Elang, dan beberapa jenisnya di Pulau Jawa

 

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Elang merupakan kata yang paling umum digunakan untuk menyebut jenis-jenis burung pemangsa (Birds of Prey atau Raptor), padahal sejatinya tidaks emua burung pemangsa disebut Elang. Elang hanyalah salah satu kata yang mewakili semua jensi raptor dari keluargaAcciptridae. sayangnya bahasa Indonesia tidak memilki klasifikasi yang tepat mengenai hal ini. Bahkan di dalam KBI, kata “Elang” diartikan sebagai semua jenis burung berparuhd an berkuku tajam, berbeda dengan bahasa Inggris yang mengklasifikasikannya dalam berbagai nama.

 

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Sekarang, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu Raptor. Raptor atau Birds of Prey pada dasarnya mewakili semua jensi burung pemangsa seperti Elang, alap-alap, dan Burung hantu. Secara ilmiah, raptor terbagi menjadi 2 ordo yakni Falconiformes (Elang, elang-alap, alap-alap, Sikep, Baza dll) dan Strygiformes (Burung Hantu, celepuk dan Serak).

Sekarang kita hanya akan membahas 1 ordo, yakni Falconiformes yang terdiri dari semua raptor diurnal, kecuali bila alap-alap disendirikan dalam ordo falconiformes. Didalam ordo ini, terdapat beberapa keluarga, lain Mazhab lain versi. Tapi kalau saya sendiri lebih suka mengiktui mazhab dimana terdapat 4 keluarga di dalam ordo ini, yakni Acciptridae (Elang, Baza, Elang-alap, Nazar dan Sikep), Falconidae (Alap-alap), Saggitaridae (burung sekretaris) dan Pandionidae (Elang Tiram) . Ada juga ilmuwan yang membaginya ke dalam 3 ordo, dimana family Falconiformes( Alap-alap) disendirikan dalam ordo Falconiformes sementara keluarga Acciptridae dipisahkan dalam ordo Acciptriformes. Mau pakai yang mana? Terserah..Tapi kalau di Asia lebih suka memakai Ordo Falconidae yang terdiri dari Acciptridae dan Falconidae, sementara Pandionidae tergabung dalam Acciptridae.

Family Acciptridae dalam bahasa inggris dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan ukuran tubuh serta cara terbangnya, seperti Eagle, Hawk, dan Kite. Eagle (Elang) memilki ukuran tubjuh yang besar, lebih dari 60 cm seperti Elang Hitam (Ictinaetus malayensis/Indiana Black Eagle). Hawk (Elang-alap) memilki ukran tubuh kecil di bawah 50 cm, seperti Elang-alap Cina (Accipiter soloensis/Chinese Goshawk). Sementara itu ada juga Baza, ukurannya hampir sama dengan Hawk tapi memiliki perilaku yang lebih unik, kepala yang lebih seperti ayam (kecil) serta jambul khas-nya di atas kepala. Buzzard (Sikep) memilki ukuran tubuh kurang lebih sama dengan Eagle, namun kepalanya kecil dan lehernya panjang mirip burung dara. Yang terakhir adalah Kite (dalam bahasa Indonesia juga disebut “elang”) yang memilki perilaku terbang yang unik, yakni Hovering flight (terbang diam di satu titik).

Family Falconidae dalam bahasa Inggris juga dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan ukuran, seperti Falcon, Kestrel dan Hobby. Falcon berukuran besar, kuat dan kekar seperti Peregrine Falcon (Falco peregrinus/Alap-alap kawah) dan Gyr Falcon. Kestrel Berukuran kecil (sekitar 30cm) dan memilki kemampuan Hovering Flight seperti Alap-alap sapi (Falco molluccensis/Spotted Kestrel). Hobby mirip dengan Kestrel kecuali sayapnya yang lebih tajam di ujungnya, seperti Alap-alap Macan (Falco severus/Oriental Hobby). Terakhir adalah falconet, yakni alap-alap berukuran mini (15 cm) yang merupakan burung pemansga terkecil di dunia, seperti alap-alap capung (Microhyreax fringilarrius/Black-tighed Falconet). Sayangnya dalam bahasa Indonesia tidak ada perbedaan antara semua burung ini.

Beberapa contoh jenis elang dan saudaranya yang ada di Pulau Jawa dan sekitarnya adalah:

Acciptriformes

1. Elang Hitam (Ictinaetus malayensis/Indiana Black Eagle) Temnick, 1822

 

Foto by: Hendry Mono (Mas Mono)

Burung berukuran sedang (70cm), namun tampak besar ketika terbang. Cukup dominan dalam hal bertarung sehingga memiliki survival rate yang cukup tinggi. Tersebar di ketinggian 300-2000mdpl. Cukup umum dijumpai di hutan primer hingga perkebunan, terkadang suka nyelonong masuk ke desa pinggir hutan. Sesuai namanya, elang ini berwarna hitam kelam kecuali pada individu muda yang memiliki corak menyerupai Elang Brontok.

Field Mark:

Sayap yang menjari khas, kokoh dan lebar membentang, terlihat sangat besar dengan ekor yang panjang. Dewasa: Warna bulu hitam pekat, kecuali pada ekor yang memilki corak agak kecoklatan. Remaja: Dada bercorak garis seperti Elang Brontok fase terang. Sera kuning, kaki kuning, jari kelingking pendek tidak proporsional.

Kebiasaan:

Terbang soaring atau gliding sambil terkadang mengeluarkan suara seperti Elang-ular Bido. Cukup aktif di pagi sampai siang hari. Terkadang terbang rendah di atas tajuk mencari mangsa berupa tikus, kadal, tupai, ayam, burung kecil dan hewan-hewan kecil lainnya.

Status:

Jomblo Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix II CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

2. Elang-ular Bido (Spilornis cheela/Crested Sherpent-eagle) Latham, 1790

 

Foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

 

Burung berukuran sedang (50-60cm), berisik dan sangat mudah dijumpai di semua ketinggian. Jenis burung yang adaptif, bisa ditemui di berbagai macam habitat mulai dari hutan primer, hutan skunder, perkebunan, hutan pantai, savanna dan terkadang sampai di perkampungan penduduk. Walaupun namanya Elang-ular, tapi tidak selalu memakan ular.

Field Mark:

Sayap yang membusur membentuk huruf “C”, membulat dan memilki garis tebal berwarna putih di tepi sayap. Ekor pendek terkadang mengipas. Bagian mata tidak berbulu berwarna kuning. Warna bulu dominan coklat tua hingga hitam, tutul-tutul putih di dada dan perut.

Kebiasaan:

Terbang soaring atau gliding di ketinggian atau terbang gerilya diantara tajuk untuk berburu. Sangat suka bersuara, ribut dengan siulan “Kli-kliuw” atau “kliiw”. Memangsa ular, tikus, kadal, bajing dan hewan-hewan kecil lainnya.

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Status:

Jomblo Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix II CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

3. Elang Jawa (Spizaetus bartelsii/Javan Hawk-eagle), Stresemann, 1924

Nggak tau gambar-nya siapa

Burung berukuran sedang (60cm), sangat terkenal akan kelangkaannya. Pada masa orde baru dijadikan sebagai lambang negara Indonesia. Terlihat tampan dan gagah namun sebenarnya pengecut dan sangat mudah dikalahkan oleh elang jenis lain. Menempati hutan primer dan hutan skunder paa ketinggian 300mdpl. Sesuai namanya, endemik di Jawa.

Banyak orang mengira bahwa burung Garuda adalah spesies burung tersendiri. Sebenarnya, Elang jawa adalah si garuda itu sendiri. Dengan kata lain, Garuda, lambang negara yang kita bangga-banggakan selama ini adalah sejenis Elang bernama Elang jawa.

 

Field Mark:

Sayap membulat dan menekuk sedikit ke atas ketika soaring. Kepala tidak terlalu kecil, proporsional dengan ekornya yang agak lebih panjang dari Elang brontok. Jambul khas di kepalanya terlihat saat hinggap. Warna dominan coklat merah, dada berwarna putih bercoret melintang pada burung dewasa dan  cokelat polos pada burung muda.

Foto by: Adhy Maruly (Mas Batak)

Kebiasaan:

Terbang soaring atau gliding di atas tajuk utnuk berburu. Sangat jarang bersuara, sangat pendiam dan anggun ketika terbang. Memangsa tikus, kadal, tupai, bajing, ayamhutan dan hewan-hewan kecil lainnya.

Status:

menikah Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix I CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

Catatan:

Beberapa ahli sering menyebutnya Nizaetus bartelsii.

4. Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus/Changeable Hawk-eagle), Gmelin, 1788

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss) fase terang terbang

Burung berukurans edang (60cm), sangat mirip dengan Elang jawa. Sesuai namanya, memilki dua fase yakni fase gelap dan fase terang. Lebih tersebar luas dari saudaranya dan menempati habitat yang lebih beraneka-ragam. Memilki banyak ras dan banyak bentuk, ada yang berjambul, ada yang tidak.

Ada yang bilang nama virus brontok terisnpirasi dari nama burung ini.

Field Mark:

Sayap membulat dan menekuk sedikit ke atas, mirip dengan saudaranya Elang Jawa. Bedanya, ekor yang agak lebih pendek, dua spot terang di sayap serta garis vertikal di bagian dada pada fase terang.

Fase terang: Bagian bawah putih bercorak vertikal hitam mirip Elang hitam muda dan Elang Jawa. Bagian atas coklat pucat.

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss) fase gelap hinggap

Fase peralihan: Bagian bawah keabu-abuan, bagian atas sama dengan fase terang.

Fase gelap: Berwarna hitam pekat mirip Elang Hitam dewasa, tapi tidak memiliki warna kuning di paruhnya.

Kebiasaan: Sama dengan Elang Jawa. Terkadang bersuara mirip Elang Ular-bido.

Status:

menikah Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix I CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

Catatan:

Beberapa ahli memasukkannya dalam genus Nizaetus, ada juga yang menyendirikan ras S. cirrhatus limnaetus menjadi ras tersendiri.

5. Elang-laut Perut-putih (Halieestus leucogaster/White-bellied sea Eagle) Gmelin, 1788

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Elang yang sangat spektakuler, berukuran sangat besar (70-85 cm).  Dengan ukurannya bisa dibilang sebagai raja lautan. Tersebar di pesisir pantai dan terkadang masuk ke hutan dataran rendah. Ada catatan hidup di dataran tinggi.

Field Mark:

Ukuran yang sangat besar, sayap kokoh panjang dan lebar, kepala panjang serta ekor sangat pendek membentuk baji. Warna dominan putih, sayap membentuk pola hitam bagian atas dan hitam-putih di bagian bawah. Juvenile: warna putih digantikan warna coklat agak pucat.

Kebiasan:

Terbang rendah di atas air lalu menyambar mangsanya, berupa ikan atau terkadang burung lain. Bersura nyaring “ah..ah””

Status:

Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix I CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

6. Elang Tiram (Pandion halieestus/Osprey) Linneus, 1758.

 

Foto by: Kulashekara C. S.

Burung berukuran sedang (60cm). Tidak termasuk dalam family acciptridae, tapi dipisahkan dalam family tersendiri yaitu Pandinidae. Sayangnya dalam Bahasa Indonesia namanya tetap disebut “Elang”.  Tersebar di pesisir pantai.

Field Mark:

Warna hitam-putih yang mencolok, topeng berwarna hitam serta bentuk sayap yang khas, panjang dan agak meruncing.

 

Foto by: Remo Kohrimpoh

Kebiasaan:

Terbang menangkap mangsa di air atau di udara. Suka bertengger di tiang-tiang dermaga atau di atas kapal.

Status:

Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix II CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

7. Elang-ular Jari-pendek (Circaetus gallicus/Short-toed Snake-eagle) Gmelin, 1788

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Berukuran besar (65 cm), kekar dan pucat.  Dalam Buku “Panduan Lapangan: Burung di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali” oleh McKinnon dijelaskan burung ini adalah pengunjung musim dingin yang langka, sangat jarang terlihat. Pertemuan terbanyak ada di TN. Baluran di Situbondo, Jawa Timur.

Field Mark:

Tubuh kekar, bagian atas coklat keabu-abuan, bagian bawah putih dengan coretan gelap, tenggorokan dan dada coklat. Terdapat garis-garis melintang yang samar pada perut dan empat garis melintang yang samar pada ekor. Remaja berwarna lebih pucat dari dewasa. Pada waktu terbang, sayap terlihat lebar dan panjang, dengan garis panjang mencolok pada penutup sayap dan bulu terbang.
Iris kuning, paruh hitam dengan sera abu-abu, kaki kehijauan.

Kebiasaan:

Menghuni pinggir hutan dan semak sekunder. Terbang melingkar dan meluncur dengan sayap yang cibentangkan lurus dan datar. Seperti alap-alap raksasa, sering melayang-layang diam sambil mengepakkan sayapnya.

8. Elang Tikus (Elanus caeraleus/Black-winged Kite) Desfontaines, 1789

 

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Berukuran sedang (30-45cm) dengan cara terbang yang unik. Sekilas mirip dengan alap-alap, namun sayapnya lebih membulatd an warna matanya yang terang. Tersebar di dataran rendah dan perbukitan hingga ketinggian 2000mdpl. Termasuk dalam golongan “kite” yang berarti suka melakukan terbang hovering yang jarang bisa dilakukan oleh jenis lainnya.

Field Mark:

Memiliki bercak hitam pada bahu, bulu primer hitam panjang khas. Dewasa: warna mahkota, punggung, sayap pelindung, dan bagian pangkal ekor abu-abu; muka, leher, dan bagian bawah putih. Remaja: bercorak warna coklat. Pada saat mencari mangsa, suka melayang-layang diam sambil mengepak-ngepakkan sayap. iris merah, paruh hitam dengan sera kuning, serta kaki kuning.
Iris merah, paruh hitam dengan sera kuning, kaki kuning

Kebiasaan:

Bertengger pada pohon mati atau tiang telepon. Melayang-layang di atas mangsanya seperti diuraikan di atas. Suka berburu di daerah yang kering terbuka dengan pohon yang terpencar-pencar. Memangsa Belalalng, ular, tikus atau burung yang masih muda.

Status:

Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix II CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

9.Elang Bondol (Haliastur indus/Brahminy Kite)  Boddaert, 1783

Foto by: Mike Ciang

Berukuran sedang (45cm). Cukup terkenals ebagai maskot kota Jakarta, walaupun populasinya sangat mengenaskan di kotanya. Anda bisa mengenalinya dengan melihat logo busway. Sekilas mirip dengan Elang Botak dari Amerika, tapi ukurannya jelas jauh lebih kecil. Termasuk dalam golongan “Kite” yang berarti memilki keahlian terbang hovering yang jarang dimilki jenis lainnya.

Field Mark:

Berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Dewasa: kepala, leher, dan dada putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh renaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu.
Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram.

Foto by: Mike Ciang

Kebiasaan:

Biasanya sendirian, tetapi di daerah yang makanannya melimpah dapat membentuk kelompok sampai 35 individu. Ketika berada di sekitar sarang, sesekali memperlihatkan perilaku terbang naik dengan cepat diselingi gerakan menggantung di udara, kemudian menukik tajam dengan sayap terlipat dan dilakukan secara berulang-ulang. Terbang rendah di atas permukaan air untuk berburu makanan, tetapi terkadang juga menunggu mangsa sambil bertengger di pohon dekat perairan, dan sesekali terlihat berjalan di permukaan tanah mencari semut dan rayap. Menyerang burung camar, dara laut, burung air besar, dan burung pemangsa lain yang lebih kecil untuk mencuri makanan.
Makanannya sangat bervariasi. Di perairan diantaranya memakan kepiting, udang, dan ikan; juga memakan sampah dan ikan sisa tangkapan nelayan. Di daratan memangsa burung, anak ayam, serangga, dan mamalia kecil.

Status:

Dilindungi UU. no.5 tahun 1990 dan PP. no. 7 dan 8 tahun 1998. Appendix II CITES. Dilarang memperjual-belikan atau memelihara dalam bentuk hidup/mati.

10. Elang-alap Cina (Accipiter soloensis/Chinese Goshawk) Horsfield, 1821

Foto by: Chien-te Wang

Burung pemangsa ukuran sedang (33cm) dan merupakan pengunjung tetap di pulau jawa. Cukup sering berkumpul bersama Elang-alap Jepang pada saat migrasi. Cukup mudah dibedakan dari saudaranya.

Field Mark:

Warna dewasa, tubuh bagian atas abu-abu biru dengan ujung putih yang jarang pada bulu punggung dan garis-garis melintang samar pada bulu ekor terluar. Tubuh bagian bawah putih terdapat sapuan merah karat yang samar pada dada dan sisi tubuh dengan sedikit garis abu-abu pada paha. Sayap bawahnya sangat khas seluruhnya terlihat putih kecuali ujung bulu primer yang hitam. Remaja tubuh bagian atas coklat, tubuh bagian bawah putih terdapat garis-garis gelap pada ekor, coretan pada tenggorokan serta garis-garis pada dada dan paha.
Paruh abu-abu dengan ujung hitam , sera dan kaki jingga, iris merah atau coklat.

 

Kebiasaan:

Mengunjungi daerah terbuka sampai pada ketinggian 900 mdpl pada musim dingin di seluruh Sunda Besar. Setiap Oktober melewati Puncak (Bogor) dan Bali Barat dalam jumlah besar. Biasanya berburu di tenggeran, tetapi kadang-kadang terbang melingkar di atas, dan menerkam mangsanya dari tanah.

Foto by: Wengchun

11. Elang-alap Jepang (Accipiter gularis/Japanese Sparrowhawk) Temminck & Schlegel, 1844

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Raptor migrant dari belahan Bumi utara, bertamu ke Indonesia bulan September-Desember. Burung yang cukup atraktif, lebih gesit dan lebih lincah dari 2 saudara kembarnya Elang-alap besra dan Elang-alap Jambul. Ukurannya juga paling kecil (27 cm) dibandingkan 2 saudaranya. Sering juga disebut Elang-alap Nippon.

Field Mark:

Jantan dewasa: tubuh bagian atas abu-abu, ekor abu-abu dengan beberapa garis melingkar gelap, dada dan perut merah karat pucat dengan setrip hitam sangat tipis di tengah dagu, setrip kumis tidak jelas. Betina: tubuh bagian atas coklat (bukan abu-abu), bagian bawah tanpa warna karat, bergaris-garis cokalt melintang rapat. Dada remaja: lebih banyak coretan daripada garis-garis melintang dan lebih merah karat.
Iris kuning sampai merah, paruh biru abu-abu dengan ujung hitam, sera dan kaki kuning-hijau.

Kebiasaan:

Berburu di sepanjang pinggir hutan, di atas hutan sekunder, dan daerah terbuka. Biasanya berburu dari tenggeran di pohon, tetapi kadang-kadang terbang berputar-putar untuk mengamati tanah di bawahnya dengan cara terbang “kepak-kepak-luncur” yang khas. Menyerang dengan agresif pendatang yang mendekati sarang.

12. Elang-alap Besra (Accipiter virgatus/Besra) Temminck, 1822

Foto by: Michele and Peter Wrong

Burung berukuran sedang, sangat mirip dengan Elang-alap Jepang kecuali ukurannya yang lebih besar. Berbeda dengan saudaranya, Elang-alap Besra adalah reptor penetap yang jarang dijumpai di Pulau Jawa.

Field Mark:

Berukuran sedang (33 cm) mirip Elang Alap Jambul tetapi lebih kecil dan tanpa jambul. Warna jantan dewasa, tubuh bagian atas abu-abu gelap dengan ekor bergaris tebal, tubuh bagian bawah putih dengan garis melintang coklat dan sisi tubuh merah karat, tenggorakan putih dengan strip hitam di tengah, strip kumis hitam.

Kebiasaan:

Duduk tenang di hutan menunggu mangsanya. Sering terlihat bertengger di pohon mati yang tinggi di hutan. Terbang mengitari teretori secara reguler.

13. Elang-alap Jambul (Accipiter trivirgatus/Crested Goshawk) Temminck, 1824

 

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Burung ketiga yang kembar dengan Elang-alap Besra dan Elang-alap Jepang. Ukurannya paling besar  diantara 2 saudaranya (40cm), selain itu dia juga berjambul yang terlihat ketika bertengger.

Field Mark:

Tubuh tegap dengan jambul yang jelas. Jantan dewasa : tubuh bagian atas coklat abu-abu dengan garis-garis pada sayap dan ekor, tubuh bagian bawah merah karat, dada bercoretan hitam, ada garis-garis tebal hitam melintang pada perut dan paha yang putih. Lehernya putih dengan setrip hitam menurun ke arah tenggorokan dan ada dua setrip kumis.Remaja dan betina : seperti jantan dewasa, tetapi coretan dan garis-garis melintang pada tubuh bagian bawah berwarna coklat serta tubuh bagian atas coklat lebih pucat.

 

Foto by: Mohanram Kempajaru

Kebiasaan:

Berburu di tenggeran yang rendah di laut. Selalu tinggal di hutan lebat. Pada waktu berbiak kadang-kadang memperlihatkan cara terbang yang khas, yaitu getaran sayap (bulu putih pada sisi tubuhnya terlihat jelas) berselang dengan luncuran pendek dalam lingkaran yang sempit.

14. Elang-ikan Kepala Abu (Ichthyophaga ichthyaetus/Grey-headed Fish Eagle) Horsefield, 1821

Foto by: Sumit K Sen

Berukuran besar (70 cm), jarang terlihat. Di Jawa hanya tersebar di kawasan Jawa Barat, pernah tercatat di Jawa Timur tapi belum ada catatan baru.

Field Mark:

Sayap membulat, berbeda dengan Elang-laut Perut-putih yang kokoh. Berwarna abu-abu, coklat, dan putih. Dewasa: kepala dan leher abu-abu, dada coklat; sayap dan punggung coklat gelap; perut, paha, dan pangkal ekor putih; ujung ekor bergaris lebar hitam. Remaja: bagian atas coklat kekuningan, bagian bawah bercoret coklat dan putih; ekor coklat mengkilap dengan ujung bergaris hitam. Ekor pendek.
Iris coklat sampai kuning, paruh dan sera abu-abu, tungkai tanpa bulu, dan kaki putih sampai kuning.

 

Foto by: John and Jemy Helms

Kebiasaan:

Sering mengunjungi daerah perairan, sungai danau, dan paya di hutan dataran rendah. Menukik menerkam ikan ketika terbang atau dari posisi bertengger di pohon. Jarang terbang melayang-layang.

15. Elang Perut-karat (Hieraaetus kienerii/ Rufous-bellied Eagle) Geoggroy Saint Hilaire, 1835

 

Foto By: Rajnesh Suvarna

Berukuran agak kecil, tersebar di hutan pegunungan. Jarang terlihat di Pulau Jawa, namun penghuni tetap sampai ketinggian 1500 mdpl. Jambulnya cukup unik ya?

Foto By: Kiran Poonacha

Field Mark:

Berwarna coklat kemerahan, hitam, dan putih, dengan jambul pendek. Dewasa: mahkota, pipi, dan tubuh bagian bawah kehitaman; ekor coklat dengan garis hitam tebal dan ujung putih. Dagu, tenggorokan, dan dada putih bercoret hitam; sisi tubuh, perut, paha, dan bagian bawah ekor coklat kemerahan dengan coretan hitam perut. Pada waktu terbang terlihat bercak bulat yang pucat pada pangkal bulu primer. Remaja: tubuh bagian atas coklat kehitaman dengan bercak kehitaman pada mata. Alis dan tubuh bagian bawah keputih-putihan.
Iris merah, paruh kehitaman, sera dan kaki kuning.

Kebiasaan:

Mendiami kawasan hutan di pinggir hutan, terlihat berputar-putar atau meluncur rendah di atas pohon. Terbang mengitari teretori, menyerang secara cepat mangsa di permukaan tanah atau di tajuk pohon, mirip dengan Peregrine Falcon.

16. Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus/Oriental Honey Buzzard) Temnick, 1821

 

Foto by: Adhy Maruly (mas Batak)

Si burung lucu dari bumi belahan utara. mengunjungi Indonesia pada bulan September-Desember, namaun ada juga catatan ras penetap di Pulau Jawa. Berukuran sedang (60cm) dengan kepala yang kecil da panjang, ciri khas Buzzard. Sering terjadi konflik antara burung ini dengan elang-elang penetap seperti Elang Hitam.

Field Mark:

Kepala kecil dan panjang, ekor sering membentuk kipas. Berwarna hitam dengan jambul kecil. Warna sangat bervariasi dalam bentuk terang, normal, dan gelap dari dua ras yang berbeda yang masing-masing meniru jenis elang berbeda dalam pola warna bulu. Terdapat garis-garis yang tidak teratur pada ekor. Semua bentuk mempunyai tnggorokan berbercak pucat kontras, dibatasi oleh garis tebal hitam,sering dengan garis hitam mesial. Ciri khas ketika terbang: kepala relatif kecil, leher agak panjang menyempit, ekor berpola.
Iris jingga, paruh abu-abu, kaki kuning, bulu berbentuk sisik (terlihat jelas pada jarak dekat).

Kebiasaan:

Sering mengunjungi hutan pegunungan. Ciri sewaktu terbang adalah beberapa kepakan dalam yang diikuti luncuran panjang. Melayang tinggi di udara dengan sayap datar. Mempunyai kebiasaan aneh yaitu merampas sarang tawon dan lebah sesuai namanya. Dia juga sering memakan serangga.

 

 

Falconiformes

1. Alap-alap Kawah (Falco peregrinus/Peregrine Falcon) Tunstall, 1711

Foto By: Imam Taufiqurahman (Mas Imam)

Burung berukuran besar (45 cm), cantik, anggun dan menawan sehingga menjadi lambang blog ini. Burung tercepat di dunia, menukik menangkap dari ketingian sehingga disebut raja angkasa atau spesialis “fly-attack”. Kemunculannya sangat tak terduga dan yang paling dinanti oleh para birdwatcher, karena bisa muncul dimana-mana, seperti di perkotaan sampai di tengah hutan. Salah-satu contoh pos perjumpaannya yang paling sering adalah di Jl. Malioboro, Yogyakarta.

Di Indonesia ada 1 ras penetap (F. peregrinus ernesti) dan 1 ras pengunjung musim dingin (F. peregrinus calidus).

 

Field Mark:

Sayap panjang meruncing dan melebar pada pangkalnya, lebih tumpul dibandingkan Alap-alap lain.  Bertubuh kekar dan besar. Topeng khas di muka, pada ras ernestii berwarna biru tebal dan pada ras calidus berwarna biru pucat. Ras ernesti memiliki garis-garis samar di dada.

Foto by: Igor Karyakin

Kebiasaan:

Terbang melingkar di ketinggian atau terbang cepat, melintas secara tiba-tiba dan hilang dengan cepat, kecuali bila andasedang beruntung melihatnnya soaring santai di udara. Menukik dariketinggian, menubruk mangsa dengan kecepatan yang luar biasa. Suka berburu pada petang hari, menyambar kelelawar, burung Layang-layang atau merpati. Seperti yang disebutkan diatas, dia spesialis terbang.

2. Alap-alap Sapi (Falco moluccensis/Spotted Kestrel) Bonaparte, 1850

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Burung berukuran kecil (30 cm). Cukup cantik dan sedikit mengesalkan karena sangat sensitif. memiliki perilaku yang unik, yakni terbang diam di udara (Hovering) lalu mengejar mangsanya dengan berlari di tanah. Burung kosmopolis, bisa ditemui bahkan di tengah kota seperti di Monas, Jakarta.

 

Foto by: Swiss Winnasis (Mas Swiss)

 

Field Mark:

Sayap runcing dan khas, ekor panjang bergaris-garis. Warna dominan coklat berpola hitam. Ekor biru-keabu-abuan bergaris hitam.

Kebiasaan:

Mengunjungi daerah terbuka dengan rumput yang tinggi  seperti savanna atau padang rumput. Suka terbang diam di satu titik sebelum kemudian menukik mendekati mangsa lalu berlari mengejar mangsanya di tanah. Mangsa berupa tikus, kadal, kelelawar kecil dan burung-burung kecil.

3. Alap-alap Macan (Falco severus/Oriental Hobby)

Foto by: Ramki Sreenivasan

Burung berukuran kecil (25 cm), bertempat tinggal di hutan perkebunan dan hutan dataran rendah. Sangat sulit dijumpai. Cantik dan anggun menawan.

Foto by: Rajnesh Suvarna

Field Mark:

Sayap panjang sangat lancip, jauh lebih lancip dari Alap-alap lain. Warna dada merah karat, warna bagian atas hitam.

 

Kebiasaan:

Lebih lincah dari alap-alap sapi, berburu di atas tajuk pohon. Lebih suka bertengger di pohon daripada batu cadas. Memangsa serangga, tikus, kadal dan burung-burung kecil.

4.Alap-alap Capung (Microhierax fringilarrius/Black-tighed Falconet)

foto by: Swiss Winnasis (mas Swiss)

Burung berukuran sangat kecil (15 cm),  merupakan burung pemangsa terkecil di dunia. Sudah cukup jarang ditemui di pulau Jawa. Burung yang sangat berani yang mampu menyerang burung-burung yang ukurannya sama ataus edikit lebih besar sebagai mangsa.

Field Mark:

Ukurannya yang kecil sudah cukup membantu. Dahi putih, dada berwarna karat, mahkota hitam, strip mata hitam dengan pipi putih.

Kebiasaan:

Menangkap mangsa dengan brutal dari tempat bertengger . Memangsa capung, serangga, burung lain yang seukuran atau sedikit lebih besar.

Bacaan lebih lanjut:

Situs Resmi Raptor Indonesia

Situs Foto Biodiversitas Indonesia

Situs Foto Oriental Bird Images

Blog Swiss Winnasis: Baluran and Me

Foto:

http://pratapapa81.wordpress.com

http://www.fobi.web.id

http://www.raptorindonesia.org

http://www.orientalbirdimages.org

Sumber:

Buku Burung Baluran oleh Swiss Winnasis

Panduan Lapangan:Burung-burung di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali oleh Mc. Kinnon dkk.

http://burungpemangsa.blogspot.com

http://pratapapa81.wordpress.com

http://raptorindonesia.org

http://www.bio.undip.ac.id

http://www.fobi.web.id

http://www.burung-nusantara.org

 

10 thoughts on “Elang, dan beberapa jenisnya di Pulau Jawa

  1. Pemakaian accipitriformes sepertinya sudah ga dipake(setau saya lho) untuk di indonesia. Sekarang penggunaanya adalah Accipitridae untuk Hawk, eagle, Kite, Harrier, Vulture, Caracas dan Buzzard. Sedangkan untul jenis2 alap2 masuk dalam Familly Falconidae. Ordo tetap Falconiformes. Coba baca DBI No.2.

  2. Ferguson, Less & Christie (raptor of the world) juga makenya yang itu. Yang masuuk dalam Ordo Falconiformes adalah Accipitridae dan Falconidae. Pandion di Indonesia dan Asia beberapa sudah masuk ke Accipitridae. Bukan lagi Familly yang terpisah

  3. ak baru aja kemaren melihat sepasang elang yg kebetulan kok gak di bahas di web ini ya,,,, ciri2nya warna coklat ada kuning dikit dan lurik di ekor dan sayap berbentuk garis dikit,,, berat sekitar 3-4 kg,, bentangan sayap 70-90 cm… di ada di pegunungan cipala, merak , cilegon banten,,, untuk jenis elang apa ya ini… krn saya pas kebetulan lag naik ke gunung untuk reaper repeater di tower,,, dan meliah dengan takjub kok masih ada sepisies burung ini,, dan dia sering ber kicau,, dan terbang mengelilingi daerah sekitaran saya sepertinya sedang mencari mangsa,,,, mohon kejelasa jenis elang apa ,,,

  4. Oh iya Ji, beberapa bulan lalu aku sempet lihat Peregrine Falcon 2 kali. Yang pertama waktu acara latber RCI di lapangan UGM (dekat bunderan), waktu Pak Darsono nerbangin pereginenya ternyata ada peregrine lain yang terlihat (Terbang lumayan tinggi ke arah utara) kayaknya ngejar bangau di hutan UGM. Kalo yang kedua aku lihat di Jalan Magelang (Perempatan Mlati / makam dokter wahidin) sore sekitar jam 15.30, Perching di tower deket situ, cuma sekarang udah ga kelihatan lagi.

  5. Eh ada cerita lagi seh. Waktu liburan kemarin, aku lihat raptor di Temanggung, soaring dengan lumayan dekat kira2 2-3 meteran lah. Cuma aku maih agak confuse itu Species apa, Identifikasi sementara aku rasa itu CSE, soale pas soaring berisik banget. Waktu dia soaring, semua unggas di rumah (ayam n menthok) ngumpet, aku bela2in ambil senapan angin (eits jangan salah lho aku cuma pake telenya aja kebetulan telenya lumayan gede (Bushnell 3-9x 40)) Cuma buat ngelihat n nikmatin hehehehe abisnya aku ga punya monokular apalagi binocular. Sebelum2nya aku sempet lihat IBE juga terbang rendah (sampe kelihatan jelas cere-nya) ama CHE (Lightmorph n Darkmorph).

  6. BLOG SANG PEREGRINE bertujuan untuk mengenalkan fungsi satwa liar khususnya burung di alam, bukan situs JUAL BELI atau CARA MEMELIHARA HEWAN LIAR!

    Semua komentar tentang jual beli hewan liar, eksploitasi satwa liar dan alat-alatnya akan DIHAPUS dari blog ini. Memelihara satwa liar yang dilindungi, seperti elang dan alap-alap, adalah tindakan melawan hukum, dan dapat diancam dengan hukuman penjara.

    -Admin Blog The Chronicles of Saxony

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s