung Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, Indonesia sempat digemparkan dengan kehadiran Joey Alexander—sang “child prodigy” di dunia Jazz yang mendapat 2 nominasi di Grammy Award. Di dunia pengamat burung, kita memiliki “child prodigy” sendiri yang bernama Mikail Kaysan, sang birder cilik.

“Ayo nji, nonton Kaysan di TV!” ujar mas Imam tepat di depan gang menuju Bionic Basecamp, kontrakan baru kami yang berada di kawasan Kronggahan.

Saya tersontak kaget, karena jarang sekali mas Imam pulang sesore ini. Biasanya, sang sesepuh Bionic ini sering pulang larut malam—sampai-sampai sering terkunci di luar kontrakan karena para penghuninya sudah pada tepar duluan. Kali ini, beliau terlihat bersemangat untuk segera sampai di kontrakan, duduk di depan tv, lalu menikmati beberapa acara ndak penting dengan wajah penun penantian. Wuah, kejadian super langka nih!

Beberapa waktu kemudian acara yang kami tunggu-tunggu pun dimulai: sebuah talkshow khusus untuk menyambut hari pendidikan nasional. Kami pun sangat antusias menanti kedatangan Kaysan, si birdwatcher cilik yang belakangan ini menggemparkan jagad pengamatan burung. Setelah setengah acara berjalan, barulah si Kaysan kecil muncul ke panggung, berhadapan langsung dengan Menteri Pendidikan Anies Baswedan yang menjadi pemandu acara. Saat itu, kami girang bukan main menyaksikan wakil termuda generasi birdwatcher muncul di acara tv bergengsi, disaksikan oleh jutaan pasang manusia di Indonesia.

13133217_10207820862377659_3020434640795989266_n

Mikail Kaysan sang Child Prodigy

“Mantap kay, makin nge-fans!” ujar mas Imam malam itu, sebuah kalimat khas yang selalu beliau ucapkan untuk menyanjung sang child prodigy di dunia pengamatan burung.

Baca lebih lanjut