Kisah Ekek-geling Jawa, Si Paruh Gincu di Pasar Burung Yogyakarta

Burung kebiruan itu melompat-lompat di dalam sangkar bambu. Paruhnya yang besar berwarna merah seperti memakai gincu. Matanya kecoklatan, melotot dari balik topeng hitam di kepalanya. Beberapa kali ia kepakan sayapnya yang kecoklatan, melambai-lambai dari tenggerannya yang sempit dan kotor.

Kalau saja saya menjumpai burung ini di alam liar, tentu saya akan berjingkrak-jingkrak tidak karuan. Burung ini adalah Ekek-geling Jawa (Cissa thalassina), burung endemik jawa yang diberi status Kritis (Critically Edangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Keberadaannya di alam masih dipenuhi tanda tanya, beberapa orang yakin burung ini masih bertahan di sisa-sisa hutan pegunungan di Jawa barat, beberapa lainnya dengan pasrah mengatakan bahwa burung ini sudah ‘punah di alam’. Burung ini ibarat sebuah hadiah yang sangat besar bagi seorang twitcher–mungkin hampir setara dengan Trulek Jawa (Vanellus macropterus) yang legendaris, dan bisa dikategorikan sebagai ‘ultra mega tick of the year’!

Sayang seribu sayang, saya hanya melihat burung ini di balik kandang bambu yang tergantung cukup tinggi. Itu pun bukan di tempat penyelamatan dan konservasi hewan, namun di sebuah pasar burung besar di selatan kota Jogja. Ya, burung ini diperjualbelikan di Pasar Burung Yogyakarta (PASTY), dan dengan sangat kebetulan saya bisa menjumpainya pada saat saya berkunjung kesini, Jumat 17 Mei 2013.

“Nggak bisa diambil fotonya Nji, kejauhan,” kata Ekky, kawan saya yang saya ajak jalan-jalan ke tempat ini.

Sangkar burung itu diletakan cukup tinggi sehingga sulit untuk dipotret dengan kamera hp. Kandangnya cukup besar, mengimbangi ukuran si Ekek-geling yang bisa dibilang cukup besar. Kami tidak bisa menemui penjaga kios dimana burung tersebut dijual, sehingga tidak ada informasi lebih lanjut yang dapat kami peroleh tentang burung ini. Dengan berat hati kami memutuskan untuk pulang dan mencoba mencari informasi tentang burung ini di rumah.

“Padahal langka banget tuh bro, coba kalau kita bisa tanya sama pedagangnya, bisa jadi informasi berharga tuh,” gerutu saya saat perjalanan pulang.

Si Kritis Yang Berparuh Gincu

Sekilas tentang Ekek-geling Jawa, burung ini merupakan burung endemik Jawa yang sebarannya dipercaya terbatas di bagian barat. Sebelumnya, burung ini dianggap sejenis dengan Ekek-geling Kalimantan dalam nama Cissa thalassina, hingga Bas van Ballen dkk (2011) mendeskripsikan ras Kalimantan jefferyi dan ras Jawa thalassina sebagai jenis yang terpisah. Dalam paper yang sama, Bas van Ballen dkk menjelaskan bahwa pemisahan sub-spesies sebagai spesies tersendiri ini serta merta merubah status konservasi Ekek-geling Jawa menjadi sangat terancam punah (Critically Edangered) akibat penangkapan besar-besaran sebagai burung peliharaan dan perusakan habitat.

Kedua burung ini sangat mirip, memiliki paruh merah besar seperti diberi gincu, topeng hitam seperti Kepudang di mata, mahkota hijau, badan berukuran sedang berwarna hijau pastel, ekor pendek tanpa warna putih, sayap coklat dengan penutup sayap atas kebiruan. McKinnon dkk (2010) menjelaskan perbedaan keduanya terletak pada warna iris/warna mata, Ekek-geling Kalimantan memiliki mata putih sementara Ekek-geling Jawa bermata coklat. Warna iris inilah yang meyakinkan saya bahwa burung yang kami lihat adalah si Ekek-geling Jawa, si gincu merah endemik jawa yang sangat terancam punah!

Tunggu dulu, bukankah burung yang saya lihat di Pasty berwarna biru, bukan hijau pastel? Saya juga berpikir seperti itu, hingga saya membaca paper milik Collar dkk (2013) yang menjelaskan bahwa warna bulu Ekek-geling Jawa memang dapat berubah dari hijau menjadi biru kehijauan (cyan) akibat perbedaan jenis pakan, stress, atau perbedaan intensitas matahari saat berada di dalam kandang. Hal ini menunjukan bahwa burung yang kami jumpai sudah cukup lama ditangkap dan dikurung di dalam kandang, sementara Ekek-geling yang baru ditangkap di alam akan berwarna hijau pastel seperti yang dijelaskan oleh McKinnon dkk.

Sebagai burung yang sangat terancam punah, bukti keberadaan burung ini di alam sangat sedikit, hampir tidak ada catatan perjumpaan burung tersebut sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Beberapa orang yakin bahwa burung ini telah punah di alam, namun baru-baru ini ada bebrapa catatan perjumpaan dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Jawa Barat. TNGHS sendiri merupakan daerah hutan pegunungan yang sangat lebat dan jarang tersentuh manusia, habitat yang ideal bagi si Ekek-geling Jawa. Bagaimanapun juga, keberadaan burung ini masih dianggap ‘klenik’ oleh sebagian besar pengamat burung, menjadi misteri yang belum terpecahkan.

Saya sendiri pertama kali mendengar tentang perjumpaan burung ini dari mas Indra Ferdinand, seorang guide pengamatan burung yang bermarkas di Cibodas, Jawa Barat. Beliau sendiri merupakan orang yang melaporkan keberadaan burung tersebut di TNGHS. Kami bertemu saat saya berkunjung ke Cibodas sekitar setahun yang lalu, saat kami sedang duduk-duduk di padang golf menunggu kemunculan Cabak Gunung (Caprimulgus pulchellus) dari dalam hutan. Saat itulah pria yang sudah bertahun-tahun memandu pengamat burung dari seluruh dunia ini mulai bercerita tentang Ekek-geling Jawa, burung yang dia temui di Gunung Halimun Salak beberapa waktu yang lalu. Itu merupakan perjumpaan yang sangat tidak terduga dan mengejutkan, dan bisa dibilang merupakan satu-satunya catatan perjumpaan burung ini pada beberapa puluh tahun terakhir.

“Awalnya pada nggak percaya,” ujar mas Indra. “Tapi waktu saya tunjukan fotonya, baru pada pada percaya!” lanjutnya sambil tersenyum (saya mencoba mencari foto yang dimaksud di internet, tapi tidak berhasil ditemukan).

Karena keberadaannya di alam sudah sangat terancam, beberapa instansi konservasi internasional mulai membuat program untuk mengembaliakn populasi burung ini di alam. Salah satunya adalah Chester Zoo dan Cikananga Wildlife Center (CWC, dulunya PPS Cikananga) sebagai member Treathened Songbird of Asia Working Group (TWASG), yang bergerak dalam sebuah program untuk merehabilitasi keberadaan burung berparuh gincu ini. Karena menemukan burung ini di alam begitu sulit, dilakukan pencarian di pasar-pasar burung di sekitar Jawa Barat untuk dibawa ke CWC. Selanjutnya, dilakukan pembiakan dalam kandang (Captive Breeding) untuk mengembalikan populasi burung ini di habitatnya.

Dalam pencarian ini, tim berhasil menemukan cukup banyak burung yang mirip dari genus Cissa, namun hanya ada 10 ekor yang benar-benar cocok dengan bentuk thalassina bermata coklat. Sayangnya, 2 ekor burung yang ditemukan berada dalam kondisi yang sangat buruk dan mati sebelum ditangani, hal ini akibat ulah pemburu yang menggunakan kail ikan untuk menjeratnya. 8 burung yang tersisa dibawa ke Cikananga Wildlife Center untuk direhabilitasi. Setelah diberi makan serangga dan katak segar dari alam serta beberapa perlakuan khusus, beberapa burung yang mengalami perubahan warna menjadi biru mendapatkan warnanya kembali, sebuah tanda menggembirakan tentang kesuksesan program ini.

Ekek-geling Jawa yang didapatkan oleh tim dari Chester Zoo. Burung ini akan dibawa ke Cikananga Wildlife Center untuk dikembangbiakan dan dilepasliarkan ke alam. Sumber: chesterzoo.org

Kabar gembira lainnya datang ketika tim menyadari bahwa kedelapan burung yang berhasil direhabilitasi terdiri atas empat jantan dan empat betina, sehingga kemungkinan untuk melakukan captive breeding bertambah besar. Bagaimanapun juga, pengembang-biakan Ekek-geling bukanlah hal yang mudah, pengalaman institusi lain yang mengembak-biakan genus Cissa selama bertahun-tahun menunjukan berbagai macam kesulitan yang harus dihadapi. Produktivitas genus ini di dalam penangkaran sangat rendah, dan kemungkinan pasangan untuk bersarang juga kecil.

Ya, mari berharap semoga program ini berhasil dan mampu mengembalikan si paruh gincu ini ke alamnya.

Populasi yang Tidak Terdeteksi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Mungkinkah?

Ketika saya pulang dari PASTY di hari itu, saya mengupdate status facebook berisi jenis-jenis yang saya temui di pasar. Hanya dalam beberapa jam, beragam komentar datang di status tersebut, dan salah satunya dari Colin Trainor, seorang ornithologis dari Birdlife Indonesia. Rupanya beliau menyebarkan daftar tersebut di milis Oriental Bird Club, dan mendapatkan respons yang cukup beragam dari sesama anggota milis. Hampir semua tanggapan dari milis tertuju pada keberadaan Ekek-geling Jawa di pasar tersebut, dan beberapa mulai berspekulasi tentang keberadaan populasi burung ini yang belum pernah tercatat sebelumnya di sekitar Jawa Tengah. Populasi tersembunyi ini mungkin dapat memberikan informasi baru mengenai keberadaan burung ini di alam, atau bahkan memberikan harapan bahwa burung ini masih memiliki populasi yang cukup stabil di habitatnya.

Tentu saja, ini baru spekulasi alias perkiraan. Warna biru pada burung yang saya temui menunjukan bahwa burung ini cukup lama berada di dalam kandang. Bisa saja burung ini dibeli dari daerah di sekitar Jawa barat dan dijual kembali di pasar burung ini, karena dari hasil survey singkat kami, burung-burung yang dijual di pasar burung ini tidak hanya berasal dari daerah sekitar. Lamanya perjalanan dari Jawa Barat ke Yogyakarta inilah yang mungkin membuat burung ini stress dan berubah warna menjadi biru.

Namun hipotesis saya ini juga belum kuat, karena bisa jadi warna biru tersebut muncul akibat burung ini karena burung ini memang tidak laku dan dibiarkan lama di dalam kandang. Bisa jadi burung tersebut ditangkap di suatu daerah yang belum banyak tereksplorasi di sekitar Jawa Tengah, dimana terdapat populasi tersembunyi dari Ekek-geling Jawa.

Bagaimanapun informasi mengenai populasi tersembunyi ini tidak akan bisa didapat tanpa ada wawancara dengan si pedagang, sementara pedagang tersebut tidak ada di lokasi saat itu. Diperlukan investigasi lebih lanjut mengenai asal-muasal burung yang dijual di PASTY, dan wawancara terhadap pedagang untuk mengetahui informasi awal yang diperlukan dalam investigasi tersebut harus dilakukan dalam waktu dekat. Saya harap saya bisa kembali ke pasar burung tersebut dalam secepatnya, dan mendapatkan informasi yang lebih jelas mengenai burung tersebut. Yah, semoga!

Sore itu saya duduk di teras rumah. Sambil meminum teh hangat, saya memandang ke arah luar. Saya membayangkan bahwa di suatu tempat di luar sana, suatu tempat yang belum dilihat sebelumnya, ada burung berparuh gincu yang berlompatan di antara tajuk pohon hijau yang rindang. Mereka di luar sana, bertahan dalam tekanan dari manusia yang semakin berat. Dan ya, saya membayangkan bahwa suatu hari nanti, saya bisa melihatnya langsung di alam–sesuatu yang dapat membuat saya bersorak kencang: “MEGATICK! JAVAN GREEN MAGPIE!”

Daftar Pustaka

BirdLife International. 2011. Threatened Birds of Asia. Cambridge, UK: BirdLife International.

Collar, N. J., Gardner, D. F. dkk. 2013. Conservation Breeding and the Most Thratened Birds in Asia (Jurnal). BirdingASIA 18: 50-57. Oxford, UK: Oriental Bird Club.

MacKinnon, J., Phillips, K., Van Balen, B. 2010. Panduan Lapangan: Burung-burung di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali. Bogor: Burung Indonesia.

Van Balen, S. (B.), Eaton, J. A. & Rheindt, F. E. 2011. Biology, Taxonomy and Conservation status of the Short-tailed Green Magpie Cissa thalassina from Java (Jurnal). Bird Conservation Internasional. Cambridge: Cambridge University Press.

About these ads

One thought on “Kisah Ekek-geling Jawa, Si Paruh Gincu di Pasar Burung Yogyakarta

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s