Kencan Pelu Bersama Yu Sritanjung

Hari ini saya kembali berkencan bersamanya, namun tanpa obrolan. Kami hanya melihat ke luar jendela, mendengar hentakan rel yang bersahut-sahutan, lalu tenggelam dalam memori masing-masing.

Sritanjung kini berwarna kelabu, memendam sejarah yang lalu menuju cerita nan baru

Sritanjung kini berwarna kelabu, memendam sejarah yang lalu menuju cerita nan baru

Beberapa minggu nan lalu, saya mengikuti Bali Bird Race (BBR) 2016 yang diselenggarakan oleh Himabio Universitas Udayana. Alasan saya mengikuti birdrace ini cuman satu: ingin berlibur sejenak dari hiruk-pikuk dunia orang dewasa nan rumit, sekaligus menikmati suasana Bali yang sudah lama tidak saya kunjungi. Bersama Abid dan Hasbi yang saya culik dari kewajiban skripsi mereka (huahahaha *tawa jahat*), saya pun berangkat menggunakan Sritanjung—kereta api ekonomi legendaris yang selalu sukses membuat baper setiap kali saya menumpang di gerbongnya.

Bagi pengamat burung Jogja yang sering mengikuti birdrace di Baluran tahun 2010-2014 lalu, nama Sritanjung ini akan selalu tersimpan di hati. Kereta ekonomi jurusan Lempuyangan-Banyuwangi Baru ini menjadi satu-satunya moda transportasi murah dan cepat yang bisa mengantarkan kita ke ujung timur Pulau Jawa. Di sini, kita pun akan terjebak dalam love-hate relationship nan rumit dengan besi-besinya yang berkarat—karena mau tidak mau, kita harus duduk terdiam di dalam gerbongnya selama belasan jam ke depan; menyebrangi setengah panjang Pulau Jawa dengan berbagai bentang alamnya yang serba ajaib.

Baca lebih lanjut

Menapaki Jejak Junghuhn, Menikmati Gelora Samudra

Ngongap, 5 Mei 2016

Franz Wilhelm Junghuhn menarik nafas panjang begitu mendengar gemuruh ombak lautan. Selama berminggu-minggu, ia sudah menjelajahi berbagai wilayah terpencil di tengah Pulau Jawa, berusaha menyebranginya secara vertikal dari Pantai Utara hingga ke Pantai Selatan. Setelah beberapa kali singgah di berbagai desa dan melukis beberapa pemandangan indah di kawasan tersebut, akhirnya ia pun sampai di Desa Rongkop nan terpencil. Tepat di sisi selatan desa ini, terbentang sebuah pantai karang tersembunyi tempat sang naturalis menemukan tujuan utamanya: Samudra Hindia.

800px-S-Kueste

Sudkuste Bei Rongkop, lukisan hasil karya Franz W. Junghuhn yang mengabadikan pemandangan Pantai Ngongap satu setengah abad yang lalu. Saat ini, beberapa fitur bentuk karang di lukisan masih bisa kita kenali di Pantai Ngongap.

Junghuhn memang berhasil sampai di Pantai Ngongap, sebuah pantai karang di selatan Desa Rongkop, Gunungkidul. Pantai ini memang tidak begitu tenar dibandingkan dengan pantai-pantai lain, namun namanya sudah tidak asing di kalangan pengamat burung Jogja—meskipun jarang dikunjungi karena lokasinya nan jauh. Di pantai inilah kita bisa melihat puluhan ekor burung Buntut-sate putih (Phaeton lepturus), sejenis burung laut (seabird) yang jarang terlihat di pesisir pantai. Bahkan menurut mas Kukuh, mungkin pantai Ngongap adalah satu-satunya tempat daratan Indonesia di mana kita bisa melihat Buntut-sate Putih secara dekat, tanpa harus berlayar di perahu.

Pertama kali saya mendengar tentang pantai ini dari cerita Bintang saat dia mengikuti JBW belasan tahun yang lalu, saat dia masih SD. Saya pun baru bisa mengunjungi pantai ini sekitar 2 tahun yang lalu, bersama kawan saya Khaleb Yordan yang ngebet ingin memotret si Buntut-sate Putih (lagi). Di kunjungan ini, saya pun mendengar kisah dari mas Kukuh tentang sang naturalis Franz Wilhelm Junghuhn yang pernah singgah di pantai ini di tahun 1856. Di sini, ia pun mengabadikan pemandangan sang pantai karang dalam sebuah lukisan–sama seperti beberapa destinasi lain yang sempat ia kunjungi, seperti Merapi, Dieng, serta Candi Sewu.

Ketika saya menyambangi Pantai Ngongap untuk yang kesekian kalinya, saya masih bisa membayangkan perasaan Junghuhn sekitar satu setengah abad yang lalu. Hamparan bukit karang yang seakan tidak berujung menjadi pemandangan yang biasa, diselingi beberapa ladang kecil di lembahnya. Deretan formasi tanaman pandan, semak dan pohon kelapa terlihat di kejauhan, memberi kesan hijau di antara landscape yang serba kering ini. Bukit tinggi dan jalanan yang rusak seakan menyembunyikan Samudra Hindia di belakangnya—membuat Pantai Ngongap tetap terjaga dari infeksi turis, tidak seperti pantai-pantai lain yang mulai rusak. Hanya bagi mereka yang mau tetap berjalan hingga titik tikungan terakhir, sebuah pemandangan indah akan langsung menyapa mata.

IMG_20160505_095958_HDR[1]

Samudra Hindia!

“Wuah, lauuuut!!!”

“Akhirnya sampai juga..”

“Bokongku keram lek!

Berbagai kalimat lain pun terlontar dari mulut para Bionicers di hari Isra Miraj itu, ketika kami melihat pemandangan mengejutkan di hadapan kami. Bentangan biru samudra—ribuan kilometer jauhnya—menghampar luas menuju horizon lengkung bumi. Daratan yang serta-merta berujung samudra ini memberikan efek kejut bagi siapapun yang sampai di ujung jalan berbatu, tepat di halaman parkir gazebo rapuh yang menjadi ikon utama pantai ini. Mungkin, rasa terkejut ini juga dirasakan oleh Junghuhn ketika menemukan pantai ini, apalagi setelah berjalan berminggu-minggu melewati pelosok tanah Jawa yang belum dijinakan.

IMG_20160505_121338

Rugged?

IMG_20160505_113747

Untamed Java

Ngongap ternyata masih sama dengan yang dulu. Dentuman ombak terdengar bertalu-talu, menghantam gua-gua bawah air yang ada di bawah tebing. Ratusan ekor Walet sarang-hitam (Aerodramus maximus) terlihat terbang santai di pinggir karang, ditemani Dara-laut Tengkuk Hitam (Sterna sumatrana) yang sesekali menukik ke lautan. Terkadang, beberapa ekor Dederuk Jawa (Streptopelia bitorquarta) terbang dari satu sisi ke sisi lain, lalu bernyanyi di bawah naungan bersama para Pelanduk Semak (Malacocincla sepiaria) yang tak pernah diam. Mungkin satu-satunya yang berubah hanyalah gazebo yang semakin kotor—tanpa kakek-kakek tua yang dulu sempat tinggal di sini, namun sekarang menghilang entah ke mana.

“Itu, buntut sate!” ujar Mas Kir sambil menunjuk ke langit, memecah kesibukan selfie-selfie kami yang seakan tidak ada habisnya.

Bagai dikomando, kami semua pun langsung menengok ke langit. Seekor burung putih cemerlang, terbang melayang di atas Samudra dengan anggun seakan tanpa beban. Bak layangan ringan yang tertiup angin kencang, ekor panjang sang Buntut-sate Putih pun berkibar lurus di belakangnya tubuhnya. Ia pun berputar di antara ombak, melewati kami yang melongo terpana, lalu kembali menghilang di balik barisan karang di ujung sana. Luar biasa!

DSCF3253

Sudkuste Bei Rongkop, lukisan hasil karya Franz W. Junghuhn yang mengabadikan pemandangan Pantai Ngongap satu setengah abad yang lalu. Saat ini, beberapa fitur bentuk karang di lukisan masih bisa kita kenali di Pantai Ngongap.

Entah apakah Junghuhn juga melihat burung ini di kunjungannya dulu—lagipula, dia memang bukan orang yang terobsesi pada burung. Namun, gemulai kepakan sayap sang Buntut-sate nan legendaris tetap menjadi tambahan yang istimewa bagi landscape Pantai Ngongap. Kami pun terpana dengan kehadiran burung-burung ini yang seakan tiada habisnya, terus menerus datang dengan gaya terbangnya nan halus. Saya yakin, jika Junghuhn juga melihat burung ini dulu , beliau akan semakin terpana dengan keindahan pesisir selatan Jawa yang selalu penuh dengan kejutan.

Hari itu kami hanya melihat sedikit burung di Pantai Ngongap, namun rasa puas pun tetap terasa di hati. Meskipun dataran Jawa sudah tidak seliar di tahun 1856, kami masih bisa merasakan aroma petualangan di kawasan pantai Ngongap yang seakan tidak tersentuh peradaban. Di sinilah kami menapak tilas jejak sang naturalis, merasakan kekaguman akan bentang alam Pulau Jawa yang sempat ia rasakan dulu. Semoga tempat ini tetap tersembunyi selamanya, jauh dari tangan liar manusia yang berusaha menaklukan segalanya.

Mikail Kaysan,Sang Child Prodigy di Dunia Pengamat burung Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, Indonesia sempat digemparkan dengan kehadiran Joey Alexander—sang “child prodigy” di dunia Jazz yang mendapat 2 nominasi di Grammy Award. Di dunia pengamat burung, kita memiliki “child prodigy” sendiri yang bernama Mikail Kaysan, sang birder cilik.

“Ayo nji, nonton Kaysan di TV!” ujar mas Imam tepat di depan gang menuju Bionic Basecamp, kontrakan baru kami yang berada di kawasan Kronggahan.

Saya tersontak kaget, karena jarang sekali mas Imam pulang sesore ini. Biasanya, sang sesepuh Bionic ini sering pulang larut malam—sampai-sampai sering terkunci di luar kontrakan karena para penghuninya sudah pada tepar duluan. Kali ini, beliau terlihat bersemangat untuk segera sampai di kontrakan, duduk di depan tv, lalu menikmati beberapa acara ndak penting dengan wajah penun penantian. Wuah, kejadian super langka nih!

Beberapa waktu kemudian acara yang kami tunggu-tunggu pun dimulai: sebuah talkshow khusus untuk menyambut hari pendidikan nasional. Kami pun sangat antusias menanti kedatangan Kaysan, si birdwatcher cilik yang belakangan ini menggemparkan jagad pengamatan burung. Setelah setengah acara berjalan, barulah si Kaysan kecil muncul ke panggung, berhadapan langsung dengan Menteri Pendidikan Anies Baswedan yang menjadi pemandu acara. Saat itu, kami girang bukan main menyaksikan wakil termuda generasi birdwatcher muncul di acara tv bergengsi, disaksikan oleh jutaan pasang manusia di Indonesia.

13133217_10207820862377659_3020434640795989266_n

Mikail Kaysan sang Child Prodigy

“Mantap kay, makin nge-fans!” ujar mas Imam malam itu, sebuah kalimat khas yang selalu beliau ucapkan untuk menyanjung sang child prodigy di dunia pengamatan burung.

Baca lebih lanjut

Jeram-jeram Waktu

Saya  baru saja kehilangan sabuk lama saya, dan saya sedih dengan hal itu.

Mungkin, akan ada banyak orang yang menganggap saya lebay. Jujur saja, apalah artinya sebuah sabuk yang selalu bisa kita beli di luar sana, dari harga yang murah hingga yang paling mahal. Namun, sabuk yang baru saja saya hilangkan ini bukanlah sabuk biasa. Bukan, bukan harganya yang mahal atau merknya yang terkenal—namun memori yang terkandung di dalamnya, beserta sejuta koneksi cerita yang bisa saya dapat setiap kali menggunakannya.

Jpeg

“si Jambret”

Baca lebih lanjut

Amsterdam, 2 Dunia di Satu Kota

Westeermoskee

eSudah lumayan lama nih nggak posting di blog ini, saking sibuknya sama pekerjaan yang menumpuk. Yah, beginilah nasib ketika kita mengambil hobi menulis sebagai profesi, jatah menulis kata-per-hari yang biasanya bisa dimanfatkan untuk nulis blog harus dialihkan ke pekerjaan demi mendapatkan sesuap nasi untuk dimakan (terlalu berlebihan ya? hahaha). Intinya, memang sulit membagi waktu untuk menulis “hobi” ketika kita sudah bekerja sebagai “penulis”.

Kali ini saya nggak mau cerita panjang lebar, cuman mau nge-share beberapa coret-coretan yang sempat saya buat beberapa bulan yang lalu. Tulisan ini aslinya saya kirim ke lomba menulis “Travelmates Western Australia” dari National Geographic Indonesia, sebuah kompetisi prestisius dengan hadiah jalan-jalan gratis ke Australia Barat. Alhamdulillah, tulisan ini lolos hingga tahap seleksi 20 besar–satu langkah terakhir sebelum masuk 10 besar yang bakal dikirim ke Australia Barat, ditentukan dengan proses interview dengan dewan juri. Sayangnya, ternyata saya nggak berhasil melewati proses seleksi terakhir ini, sehingga kesempatan bertemu dengan quokkas pun pupus di tengah ujung jalan… hiks..hiks *nangis darah*.

Setelah dipikir-pikir, daripada tulisannya kebuang sia-sia mending saya masukan saja ke blog ini. Lumayan lah, bisa update cepat supaya blog semata wayang ini nggak sepi-sepi amat (mungkin ini juga yang jadi penilaian dewan juri, karena waktu interview ditanya soal blog dan keaktifan menulis :p). Well enough to said, just enjoy!


Amsterdam, 2 Dunia di Satu Kota

Belasan perempuan muda berpakaian “hemat” bersolek dari balik etalase kaca, sedikit cuek dengan udara musim dingin nan beku. Sebuah dipan empuk terlihat di belakang mereka, bersebelahan dengan sebuah pintu mungil yang mengarah entah ke mana. Di luar bangunan, beberapa pasang mata sibuk berjalan sambil menengok ke setiap jendela yang terbuka, seakan menimbang-nimbang “orang” yang ingin mereka beli. Etalase “manusia” ini berbaris di sepanjang gang sempit di tengah kota, berhias lampu-lampu neon merah yang tetap menyala di siang bolong.

Baca lebih lanjut

Dari Kereta yang Mengantarkanku ke Paris, ke Montmantre

Ada yang tidak bisa kuceritakan padamu; sebuah pagi
jatuh di atas sulir rambutku, serupa
terjalan bukit salju.
Kuberitahukan padamu, aku telah bangun dengan sebuah keriangan yang jarang
yang pernah kulakukan sekali ketika aku harus berhenti
mencintai ilalang, semak berudu, atau pun punggungnya, ah,
punggungnya yang memanjang martir — tak semartir milikmu.

Lalu jendela plastik itu
penuh oleh tetes embun yang tak pernah kuundang, dan aku
mencari namamu di antara cercah-cercah rel
bungkusan makanan di bawah kursi penumpan,
pun roda-roda yang menggigis di telingaku.
Tetapi rupa-rupanya kau begitu mirip dongeng-dongeng hantu
Mitos masa kecil yang acapkali membuatku meregang nyawa
menghitung biri-biri melompati pagar sampai hitungan lusin
Ironisme yang bau ikan asin, sebab pada akhirnya
aku tidak pernah tertidur. Tidak, sampai
namamu kutemukan di atas kepala masinis yang mendengkur.

****

Kereta ini akan membawaku ke Paris,
ke Montmantre
ke tempat-tempat bergang kecil dan lembab
: gedung opera, resital piano — aku duduk dengan gaun putih,
berlagak menjadi Rachmaninoff, dan kau
yah, kau seolah-olah Humbert yang jatuh cinta secara tak waras pada Lolita
ketawarasan sempurna yang entah kenapa membuatku
tak dapat membedakan manakah partitur bernot balok itu
dan yang manakah oasis suaramu—
kemudian malam akan larut; kau boleh
membawaku berjalan mengelilingi gedung-gedung tua
jembatan batu-bata, jalan-jalan santa
: tujuh putaran penuh sambil meracaukan cinta dalam bahasa asing
dalam harmoni yang mirip putaran gasing.

****

Ada yang masih tak bisa kuceritakan padamu dalam surat
yang kutuliskan di atas lembar maple ini (aku sendiri memungutnya di
perempatan jalan, sembari menyanyikan semacam doa)
kereta terus melaju, dan begitu banyak yang ingin kukabarkan padamu.
Barangkali sebaiknya aku berkisah tentang ibu-ibu yang memakai topi pantai,
kakek bajak laut, gadis pemintal benang, adik
pengunyah permen karet. Ataukah
lebih baik aku bercerita tentang liuk-liuk rel yang melengkung
pegunungan mengombak dan aku tak tahu namanya; apakah Alpen, tanyaku ragu.
Bunyi mesin itu kian bersahutan dan aku membayangkan
kau menantiku di bangku-bisu stasiun
jaket hangat di tangan kirimu dan kenari bakar di tangan kananmu.
Lantas aku akan bertanya,
“Kemanakah kawanan bersayap itu bermigrasi?”
dan sahutanmu tentu serupa macaron warna-warni

atau gulali? Entahlah, segala kemanisan yang tak melekangi imaji;
Aku akan terdiam, mungkin memejamkan mata,
mendengarkan lantunan kata-katamu itu.
Jeda, yang kubayangkan seperti bagian-bagian seru dalam simfoni
patah-patah stakato-stakastik
sengau yang desah lebah madu.
Kereta-kereta berdatangan, berpergian — kita melambaikan tangan pada mereka
juga pada gedung-gedung Paris yang agak menangis,
dan aku akan kembali mendapati goresan namamu
pada kepala masinis yang kini terjaga, meniupkan peluitnya pada kita: Ah,
ada yang begitu indah di sana— bawa aku ke padang sabana matamu yang cokelat tua.

Yogyakarta, 2011

NN

 

**)Nggak tahu kenapa belakangan ini jadi suka lihat timeline bertahun-tahun yang lalu, sampai akhirnya ketemu puisi ini. Gimana kabar penulisnya ya.. ah, bukan waktu yang tepat unuk baper. But seriously, how is she?

***) I miss you anyway